
"Aku tahu, kau juga menginginkannya 'kan? Jadi, mari lupakan perjanjian kita. Pernikahan ini tidak untuk satu tahun, tapi untuk selamanya," ujar Marvel kemudian mengulanginya lagi.
Disaat kedua bibir itu masih menyatu, tangan Marvel mulai mencari pengait piyama di bagian dada Celine, ia tidak sabar untuk melihat isi di dalamnya, sesuatu yang pernah ia lihat tanpa sengaja, ketika ia sudah berhasil membuka tiga kancing teratas, Celine menahannya.
Sontak, Marvel melepaskan ciumannya, kini wajah mereka nyaris tanpa jarak, bibir basah Celine pun tidak luput dari pengamatannya.
"Kenapa kau menolakku? Percayalah Celine, aku mencintaimu. Jangan buat aku menjadi pria paling jahat karena sudah memaksmu."
Ungkapan cinta Marvel membuat Celine semakin merinding, ia tahu sudah tidak ada cara untuk menghentikan Marvel, jujur ia juga menginginkan pernikahan untuk selamanya. Tapi ia takut suatu saat nanti Marvel ingkar janji.
"Aku sudah menurutimu, aku tidak mendebat atau memancingmu, jadi jangan lakukan itu."
Marvel tidak menjawab, memang bukan Celine yang memancingnya, tapi Natan yang sudah membuat ia terbakar api cemburu. Dan satu-satunya cara untuk meredam api cemburunya ialah dengan cara menyalurkan hasrat yang sudah berda di puncaknya, Marvel menegakkan badan kemudian membuka kaos yang melekat di badan.
Blush!!!
"Ke-kenapa buka baju?"
Pipi Celine terasa panas dan memerah, bentuk tubuh ideal yang dimilki Marvel sukses menggetarkannya, ia langsung membuang pandangan ke sembarang arah.
Melihat wajah Celine tersipu malu semakin menambah gairaah Marvel.
"Bantu aku menuntaskannya, adik kecilku selalu bereaksi jika berada di dekatmu, sudah lama dia menahannya. Jagan biarkan menunggu terlalu lama."
__ADS_1
Sekarang, Marvel seperti drakula yang sedang menghisap darah mangsanya, mengehisap energi Celine sampai tubuh yang semula menegang menjadi melemas seketika. Celine yakin sudah banyak bercak merah yang diciptakan Marvel di sekitar lehernya. Celine tanpa sengaja mendes*h dibuatnya.
"Marvel ... hentikan, kenapa kau buas sekali?"
Marvel mengunci tangan Celine di atas kepalanya. Kilatan na*su semakin terpancar di wajah Marvel saat melihat bagian yang menyembul di dada Celine.
"Ini belum apa-apa karena aku belum memulainya Celine, tapi sepertinya kau sudah tidak sabar, jadi mari kita buktikan sebuas apa dirku!"
Marvel menciumi seluruh wajah Celine dengan sayang, perlahan semakin turun dari leher hingga bagian dada istrinya itu. Apa yang dilakukan Marvel berhasil membuat Celine semakin lemas, tubuh Celine mulai bereaksi sesekali dadanya tampak membusung. Sepertinya Celine sudah pasrah di bawah kendalinya, sebelum wajah Marvel benar-benar terbenam di sana, Marvel lebih dulu melucuti piyama istrinya itu.
Celine malu karena ini kali pertama ada orang melihatnya tanpa ada sehelai benang pun menutupi aset berharga miliknya, belum sempat ia menghentikan Marvel, wajah pria itu sudah menghilang dari mata. Celine hanya bisa menjambak rambut Marvel namun hanya sebentar saja, sebab kepala pria itu semakin turun ke bawah, menciumi permukaan perutnya dan tangannya sudah menjalar ntah kemana.
Marvel sudah tidak sabar untuk menjelajahi bagian terdalam dari hutan belantara yang ada di depan mata, tapi sayangnya jalan menuju hutan itu masih tertutup kabut warna hitam. Marvel menegakkan punggung bersiap untuk menyingkirkan kabut hitam berbahan satin tersebut. Sebelum Marvel benar-benar membuka celana piyama Celine, ia turun dari tempat tidur bersiap untuk membuka celananya.
Ranjang bergoyang membuyarkan lamunan Celine tentang datang bulan. Matanya membola saat tidak sengaja melihat sesuatu yang menggantung di sana. Marvel mendekat tanpa memakai apapun di badan.
Alis Marvel terangkat sebelah, heran melihat kecemasan di wajah Celine. Padahal menurut Natan mereka sudah berkencan, tapi kenapa sikap Celine sebaliknya?
"Tenanglah, aku tidak akan menyakitimu."
.
.
__ADS_1
.
Skip ya✌
Sementara di tempat lain.
Seorang wanita tertidur pulas di bangsal rumah sakit. Sudah dua hari dia dirawat dan ditangani dokter ahli terbaik di rumah sakit itu. Dua perawat masih siaga menjaganya.
"Sebelum tidur Nona Jen selalu melihat foto ini di handponenya. Sepertinya pria itu kekasih nona Jen. Tapi, kenapa tidak datang menjenguknya?"
"Mungkin, pria itu masih sibuk."
"Tampan, sih. Tapi tega sekali dia mementingkan pekerjaan daripada keselamatan kekasihnya."
"Sejak kapan kalian mengurusi kehidupan pribadi pasien?" Pria berkemeja putih khas seorang dokter terlihat marah, kehadirannya membuat suster itu tertunduk. Salah seorang darinya meletakkan handpone pasien di tempat yang aman.
"Hargai privasi pasien, aku tidak mau kejadian ini terulang lagi, apa kalian mengerti?"
"Iy-iya ... maafkan kami, dok." Dua perawat itu pun pergi.
Dokter Ozan menghembuskan nafas, ia tidak tahu kenapa Jenyka masih saja memikirkan pria itu.
"Kau tidak mengijinkan aku menghubunginya, tapi mengapa kau masih memikirkan dia? Kapan kau benar-benar sadar kalau semua cerita tentang kalian sudah lama usai?"
__ADS_1