Marquess And Spirit Witch

Marquess And Spirit Witch
Hukuman Pendosa


__ADS_3

Flashback


"Aku tahu kamu akan menjaga Albert..aku titip dia..dan sekali lagi.."


"BERHENTI!! JANGAN KATAKAN APAPUN!!"


"Aku.. menyukaimu.."


Tangan Adel jatuh lemas di atas genangan darah. Veldas tidak percaya apa yang dia lihat sekarang. Air matanya mengalir tanpa ia sadari.


Eugene menatap kosong kearah gadis yang sudah tidak bernyawa di pangkuannya. Air matanya tidak bisa berhenti mengalir.


"Adel.."


Tidak ada jawaban atau bahkan gerakan dari gadis itu. Emosi Eugene meluap diikuti kesedihannya yang begitu mendalam.


"TIDAK!! ADEL!! AAAAAAAAGHHHHH!!!!"


.


.


Episode 44


Seluruh penjuru kekaisaran menjadi heboh karna kejadian mengerikan itu. Seluruh rakyat murka atas kematian Adel akibat ibu suri,sama hal nya ketika mendiang ratu terdahulu meninggal. Terlebih,sudah muncul rumor bahwa ibu suri juga merencanakan pembunuhan terhadap Ratu Olivia dan Albert.


Albert yang terkena serangan mental akibat kematian kakaknya mengurung diri di istana,dan tidak ada seorang pun yang diperbolehkan masuk termasuk Eugene dan Noah, bahkan keluarga kaisar yang lain.


Banyak sekali bunga di halaman Istana Celestian untuk mengenang sang putri.Ratusan ribu orang sangat berduka dengan kematian Adel yang begitu mengenaskan di hari debutante sekaligus perayaan kedewasaan nya. Hari yang seharusnya menjadi hari bahagia pertama kali dalam hidupnya,menjadi begitu mengenaskan.


Para rakyat dan bangsawan yang mendukung Adel melakukan demo pada istana Kaisar.Mereka memaksa ibu suri untuk dihukum mati dengan cara yang sama dengan Adel,bahkan lebih parah.


.


.


"Sampai kapan kau akan berdiri disana,Eugene?"


Veldas,Noah,dan Segaf menatap sedu kearah Eugene yang kehujanan di depan makam Adel.Pria itu tidak beranjak dari tempatnya lebih dari 6 jam.Tidak tahan melihatnya,Noah membuka payung, berjalan ke arah Eugene.


"Kau bisa demam." ucap Noah.


Eugene tidak bergeming.Tatapan matanya kosong menatap makam. Bahkan ia sendiri tidak tahu apakah dia masih bisa berpikir atau tidak.


"Eugene,Noah,kita harus segera ke aula untuk pidato baginda." ucap Segaf mengingatkan.


"Aku akan kembali lebih dulu untuk memberitahu ayah kalian akan sedikit terlambat." Veldas pergi terlebih dahulu, meninggalkan mereka bertiga.


Noah dan Segaf paham perasaan Veldas yang juga campur aduk melihat kematian Adel yang begitu mengenaskan. Mereka juga begitu,tapi Veldas dan Eugene jauh lebih parah.


"Adel tidak akan kembali meskipun kau seperti ini,Eugene. Kita harus kembali."


Noah menarik lengan Eugene secara paksa.Mau tidak mau dia melakukan itu agar Eugene mau bergerak.


'Sial..'


Aula Istana


Eugene,Noah,dan Segaf sudah berdiri di Aula. Eugene masih tetap diam seribu bahasa dengan wajah data dan tatapan kosong nya. Para bangsawan melihat ketiga pria itu dengan tatapan sedih. Mereka sama murka nya dengan mereka atas kematian Adel.


"Bawa ibu suri kehadapan ku.."


"Baik,baginda!"


Pintu aula terbuka.Seorang wanita tua yang tak lain adalah ibu suri berjalan dengan rantai di tangannya. Pakaiannya sangat lusuh dan rambutnya begitu berantakan. Kaki dan tangan kurusnya membuatnya makin terlihat mengenaskan.


"Ya ampun itu ibu suri?"


"Dia cocok menyandang gelar penjahat terburuk abad ini."


"Bagaimana dia bisa sekejam itu?"


"Kasian sekali putri Adeline."


"Sssttt,diam lah."


Seluruh mata tajam yang berisi amarah menatap langsung ke ibu suri,termasuk baginda kaisar.


Michella menatap neneknya tidak percaya. Ia mengalihkan pandangannya ke arah lain begitu ibu suri melihat ke arahnya.

__ADS_1


"Ibu..apakah ibu sadar apa kejahatan yang ibu lakukan?" tanya kaisar.


"...tidak." jawab ibu suri membuat seluruh orang di aula sangat kaget. Eugene yang mendengar itu langsung marah dan hendak menyerang ibu suri.


"DASAR NENEK SIHIR!!"


"EUGENE BERHENTI!!"


Dengan sigap Noah dan Segaf menahan Eugene yang hendak berlari dan mengeluarkan pedangnya.


"LEPASKAN!! AKU HARUS MENGHUKUMNYA!! GARA-GARA DIA...!!"


"TENANGLAH!!"


Kaisar merasa kasihan pada Eugene.Ia meminta Veldas untuk menenangkan Eugene.


"Putra mahkota,tenangkan dia.."


"Baik,ayahanda."


Veldas membantu Noah dan Segaf menenangkan Eugene. Amarah Eugene sudah dipuncak, tapi ia berusaha menahannya.


Para bangsawan mencaci maki ibu suri. Kaisar sangat tidak percaya ibunya sendiri melakukan hal keji seperti itu dan merasa tidak bersalah.


"Baginda! Ibu suri harus dihukum setara dengan kejahatannya selama ini! Putri Adeline pasti lebih tersiksa daripada hukuman beliau nanti!!"


"Benar,baginda!! Ibu suri harus dihukum sama kejinya dengan kejahatannya!!"


Ibu suri tersenyum dan tertawa. Ia menatap kearah para bangsawan yang menghinanya.


"Putraku tidak akan melakukan itu. Kalian pikir dengan otak kalian itu kalian bisa menyingkirkan ku?"


BRAK!!


Kaisar memukul keras kursinya.Ia berdiri dan berjalan mendekat ke arah ibu suri.


"Anda salah,ibu. Saya bukan lagi anak lemah yang bergantung pada ibu nya seperti dulu."


"Apa maksudmu?..aku ini ibumu!! apa kau tega melakukan hukuman terhadap ibumu sendiri?!"


"CUKUP!! Saya selalu berharap anda sadar dan berhenti melakukan hal yang salah demi saya..tapi..ibu bahkan melakukan itu semua tanpa memikirkan perasaan saya."


Pernyataan langsung dari ibu suri membuat seluruh orang makin murka. Begitupun kaisar dan ratu.


"Lord! Bawa ibu suri ke penjara gantung!! Hukuman akan ku umumkan besok pagi!"


Gwen langsung bergerak sesuai perintah Kaisar.Ia menarik kasar ibu suri dan menyeretnya keluar.


"DASAR MONSTER!"


"KAU TIDAK SEHARUSNYA ADA DI DUNIA INI!!"


"NENEK SIHIR JELEK!!"


"DASAR PENJAHAT!!"


Makian dari para bangsawan makin banyak dan terus berlanjut sampai ibu suri meninggalkan ruangan.


.


.


Istana Celestian


"Pangeran,Lady Luxbello ingin menemui anda."


"Aku sudah bilang tidak mau menemui siapa-siapa, suruh dia pergi.."


"Ah..baik."


Gera menemui Albert dengan niat menemaninya.Tapi berkali-kali kedatangannya di tolak.


'Kak Adel..Albert tidak mau menemuiku..apa yang harus ku lakukan?..'


Seorang pelayan mendatangi Gera.Ia menyampaikan pesan Albert. Kali ini Gera sangat geram dan memaksa masuk.


"T-tunggu,nona!!"


BRAKKK!!

__ADS_1


"??"


Gera mendobrak pintu kamar Albert. Ia berjalan ke arah Albert dan mencubit pipinya.


"ADUH!! SAKIT!!"


"Sakit kan?"


"Tentu saja! Kenapa kau tiba-tiba mencubit pipiku?!"


"Sadarlah, Pangeran Albert!! Apakah dengan sikap anda yang seperti ini Putri Adeline akan senang disana? Apakah dia akan tenang meninggalkan adiknya seorang diri disini?!"


Albert terdiam. Gera benar, jika dia terus menerus berdiam diri dan menyiksa dirinya dengan tidak memakan apa-apa itu semua hanya membuat Adel tidak tenang di sana.


"T-tapi..kakak.."


"Putri Adel pasti juga berharap anda bisa bertahan hidup tanpanya..Maka dari itu,say akan disini untuk membantu anda.Tolong jangan menyerah untuk hidup!! Putri Adel pasti juga berpikir sama!!"


Albert mendengar suara Adel. Suara lembut kakaknya yang selalu memintanya untuk bertahan hidup apapun yang terjadi.


"Hiks..aku..merindukan kakak.."


Albert menangis deras. Ia begitu merindukan sosok Adel yang selalu tersenyum padanya setiap hari. Pelukan hangat yang melindunginya dari dingin.


"Menangislah,pangeran..tidak apa-apa."


Albert memeluk Gera erat dan menangis kencang cukup lama. Para pelayan merasakan apa yang dirasakan Albert.


.


Hujan turun cukup deras siang ini. Gwen yang baru saja kembali dari istana merasa ada janggal.


"Anda sudah kembali,Tuan." sambut kepala pelayan.


"Iya.Dimana istriku?"


"Ah, nyonya sedang beristirahat di kamarnya."


"Baguslah.Eugene?"


"Soal itu.."


"??"


"Tuan muda belum kembali sejak tadi. Kemungkinan beliau masih bersama putra mahkota dan tuan muda Luxbello."


Gwen merasa aneh. Jelas-jelas tadi dia melihat Eugene naik kereta kuda untuk pulang dan Noah masih bersama Marquess di ruangan Kaisar.


"Apakah kereta kuda nya lengkap?" tanya Gwen.


"Iya tuan." jawab kepala pelayan.


"Itu berarti dia pergi kesuatu tempat bersama Alpha." gumam Gwen.


"Apakah perlu mencari tuan muda?"


"Tidak. Dia akan kembali sebentar lagi."


"Baik."


Sesuai ucapan Gwen,Eugene langsung pulang tepat saat itu juga bersama Alpha,serigala saljunya.


"Tuan Muda! Kenapa anda basah kuyup begini?! Pelayan! Cepat siapkan air hangat untuk mandi!"


"Baik!"


Gwen melihat tatapan Eugene masih kosong. Sepertinya Eugene tidak akan bisa merasakan apa-apa walaupun dia sakit parah nantinya.


"Maaf,saya baru pulang, ayah." ucap Eugene lemas.


"Tidak apa-apa. Aku paham alasanmu pergi saat hujan deras begini. Kamu sudah berusaha." ucap Gwen lembut sambil menepuk pundak putranya.


"...maaf."


"Bersihkan badanmu lalu datanglah ke kamar ibumu. Kita akan berbincang sedikit." Gwen tersenyum tipis lalu pergi meninggalkan Eugene yang masih berdiri di depan pintu.


"Tuan Muda,air panasnya sudah siap." ucap pelayan.


"Terimakasih.."

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2