
Jangan lupa jempolin
64
Celine bergegas masuk ke kamar mandi kecil yang ada di kamar nenek, ia juga tidak sabar mencoba seperti apa yang diarahkan nenek sebelumnya, Marvel berinisiatif menemani Celine, tapi Celine takut mengecewakan Marvel hingga ia meminta suaminya itu untuk tetap menemani nenek.
"Jangan takut, sayang ... apapun hasilnya nanti, itu bukan akhir dari segalanya."
Ucapan Marvel beberapa saat yang lalu masih terngiang di telinga Celine sampai membuat tubuhnya semakin gemetaran saja. Celine sudah tidak kelelahan lagi, tapi keringat jagung masih membasahi dahi bersamaan dengan perasaan yang campur aduk saat ini. Takut hasilnya tidak sesuai harapan.
Celine berdiri di depan wastafle, menatap pantulan wajahnya di depan cermin, jantungnya berderbar saat melirik alat yang baru dimasukkan ke dalam wadah kecil berisi urin yang sebelumnya sudah ia tampung.
Lima menit ... sepuluh menit. Akhirnya setelah terlalu lama menunggu, Celine beranikan diri melihat hasil yang ditampilkan di taspack itu. Tangan Celine gemetaran saat memegang benda pipih yang berhasil membuat air matanya menetes membasahi pipi.
"Ka-kau baik-baik saja, Sayang?" tanya Marvel saat pintu kamar mandi dibuka dari dalam. "Kenapa menangis?" Ia memeluk Celine, namun wanita itu tidak kunjung bicara padanya sehingga ia telah menyimpulkan kalau hasilnya pasti tidak sesuai harapan.
"Marvel ...," ucap Celine lirih di dalam dekapan Marvel.
"Hem, katakanlah."
__ADS_1
Celine menggelengkan kepala. "Kalau misalnya nanti kita punya anak, kau mau dipanggil apa?"
Pertanyaan Celine membuat hati Marvel terasa hangat, ia pun terkekeh membayangkannya.
"Daddy... Daddy Marvel." Marvel semakin tergelak, bahkan nenek bisa mendengar suara tawanya.
"Daddy ... selamat untukmu," lirih Celine karena malu ia semakin membenamkan wajahnya di dada Marvel.
Ucapan Celine bukan hanya membuat tawa Marvel memudar, tapi berhasil membuat jantungnya berdetak lebih cepat, pelukannya semakin renggang hingga ia bisa leluasa melihat wajah istrinya.
"Ka-kau bilang apa?" Celine mengangguk pelan. "Coba ulangi lagi," pintanya harap-harap cemas.
"Woahhh!!!" Marvel menghujani wajah Celine dengan kecupannya. "Aku tidak pernah sebahagia ini, terima kasih kau sudah menyempurnakan hidupku. Selamat untukmu, Sayang ...."
Nenek menangis haru melihatnya, sudah lama ia tidak melihat Marvel sebahagia ini. Kalau seperti ini, ia tidak ragu atau mengkhawatirkan Marvel lagi, sedari awal ia sudah yakin kalau cinta tulus yang diberikan Celine bisa merubah pribadi Marvel menjadi lebih baik lagi dan ia juga yakin Marvel akan menjamin kebahagiaan Celine dan anak-anak mereka sampai akhir nanti. Melihat kebahagiaan Celine dan Marvel membuat wanita yang sudah renta usia
ini siap jika nanti Tuhan memanggilnya sebelum ia sempat melihat anak Marvel dan Celine.
***
__ADS_1
Kabar kehamilan Celine membuat orang-orang di rumah itu bahagia mendengarnya, nenek bahkan memberikan bonus cuma-cuma untuk para pelayan, sopir dan penjaga kebun di rumah itu. Namun tidak dengan kedua orang tua Elma yang setiap hari menatap tidak suka kepada Celine.
"Sebentar lagi kau akan menjadi seorang ibu, harusnya kau bisa merasakan apa yang aku rasakan saat ini, aku melewati hari-hariku dengan gelisah, aku mengkhawatirkan kondisi putriku yang jauh di sana. Sementara orang yang menyebabkan putriku keluar dari rumah ini malah tanpa merasa bersalah menyiapkan pesta untuk merayakan kebahagiaannya, di mana perasaanmu itu, Celine?"
Setelah berhari-hari tidak bisa bicara dengan Celine karena Marvel selalu berada di samping istrinya, akhirnya hari ini Cloe bisa bicara berdua dengan Celine tanpa ada yang mengusiknya.
Celine yang baru saja mengakhiri percakapannya dengan orang tuanya melalui telepone, terkejut mendengar penuturan bibik suaminya tersebut.
"Apa bibik masih menyalahkan aku? Padahal aku sendiri sampai saat ini tidak tahu kenapa Marvel mengusir Elma dari rumah." Sudah terlalu banyak masalah yang mengganggu pikirannya, jadi Celine lupa bertanya kepada Marvel kenapa dia mengusir Elma dari rumah.
"Jangan pura-pura polos di hadapanku, Celine. Kau terlihat bodoh karena tidak bisa menipuku. Aku tahu kau yang sudah mempengaruhi Marvel agar membenci kami 'kan? Dia bahkan memindahkan suamiku ke cabang perusahaan yang ada di pelosok negri."
Kebencian Cloe semakin mengakar kepada Celine setelah mendengar ucapan suaminya tadi pagi yang mengatakan kalau Marvel melarangnya datang ke perusahaan utama.
"Bibik, aku tidak tahu apapun mengenai keputusan yang telah dibuat Marvel untuk paman dan aku tidak bisa ikut campur terlalu banyak di dalamnya, tapi mengenai Elma, aku akan berusaha bicara pada Marvel agar dia mau merubah keputusannya dan mengijinkan Elma pulang ke rumah ini lagi."
"Apa kata-katamu bisa dipegang? Tidak ada yang bisa aku harapkan selain dirimu, Celine...."
Celine menghela nafas panjang berharap kali ini Marvel mau mendengarkannya.
__ADS_1
Malak jempol, jangan lupa😅