
58
Jeny tersenyum melihat Marvel, Celine dan Ozan, meskipun kondisinya lemah saat ini, tapi ia berusaha menggerakkan tangan seolah meminta ketiga orang itu mendekatinya. Ozan berdiri di sisi kirinya, sedangkan Marvel dan Celine berdiri di sisi kanannya.
"Je...." Celine meraih tangan Jeje, ia tidak bisa sembunyikan air mata dan rasa bersalahnya. "Maafkan aku," ucapnya tergugu di hadapan temannya.
Jeje menggeleng lemah, ia terlalu lemah untuk bicara.
"Kau pasti kuat, kau pasti bisa sembuh, kita bisa habiskan waktu bersama lagi. Aku janji tidak akan pergi lagi. Aku janji akan berikan apapun yang kau mau." Celine semakin terisak larut dalam tangisannya.
Jeje tersenyum tapi air matanya mulai menetes.
"Jeny...." Kali ini Marvel yang bicara, "Maafkan, aku ... aku tidak berniat unt---
"Ssttttt." Jeny mendesis memungkas ucapan Marvel, melepaskan tangannya dari genggaman Celine.
"Ke-ke ... marilah, Marvel," ucap Jeny lirih, ia berusaha meraih tangan Marvel.
Marvel melihat Celine sejenak, istrinya masih menunduk dalam.
__ADS_1
"Aku di sini," ucap Marvel sesaat setelah Jeny menggenggam tangannya.
Ozan menopang dagu melihat kedua tangan itu menyatu. Sementara Celine hanya bisa diam dan tersedu.
"Te-terima kasih ka-kau su-sudah me-ngabulkan per-mintaanku yang terakhir...." Jeny menarik nafas dalam. "A-aku bahagi...a."
Kalau boleh jujur, ia sangat bahagia bisa menghabiskan sepanjang hari berdua dengan Marvel, waktu seolah berputar mengulang kebersamaan mereka seperti dulu, tapi Jeny tahu kalau hari itu Marvel tampak berbeda, ketika bicara pria itu tidak mau menatap matanya. Setelah bertahun-tahun berlalu, pasti perasaan Marvel sudah berubah, hanya saja Jeny enggan menerima kenyataan kalau Marvel tidak mencintainya lagi. Tapi, saat melihat Marvel menggenggam erat tangan Celine barulah ia menyadari sepenuhnya kalau ternyata Celine yang telah berhasil menggantikan posisinya di hati Marvel.
"Kau masih punya banyak permintaan yang pasti akan dikabulkan," ujar Marvel.
Jeny menggeleng tidak yakin.
Celine dan Marvel sama-sama terkesiap mendengarnya, ya meskipun saat itu pernikahan mereka terkesan dadakan, tapi cincin pernikahan sudah dipersiapkan dari jauh hari.
"Jeje ... i-ini--
"Kalian sudah menikah'kan? Kenapa kau sembunyikan dariku?"
Celine menggenggam tangan Jeje. "Aku baru tahu kalau ternyata Marvel pria yang sering kau ceritakan padaku, Je... aku tidak bermaksud merebutnya darimu."
__ADS_1
Jeje berusaha menetralkan pernafasan agar bisa mengatakan apa yang ingin ia samapaikan dengan jelas.
"Kenapa kau berfikir sudah merebutnya dariku? Kau tau persis apa yang terjadi. Aku yang meninggalkan Marvel dulu, aku sudah menciptakan luka di hati Marvel dan kau yang temani dia dan sembuhkan lukanya. Tidak salah jika Marvel pun mencintaimu. Aku yang egois dan sudah mengganggu hubungan kalian, aku minta maaf, Celine...," ucap Jeny menyesal sudah bertindak bodoh dengan mencium Marvel tanpa memikirkan dampaknya, ia bahkan mengakui sendiri kalau sudah menghabiskan waktu bersama Marvel. Celine pasti sakit hati.
"Kau pun tidak salah, lebih baik kita tidak bahas ini dulu karena itu hanya akan memerburuk kondisimu, kau harus semangat untuk sembuh, katakan apa yang kau mau, aku pasti akan menurutinya lagi dan lagi," ucap Celine sambil menggenggam tangan Jeje.
Jeny menyatukan tangan Marvel dan Celine.
"Marvel ... kau mencintai Celine 'kan?"
"Ya, aku sangat mencintainya. Maaf, aku sempat menutupi pernikahanku dengannya, aku menunggu waktu yang tepat untuk memerkenalkan kalian, tapi ternyata kebodohanku menciptakan kekacauan sebesar ini."
"Aku lega mendengarnya dan aku tidak menginginkan apapun lagi, aku harap kalian bahagia...hanya itu yang aku minta dengan begitu aku yakin bisa pergi dengan tenang." Suara Jeny lebih lirih dari sebelumnya.
"Kau tidak akan pergi ke manapun." Kali ini Ozan yang bicara. "Ijinkan aku bahagiakan dirimu, Je... kau harus yakin bisa sembuh."
"Ozan...." Jeny sejenak memejamkan mata. "Terima kasih karena kau selalu ada untukku. Meskipun kondisiku seperti ini, tapi selama ini kau sangat tulus mencintai aku. Maafkan aku yang selalu mengabaikanmu, Ozan... kau pantas bahagia."
"Bahagiaku hanya bersamamu, Jeje menikahlah denganku," pinta Ozan sungguh-sungguh.
__ADS_1
๐ Menuju Tamat๐