
Flashback
"Oi,ambilkan buku pengelolaan wilayah dan keuangan di ruang kerjaku,sampul biru dan hijau."
"Baik,Tuan."
Selagi salah satu dari mereka mengambil buku,Count dan Gwen berbincang sambil meminum teh.
'Sayang sekali.Tehnya terlalu gelap untuk sebuah teh 'biasa' ya,Count.'
Gwen tidak meminum tehnya.Terlihat Count gugup melihat Gwen yang duduk didepannya tanpa menyentuh cangkirnya sama sekali.
'Apa dia sadar ada racun disana?..Tidak mungkin, warnanya tidak beda jauh dengan teh tanpa racun pada umumnya..'
.
.
Episode 39
"Tuan,ini bukunya."
"Kerja bagus,kembali ke tempatmu."
Count memberikan kedua buku itu pada Gwen dengan sangat senang.
'Dia pasti tidak mengira ini buku palsu.'
Gwen membaca semua catatan itu.Dia tersenyum tipis membacanya.Count merasa lega Gwen tidak mengrenyitkan keningnya.
"Anda sungguh cerdas untuk pria yang sudah cukup berumur ya,Count." ujar Gwen tersenyum ramah.
"Tidak,ini sudah tugas saya untuk mengelola wilayah Yuridan." ucap Count.
"Ya,anda sangat terampil.Saya tidak menyangka uang bantuan akan lenyap sebanyak itu di tangan anda." ucap Gwen masih tersenyum.
"Ya?.."
"Tangkap dia!"
"T-tunggu,apa?!"
Kesatria milik Gwen langsung menangkap Count dan hendak membawanya keluar.
"Anda tidak bisa melakukan ini pada saya,Lord!S-saya tidak bersalah!!" ujar Count.
"Tidak bersalah?Lalu kau sebut apa ini semua?!"
Gwen melempar buku keuangan pada Count.Saat itu juga Count tersadar bahwa buku itu sudah ditukar dengan yang asli.
"Dasar bodoh!Buku mana yang kau bawa?!" teriak Count pada orang berjubah putih.
"Kerja bagus,anak-anak."
Begitu mereka membuka tudung,tampaklah Segaf dan Eugene yang tersenyum puas.Count sangat kaget dengan para pengawalnya yang berubah menjadi orang lain.
"K-kalian..Putra Duke?!"
"AHAHAHA!!Lihat lah ekspresi kakek tua itu!Aku lelah menahan tawa daritadi,AHAHAHA!" ucap Eugene tertawa terbahak-bahak saking puasnya.
"Seharusnya dia menumbuhkan rambutnya,bukan jenggotnya." ujar Segaf.
"DASAR ANAK-ANAK DURHAKA!" teriak Count.
Pedang langsung mengarah pada leher Count.Tatapan tajam dan dingin dari Gwen membuatnya tidak bergidik.
"Katakan hal itu lagi pada putraku maka kepalamu akan digantung sebelum persidangan."
"L-lord..!"
"Tutup mulutnya.Kita harus segera kembali ke ibu kota dan melaporkan ini semua pada Baginda.Dan juga..periksa teh yang ada dicangkirku."
"Cangkir?"
Salah satu dari kesatria meminta pelayan untuk mengambil sendok perak.Saat dimasukan kedalam cangkir milik Gwen,sendok itu berubah menjadi hitam.Seluruh ruangan begitu kaget begitu melihat reaksi perak itu pada teh milik Gwen.
"KAU..!TIDAK PUAS MENGORUPSI BANTUAN UNTUK BARON!KAU JUGA BERNIAT MEMBUNUH AYAHKU?!" Eugene tampak begitu murka begitu melihat hasil teh itu.Segaf mencoba menenangkannya agar tidak terjadi kekacauan yang lebih dari ini.
"Eugene,cukup."
"Lepaskan aku,Segaf!Dia harus diberi pelajaran!!"
"Hukuman yang setimpal akan diberikan padanya begitu persidangan dimulai.Lord juga baik-baik saja,untungnya beliau sadar kepekatan tehnya berbeda."
"Cih!..Cepat tangkap dia!Sita seluruh benda dan juga kastil ini sekarang juga!"
__ADS_1
"Baik!Tuan Muda!"
Melihat Eugene yang begitu emosi karna racun di dalam teh miliknya.Gwen merasa bangga memiliki putra yang begitu menyayanginya.
"Ee..Tuan,kenapa anda tersenyum seperti itu?" tanya salah satu kesatria.
"Putraku sangat manis." jawab Gwen begitu puas sambil tersenyum lebar.
"Ya?..Tuan Muda?.."
"Apakah aku perlu memberinya hadiah karna mengkhawatirkan ku seperti ini?Hm..."
"Itu berlebihan,Tuan..Pastinya nyonya muda juga tidak setuju..Jadi lebih baik jangan."
"Kau benar.Aku perlu memberinya tanah Sovanie milikku yang ada di barat."
'Saya sudah bilang jangan..'
Count pun akhirnya ditangkap oleh Gwen dan dibawa secepat mungkin ke ibu kota dengan menggunakan portal walau jaraknya cukup terbatas untuk sekarang.
"Kerja bagus,Adel, Albert.Terimakasih banyak."
"Tanpa kalian,Count pasti akan sulit ditangkap tanpa bukti tadi dan ayah akan diracuni dengan mudah."
"T-tidak!Ini memang harus kami lakukan karena..saya dan Albert sudah menumpang pada kalian...Terimakasih banyak!"
"Kakak benar, terimakasih banyak!"
Eugene dan Segaf tertawa kecil melihat tingkah Adel dan Albert yang meminta maaf begitu imut.Gwen yang melihat Eugene dan Segaf mengobrol dengan dua orang berjubah hitam itu keheranan.Dia menghampiri Eugene dan Segaf karna penasaran.
"Eugene,siapa mereka?" tanya Gwen.
"Ah,mereka adalah anak-anak yang tidak sengaja bertemu dengan Yang Mulia Putra Mahkota beberapa hari lalu sebelum tiba di wilayah Baron." jawab Eugene.
"Apa yang mereka lakukan?" tanya Gwen.
"Mereka masuk diam-diam ke ruang kerja Count dan mengganti buku palsu dengan yang asli.Mereka sangat berani." jawab Segaf.
'Anak-anak?'
"Perkenalan,nama saya Adel dan ini adik saya, Albert."
"Salam kenal."
"Apakah kalian..anak dari Ya- ekhem,Xavier?" tanya Gwen agak gugup.
"Eh?Benar.Bagaimana anda tahu nama ayah saya?" tanya Adel heran.
"Jadi benar.."
Eugene dan Segaf saling bertukar pandang.Gwen tampak cemas dilihat dari raut wajahnya.
"Josua."
"Ya,Tuan?"
"Hubungi Baginda Kaisar diam-diam,katakan pada beliau kita sudah 'menemukannya'."
"Y-ya?!B-baik!!"
Gwen berlutut dihadapan Adel dan Albert.Eugene dan Segaf pun kaget melihat orang ternama seperti Gwen dengan mudahnya berlutut dihadapan dua orang anak kecil.
"Kalian akan ikut kami kembali ke ibu kota."
"Eh?Kenapa Tuan?" tanya Albert.
Gwen tersenyum.Dia mengusap rambut Albert dan kusut itu dengan lembut.
"Kalian akan lebih baik disana.Percayalah padaku." jawab Gwen.
'Dengan begini,Baginda pasti bisa menemukan petunjuk itu juga.'
/Disisi Noah.
"Noah,alat komunikasi mu berbunyi."
"Eh?Benar.Ini dari Eugene."
Noah menerima panggilan dari Eugene.Dilihat dari ekspresi Eugene dari kristal itu,ada kabar baik dan seperti buruk menurut Noah.
"Oi, bagaimana keadaan disana?" tanya Putra Mahkota.
"Count sudah tertangkap.Dia juga mendapat kasus percobaan pembunuhan terhadap ayah." jawab Eugene.
"APA PEMBUNUHAN?!" teriak Noah dan Putra Mahkota.Sontak Marquess menengok ke arah Noah dan mendekatinya.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Marquess.
"Count mencoba membunuh paman." jawab Noah.
"Ha?!Eugene,jelaskan."
"Saat Count ditangkap karna ketahuan mengorupsi bantuan dana dari pemerintah,ia sudah sengaja menuangkan racun pada minuman ayah.Untungnya ayah tidak meminum nya sama sekali,dan karna hal itu saat ini Count sedang dalam perjalanan ke ibu kota untuk mendapat hukuman.Sekarang jenis racun yang digunakan juga sedang dalan proses penyelidikan.Semua harta Count juga di sita." jelas Eugene.
"Huft..syukurlah." ucap mereka bertiga lega.
"Tapi.."
"Ada apa?" tanya Noah.
"Ayah meminta Adel dan Albert untuk ikut ke ibu kota.Ayah juga berkata pada Sir Josua, katanya 'menemukannya'.Aku tidak tahu kenapa ayah tiba-tiba seperti ini.Beliau bahkan. berlutut didepan Adel dan Albert dengan senang hati." jawab Eugene.
'BERLUTUT?!!'
"Eugene..apakah benar Gwen mengatakan itu?" tanya Marquess serius.
"Tentu saja,paman.Sekarang beliau ada bersama Adel dan Albert untuk berbincang." jawab Eugene ragu.
"Syukurlah.. Terimakasih,Eugene."
"Tentu,paman.Bagaimana dengan keadaan disana?"
"Sesuai dugaan Noah,ada sihir hitam terlarang yang tersembunyi disini.Karna sulit untuk Noah menyegelnya sendirian,jadi kami memutuskan untuk membawa ke kuil suci pusat.Kami akan kembali kesana setelah menyelesaikan semua ini."
"Baik,paman."
/2 hari kemudian,ibu kota kekaisaran,istana kaisar.
"Baginda,Duke muda Casnelia dan Marquess Luxbello meminta menghadap.Mereka baru saja kembali dari wilayah Count Yuridan dan Baron Oscar."
"Baiklah.Suruh mereka masuk."
"Baik."
Gwen dan Marquess pun masuk ke ruang kerja Kaisar.Dibekakang mereka ada Adel dan Albert yang masih memakai jubah untuk menutupi wajah mereka.
"Kami menghadap,Kaisar.Semoga dewa memberkati anda."
"Jangan kaku begitu,kita ini sahabat lama.Jadi,bagaimana?"
"Perkataan putra saya benar,Baginda.Count Yuridan mengorupsi dana bantuan untuk Baron dan menutup akses ke wilayah Baron diam-diam.Putra Marquess lah yang pertama kali menyadari hal itu kurang lebih 3 minggu yang lalu setelah pesta perayaan kedewasaannya." jelas Gwen.
"Ada organisasi yang ikut campur dalam hal ini juga,Baginda.Mereka adalah bawahan Count Yuridan..dan pelaku dari kasus kematian istri saja 6 tahun yang lalu.." ujar Marquess.
"Benarkah?!Kita harus memberikan hukuman seberat-beratnya padanya!"
"Tapi,mereka bilang perintah itu mereka dapatkan bukan dari Count, melainkan seseorang yang mereka panggil 'Madam Yuri'." lanjut Marquess.
"Aku akan mencari tahu hal ini lebih lanjut.Omong-omong,siapa yang ada di belakang kalian?" tanya Baginda Kaisar.
"Mereka adalah orang yang kita cari selama ini.Lebih tepatnya, keturunan nya." jawab Gwen.
"Jadi,kabar yang kau berikan waktu itu benar adanya?!Tunjukan diri mereka..aku ingin melihatnya."
Marquess meminta agar Adel dan Albert maju menghadap Baginda Kaisar.Adel dan Albert ragu-ragu melepas jubah mereka dan membungkuk memberi salam pada Kaisar.
"Salam kepada matahari kekaisaran.Semiga Dewa memberkati anda."
Mata Kaisar membelalak kaget.Dia tidak percaya apa yang ia lihat sekarang.Matanya juga berkaca-kaca melihat Adel dan Albert.
Beliau berdiri dari kursinya.Berjalan mendekati Adel dan Albert lalu berlutut sama seperti Gwen sebelumnya.
"Kalian..putra dari Xavier..benarkah itu?.." tanya Baginda Kaisar.
"Itu benar..Baginda." jawab Adel.
"Kamu..mirip sekali dengan putriku, Michella."
"Terimakasih,baginda.."
Kaisar menggengam tangan Adel dan Albert.Beliau menangis tepat di depan mereka,dan juga Gwen serta Marquess.
"B-baginda?!Kenapa anda menangis?!A-apakah kami membuat kesalahan?!M-maafkan kami!!" ucap Adel panik.
"Tidak..Sama sekali tidak ada.."
Gwen dan Marquess tersenyum tipis.Mereka pasti tahu bahwa sekarang Kaisar sangat lega melihat Adel dan Albert.
'Aku akan menjaga anak-anakmu,kak Xavier..Aku berjanji..'
Bersambung...
__ADS_1