
Jenny yang sedang membawa baki nampan , shock begitu mendengar kata kata yang keluar dari mulut adiknya . Sekuat tenaga Jenny berusaha agar makanan yang telah ia pesan untuk adiknya iparnya , tidak jatuh berhamburan di lantai .
Tangan Jenny menegang ketika berbenturan dengan pipi Benny , Benny tidak menduga Jenny akan menamparnya begitu keras .
" Jenn! Apa apaan !?" Benny memegangi pipinya yang terasa memanas .
Nafas Jenny turun naik tak beraturan , " Kau yang apa apaan ?! Jangan pernah bermain main dengan kata kata itu Benny , kau lupa bagaimana kakakmu ini menderita hanya karena kata talaq ! " Jenny melotot marah tanpa peduli dengan Za yang juga shock .
Benny terhenyak , ia sadar kata katanya sudah kelewatan , Za istrinya matanya memerah mungkin wanita itu menangis tanpa Benny sadari sedang Jenny masih memasang wajah marahnya .
" Kak ini tidak seperti yang kau pikirkan ..." Benny mencoba meraih tangan kakaknya , tapi Jenny menepisnya dan segerombolan air mata sudah menganaksungai di kedua pipinya .
" Aku mendengarnya dengan jelas Benny , tega sekali kau menyakiti istrimu sendiri , dia sudah susah payah mendatangimu hingga basah kehujanan , apa kau tidak memikirkan perasaannya ?"
Benny mengusap kasar wajahnya, sungguh dia tidak bermaksud menyakiti hati istrinya , dia hanya ingin menguji kesungguhan hati wanita ini .
" Ayo sayang , kita tinggalkan saja pria brengsek ini sendirian ...." Jenny menggenggam pergelangan tangan Za dan bersiap mbawanya pergi , Za tidak menyangka Jenny yang beru pertama kali ditemuinya justru membela dan pasang badan untuk membelanya .
Benny meraih tangan istrinya sebelum dibawa pergi oleh Jenny , " tunggu ! mau dibawa kemana istriku ...?"
Jenny berbalik dan kembali melotot marah pada Benny , " istri ?! Setelah apa yang kau ucapkan tadi ??"
" Jenny kau salah sangka , kita harus bicara ..."
__ADS_1
" Tidak ada yang perlu dibicarakan Benny , lebih baik kau renungkan perbuatan jahatmu itu ..."
Benny tidak mau mengalah begitu saja , dalam sekali tarikan Khanza sudah ada di dalam pelukannya dan itu membuat Za sedikit gugup karena sentuhan diantara keduanya .
Benny menatap manik mata hitam milik istrinya , " tunggu disini sebentar , aku akan berbicara dengan Jenny .."
Za mengangguk kikuk , itu adalah sentuhan pertama yang paling intim diantara keduanya , bau parfum Benny serasa masih melekat di hidungnya . Wanginya begitu maskulin dan membuat Za merona begitu memikirkan betapa dekatnya mereka tadi .
Benny menarik Jenny menjauh dari Khanza dan mereka terlibat saling berdebat hebat . Entah apa yang mereka bicarakan , Jenny terlihat kesal, tapi Benny terus berusaha membujuk kakaknya itu , dan memberikan pelukan untuk Jenny . Andai saja mereka bukan kakak beradik , entah apa yang ada dipikiran Za sekarang .
Oh my....Za memutup mulutnya sendiri , memangnya apa yang sedang ia pikirkan , tidak mungkin dia sedang mencemburui suaminya .
Benny dan Jenny kembali menghampirinya , kakak iparnya itu masih terlihat kesal jika terlihat dari raut wajahnya .
" Kita pulang ...?" Benny melakukan kontak mata dengannya dan menyentuh telapak tangannya .
Za menyadari telapak tangannya yang menghangat karena genggaman tangan Benny , mukanya punmerona karena malu . Jantungnya bertalu-talu membuat bibirnya bergetar saking gugupnya .
" Bawa ini , Khanza belum sempat makan kan ? " Jenny menyodorkan makanan yang sudah ia bungkus rapi , ia bahkan lupa kalau belum makan .
Jenny melirik sinis pada Benny " dia akan makan dimobil , jangan khawatir ..."
Jenny merangsek maju dan memberikan pelukan hangat untuk Khanza , Za sempat kaget dan menahan nafasnya , wanita yang baru dikenalnya beberapa menit yang lalu sudah menganggapnya seperti saudara sendiri , " telpon aku jika terjadi sesuatu ..." Kata Jenny hingga bisa di dengar Benny .
__ADS_1
Benny memutar bola matanya jengah , " memangnya apa yang akan terjadi ?" Benny berdecak dan di balas lirikan tajam oleh Jenny .
" Kalau kau tidak lupa , beberapa menit yang lalu kau baru saja menyakitinya !" Sengit Jenny lagi .
" Sudah kubilang aku tidak berniat melakukannya , Jenny !"
" Yah tanpa kau sadari kata katamu sudah menyakitinya ...." Bela jenny lagi , Jenny dan Benny sudah kembali beradu tatapan mata tajam .
Khanza berdehem untuk mencairkan suasana , " aku tidak apa-apa kak , jangan khawatir ..." Khanza menyentuh lembut lengan Jenny , berharap amarahnya mereda .
Jenny tersenyum dan menarik nafas lega , " kalau pria brengsek ini macam macam , telpon aku ok ? " Khanza mengangguk dan tersenyum , Benny berkacak pinggang jengah .
" Pria brengsek ini adikmu , ingat ? " Khanza tersenyum kecil mendengarnya , Jenny membalas menatap adiknya tapi tatapannya kali ini sedikit melembut dan tenang .
" Well... justru karena kau adikku...."
Kata kata Jenny keburu ditimpali oleh Benny " kau akan menyelematkanku dari kebrengsekan, begitu kan " masih ingat Benny dengan semua kata kata Jenny .
" baguslah kalau kau ingat, ingat benny hati wanita itu sangat rapuh, sekali kau menyakitinya, dia akan berbekas selamanya... "
Benny memandang haru dalam manik mata kakaknya , dia tau , Jenny bukan hanya membicarakan Za tapi juga sedang membicarakan dirinya sendiri , mata hitam Jenny tampak sudah mulai berkaca kaca . Benny memberikan satu pelukan lagi untuk Jenny ,
" tenanglah Jen, aku bukan lelaki brengsek seperti dalam bayanganmu... " Za terenyuh melihatnya , dia jadi teringat sosok mas Dito yang selalu mengasihinya sebagai saudara .
__ADS_1
Jenny melepaskan pelukan adiknya ,dan mengusap setitik air mata yang membasahi pipinya .
" jaga dia, ok , take care... " Benny mengangguk dan melihat punggung kakaknya yang terus menjauh dan menghilang dibalik ruangan kerjanya .