Mantan Tapi Menikah

Mantan Tapi Menikah
MTM51 - Masih Menunggumu Bicara


__ADS_3


Masih Menunggumu Bicara💓 Judul diambil dari lagu Hijau daun.



Bersaing dengan bayangan Jeny saja sudah menguras hati, fikiran dan tenaga, ia bahkan harus bersusah payah merebut hati Marvel dan menghapus Jeny dari ingatannya, baru saja sebentar hubungan mereka membaik dan yakin bisa memulai hubungan baru dengan niat yang baru, kini Jeny muncul di depan mata. Ah, ternyata pria yang sering diceritakan Jeje selama ini adalah Marvel? Bodohnya selama itu juga mereka bertukar cerita tentang pria yang sama tanpa menyebutkan nama.


Kepalanya sangat pusing sekarang, pikirannya kacau tidak karuan, lebih baik menepi sebentar ... menenangkan diri dan fikiran. Bukan Celine ingin lari dari masalah, hanya saja ia tidak mau kegabah dan bertindak yang justru bisa memermalukan diri sendiri.


Celine tidak mau memaksa, mengemis, memohon dan mengiba cinta dari Marvel. Jika Marvel memang mencintai dirinya, pasti pria itu akan kembali dan bicara jujur tentang apa yang terjadi hari ini, tapi jika pria itu bungkam lalu untuk apa ia memaksa pria itu tetap di sisinya? Bukankah itu percuma?


Celine ingin hubungan didasari dengan kejujurann dan mencintai dengan tulus apa adanya. Bukan mencintai karena terpaksa dan dipaksa untuk bersama.


"Kita sudah sampai, Nona," ujar sopir taksi yang membawanya.


Panti asuhan menjadi tempat tujuan Celine siang ini, ia tidak mau larut dalam kesedihan terlalu lama. Lagipula sudah cukup lama ia tidak menemui anak-anak yang menggemaskan itu.


"Kakak!!!"

__ADS_1


Lihatlah, begitu ia keluar dari taksi anak-anak itu berlarian menyambutnya


dengan senyuman.


"Hai ... lihat apa yang aku bawa!" Kantong belanjaan berisi makanan untuk anak-anak itu menjadi rebutan.


"Terima kasih, Kak. Tapi, kami lebih merindukan kakak daripada semua ini." Anak laki-laki berusia 8 tahun itu memeluknya sangat erat, namanya Ethan ... anak jalanan yang ia bawa ke tempat ini.


"Oh, sayangku ... Kakak juga sangat merindukanmu, merindukan kalian semua."


"Celine ... itu kau, Nak?" Wanita paruh baya menghampiri Celine. "Anak nakal ini dari mana saja?" Ia menarik dagu Celine. "Kau menangis?"


Celine menggelengkan kepala, lala memelunya sangat erat. "Ibu kepala...." Celien gagal menyembunyikan tangisannya, ia menangis dipelukan ibu panti.


"Tenanglah, kami di sini selalu berdoa yang terbaik untukmu. Tidak perlu risau semua akan baik-baik saja."


Cukup lama Celine menghabiskan waktu di panti asuhan, mengobrol dengan pengurus panti dan bercanda dengan anak-anak itu membuat hatinya lega, ia bahkan tidak menghiraukan handphone yang sama sekali tidak berdering. Ya, Marvel sampai sekarang belum menghubunginya. Celine tidak perduli apa yang saat ini dilakukan Marvel dan ....ah, ia bingung harus memanggilnya apa.


Rumah yang baru semalam ditempati Celine dan Marvel terlihat semakin sepi saja, sudah jam 8 malam tapi belum ada tanda-tanda kehadiran pria itu. Celine menunggu ... menunggu pria itu bicara jujur padanya.

__ADS_1


Jam 8


Jam 9


Jam 10


Jam 11


Ntah harus berapa jam lagi ia harus menunggu, hingga jam 12 malam ia memutuskan berhenti menunggu pria itu.


Suara dari kamar mandi mengusik tidur Celine, dilihatnya lampu walk in closet menyala itu artinya Marvel sudah pulang.


"Ternyata dia masih ingat pulang."


Celine tak acuh di tempat, ia tak berniat menyapa dan menyambut Marvel. Pria itu yang harus bicara lebih dulu. Celine masih menunggu kejujuran Marvel.


Mata Celine terpejam lagi saat melihat bayangan Marvel keluar dari walk in closet, meskipun matanya terpejam tapi ia tahu kalau Marvel mendekati tempat tidur. Hingga ia merasakan tangan kokoh itu melingkari pinggangnya, tangan kokoh itu memeluknya sangat erat, pria itu menenggelamkan wajah di cengkuk lehernya sampai hembusan nafas Marvel terasa hangat di sana. Marvel tidak bicara sepatah katapun sampai benar-benar tidur.


'Aku masih menunggumu bicara.' Celine membatin, ingin rasanya ia menghempaskan tangan Marvel yang menggurita di pinggangnya, ingin ia menolak dada bidang Marvel yang tadi menjadi tempat sandaran wanita lain, ingin ia mengikat bibir yang tadi berciuman dengan wanita lain, ingin ia memaki, mengutuk, mengumpat pria itu, tapi tidak ... itu hanya akan merugikan dirinya saja. Besok menjadi batas akhir Marvel bicara, jika pria itu bungkam seperti ini, maka ... jangan salahkan dirinya jika harus tegas mengambil keputusan.

__ADS_1


🌴🌴🌴


Marvel dan Jeny ngapain aja? Adakah yang penasaran? Jangan lupa jempolin🤭


__ADS_2