
Za berharap sujud panjang yg baru saja dilakukannya , bisa sedikit mencerahkan hati dan pikirannya .. Permintaan pakde yg ingin agar ia segera menikah dengan seorang pilihan pakde , membuat Za dilema dan tak tahu dari berbuat apa . Khanza , sangat menyayangi pakdenya , dan dia akan melakukan apa pun untuk membuat orang tua itu bahas , apalagi saat ini kondisi kesehatan pakde yang belum sepenuhnya sehat . Akbat jatuh dikamar mandi minggu lalu , sebagian tubuh tak mengalami stroke ringan dan harus memakai kursi roda mulai saat ini . Tapi menikah bukanlah perkara mudah , apalagi dengan orang yang belum dikenalnya .
Tapi kebaikan dan kasih sayang pakde yang tulus padanya , membuat Za sulit menolak perjodohan ini . Za tidak mau mengecewakan pakdenya , apalagi melukai harus dengan menolak perjodohan ini .
Direbahkan badannya di kasurnya yang berukuran single. Dia berfikir mungkin saat inilah waktu yang tepat untuk membahagiakan pakde nya.
Lama kelamaan mata nya terpejam,terbuai dalam mimpi....
Khanza berjalan seorang diri,di sebuah jalan setapak.dikanan dan kiri terdapat pohon bunga berwarna warni.ketika tertiup angin, bunganya jatuh menerpa wajah putih nya.tanpa sadar diapun menari dibawah guyuran bunga.seketika langkahnya terhenti,dari jauh terlihat sosok yang sangat ia kenal. Beny? Katanya dalam hati. Beny menatap nya dengan senyum tersungging di wajahnya.
Khanza terbangun dari tidurnya,suara azan Subuh menyadarkan nya dari alam mimpi. Diusap wajah nya dengan kedua tangannya, seakan tak percaya yang baru saja ia mimpikan.
'ya Allah hamba meminta jawaban atas pertanyaan pakde,tp kenapa malah beny yang engkau berikan?' pikir Za dalam hati.
Khanza segera beranjak dari tidurnya, untuk mengambil wudhu dan shalat subuh.
*****
Khanza masih memikirkan arti mimpi nya semalam, dibolak-balik nya nasi di depan nya . Mas Dito yang melihatnya, langsung menegurnya.
__ADS_1
"Kamu kenapa sih Dex?"khanza tersentak mendengar suara mas Dito
"Um...nggak mas,cuma lagi ga nafsu makan aja"khanza tersenyum getir .
"Apa karena pakde suruh nikah , kamu jadi nggak nafsu makan,hm?"sambung pakde sambil mengangkat kedua alisnya.
"Nggak pakde, Aku cuma lagi ga enak badan aja, kayak nya mau flu deh"
"Oh gitu,ya Udah Sono cepetan minum obat.ntar malam kan calon suami mu, mau datang" kata mas Dito menimpali.
Mendengar itu khanza langsung tersedak . Buru2 mba Isma memberikan nya minum .
Padahal kalau boleh memilih, khanza ingin sekali menolak ide pakde nya untuk menikah dengan anak temannya itu. Apakah dia sudah setua itu sampai harus dijodohkan segala, pikir nya.
Tapi kalau mengingat kebaikan pakde selama ini,sulit sekali bagi nya untuk mengecewakan pengganti orang tua nya ini. Ya, memang sejak kematian kedua orang tua nya, pakde lah yang sudah merawat nya dari kecil hingga dewasa. Bahkan pakde tak pernah membeda bedakan dia dan mas Dito anak kandung pakde satu satunya. Pernah suatu ketika sekolah khanza mengadakan liburan ke Bali untuk merayakan
Kelulusan, khanza tahu waktu itu pakde sedang kewalahan membiayai kuliah mas Dito.makanya dia sengaja tidak memberi tahu pakde,dan berniat untuk tidak ikut liburan. Tapi ketika pakde tahu semua itu, pakde malah memarahi nya kenapa tidak memberi tahu. Bagi pakde kebahagiaan nya juga penting, pakde tidak mau khanza sedih .
Maka itulah khanza tidak ingin mengecewakan pakde nya.ini saat nya membalas kebaikan dan membahagiakan pakde.
__ADS_1
***
Malam itu khanza gugup sekali,dia duduk di tepi ranjang nya dengan perasaan yang tidak menentu.
Sebenarnya dia ingin sekali membantu kakak iparnya di dapur, tapi setiap kali dia memegang gelas atau piring, pasti terjatuh atau tersenggol oleh nya.
"Udah sana kamu tunggu di kamar aja, nanti piring sama gelas pada pecah semua"kata mba Isma seraya tertawa dan mendorong tubuh khanza, agar segera pergi dari dapur.
Kira kira pukul 20.15 , khanza mendengar suara deru mobil masuk ke halaman rumah mereka.di intipnya dari balik jendela kamarnya, sebuah mobil Toyota Rush berwarna hitam.
'itu kn mobil yang dipakai mas Dito waktu itu'pikirnya.
Jantung nya semakin berdebar kencang,dia tidak berani lagi menatap dari Balik jendela. dia mencoba menenangkan hatinya dengan mengutak-atik hpnya, untuk mengalihkan perhatian. Tapi usaha nya itu sia sia, karena jantung nya semakin berdebar kencang,saat pintu kamar nya diketuk.
***
Khanza berjalan sambil menunduk di belakang mba Isma. Di dengarnya suara pakde dan mas Dito sedang berbicara dengan beberapa orang, sesekali terdengar pakde tertawa kecil.khanza masih menunduk ketika sudah duduk di sebelah pakde nya.
"Khanza..."suara seorang wanita memaksanya untuk mendongakkan kepalanya. Di lihatnya seorang perempuan dan laki-laki yang mungkin seumuran dengan pakde nya, dan satu lagi seorang pria duduk di sebelah pasangan suami istri itu, tersenyum padanya. Seketika mata khanza membola melihat pria itu....
__ADS_1