Mantan Tapi Menikah

Mantan Tapi Menikah
MTM 46- Daffodil


__ADS_3

46.


"Aku tidak sabar bertemu denganmu, Marvel...."


Pria yang sejak tadi memerhatikan Jeje tersenyum kecut mendengarnya.


"Aku masih terlihat cantik'kan? Baju mana yang lebih bagus untuk aku pakai besok? Apa rambutku digerai saja, atau disanggul seperti ini? Aduh ... kenapa kau diam saja, Ozan! Pilihkan satu untuk aku pakai besok!"


Ozan mendesahkan nafas melihat Jeje sangat antusias ingin bertemu Marvel mantan sekaligus rekan kerja Jeje yang baru, ia yang memang hari ini tidak bertugas di rumah sakit sengaja menemani Jeje kemanapun wanita itu mau. Telinganya berdengung karena Jeje selalu saja bicara tentang Marvel.


Kenapa selama ini Jeje tidak bisa melihatnya barangkali sedikit saja? Kenapa telinga, mata dan hati wanita itu tidak pernah terbuka untuknya? Padahal, sudah berulang kali ia mengungkapkan perasaannya, tapi kenapa kenangan bersama pria itu tidak pernah hilang dari ingatan Jeje?


"Aku harus bilang apa? Hai, Marvel bagaimana kabarmu? Ah, tidak ... aku takut dia tidak menyukainya. Lama kita tidak bertemu apa kau sudah menikah? Ah, sudah jelas-jelas dia belum menikah. Terus aku harus bagaimana?"


Jeje menggenggam tangan Ozan tiba-tiba. "Aku mencintaimu... aku masih mencintaimu."


Ozan semakin tersenyum kecut, ah ... andai saja kata cinta itu ditujukaan untuknya.


"Iya, aku bilang itu saja. Aku akan jelaskan kenapa dulu aku pergi. Aku yakin Marvel pasti memahami dan memaafkanku ... iya, 'kan? Ozan bicaralah!"


Jeje semakin cemas dan merasa tidak percaya diri.


Ozan meraih kedua bahu Jeje dan menatap matanya. "Tenanglah, Je ... kau hanya perlu jadi dirimu sendiri. Tidak perlu berlebihan seperti ini, Je."


Jeje menghempaskan tangan Ozan.


"Berlebihan katamu? Kau tidak tahu bagaimana perasaanku. Rasanya sakit mencintai, tapi tidak bisa memiliki. Aku benci keadaan ini, Ozan. Aku menyesal meninggalkannya dulu. Aku pikir, aku bisa melupakan dia tapi ternyata aku salah, aku tidak bisa... aku tidak bisa, Ozan...."

__ADS_1


"Tentu aku tahu seperti apa rasanya, Je. Aku mencintaimu, tapi kau mencintai dia. Apalagi yang lebih menyakitkan dari itu?"


"Itu bukan cinta, tapi kasihan ... jangan mengasihani, aku!"


"Dan yang kau miliki untuknya bukan cinta, tapi rasa bersalah. Kau selalu mengingatnya hanya karena rasa bersalah yang ada dirimu, kau harus tau itu, Ze," sentak Ozan.


Jeje terdiam melihat Ozan, bulir air mata mulai tampak di wajahnya, apa yang ia rasakan bukan rasa bersalah, tapi cinta yang masih membara untuk Marvel.


Ozan mengusap wajah gusar, meraih kedua tangan Jeje. "Lupakan semua yang aku katakan tadi, Je... kau tidak boleh berfikir terlalu keras. Apapun itu... aku selalu mendukungmu."


"Kau cantik ... sangat cantik. Pria itu pasti terpesona melihatmu." Hanya Ozan yang tahu hancur hatinya saat ini.


Jeje tersenyum dan menganguk.


"Tidak perduli seberapa banyak aku sudah menyakitimu, tapi kau selalu ada untukku. Terima kasih untuk itu, Ozan."


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Rumah dua lantai yang dilapisi cet warna monokrom menjadi tempat tinggal Marvel dan Celine selama di London. Harry juga memiliki kamar khusus di lantai dasar.


"Aku tidak tahu kalau kau juga punya rumah di sini." Celine membuka jendela kamar mereka, manik mata indahnya menyapu rumput peking yang terbentang cantik mengelilingi rumah, berbagai tanaman hias pun menarik perhatian Celine.


"Kau menyukai tempat ini 'kan, Sayang?" Memeluk Celine dari belakang, meletakkan dagunya di pundak istrinya.


"Hem, suka sekali. Rumah ini sangat nyaman." Menyisir rambut Marvel menggunakan jarinya, matanya masih melihat hamparan bunga di sana, ada satu bunga yang tampk menonjol di matanya.


"Marvel ... bukankah itu bunga daffodil?" Menunjuk bunga warna kuning. "Cantik sekali...."


"Cantik, seperti dirimu." Satu kecupan ia daratkan di pipi istrinya. "Bunga daffodil memiliki makna yang sangat dalam, sama persis seperti hubungan kita saat ini."


Hidung mereka nyaris bersentuhan saat Celine melihat Marvel, mata Marvel tidak berkedip saat bicara.


"Ya ... kesempatan kedua, memulai awal yang baru, kemakmuran, pengampunan keberuntungan, itu makna yang tersembunyi di dalam bunga daffodil."


Marvel mengubah posisi Celine menjadi menghadapnya. "Kaulah daffodil itu, kaulah keindahan itu. Aku beruntung memilikimu."


Celine tersenyum mendengarnya. Tinggi badan yang memang tidak sejajar membuat Celine harus mengangkat dagu melihat suaminya.


"Tapi kau lupa kalau daffodil memiliki racun. Jika kau merusak akarnya, maka daffodil itu akan layu dan mati. Jika kau menelan akarnya kau pun akan merasakan sakit. Seperti hubungan kita, jika dafodil itu adalah aku, maka akarnya ada di hatiku. Pandai-pandailah menjaganya."


Marvel menggeleng keras.


"Aku tidak akan menghancurkan harapanku pada hubungan ini, aku tidak akan menyakiti hatimu lagi."


Marvel mengecup bibir Celine.

__ADS_1


"I promise you."


__ADS_2