Marquess And Spirit Witch

Marquess And Spirit Witch
Ajakan Dansa


__ADS_3

Flashback


"Boleh saja.Lebih cepat lebih baik." jawab Noah.


Sesaat setelah itu seseorang menghampiri Noah.Gera yang menyadarinya menarik baju Noah.


"Hm?Ada apa Gera?." tanya Noah.


"Tuan Putri Michella berjalan mendekati kita." jawab Gera sambil menunjuk ke arah Michella.


"Selamat malam Tuan Muda Noah." salam Michella pada Noah.


"Selamat malam Tuan Putri,semoga Dewa memberkati anda." balas Noah.


"Setelah ini lagu kesukaan saya,maukah anda berdansa dengan saya?"


'Sial!..'


.


.


Episode 32


"Maaf atas kelancangan saya Tuan Putri, bagaimana kalau anda berdansa dengan saya?" tawar Eugene mencoba membantu Noah.


"Suatu kehormatan bagi saya Putra Duke Muda, tapi bukankah bagus jika bintang acara hari ini melakukan dansa pertamanya?Terlebih saya sangat ingin berdansa dengan Tuan Muda Noah." jawab Michella.


'Cih,banyak mata yang menonton.Jika begini aku tidak bisa menolaknya,bisa-bisa martabat keluarga ku hancur..mau bagaimana lagi.' batin Noah kesal.


"Eugene,tidak apa-apa." ucap Noah pada Eugene.


"Tapi..Noah..".


Ia mendekati Michella dan membungkuk.Mengulurkan tangannya pada Michella.


"Yang Mulia,maukah anda berdansa dengan saya?" sontak Gera dan Eugene sedikit terkejut.Padahal itu bukan hal yang harus Noah lakukan.


"Terimakasih banyak ,Tuan Muda Noah." jawab Michella memberikan tangannya pada uluran tangan Noah.


Mereka berdua pun menuju lantai dansa dan menunggu lagu selanjutnya.Gera yang kesal pada Michella pun pergi mencari Marquess.


'Ah..padahal dia sangat berharap bisa berdansa dengan Cecil..' batin Eugene.


Eugene melirik kearah lain,ia mendapati Cecil menatap Noah dan Michella tak percaya.Wajahnya tampak kurang baik.Cecil pun pergi dari tempatnya.


'Cecil!Sial!'


Eugene pun segera mengikuti Cecil dari belakang.Gwen yang melihat Eugene lari tergesa-gesa ke arah belakang pun tahu apa yang terjadi,begitu juga Marquess dan Duke.


"Kasihan sekali Noah,dia tidak bisa menolak demi menjaga martabat keluarganya." ucap Duke.


"Ayah,apakah Noah dan Cecil akan baik-baik saja setelah ini?Aku berpikir tidak." tanya Gwen cukup cemas.


"Entahlah.Ini masalah yang akan masuk dihubungan mereka,aku pun tidak tahu." jawab Duke.


"Sudahlah,jangan terlalu dipikirkan.Ada Eugene disisinya selain Noah.Kalian berdansa lah,setelah ini lagunya akan mulai." lanjut Duke.


"Suamiku,apakah gadis yang sangat mirip dengan mendiang Marchioness dan Gera tadi adalah Cecil yang kamu bicarakan?" tanya Grace pada Gwen.


"Benar,dia hanya bisa terlihat oleh keluarga Casnelia dan Luxbello.Kamu bisa melihatnya karna bantuan sihir walau hanya sesaat." jawab Gwen.


"Dia cantik sekali.Pantas saja Eugene menyukai nya." ucap Grace.


"Ya,dan cinta mereka bertepuk sebelah tangan.Sudahlah, istriku."


"Ya?"


Gwen membungkuk dan mengulurkan tangannya pada Grace.


"Maukah kamu berdansa denganku?" tawar Gwen.Grace yang tersipu malu pun tertawa kecil dan menerima uluran tangan suaminya itu.


"Dengan senang hati." jawabnya.


Mereka berdua pun menuju lantai dansa, meninggalkan Duke dan Marquess.Tak lama kemudian rombongan wanita bangsawan mendekati Marquess dan Duke.Dari muda sampai tua.


"Tuan Marquess! Berdansa lah dengan saya!"


"Tidak Tuan!Saya saja!"


"Saya saja!"


"Duke!Mari berdansa dengan saya!"


"Anda masih keren dan tampan walau sudah berumur."


Marquess dan Duke tidak bisa keluar dari situasi saat ini.Terlalu banyak wanita disekitar mereka.


/Disisi Cecil dan Eugene.

__ADS_1


Eugene mendatangi tempat Cecil di luar ruangan.Tempat berpola lingkaran dengan lampu hias yang menggantung sesuai bentuknya.


Cecil duduk di bangku salah satu sisi pilar.Dia terdiam sambil tertunduk tanpa suara.Eugene yang melihat Cecil tampak kecewa itu segera menghampirinya.


"Cecil.."


"Eh?Eugene?"


Eugene berlutut didepan Cecil.Ia menggengam tangan Cecil lembut dengan ekspresi cemas


"Apa kau baik-baik saja?.." tanya Eugene.


Cecil terdiam.Matanya sudah berkaca-kaca menahan air mata.Tak bisa menahan air matanya lagi, Cecil pun menangis di depan Eugene.


"Kenapa harus wanita itu?.. padahal dia penyebab Noah mati..kenapa?.." Cecil benar-benar kesal. Dia sangat membenci Michella sejak lama.


Eugene tidak bisa melihat Cecil terus menangis karna itu.Hatinya ikut sakit melihat wanita itu menangis.


"Cecil..sebenarnya Noah juga tidak ingin berdansa dengan Putri Michella.Aku sudah mencoba menggantikannya tetapi tidak bisa..maafkan aku.." ucap Eugene sambil mengusap air mata Cecil.


"Tidak..kau tidak salah..Sejak awal Putri Michella sudah mengincar Noah..tapi,tetap saja aku tidak rela." ucap Cecil.


Eugene tidak kuasa melihat Cecil menangis, ia pun memeluk Cecil dan mengusap lembut rambutnya. Ia berusaha menenangkan Cecil agar tidak terus menangis.


'Selama ini hidupmu pasti sangat berat bukan?..andai saja aku menyadari keberadaan mu lebih awal..'


Gera yang melihat Eugene menenangkan Cecil dari dalam ruangan, makin memendam rasa tidak suka pada Michella.Sejak awal dia sudah tidak menyukai Michella.


"Lady?Kenapa wajah anda masam begitu?"


Seorang pemuda yang sedikit lebih tua dari Gera.Rambut coklat tua dan mata kuning keemasan.


"Sir Jeffry?Ah,maaf!Saya menunjukan wajah yang tidak seharusnya anda lihat!" ucap Gera membalas pemuda bernama Jeffry itu sambil menutup wajahnya.


Pemuda itu adalah putra Marquess Vellino. Jeffry Evan Vellino.Dia adalah orang yang sering bermain bersama Gera beberapa waktu yang lalu.Dan juga orang yang ditandai Noah untuk dihilangkan dari muka bumi(Episode 10).


"Tidak apa-apa.Anda terlihat tidak baik,apakah anda ada masalah?" tanya Jeffry.


"Tidak,saya hanya memikirkan sesuatu sesaat." jawab Gera.


"Benarkah,tapi sepertinya tidak begitu." Jeffry mengulurkan tangannya sambil membungkuk.


"Maukah anda berdansa dengan saya lady?" ujarnya.


Belum sempat Gera menjawab, seseorang sudah mendekati mereka berdua.


"Maaf kan aku Sir Jeffry,tapi aku sudah ada janji dengan Lady sebelumnya."


Putra Mahkota membantu Gera dari Jeffry.Ia tahu kalau Noah tidak menyukai Jeffry terlalu dekat dengan Gera.


"Terimakasih, Yang Mulia." ucap Gera pada Putra Mahkota.


"Ini bukan masalah.Dan juga..anu Gera..akan lebih baik jika kamu memanggil ku Kak Veldas.Panggilan Putra Mahkota terasa aneh,kita tidak seasing itu." ucap Putra Mahkota agak ragu.


"Apa tidak apa-apa?Kakak bilang sebelum menginjak usia masuk pewaris tahta tidak diperbolehkan memanggil anggota Kekaisaran dengan namanya." tanya Gera.


"Tidak apa-apa,karna aku yang meminta mu." jawab Putra Mahkota.


"Emm, baiklah..Kak Veldas?"


"Anak pintar!Kalau begitu,maukah anda berdansa dengan saya Lady?" ujar Putra Mahkota mengulurkan tangannya sambil tersenyum lebar pada Gera.


"Dengan senang hati, Yang Mulia Putra Mahkota." balas Gera diiringi senyum manisnya.


Mereka berdua pun menuju lantai dansa.Seluruh mata menatap mereka berdua yang tampak serasi.Tak terkecuali Marquess yang membara kesal ingin marah.


'JANGAN DEKATI PUTRIKU!!' batinnya.


Noah yang melihat Gera bersama Putra Mahkota pun ikut kaget.


'BERANI-BERANINYA DIA MENGAJAK GERA ppBERDANSA!! LIHAT SAJA NANTI!' batin Noah emosi.


"Entah kenapa.. punggungku terasa panas.." gumam Putra Mahkota.


"He? Padahal udaranya sejuk." ucap Gera heran.


"Entahlah..ahahaa.." balas Putra Mahkota.


Para pemain musik berhenti.Para bangsawan yang ingin berdansa,menepatkan diri mereka


bersama pasangan mereka di tempat dansa.


Perlahan suara merdu keluar dari alat-alat musik.Alunan lagu yang pelan mengiringi gerakan dansa Michella dan Noah yang berdansa dengan sangat serasi,lembut,seolah mereka menyatu dengan lagunya.


Eugene mendengar lagu dari ruangan pesta.Pikiran untuk berdansa dengan Cecil langsung melewati pikirannya.


'Aku tidak bisa membiarkan Cecil seperti ini terus.Dia harus merasakan bagaimana perasaannya ketika berdansa dengan pria' pikir Eugene sambil tersenyum tipis.


Ia membungkuk dan mengulurkan tangannya pada Cecil.

__ADS_1


"Lady, mari." ucapnya dengan lembut.


Cecil pun sadar lagu di ruang pesta sudah berganti.Dia tidak bisa berdiam diri dan sedih di hari yang bahagia untuk Noah.


"Baiklah."


Dibawah sinar bulan yang terang dan beberapa sorot lampu mengitari mereka. Eugene dan Cecil berdansa di antara pilar pilar disekeliling mereka.


Perasaan yang baru pertama kali Cecil rasakan.Sebelumnya dia tidak pernah belajar berdansa tapi entah kenapa,saat ini dia merasa bisa selaras dengan gerakan Eugene.


"Kau mahir juga,siapa yang mengajarimu?" tanya Eugene.


"Aku tidak pernah belajar berdansa sebelumnya.Ini pertama kalinya bagiku." jawab Cecil dengan sedikit senyuman terukir di wajahnya.


"Sepertinya ini yang disebut bakat alami.Aku kagum." ucap Eugene.


"Emm, terimakasih.Tapi aku tetap harus belajar lebih banyak agar tidak mengecewakan." balas Cecil.


"Kalau begitu.."


"Hum?WAAA!"


Betapa terkejutnya Cecil begitu Eugene mengangkat tubuhnya secara tiba-tiba. Hembusan angin lembut menghempas rambut perak mereka berdua.


"Mau ku ajari lagi,Lady?" lanjut Eugene dengan senyuman manisnya.


"Ah.." Cecil terdiam sebentar lalu tersenyum membalas senyuman Eugene.


"Dengan senang hati." jawabnya.


Secara tidak sengaja Noah melihat Eugene dan Cecil dari dalam ruangan.Walau tidak begitu jelas karna tertutup banyak orang. Raut wajahnya berubah muram. Michella yang menyadari itu pun kebingungan.


"Tuan Muda?" tidak ada jawaban dari Noah.


"Tuan Muda Noah." masih tidak ada jawaban.


Michella sedikit kesal. Dengan sengaja ia menginjak sedikit kaki Noah.


"Akh!Aduh..duh.." Noah terlihat kesakitan akibat injakan kaki Michella.


"Maafkan saya Tuan Muda,tapi saya sudah memanggil anda beberapa kali dan anda tidak menjawab." ucap Michella.


"Ah..maafkan saya Tuan Putri.Apa anda perlu sesuatu?" tanya Noah.


"Anda terlihat tidak baik,wajah anda pucat.Saya khawatir anda kelelahan." jawab Michella.


"Maaf membuat Tuan Putri cemas.Saya hanya memikirkan sesuatu saja sesaat.Saya baik-baik saja, terimakasih atas perhatian anda." ucap Noah.


"Baiklah kalau begitu."


Lagu masih berjalan.Pasangan Baginda Kaisar dan Baginda Ratu membuat banyak orang tertarik. Noah dan Michella juga melirik ke arah pasangan itu.


"Baginda Ratu Lilia sangat anggun, sepertinya Tuan Putri sangat mirip dengan beliau." ucap Noah.


"Tidak,saya masih jauh dibawah beliau." balas Michella.


Noah melirik Michella.Raut wajahnya berubah,seolah ia sedang memikirkan sesuatu.


"Tuan Putri,apakah anda ada masalah?" tanya Noah.


"Emm,itu.." Michella tidak melanjutkan kata-katanya.


"Katakan saja pada saya.Saya akan berusaha untuk membantu anda." ucap Noah meyakinkan Michella.


"Anu, sebenarnya..saat melihat ayah dan ibu bersama,saya teringat cerita pertemuan mereka dari ibu.Katanya mendiang Marchioness dan ibu adalah sahabat karib, begitu juga dengan ayah dan Marquess." ucap Michella.


'Ah,cerita 6 tahun lalu.Aku juga mendengarnya tepat saat pemakaman ibu dari Ratu Lilia.' pikir Noah.


"Lalu ibu bilang, 'Waktu tidak menentukan perasaan Michella,walau hanya sepersekian detik kamu bertemu dengan seseorang,ia bisa memikat hati mu.Contohnya ayahmu itu.' begitu.Lalu saat ulang tahun saya yang ke-6,saya bertemu dengan seseorang.." lanjutnya.


Noah membatu.Dia tahu kalau Michella pasti mengingat nya dan Putra Mahkota waktu itu.


'Gawat!' batin Noah gugup.


"Siapa itu Tuan Putri?.." tanya Noah agak gagap.


"Hmm,entahlah.Rambutnya biru tua agak panjang,matanya berwarna emas berkilau benar-benar cantik.Sebelumnya saya sempat berpikir kalau dia adalah Tuan Muda Segaf,tapi ternyata bukan.Ia bahkan tidak datang di pesta malam itu." jawab Michella.


"Ada satu lagi, sepertinya dia sahabat pemuda itu.Rambut dan matanya sangat mirip dengan mendiang Marchioness dan Gera,maka dari itu saya ingin bertanya pada Tuan Muda Noah,apakah anda punya kerabat jauh dengan karakteristik seperti itu?." lanjut Michella bertanya.


"Rambut perak putih hanya dimiliki keluarga Duke Casnelia,dan Ratu.Dan,saya tidak punya kerabat jauh yang seperti Tuan Putri katakan." jawab Noah.


"Tapi..aku benar-benar ingin tahu pemuda-pemuda itu." ucap Michella agak murung.


"Kalau boleh tahu,siapa yang lebih menarik perhatian Tuan Putri?" tanya Noah penasaran.


"Emm,saya lebih suka pemuda rambut putih..karna saya mengagumi mendiang Marchioness,secara alami saya lebih menyukai nya." jawab Michella malu.


'Tamatlah riwayatmu Veldas..'

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2