
Flashback
Gwen melihat tatapan Eugene masih kosong. Sepertinya Eugene tidak akan bisa merasakan apa-apa walaupun dia sakit parah nantinya.
"Maaf,saya baru pulang, ayah." ucap Eugene lemas.
"Tidak apa-apa. Aku paham alasanmu pergi saat hujan deras begini. Kamu sudah berusaha." ucap Gwen lembut sambil menepuk pundak putranya.
"...maaf."
"Bersihkan badanmu lalu datanglah ke kamar ibumu. Kita akan berbincang sedikit." Gwen tersenyum tipis lalu pergi meninggalkan Eugene yang masih berdiri di depan pintu.
"Tuan Muda,air panasnya sudah siap." ucap pelayan.
"Terimakasih.."
.
.
Episode 45
Seusai mandi dan ganti pakaian, Eugene langsung beranjak menuju kamar ibunya. Tatapannya masih kosong seperti tadi. Langkahnya begitu lemas.
Begitu sampai di kamar ibunya.Ia langsung mengetuk pintu.
tok!tok!
"Masuklah." balas Gwen dari dalam. Eugene pun masuk tanpa ragu.
Gwen duduk di sebelah Grace,istrinya yang sedang hamil 4 bulan. Eugene tidak tahu kenapa ayahnya memanggil nya ke kamar ibunya daripada di ruang kerja.
"Eugene,duduklah disini."
Eugene mendekat ke arah ibunya. Ia duduk di samping dan diam tanpa mengatakan sepatah kata pun.
Grace tersenyum pahit melihat Eugene.Bola mata hijau yang seperti matanya tidak lagi berkilau seperti sedia kala.
"Sakit sekali ya?" tanya ibunya.
"Apa maksud ibu?" balik Eugene bertanya.
"Kami tidak perlu menyembunyikan perasaan mu di depan ibumu,nak." ucap Gwen meyakinkan putranya. Mereka tahu,pikiran Eugene yang saat ini kacau balau,perasaan nya yang tidak seimbang, mentalnya yang melemah,dan emosinya yang meluap-luap. Eugene menahan itu semua di depan orang tuanya.
"Saya..tidak apa-apa.." jawab Eugene lemas.
__ADS_1
Grace tersenyum. Ia mengusap halus wajah putranya yang pucat itu.
"Kamu tahu,Eugene? Kematian seseorang tidak ada yang tahu. Cepat atau lambat semua orang akan mati jika sudah waktunya. Tapi,perasaan mereka pada orang yang benar-benar mereka cintai di akhir hayat tidak akan pernah mati bersama mereka."
"Bagaimana ibu bisa tahu?..padahal ibu belum merasakannya."
"Tentu saja. Ibu belajar dari kakekmu."
"Kakek?.."
"Benar. Apakah kamu tahu awal nya kakek dan mendiang nenek mu tidak saling mencintai sama sekali?" tanya Gwen.
"Mereka tidak saling mencintai?.." tanya Eugene masih dengan tatapan kosongnya. Dia tidak seperti orang penasaran.
"Iya. Mereka dijodohkan. Sejujurnya ayah dan mendiang bibi mu mendapat kasih sayang mereka sebatas tanggung jawab orang tua. Mereka seolah saling mencintai di depan kami berdua,walau aslinya tidak. Tapi, mereka juga tidak saling membenci. Sampai akhirnya nenek mu jatuh sakit dan begitu parah. Kakekmu meninggalkan pekerjaannya demi menemani istrinya yang bahkan tidak dia cintai sama sekali. Hingga suatu hari dimana nenekmu tidak lagi bisa bertahan,mereka baru menyadari perasaan mereka berdua yang terpendam begitu lama dan tidak berani mereka ungkapkan satu sama lain. Di detik terakhir nenekmu,beliau mengungkapkan perasaannya dan menghembuskan nafas terakhirnya."
Eugene sedikit tercengang mendengar kalimat terakhir itu. Seolah,sama dengan dirinya dan Adel.
"Lalu..apa yang terjadi pada kakek setelah kematian nenek?" tanya Eugene.
Gwen tersenyum tipis. Ia pun melanjutkan ceritanya.
"Kakekmu begitu tertekan. Ia hampir mencoba bunuh diri dengan racun tapi kekebalan tubuhnya terhadap racun membuat percobaan itu gagal. Sekitar 1 bulan,beliau mengabaikan ayah dan bibimu, menitipkan kami berdua pada pengasuh. Lalu,disaat kakekmu hendak benar-benar mengakhiri hidupnya. Ia terus teringat nenekmu. Senyum,suara,dan juga perhatiannya yang saat itu tidak ia sadari perasaannya. Kakekmu bilang kata-kata yang sangat ia ingat dari nenek mu adalah 'Cinta memang melemahkan mu,tapi cinta juga membuatmu kuat. Kehilangan seseorang yang anda cintai dan mencintai anda,tidak akan menghilangkan perasaan diantara kalian'. Sejak saat itulah kakek mu mulai bangkit. Ia berusaha sekuat tenaga bertahan hidup bersama kedua anaknya demi mendiang istrinya."
Air mata mengalir dari kedua matanya tanpa ia sadari. Dada nya begitu sesak mengingat semua hal tentang gadis itu. Wasiat terakhirnya untuk menjaga Albert, jika ia tidak melakukan itu Adel pasti kecewa dan marah padanya nanti.
"Ahh..begitu.."
Eugene menatap lurus kedepan.Matanya makin melebar melihat sosok gadis yang tadi pagi dimakamkan berdiri di belakang Gwen.
"Aku akan terus mendukung dan mengawasi mu dari atas,Eugene. Kita akan bertemu lagi suatu saat nanti. Sampai saat itu tiba,jagalah Albert dan bahagialah. Aku sangat mencintaimu."
Sosok itu pun menghilang begitu mengungkapkan perasaannya 'lagi' dengan jelas pada Eugene.Tubuh nya mulai gemetar.Gwen langsung memeluk erat Eugene dan mengusap kepala putranya dengan lembut.
"Kamu sudah bertahan melewati ini dengan baik. Ayah bangga padamu. Ingatlah gadis itu untuk terus menguatkan mu menjalani hidup,Eugene." ucap Gwen.
Eugene tidak dapat lagi menahan air matanya. Ia menangis sekencang-kencangnya di pelukan ayahnya. Tubuhnya makin gemetar mengingat Adel yang sekarat di pangkuannya saat itu.
"Tidak apa-apa..menangislah sepuasmu."
Eugene menangis cukup lama sampai tertidur pulas di sebelah ibunya. Ia pasti sangat lelah menahan ini semua sendirian.
"Eugene sudah dewasa ya. Aku pikir dia masih anak-anak yang berlari sambil menangis menuju ibu nya karna bertengkar dengan Noah." ucap Grace sambil mengusap rambut Eugene pelan.
"Itu kejadian yang sangat lama. Sebentar lagi dia punya adik yang harus dia jaga. Ditambah,pangeran Albert akan sangat bergantung padanya dan Noah serta putra mahkota karna tidak ada lagi putri Adeline di sampingnya." ucap Gwen sedikit merasa sedih.
__ADS_1
"Di hari yang seharusnya menjadi hari bahagia pertama kali dalam hidupnya,berubah menjadi hari terakhir baginya." ucap Grace.
"Gadis yang malang. Jika saja ibu suri tidak terobsesi dengan tahta dan kekuasaan.Semua ini tidak akan terjadi." lanjutnya.
Tiba-tiba sebuah pemikiran lewat di otak Gwen.Grace yang melihat Gwen tiba-tiba menunjukkan wajah yang serius berpikir merasa heran.
"Ada apa??" tanyanya.
"Aku teringat dokumen yang diberikan Noah tadi pagi. Dokumen yang berisi semua perkataan ibu suri saat melawan Noah di istana bersama Albert. Dan diantara kata itu ada sebuah kata yang terasa janggal..saat Noah membawa ibu suri ke penjara,beliau berkata 'aku melakukan ini semua demi cucuku dan putraku.' begitu kira-kira." jawab Gwen.
"Apa?.. Bukankah ibu suri bilang akan melepas semua tanggung jawab di istana dan mengurung diri?..Bahkan keberadaan putri Adeline dan pangeran Albert masih di rahasiakan termasuk dari ibu suri.."
"Aku bertanya pada baginda alasan ibu suri mendadak akan datang ke debutante putri Adeline. Beliau bilang karna ibu suri melihat keramaian orang yang membawa banyak gaun dan pakaian anak laki-laki jadi beliau akan datang membawa hadiah walau tidak tahu ada acara apa. Tapi,baginda sepertinya tidak berani menentang ibu suri walau beliau tahu ada maksud tersembunyi dibalik alasan ibu suri datang." jelas Gwen.
"Itu artinya ada seseorang yang memberitahu sesuatu soal putri Adeline dan pangeran Albert pada ibu suri.." gumam Grace.
"Putri Michella..."
"?!"
Grace meyakinkan kata-katanya.Walau Gwen sedikit terkejut,tapi pikirannya sama dengan istrinya.
'Ah! Pemikiran Grace dikuatkan dengan cerita masa lalu Noah. Dia bilang dia dihukum pancung karna putri Michella yang menuduhnya melakukan percobaan pembunuhan keluarga kaisar karna menolak cintanya. Orang yang bisa mencuci otak putri adalah orang yang dekat dengannya.Tidak salah lagi..ibu suri.'
"Eugh.."
Pikiran Gwen dan Grace berhenti ketika mendengar suara Eugene mendengkur. Ia masih lelap tertidur.
"Sebaiknya kamu istirahat.Jaga kesehatan anak kita." Gwen mengusap perut istrinya dan rambut Eugene. Ia berdiri dan memakai jas nya hendak beranjak pergi.
"Kamu mau kemana?" tanya Grace.
"Menyelesaikan semua masalah ini secepatnya." jawab Gwen. Ia mencium kening istrinya lalu pergi.
"Tuan,anda mau kemana?" tanya kepala pelayan.
"Aku akan ke istana.Siapkan kereta kuda.Hubungi baginda dan Marquess Luxbello untuk mengadakan pertemuan darurat.Dan juga..alihkan perhatian Eugene untuk tidak datang ke istana atau pergi keluar rumah. Biarkan dia istirahat." jawab Gwen. Kepala pelayan tersenyum hangat dan mengangguk paham.
"Baik.Sesuai perintah anda."
Gwen pun pergi ke istana.Menyelesaikan semua masalah dan membuat perasaan anaknya tenang.
'Noah pasti akan memperlancar semua ini sesuai niat balas dendamnya.'
Bersambung...
__ADS_1