Mantan Tapi Menikah

Mantan Tapi Menikah
forgive me 2


__ADS_3

Jenny yang sedang membawa baki nampan , shock begitu mendengar kata kata yang keluar dari mulut adiknya . Sekuat tenaga Jenny berusaha agar makanan yang telah ia pesan untuk adiknya iparnya , tidak jatuh berhamburan di lantai .


Tangan Jenny menegang ketika berbenturan dengan pipi Benny , Benny tidak menduga Jenny akan menamparnya begitu keras .


" Jenn! Apa apaan !?" Benny memegangi pipinya yang terasa memanas .


Nafas Jenny turun naik tak beraturan , " Kau yang apa apaan ?! Jangan pernah bermain main dengan kata kata itu Benny , kau lupa bagaimana kakakmu ini menderita hanya karena kata talaq ! " Jenny melotot marah tanpa peduli dengan Za  yang juga shock .


Benny terhenyak , ia sadar kata katanya sudah kelewatan , Za istrinya matanya memerah mungkin wanita itu menangis tanpa Benny sadari sedang Jenny masih memasang wajah marahnya .


" Kak ini tidak seperti yang kau pikirkan ..." Benny mencoba meraih tangan kakaknya , tapi Jenny menepisnya dan segerombolan air mata sudah menganaksungai di kedua pipinya .


" Aku mendengarnya dengan jelas Benny , tega sekali kau menyakiti istrimu sendiri , dia sudah susah payah mendatangimu hingga basah kehujanan , apa kau tidak memikirkan perasaannya ?"


Benny mengusap kasar wajahnya, sungguh dia tidak bermaksud menyakiti hati istrinya , dia hanya ingin menguji kesungguhan hati wanita ini .


" Ayo sayang , kita tinggalkan saja pria brengsek ini sendirian ...." Jenny menggenggam pergelangan tangan Za dan bersiap mbawanya pergi , Za tidak menyangka Jenny yang beru pertama kali ditemuinya justru membela dan pasang badan untuk membelanya .


Benny meraih tangan istrinya sebelum dibawa pergi oleh Jenny , " tunggu !  mau dibawa kemana istriku ...?"


Jenny berbalik dan kembali melotot marah pada Benny , " istri ?! Setelah apa yang kau ucapkan tadi ??"


" Jenny kau salah sangka , kita harus bicara ..."

__ADS_1


" Tidak ada yang perlu dibicarakan Benny , lebih baik kau renungkan perbuatan jahatmu itu ..."


Benny tidak mau mengalah begitu saja , dalam sekali tarikan Khanza sudah ada di dalam pelukannya dan itu membuat Za sedikit gugup karena sentuhan diantara keduanya .


Benny menatap manik mata hitam milik istrinya , " tunggu disini sebentar , aku akan berbicara dengan Jenny .."


Za mengangguk kikuk , itu adalah sentuhan pertama yang paling intim diantara keduanya , bau parfum Benny serasa masih melekat di hidungnya . Wanginya begitu maskulin dan membuat Za merona begitu memikirkan betapa dekatnya mereka tadi .


Benny menarik Jenny menjauh dari Khanza dan mereka terlibat saling berdebat hebat . Entah apa yang mereka bicarakan , Jenny terlihat kesal, tapi Benny terus berusaha membujuk kakaknya itu , dan memberikan pelukan untuk Jenny . Andai saja mereka bukan kakak beradik , entah apa yang ada dipikiran Za sekarang .


Oh my....Za memutup mulutnya sendiri , memangnya apa yang sedang ia pikirkan , tidak mungkin dia sedang mencemburui suaminya .


Benny dan Jenny kembali menghampirinya , kakak iparnya itu masih terlihat kesal jika terlihat dari raut wajahnya .


" Kita pulang ...?" Benny melakukan kontak mata dengannya dan menyentuh telapak tangannya .


Za menyadari telapak tangannya yang menghangat karena genggaman tangan Benny , mukanya punmerona karena malu . Jantungnya bertalu-talu membuat bibirnya bergetar saking gugupnya .


" Bawa ini , Khanza belum sempat makan kan ? " Jenny menyodorkan makanan yang sudah ia bungkus rapi , ia bahkan lupa kalau belum makan .


Jenny melirik sinis pada Benny " dia akan makan dimobil , jangan khawatir ..."


Jenny merangsek maju dan memberikan pelukan hangat untuk Khanza , Za sempat kaget dan menahan nafasnya , wanita yang baru dikenalnya beberapa menit yang lalu sudah menganggapnya seperti saudara sendiri , " telpon aku jika terjadi sesuatu ..." Kata Jenny hingga bisa di dengar Benny .

__ADS_1


Benny memutar bola matanya jengah , " memangnya apa yang akan terjadi ?" Benny berdecak dan di balas lirikan tajam oleh Jenny .


" Kalau kau tidak lupa , beberapa menit yang lalu kau baru saja menyakitinya !" Sengit Jenny lagi .


" Sudah kubilang aku tidak berniat melakukannya , Jenny !"


" Yah tanpa kau sadari kata katamu sudah menyakitinya ...." Bela jenny lagi , Jenny dan Benny sudah kembali beradu tatapan mata tajam .


Khanza berdehem untuk mencairkan suasana , " aku tidak apa-apa kak , jangan khawatir ..." Khanza menyentuh lembut lengan Jenny , berharap amarahnya mereda .


Jenny tersenyum dan menarik nafas lega , " kalau pria brengsek ini macam macam , telpon aku ok ? " Khanza mengangguk dan tersenyum , Benny berkacak pinggang jengah .


" Pria brengsek ini adikmu , ingat ? " Khanza tersenyum kecil mendengarnya , Jenny membalas menatap adiknya tapi tatapannya kali ini sedikit melembut dan tenang .


" Well... justru karena kau adikku...."


Kata kata Jenny keburu ditimpali oleh Benny " kau akan menyelematkanku dari kebrengsekan,  begitu  kan " masih ingat Benny dengan semua kata kata Jenny  .


" baguslah kalau kau ingat,  ingat benny  hati wanita itu sangat rapuh,  sekali kau menyakitinya,  dia akan berbekas selamanya... "


Benny memandang  haru dalam manik mata kakaknya  , dia tau  , Jenny bukan hanya membicarakan Za  tapi juga  sedang membicarakan dirinya sendiri  , mata hitam  Jenny  tampak sudah mulai berkaca kaca  . Benny memberikan satu pelukan lagi untuk Jenny  ,


" tenanglah  Jen,  aku bukan lelaki brengsek seperti dalam  bayanganmu... " Za terenyuh melihatnya  , dia jadi teringat sosok mas Dito yang selalu mengasihinya sebagai saudara  .

__ADS_1


Jenny  melepaskan pelukan adiknya  ,dan mengusap setitik air mata yang  membasahi pipinya  .


" jaga dia,  ok  ,  take care... "  Benny mengangguk dan  melihat  punggung kakaknya yang terus menjauh dan menghilang dibalik ruangan  kerjanya  .


__ADS_2