
67
Elma tersenyum masam melihat selimut yang beberapa hari ini menghangatkan malamnya, bahkan untuk selimut saja harus cuci kering baru dipakai, ia tidak punya selimut cadangan yang lainnya.
"Terimakasih, bik." Ibunya pasti bangga jika mendengar Elma berterimakasih kepada orang lain, satu hal yang sangat jarang ia ucapkan dulu.
"Elma, kau sudah bekerja keras menjaga domba-domba kakakmu. Bibik tau kau pasti kelelahan, harusnya kau istrahat saja tidak perlu membantu bibik lagi."
Elma menggeleng tidak setuju, selama tinggal di sini ia cukup lama mengamati kehidupan penduduk desa, meskipun sebagian pendapatan mereka dihasilkan dari menjaga domba-domba milik kak Marvel, tapi mereka tak pernah mengeluh, ntah bagaimana cara mereka mengatur keuangan, tapi hidup mereka terlihat bahagia tanpa merasa kekurangan sedikitpun. Elma tidak mau keadaan yang sekarang mengalahkannya.
"Kalau aku tidak kerja, aku tidak punya uang. Aku mau menunjukkan kepada kak Marvel kalau aku juga bisa mandiri. Lagipula, aku lebih suka mengembala daripada di rumah seharian."
Mau bagaimana lagi? Elma tidak akan bisa keluar dari tempat ini tanpa ijin dari Marvel, ntah kapan sepupunya itu mengirimkan orang untuk menjemput dan membawanya pulang, satu hal yang bisa dipastikan adalah dirinya akan menghabiskan hari-harinya sebagai pengembala domba.
Ya ... roda kehidupan memang selalu berputar. Dulu, Elma menghamburkan uang sesuka hati seolah ia masih punya stok uang yang lebih banyak lagi, tapi kini ia harus bersusah payah bekerja keras mencari uang untuk memenuhi hidupnya di masa depan.
__ADS_1
Wanita paruh baya itu tersenyum mendengarnya, ia tidak menyangka kalau Elma sudah mulai menerima keadaannya, padahal saat pertama kali datang ke rumah ini, Elma tidak bisa mengontrol emosinya. Setiap hari ada saja benda yang dirusak Elma, dia bahkan selalu minta dimasakkan makanan lezat ala restoran yang selama ini sering ditemui di rumah mewahnya.
.
.
.
"Apa kau tidak bisa meminta Marvel membatalkan keputusannya?" tanya Zack sambil melirik pintu ruang kerja Marvel yang baru ditutup Marvel dari dalam. "Anak itu sudah semakin kurang ajar padaku, dan kau ... kenapa kau tidak bisa melakukan apapun? Meskipun kau anak perempuan, tapi kau juga berhak mengatur perusahaan. Harusnya kau bertindak, bukan malah diam saja saat suamimu dihina dan dibuang ke tempat terpencil sana!" Zack melemparkan dasi ke sembarangan arah, ia benar-benar emosi karena Marvel sudah semakin kurang ajar padanya.
"Kau menyalahkanku?" Cloe tidak terima. "Apa kau lupa kalau kau juga pernah menguasai perusahaan? Tapi, kau menyalahgunakan kekuasaanmu dan hampir membuat perusahaan bangkrut!"
"Lalu apa maumu? Apa aku harus mengemis pada Marvel agar dia mau mengembalikan posisimu seperti semula?" Cloe menggelengkan kepala. "Aku jadi tidak yakin kalau kau bisa diandalkan!"
"Cloe tutup mulutmu!" Tangan Zack melayang di udara siap melayangkan pukulan di pipi istrinya, tapi tanpa di duga, Marvel mencekal tanganya sangat erat.
__ADS_1
"Berani sekali kau membuat keributan di rumahku!" Menghempaskan tangan pamannya secara kasar sampai pria itu hampir terjatuh. "Kau mau memukul bibiku?" bentak Marvel, matanya merah sepertinya saat ini ia sudah tidak bisa mentoleransi perbuatan pamannya lagi.
Zack terpaku tanpa suara, lebih baik diam daripada Marvel terpancing dan membongkar rahasia yang ditutupi dari istrinya.
"Sudahlah, Marvel ... Pamanmu tidak salah, bibik yang sudah keterlaluan memancing emosinya." Cloe berusaha mencairkan suasana agar Marvel tidak lepas kendali memukul pamannya sendiri.
"Bibik bilang dia tidak bisa diandalkan, padahal tidak seperti itu kenyataannya 'kan? Akhir-akhir ini pamanmu sudah bekerja keras membantumu mengurus kantor, kau tau itu 'kan? Tapi mengapa kau mengirim paman ke tempat yang jauh?"
Marvel tersenyum sinis, ia melayangkan tatapan tajam kepada pamannya. "Aku bahkan ingin mengirimnya ke neraka!" Bibi Cloe mendelik. "Keputusanku tidak pernah salah, aku punya alasan mengapa harus mengirimnya kesana!"
"Cukup Marvel! Apa kau lupa kalau dia pamanmu? Suami bibimu?" Cloe masih memasang badan membela suaminya.
"Dia bahkan tidak menganggap bibik sebagai istrinya!" Marvel bergegas maduk ke ruang kerjanya mengambil beberapa berkas untuk ia tunjukkan kepada bibinya. Zack semakin gelisah melihat Marvel memberikan beberapa bukti yang bisa membuat Cloe membencinya. "Lihatlah seperti apa suami yang bibik banggakan! Selama aku di London dia berulah lagi, korupsi uang perusahaan untuk dihamburkan di rumah bordir!" Kali ini sudah tidak ada toleransi untuk Zack.
Mata Cloe terbiak lebar melihat beberapa foto suaminya sedang menggandeng wanita lain.
__ADS_1
Plak!!!
"Dasar suami tidak berguna! Aku pikir selama ini kau setia, tapi ternyata kau seorang pengkhianat!" teriaknya setelah melayangkan tamparan di wajah sang suami.