Marquess And Spirit Witch

Marquess And Spirit Witch
Organisasi Putih


__ADS_3

Flashback


"Kita akan pergi nanti malam.Untuk jaga-jaga,kita harus membawa senjata lain." lanjut Noah.


"Baiklah.Kita akan menangani itu,kau istirahat saja." ucap Putra Mahkota.


"Aku tidak ap-"


"JANGAN MEMBANTAHKU!!IKUTI SAJA DASAR ******!" teriak Putra Mahkota kesal.


'******?' pikir Noah dan Eugene heran.


"Baiklah,Yang Mulia.." balas Noah.


'Kenapa dia mulai sok-sokan peduli begitu?.. Membuatku merinding..'


.


.


Episode 35


Malamnya Noah,Eugene dan Putra Mahkota pun melanjutkan perjalanan menggunakan kereta kuda ditambah sihir teleportasi milik Noah.


Jujur saja,Noah sangat kelelahan harus memindahkan banyak barang ditambah 2 orang ke tempat yang cukup jauh.Ia sering mengalami muntah darah karna hal itu.Eugene dan Putra Mahkota sudah menyarankan Noah untuk memilih naik kereta tanpa sihir,tapi Noah menolak karna mereka tidak punya banyak waktu.


"Cecil mengajariku cara menggunakan sihir transportasi beberapa waktu lalu.Kita bertukar saja." ujar Eugene.


"Jangan,simpan energimu untuk berjaga-jaga jika ada hal yang tidak diinginkan nanti." balas Noah.


"Apa kau gila?!Tubuhmu sudah terlalu memaksakan diri!Dan lagi pula jika nanti kita diserang dan kau dalam keadaan parah seperti ini,siapa yang akan membantuku dan Putra Mahkota?!"


"Eugene benar, Noah.Berhentilah bersikap egois dan keras kepala begini!


Eugene dan Putra Mahkota benar-benar menyudutkan Noah.Noah tidak bisa membantah lagi,dan mengaku kalau dia terlalu egois kali ini.


"Baiklah..Kita akan naik kereta kuda saja." ucap Noah pasrah.


"Nah!Begit-"


"Tapi! Kita harus menggunakan sihir agar kuda berjalan 10x lebih cepat,tentu saja dengan bantuan sihirku dan Eugene." lanjut Noah.


"DASAR GILA KERJA!KAU HARUS ISTIRAHAT PENUH!JANGAN LAKUKAN APAPUN SELAIN BERNAFAS DAN TIDUR!"


Eugene dan Putra Mahkota memasukan Noah ke dalam kereta kuda dan menguncinya disana agar Noah tetap diam.


"Oi! Keluarkan aku!Eugene!Veldas!!SIALAN!!" teriak Noah dari dalam.Eugene dan Putra Mahkota pura-pura tidak mendengar suara Noah,dan melanjutkan perjalanan menuju desa terdekat untuk membeli bahan pangan lagi.


/Di sebuah Desa.


"Saya akan memastikan Noah terlebih dahulu."


Eugene turun dari tempatnya dan masuk ke dalam kereta mengecek kondisi Noah.Tampak Noah tertidur sangat lelap,ia tampak sangat kelelahan.


'Jika dia sudah tertidur sejak tadi, seharusnya dia merasakan guncangan karna jalan tidak rata.Dasar,padahal selelah itu masih saja keras kepala.' pikir Eugene.


"Eugene,aku akan pergi membeli beberapa bahan dan alat.Tetaplah disini dan pastikan Noah tidak kemana-mana." ucap Putra Mahkota.


"Baik,Yang Mulia." Putra Mahkota pun pergi meninggalkan Eugene bersama Noah di dalan kereta kuda.


Di sudut Putra Mahkota.Ia membeli 30 roti,30 daging,dan tidak lupa air minum.Beberapa buah-buahan juga tidak lupa ia beli.


'Sepertinya ini cukup.Baiklah ayo kembali!'


Saat hendak kembali,Putra Mahkota melihat seorang anak kecil duduk di pinggiran desa.Pakaiannya sangat lusuh dan tubuhnya sangat kecil dan kurus.Rambut blondenya tampak sangat kusut dan tidak terawat.Tidak tega mengabaikannya,Putra Mahkota mendekati anak itu.


"Hei,apa kamu lapar?" tanya Putra Mahkota.


Anak itu terdiam sesaat lalu mengangguk.Putra Mahkota memberikan anak itu 2 buah roti dan 3 buah,tidak lupa ia juga memberikan air minum pada anak itu.


"Makanlah!" ucap Putra Mahkota sambil tersenyum lebar.


Anak itu ikut tersenyum.Ia menerima makanan dari Putra Mahkota dan memakannya dengan lahap sampai habis.


"Anak baik."


Usai makan dan minum, Putra Mahkota membeli sebuah permen kapas dan memberikannya pada anak itu.


"Ini hadiah untukmu." ucap Putra Mahkota.


"T-terima kasih,Tuan!" balas anak itu.

__ADS_1


Rambut anak itu begitu panjang sampai menutup matanya.Terdengar dari suaranya,anak itu seorang anak lelaki.


"Hei,siapa namamu?" tanyanya.


Anak itu terdiam sebentar.


"Nama saya Albert." jawabnya.


"Nama yang bagus.Apakah..kamu tinggal disini sendirian?"


"Eh?Tidak..saya punya kakak perempuan,tapi dia sedang tidak ada.."


Putra Mahkota memiringkan kepalanya heran.Kenapa kakak Albert tega meninggalkan Albert sendirian di pinggir desa seperti ini.


"Memangnya kemana dia pergi?" tanya Putra Mahkota.


"Kakak mencari kerja di sekitar sini..Kami hidup miskin sejak orang tua kami dibunuh..Kakak,begitu berusaha keras menghidupi kita berdua." jawab Albert.


"Dibunuh?"


"Iya..saat itu umurku masih 6 tahun.Aku dan kakak sedang mencari bunga untuk dibuat mahkota di belakang rumah.Lalu,tiba-tiba terdengar suara teriakan ibu dari dalam.Saat aku dan kakak masuk,ayah dan ibu sudah terkapar di lantai tak berdaya dengan darah dimana-mana..Aku begitu takut."


"Hei,apakah kamu melihat orang-orang yang membunuh ayah dan ibumu?"


Albert terdiam.Dia mencoba mengingat sesuatu.


"Iya,mereka sekumpulan orang dengan baju putih dan membawa pedang di punggung mereka." jawab Albert.


'Mereka pasti orang yang sama dengan orang yang menyerang kami!' pikir Putra Mahkota.


"Berapa umurmu?" tanya Putra Mahkota pada Albert.


"Umur saya 10 tahun.Kakak saya 15 tahun jika anda ingin tahu." jawab Albert.


'Dia sangat muda ya..'


"Albert!!"


"Oh!Kakak!!"


Seorang gadis dengan rambut blonde yang cerah bermata biru sangat mirip dengan Michella berlari mendekati mereka berdua.Ia memeluk Albert dengan erat dengan raut wajah yang begitu khawatir.


"Maaf,kakak pasti membuatmu menunggu sangat lama.." ucap gadis itu.


"Tuan?" gadis itu spontan melihat ke arah Putra Mahkota.


"Halo,anda pasti kakak perempuan Albert kan?"


"Ah!Halo!Nama saya Adeline,anda bisa memanggil saya Adel.Terimakasih banyak telah menjaga adik saya.." balas gadis bernama Adeline itu.


"Tidak perlu berterima kasih.Lagipula adikmu tampak sangat kelaparan..jadi aku memberinya sedikit makanan tadi." ucap Putra Mahkota.


"Maafkan saya telah merepotkan anda.. Apakah ada sesuatu yang bisa saya lakukan untuk membalas kebaikan anda?" tanya Adel.


"Hm,ikut aku.Ada hal yang harus aku bicarakan denganmu dan adikmu."


"He?"


.


Putra Mahkota pun kembali ke kereta bersama Adel dan Albert.Disana tampak Eugene sedang mengasah pedangnya di belakang kereta.


"Eugene,aku kembali!"


"Selamat datang,Yang Mu-Eh?Siapa yang anda pungut ini?!"


"Jaga bicaramu!Mereka bukan binatang!"


"Maafkan saya..Silahkan duduk disini."


Eugene mempersilahkan Adel dan Albert duduk di sebelahnya.Putra Mahkota meletakan makanan yang ia beli tadi di dalam kereta dan ikut bergabung dengan mereka bertiga.


"Jadi,siapa mereka??" tanya Eugene curiga.


"Mereka orang yang terlibat dengan kelompok yang menyerang kita tadi.Orang tua mereka dibunuh oleh kelompok itu." jawab Putra Mahkota.


"Apa?!Dibunuh?!Apa alasannya?!"


Adel dan Albert terdiam.Mereka tampak ragu untuk menceritakannya.


"Katakan saja Adel.Pasti berat bagimu tidak mengatakan masalah pada siapapun selama ini." ucap Putra Mahkota mencoba meyakinkan Adel.

__ADS_1


"Ah..baik.."


Adel pun menceritakan semuanya dari awal.Ayahnya yang tidak tahu berasal darimana dan ibunya yang hanya seorang pedagang kecil yang dulunya tinggal di negeri seberang.Mereka hidup di desa itu sejak lama dan hidup bahagia.Sampai akhirnya sekelompok orang berbaju putih itu menyerang dan menghabisi orang tua mereka.Rumah mereka dijual demi makanan dan rela tinggal dijalan pinggir desa.Adel berusaha sekuat tenaganya demi menghidupi kebutuhannya dan Albert.


"Pasti sulit bagimu bertahan selama 4 tahun dengan keadaan yang begitu parah.." ucap Eugene merasa iba.


"Tidak,ini tidak seberapa jika itu demi adik saya." balas Adel sambil tersenyum.


Sejak tadi, Eugene sudah membakar beberapa ikan yang ia dapat dari sungai kecil di dekat sana.Ia memberikan Adel dan Albert ikan itu.


"Makanlah,kita masih punya banyak." ucap Eugene.


Adel dan Albert tampak sangat senang.Mereka menerima ikan itu dan sangat berterimakasih.


"Adel kan namanya?"


"Benar.Dia sangat mirip dengan Michella,hanya saja warna rambutnya lebih cerah dari Michella."


"Setahu saya rambut blonde bersinar hanya dimiliki keluarga Kaisar.Bagaimana rakyat biasa bisa memilikinya?"


Putra Mahkota terdiam.Pertanyaan Eugene membuat hatinya ikut resah.Darimana Adel dan Albert mendapat rambut blonde mereka?


"Anu,Adel."


"Iya?"


"Ekhem.Maafkan aku bertanya hal ini.Tapi,rambut blonde mu itu menurun dari siapa?" tanya Eugene.


"Oh!Ini dari ayah!Kami berdua sangat mirip dengan ayah dibandingkan ibu,hanya warna mata yang berbeda.Milik Albert cukup unik." jawab Adel.


"Warna mata?"


"Iya!Albert,tunjukan matamu."


"Iya."


Albert membuka rambut yang menutupi matanya.Betapa terkejutnya Eugene dan Putra Mahkota melihat mata Albert memiliki warna yang berbeda.Sisi kanan dengan warna biru sedangkan sisi kiri dengan warna emas.


"Menakjubkan.." gumam Eugene.


"Warna mata yang sangat spesial.." ucap Putra Mahkota.


"Karna hal itu,Albert tidak pernah memotong poninya sejak kecil.Ia selalu menutupinya." jelas Adel.


"Kenapa kalian ribut sekali..?"


"Noah,kau sudah bangun?"


Setelah sekian lama (beberapa jam),akhirnya Noah terbangun dari tidurnya.


"Aku sudah memasak i-AKH!!"


"Ada apa,Eu-HA!!"


Mata sayu,rambut berantakan,kemeja yang terbuka menampakkan dada bidang dan kekar Noah begitu memungkau.Eugene dan Putra Mahkota dengan sigap menutup tirai kereta agar Adel tidak melihatnya.


"Eh?Kenapa kalian menutupnya?" tanya Noah dari dalam.


"Ada gadis disini!Rapikan penampilan mu bodoh!" ucap Eugene.


"Lebih lama lebih baik!" ujar Putra Mahkota.


'Tidak akan ku biarkan kau mencemari mata Adel!' pikir mereka berdua.


Selang beberapa saat,Noah keluar dari kereta dengan pakaian rapi.Walau rambutnya masih berantakan,dia tetap tampan.


'Percuma saja kita menghalanginya..' pikir Eugene dan Putra Mahkota.


"Ini sudah tengah malam.Kenapa malah membawa gadis disini?Terlalu berbahaya." tanya Noah.


"Mereka korban kelompok berbaju putih." jawab Eugene.


"Maksudmu kelompok yang menyerang kita tadi?!.. Bagaimana bisa?!"


Eugene pun menceritakan semuanya dari awal Putra Mahkota pergi ke desa sampai Noah bangun.Begitu mendengar cerita itu,Noah tampak keheranan.


"Kenapa wajahmu seperti itu?" tanya Putra Mahkota.


"Kenapa mereka tidak membunuh Adel dan Albert atau mencari mereka belakang rumah?" tanya Noah.


"Soal itu kami juga tidak tahu..Saat para pembunuh itu melihat ke arah kami, mereka hanya berjalan biasa dan melihat-lihat belakang rumah.Tampaknya mereka mencari kami,tapi kami tidak terlihat oleh mereka." jelas Adel juga tampak bingung.

__ADS_1


'Hm.. sebenarnya apa yang terjadi selama ini?Kenapa di kehidupan ku sebelumnya tidak ada hal ini?..Apa alasannya?..'


Bersambung...


__ADS_2