
43
Beberapa hari kemudian.
Welcome to new our home, tulisan itu bisa kita lihat hampir diseluruh bagian dari Bandar Udara Heathrow. Bandar Udara yang paling sibuk melayani penerbangan London itu tidak pernah sepi dari landasan pesawat. Kerumunan orang bisa dijumpai di sini, sebab setiap hari ada saja yang melakukan peejalanan dari dalam maupun luar negri.
Seperti halnya dengan seorang pria tampan yang memakai pakaian smart casual, celana bahan warna hitam juga kaos yang dipadukan dengan blezer warna abu di tubuhnya itu terlihat santai berjalan menggandeng wanita cantik di sampingnya. Sesekali mata tajam yang tersembunyi di balik kaca mata hitamnya memerhatikan wajah istrinya yang tampak lebih berseri setelah menginjakkan kakinya di bandara ini.
"Kalau kau mau kita bisa istrahat sejenak di hotel terdekat," bisik Marvel sesaat setelah menghentikan langkah kakinya.
Celine tersenyum dan menggelengkan kepala. "Tidak ... yang ada aku semakin kelelahan, nanti. Aku tidak yakin kau mau mengizinkan aku istrahat."
Perlakuan Marvel di kamar saat itu benar-benar sudah membuat Celine kelelahan, bahkan Celine harus istrahat seharian di kamar. Selama itu juga, ia mendapat kabar baik kalau Jeje sudah kembali ke rumah dan bisa beraktifitas seperti biasa, tapi tetap harus dalam pantauan dokter khusus yang menanganinya.
Deretan gigi putih yang tersusun rapi terlihat saat Marvel tersenyum, menarik gemas pipi Celine yang selembut kulit bayi itu.
"Mau bagaimana lagi? Tubuhmu sudah menjadi canduku." Satu kecupan lembut ia daratkan di pipi wanitanya.
Celine melongos ia tidak mengira Marvel akan menciumnya di depan umum. "Jangan sembarangan cium, di sini banyak orang."
"Memangnya kenapa tidak boleh? Aku bahkan ingin mencium bibirmu di sini." Jemarinya meraba bibir Celine.
Celine menjatuhkan tangan Marvel.
"Aku tidak mau semua orang bergosip tentangmu, selama ini tidak ada yang tau kalau kau sudah menikah' kan? Bagaimana kalau ada rekan kerjamu yang melihat kita di sini, mereka akan mengira kau pria yang suka berganti wanita."
"Aku tidak perduli karena aku sudah terbiasa digosipkan seperti itu."
"Tapi, aku perduli karena aku tidak pernah digosipkan seperti itu. Aku ini wanita baik-baik," ucap Celine sebelum kembali berjalan.
__ADS_1
Marvel bergeming di tempat, melihat punggung Celine dalam diam, ucapan Celine membuat ia semakin menyadari kesalahannya.
"Jadi, hanya aku yang menganggapmu seperti itu." Helaan nafas terasa berat di hembuskan.
"Tuan, mobil yang menjemput kita sudah menunggu di luar," ucap Harry yang kebagian membawa koper bosnya.
"Tuan mau singgah ke hotel atau langsug ke perumahan yang biasa kita tempati selama di sini?"
"Ke rumah itu saja, biar aku kurung istriku di sana," jawab Marvel lalu melanjutkan langkah kakinya yang sempat tertunda.
.
.
.
.
" Tidak," jawan Celine sambil merapikan rambutnya yang sedikit berantakkan karena tertiup angin. Celine tidak sadar kalau bajunya sedikit tersingkap memerlihatkan bagian perutnya.
"Kalau Nona mau, aku bisa mengantar Nona ke tempat tujuan, itu mobilku ada di sana." Ia menunjuk mobil warna hitam yang terparkir tidak jauh dari mereka.
"Maaf, tidak perlu. Tolong pergilah sebelum--
"Sebelum apa, Nona? Jangan khawatir aku bukan pria jahat. Namaku Fero." Ia mengangsurkan tangan ingin berjabatan tangan dengan wanita itu. "Boleh aku tahu siapa namamu, Nona?"
Celine tidak perduli, ia pergi menjauhi pemuda tersebut.
"Nona tunggu, kenapa kau sombong sekali?"
__ADS_1
Pemuda bernama Fero itu mengikuti Celine, tapi seseorang menarik lengannya.
"Berani sekali kau mengganggu istriku! Kau mau aku mematahkan kaki dan tanganmu?" Rahang Marvel mengeras, ia cukup lama melihat pria ingusan ini menggoda Celine.
"Ti-tidak, Tuan. Aku tidak tahu kalau dia istri Anda," jawabnya terbata, kalau dari awal ia tahu suami wanita itu menyeramkan seperti ini tidak mungkin mengganggunya.
Suara Marvel membuat Celine berbalik badan, dilihatnya Marvel mencengkram kerah baju pria asing itu.
"Marvel, sudahlah lepaskan dia!"
Marvel melirik Celine sekilas, kemudian beralih lagi. "Pergilah, sebelum aku menghabisimu!" sentak Marvel sambil menghempaskan pemuda itu.
Pemuda yang baru bergabung dengan sindikat penculikkan dan perdagangan wanita itu lari terbirit-birit.
Marvel membuka blezer miliknya, lalu ia pakaikan kepada Celine.
"Apa-apa'n ini? Aku tenggelam pakai ini." Celine protes.
"Pakai saja, aku tidak suka ada pria yang melihatmu seperti tadi," jawab Marvel dengan sisa emosi yang belum hilang.
Celine tersenyum. "Kau cemburu?"
"Lucu sekali, sudah tahu tapi masih bertanya. Aku bahkan ingin menghabisinya tadi."
"Oh ... suamiku manis sekali." Celine bergelayut manja di lengan Marvel, ia tidak bisa melihat senyum Marvel sudah mengembang di wajahnya.
🌴🌴🌴
Jangan lupa dijempolin, ya, cintah😍
__ADS_1