Marquess And Spirit Witch

Marquess And Spirit Witch
Informasi Sang Dalang


__ADS_3

Flashback


"Kenapa wajahmu seperti itu?" tanya Putra Mahkota.


"Kenapa mereka tidak membunuh Adel dan Albert atau mencari mereka belakang rumah?" tanya Noah.


"Soal itu kami juga tidak tahu..Saat para pembunuh itu melihat ke arah kami, mereka hanya berjalan biasa dan melihat-lihat belakang rumah.Tampaknya mereka mencari kami,tapi kami tidak terlihat oleh mereka." jelas Adel juga tampak bingung.


'Hm.. sebenarnya apa yang terjadi selama ini?Kenapa di kehidupan ku sebelumnya tidak ada hal ini?..Apa alasannya?..'


.


.


Episode 36


"Kita harus bergegas pergi.Kondisi wilayah Baron Oscar pasti sudah parah.Kita tidak bisa berdiam diri terlalu lama." ujar Noah.


"Kau benar.Tapi sekarang sudah tengah malam,dan cukup berbahaya jika kita pergi melewati hutan.Terlebih sihirmu akan terkuras habis dan kau bisa pingsan begitu kita sampai." ucap Eugene.


"Sepertinya kalian ingin mengunjungi wilayah Oscar ya?" tanya Adel.


"Benar.Ada urusan yang harus kami selesaikan." jawab Eugene.


"Anu..Tuan?.."


"Ah! Perkenalan namaku Eugene.Lalu ini Noah dan..emm.."


Eugene diam ketika hendak menyebut nama Putra Mahkota.Dia segan untuk memanggil namanya.Putra Mahkota dan Noah menatapnya datar.


"Panggil aku Veldas." ucap Putra Mahkota melanjutkan.


"Salam kenal.Nama saya Adeline dan ini adik saya Albert." ucap Adel.


"Kau tidak punya marga?" tanya Noah.


"Sebenarnya kami punya tapi ayah tidak memberikannya.Banyak hal yang ayah sembunyikan dari kami.Begitu juga ibu,beliau membuang marganya sama seperti ayah." jawab Adel.


"Siapa nama ayah dan ibumu?" tanya Noah.


"Xavier dan Runa." jawab Adel.


"Hm..Aku merasa tidak asing dengan nama itu." gumam Putra Mahkota.Dia berpikir keras mengingat-ingat dimana ia mendengar nama itu.


"Mungkin hanya perasaan mu.Ayo kit-"


srekk!srreek!


Suara dedaunan pohon di sekitar mereka terdengar cukup dekat.Tidak ada angin yang cukup kuat untuk menggerakkan daun-daun itu.


Noah dan Eugene langsung bersiap dengan pedang mereka.Putra Mahkota meminta Adel dan Albert untuk masuk ke dalam kereta agar aman.


Eugene dan Noah merasakan sihir yang cukup banyak disekitar mereka.Terpaksa,Noah menggunakan pengelihatan sihir nya untuk mendeteksi keberadaan aliran sihir disekitar mereka.


"Jalan ini cukup sempit untuk 12 orang seperti kalian.Keluarlah!"


Tak memakan waktu lama.Orang-orang yang bersembunyi itu langsung keluar dan menyerang mereka berdua.


"Kalian tetaplah disini dan jangan bersuara!" bisik Putra Mahkota pada Adel dan Albert.Ia segera membantu Noah dan Eugene.


Pertarungan sengit berlangsung diantara mereka bertiga.12 lawan 3, perbandingan yang cukup jauh jika dilihat dari jumlah.


'Mereka benar-benar membuatku muak!'


Tanpa basa-basi,Noah menggunakan sihirnya dan menyerang orang-orang itu tanpa ampun.12 orang itu tersungkur ke tanah begitu Noah melumpuhkan mereka.Eugene dan Putra mahkota mengamankan orang-orang itu dan mengikat mereka dengan sihir Eugene.Noah menyisakan satu orang untuk diintrogasi.Ia mendekati salah satu dari mereka,menginjak perutnya dan menusuk tangan orang itu tanpa belas kasihan.


"Katakan,siapa kalian?" tanya Noah.


Orang itu tidak menjawab.Ia bisa terbilang pemberani karna tidak menjawab Noah.


"Tidak mau menjawab?Eugene,pinjam."


"Ya?"


"Pedang."


"Oh."


Eugene memberikan Noah pedangnya.Noah mengambil pedangnya yang tertancap di tangan kanan orang itu.Lagi-lagi ia menusuk lengan kiri dan menancapkan pedang Eugene tepat di samping leher pria itu.Perlahan Noah menggerakkan pedang itu mengarah ke leher.

__ADS_1


"Katakan.Ku beri 5 detik."


"T-tidak..AKH!!"


Tanpa rasa belas kasihan,Noah menebas leher orang itu dengan pedang Eugene.Eugene dan Putra Mahkota yang melihatnya langsung diam membatu,tidak berani membuka mulut.


"Selanjutnya."


Satu-persatu dari mereka di interogasi Noah perlahan dengan sedikit ancaman.Karna sihir pelumpuhan yang cukup kuat dari Noah tadi,mereka tidak bisa bergerak dan hanya bisa berbicara.11 orang hanya diam.Tentu saja Noah diam,tapi tangannya bergerak dengan ringan memisahkan kepala mereka dari badannya.Sisa 1 orang terakhir.


"Katakan."


"Tidak akan!"


"Kau mau menyusul teman-temanmu itu ke neraka?"


"Egh.."


"5..4..3..2.."


"T-tunggu!Akan ku beritahu!"


Noah berhenti menghitung.Pedang Eugene yang masih ada ditangannya berhenti bergerak ke leher orang terakhir itu.


"Katakan."


"K-kami adalah organisasi yang dibentuk oleh seorang perempuan tua..D-dia tidak memberitahu nama atau identitas nya secara terbuka.." ucap orang itu gagap.Ia tampak sangat ketakutan.


"Lalu,apa kalian sering bertemu dengannya?" tanya Noah.


"K-kami hanya bertemu sekali saat mendapat perintah pertama,sekitar..5 atau 6 tahun lalu..Jika beliau memberikan perintah,m-maka kami harus menjalankannya..Perintah dari beliau akan datang melalui Count.." jawab orang itu.


"Apa panggilannya?"


"K-kami memanggil beliau Madam Yuri..T-tapi tuan Count memanggil beliau Yang Mulia.."


Eugene dan Putra Mahkota ikut kaget.Count Yuridan adalah orang yang tidak sembarangan memanggil keluarga lain dengan 'Yang Mulia' selain keluarga kaisar.


"Kenapa kau menyerang kami?"


"I-itu..AKH!!"


Sebuah aliran sihir berwarna hitam terlihat mencekik orang itu di mata Noah.Orang itupun kehabisan nafas dan mati seketika.


"Ck."


Noah menghancurkan kepala orang tanpa belas kasih.Darah segarnya mengenai seluruh bagian depan tubuh Noah termasuk wajahnya.


"Apa itu tadi?.." gumam Eugene.


"Sebuah sihir hitam mencekik pria ini.Dia sudah tewas." jawab Noah.


'Melihat kepalanya hancur sudah pasti tidak ada yang percaya dia masih hidup..' pikir Eugene dan Putra Mahkota.


Adel mencoba mengintip keluar.Ia melihat banyak mayat berserakan di luar penuh genangan darah.


"A-anu..tuan Veldas.."


"Hum?Kenapa?"


"Apa mereka sudah mati?.."


Putra Mahkota menatap mayat-mayat berserakan yang buntung dan banyak darah dimana-mana.Bahkan yang baru saja kepalanya dihancurkan oleh Noah.


"Noah membunuh mereka karna mereka tidak menjawab pertanyaannya.11 diantaranya buntung dan yang 1 dihancurkan kepalanya." ucapnya santai bahkan tampak kegirangan dengan senyum lebar tak berdosa.


Adel tampak gemetar ketakutan.Ia pun permisi kembali masuk ke kereta,mencoba menghapus pemandangan yang baru saja dilihatnya dari pikirannya.


"Kita harus segera membereskan mayat-mayat ini sebelum fajar.Bisa gawat jika warga menemukan mayat-mayat ini." ucap Putra Mahkota.


"Tumpuk saja mereka.Lalu,sembunyikan di lubang galian yang akan ku buat."


"Baiklah."


Eugene dan Putra Mahkota mengumpulkan mayat.Noah dengan segera mungkin menggali lubang yang cukup dalam untuk mayat-mayat itu.


Setelah beberapa lama.Akhirnya mereka berhasil membereskan semuanya,kecuali bercak darah yang masih membekas di tanah.


"Noah,kau jaga disini dulu.Aku dan Eugene akan membersihkan diri di sungai dekat sana."

__ADS_1


"Baiklah."


Eugene dan Putra Mahkota pergi meninggalkan Noah untuk membersihkan diri.Noah merasa suasananya sangat tenang,tapi tidak dengan pikirannya.


'Siapa sebenarnya Madam Yuri itu?Count memanggilnya 'Yang Mulia'..Adel dan Albert yang sebelumnya tidak pernah muncul di kehidupan pertamaku lalu..Xavier dan Runa..Nama yang tidak asing juga di telingaku.'


Noah mengeluarkan cincin yang dia ambil dari orang-orang tadi.Dengan sihirnya,ia mencoba menghancurkan benda itu.


'Keras sekali..Dari apa benda ini dibuat?'


Ia menatap dengan teliti cincin itu.Lambang yang baru pertama kali ia lihat saat ini.


'Kakek bilang tidak asing dengan lambang ini..Apakah beliau tahu sesuatu?'


Tak lama kemudian Eugene dan Putra Mahkota kembali.Noah pun bergantian membasuh diri.


Semua persiapan selesai.Eugene masuk ke dalam kereta kuda dan mendapati Adel dan Albert tertidur pulas.Tidak tega membangunkan mereka,Putra Mahkota meminta Eugene untuk membiarkan mereka ikut.Walau resikonya cukup tinggi,tapi Adel dan Albert tidak punya tempat untuk beristirahat dengan nyenyak.


"Aku akan bergantian menjalankan kereta.Kalian istirahatlah bersama Adel dan Albert." ucap Noah.


"Baiklah.Terimakasih Noah." balas Eugene.


Tidak lupa,Eugene dan Putra Mahkota menutupi wajah mereka dengan tudung,begitu juga Noah.Mereka duduk dengan tenang di dalam kereta.Noah pun segera beranjak pergi ke wilayah Baron walau hari sudah sangat larut.


'Sepertinya aku harus segera mungkin sampai..Tidak bisa ditunda lagi!'


.


.


2 hari berlalu,akhirnya mereka sampai di wilayah kekuasaan Baron Oscar.


"Apa-apaan ini?!.."


"Mengerikan.."


Betapa terkejutnya mereka begitu masuk ke wilayah Baron.Rumah-rumah warga sudah cukup banyak yang hancur.Para pedagang tidak ada yang berjualan.Kondisinya benar-benar parah.


"Walau ini wilayah perbatasan, setidaknya ada banyak banyak pengawal yang berjaga..Kemana mereka semua?" ujar Putra Mahkota keheranan.


"Kita harus segera menemui Baron!"


Noah mempercepat kereta mereka menuju kediaman Baron.Saat sampai,banyak sekali orang yang tampak begitu cemas disana.Hanya rumah disekitar sana yang tidak begitu hancur dibanding awal masuk tadi.


Seorang pria yang terlihat cukup tua sedang memberi berjalan-jalan disekitar para penduduk dengan raut wajah yang tampak begitu sedih.Dia pasti adalah Baron.


Noah turun dari tempatnya dan berjalan mendekati pria itu.


"Permisi,tuan Baron."


Baron yang melihat Noah memakai tudung hitam dan menutupi wajahnya sedikit curiga pada Noah.Terlebih tubuh Noah tertutup jubah.


"Anda siapa?" tanya Baron.


"Saya pengelana dari wilayah Mark.Maaf membuat anda curiga seperti ini, tapi..apa yang terjadi disini?.." jawab Noah balik bertanya.


"...hampir 3 minggu terakhir ini wilayah kami diserang oleh kelompok berbaju putih.Kami tidak tahu darimana mereka berasal.Mereka menghancurkan rumah-rumah warga yang ada di perbatasan." ucap Baron begitu sedih.


"Dimana para pasukan penjaga?" tanya Putra Mahkota yang baru saja turun dari kereta.


"Saya juga tidak tahu..setiap hari ada 2 orang yang pergi ke ibu kota untuk meminta bantuan pada Baginda Kaisar, tapi mereka tidak pernah kembali.Saya mencoba untuk menggunakan merpati pos tapi burung itu juga tidak kembali.Kami terjebak disini selama hampir 3 minggu penuh dengan penderitaan." jawab Baron mulai menangis.


"Bukankah Count Yuridan juga membantu wilayah ini?" tanya Putra Mahkota mulai curiga.


"Itu benar.Tapi ketika beliau kesini dan mengamati keadaan,dia selalu berkata 'Bantuan dari pemerintah belum diberikan, bertahanlah..' sambil memberikan 200 gold untuk kami setiap minggunya." jawab Baron.


"APA?!"


"Veldas!Shtt!"


"Cih..Tidak bisa dibiarkan."


Tak lama kemudian,sebuah kereta kuda datang ke arah kediaman Baron.Seorang pria tua dengan jenggot panjang dan tampak sangat mewah turun dari kereta.Itu adalah Count Yuridan.


"Selamat datang,Tuan Count." ucap Baron.


Noah dan Putra Mahkota menatap Count begitu tajam.


'Kurang ajar!'

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2