Masa Putih Biruku

Masa Putih Biruku
Bab 34


__ADS_3

Malam ini adalah hari sabtu dimana biasanya anak muda menyebutnya dengan malam minggu. Dan seperti biasa tempat-tempat nongkrong di malam minggu cukup ramai apalagi di Ibukota. Di kebanyakan malam minggunya Dwi hanya berdiam diri dikost nya saja karena tidak memiliki teman spesial yang akan dia habiskan di malam minggu, tetapi tidak untuk malam ini. Dia sudah janjian dengan Sari akan keluar bersama seperti layaknya pasangan kekasih yang berkencan. Dan Sari sendiri belum mengetahui bahwa sebenarnya Dwi sudah mempunyai pacar dirumahnya.


Mereka janjian di cafe yang tidak terlalu jauh, dan mereka terlihat sudah cukup akrab. Seperti seseorang yang CLBK (Cinta Lama Belum Kelar) mereka terlihat seperti sedang menunjukkan rasa suka mereka. Bisa dibilang Dwi saat ini sedang berselingkuh. Tetapi dia belum menyadarinya.


Semakin hari mereka semakin terlihat dekat, bahkan orang-orang yang belum mengenal mereka pun mereka mengira bahwa Dwi dan Sari adalah pasangan kekasih.


Pada suatu hari Sari meminta tolong kepada Dwi untuk mengantarnya pulang karena motor Sari sedang diservis dan kebetulan orang tua Sari yang juga mengenal Dwi sewaktu dikampung pun ingin bertemu.


"Maaf ya Dwi jadi ngrepotin. Sebenarnya tadi mau pake ojek online tapi kata Papa disuruh nganter kamu pulang kebetulan Papa pengen ketemu kamu juga katanya uda lama gak ketemu." terang Sari. Ya, sejak pertemuan Dwi dan Sari pertama kali sesampainya dirumah Sari menceritakan kepada orang tuanya dan tentu saja mereka sangat senang mendengar bahwa dikota besar ini ada orang baik yang sudah lama dikenal.


Saat ini mereka sedang dalam perjalanan menuju rumah Sari yang kebetulan tidak terlalu jauh dari tempat kerja mereka.


"Gak apa-apa santai aja. Aku juga pengen ketemu sama Om dan Tante uda lama juga kan gak ketemu." jawab Dwi santai.


Akhirnya setelah melewati drama kemacetan setiap harinya mereka pun sampai dikediaman Sari. Dwi segera memarkirkan motornya dihalaman rumah Sari. Dan disana terlihat kedua orang tua Sari sudah berdiri didepan pintu sengaja menyambut kedatangan mereka. Karena memang sebelumnya Sari sudah mengirim pesan bahwa mereka sudah dalam perjalanan dan akan segera sampai.


Begitu turun dari motor, Dwi dan Sari segera berjalan menghampiri kedua orang tua Sari. Dan Dwi segera menyalami mereka dengan takzim sambil berpelukan layaknya seperti anak sendiri.


"Halo Om Tante gimana kabarnya?" tanya Dwi mengawali pembicaraan dan saat ini mereka sudah duduk diruang tamu. Dan terlihat pancaran wajah bahagia dari mereka semua.


"Om sama Tante baik-baik aja. Kamu sendiri gimana? Bapak sama Ibu sehat kan?" tanya Pak Parto orang tua Sari.


"Mereka juga baik Om. Ow ya dapat salam dari Bapak dan Ibu, Dwi cerita sama mereka kalau disini ketemu sama Om dan Tante." jawab Dwi.


"Ow ya, salam kembali ya. Nanti kapan-kapan Tante akan telepon Ibu kamu. Tante kangen masakan Ibu kamu hehe." ucap Ibu Marta, Ibunda Sari.


Dan terlihat mereka terkekeh bersama. Dan bersamaan dengan itu asisten rumah tangga mereka menghampiri dan mengatakan bahwa makanan sudah siap.


"Ayo kita makan dulu, makanan sudah siap." ajak Ibu Marta.


"Jadi ngrepotin Tante." ucap Dwi merasa tidak enak hati.


"Gak ada yang direpotin dan yang ngrepotin. Uda ayo!" jawab Pak Parto yang saat itu sudah bangkit berdiri dan berjalan ke meja makan. Dan Dwi pun mengikutinya, bersamaan dengan itu Sari keluar dari kamarnya dalam keadaan yang sudah terlihat segar karena tadi begitu sampai dirumah dia meminta ijin untuk membersihkan diri dan sengaja memberi ruang kepada kedua orang tuanya untuk mengobrol dengan Dwi.


Dan jujur saja melihat Sari yang berpakaian rumahan terlihat lebih cantik dimata Dwi daripada Sari yang memakai pakaian bekerjanya. Dan tentu saja hal itu membuat Dwi tidak bisa berhenti memandangi Sari. Dan hal itu tertangkap oleh Pak Parto.


"Ekhem..." deheman Pak Parto membuyarkan lamunan Dwi.

__ADS_1


"Makan dulu aja, gak bakal kenyang kalau cuma memandangi terus." goda Pak Parto, tentu saja itu beliau tujukan kepada Dwi. Dan Dwi semakin salah tingkah dibuatnya. Sedangkan Ibu Marta dan Sari hanya bisa menahan tawa.


Akhirnya mereka selesai makan bersama dan saat ini mereka berkumpul diruang keluarga sambil mengobrol biasa. Tiba-tiba saja Pak Parto ingin berbicara serius dengan Dwi dan Sari.


"Trus kalian rencana menikah kapan? Sekarang kan uda sama-sama kerja apalagi ditempat kerja yang sama." ucap Pak Parto yang membuat Dwi susah payah menelan salivanya. Karena hal itu tidak ada dipikiran Dwi sama sekali.


"Papa." tegur Sari.


"Apa mungkin Dwi sudah mempunyai pacar dikampung sana?" tanya Pak Parto yang seakan menginterogasi Dwi.


"Hmm.. Gak ada kog Om." jawab Dwi dengan sedikit ragu-ragu.


"Bener kan kata Papa, kalian sudah dewasa dan sering keluar malam bersama kalau sudah sah kan kami sebagai orang tua tidak merasa khawatir." ucap Pak Parto menyampaikan kegelisahan hatinya sebagai orang tua.


"Tapi Pah..." belum selesai Sari berbicara tapi sudah dipotong lebih dulu oleh Dwi.


"Iya bener kog Om. Ya nanti saya bicarakan dulu sama Bapak dan Ibu, baiknya gimana." jawab Dwi menjawab kegelisahan hatinya orang tua Sari.


Dan kedua orang tua Sari pun saling pandang dan tersenyum senang.


Sebenarnya Sari memang menyukai Dwi sejak dulu tapi karena dia merasa seorang cewek jadi tidak mungkin dia yang mengejar Dwi.


Setelah mengatakan itu kedua orang tua Sari pun pamit untuk beristirahat dan memberi kesempatan Sari dan Dwi untuk membicarakan hal itu berdua.


"Maaf ya Dwi Papa ku memang kayak gitu, kan kamu uda tahu sendiri kan gimana beliau." ucap Sari merasa tidak enak hati kepada Dwi karena perkataan Papanya.


"Gak apa-apa. Aku kalau jadi Om juga pasti akan mikir gitu, karena melihat anak gadisnya yang uda jalan bareng cowok." jawab Dwi dengan terkekeh.


"Trus memang beneran kamu mau menuruti perkataan Papaku?" tanya Sari memastikan kepada Dwi.


"Ya seperti yang aku bilang tadi, aku bicarakan dulu sama orang tua ku karena ini kan bukan hanya keputusan ku saja tapi juga keputusan mereka juga." jawab Dwi.


Jujur saja sebenarnya Dwi bingung, akan berkata apa nanti dia kepada Lili. Masa iya tiba-tiba saja minta putus dan tidak berapa lama menikah dengan orang lain.


"Iya bener juga sih. Tapi aku beneran minta maaf ya bikin kamu merasa tertekan." ucap Sari dengan sendu, karena bagaimanapun dia sebagai perempuan tidak ingin seolah-olah membuat laki-laki merasa untuk segera menikahinya.


Dwi hanya menjawab dengan senyuman saja. Karena memang dia sudah tahu konsekuensinya dekat dengan seorang wanita dalam keadaan sudah bekerja dan mandiri apalagi saat ini mereka tinggal dikota besar yang tentu saja tingkat kewaspadaan dalam berpacaran sangat ditakutkan.

__ADS_1


"Ya sudah aku pamit pulang ya, uda malam besok juga aku mesti lembur." ucap Dwi sambil melihat jam dipergelangan tangannya.


"Salam ya buat Om sama Tante sampaikan aku pulang dulu." lanjut Dwi sambil berdiri dan berjalan menuju pintu yang diikuti oleh Sari.


"Iya nanti aku sampaikan." jawab Sari.


Akhirnya Sari kembali masuk ke dalam rumah setelah Dwi benar-benar keluar dari halaman rumahnya.


...****************...


Diperjalanan Dwi melajukan motornya dengan santai dan sambil berpikir bagaimana caranya membicarakan hal ini dengan Lili. Apakah Dwi harus jujur atau dengan cara yang lain. Tapi apabila dengan cara lain, cara apa?.


Dwi terus berpikir hingga tidak terasa dia sampai ditempat kostnya yang saat itu masih terlihat ada beberapa teman kostnya sedang berkumpul dihalaman depan.


Dwi pun masuk dan memarkirkan motornya ditempat yang sudah disediakan setelah itu menyapa sebentar teman-temannya kemudian berpamitan masuk ke kamar lebih dulu.


Didalam kamar Dwi melihat ponselnya yang tidak ada sama sekali pesan ataupun telepon dari Lili yang hanya sekedar menanyakan kabar ataupun memberinya kabar.


Akhirnya Dwi lebih memilih mengistirahatkan tubuhnya dan akan memikirkan hal itu esok hari. Sebelum dia benar-benar tidur Dwi lebih dulu membersihkan dirinya, dia lebih memilih mandi dan keramas karena dia tidak biasa tidur dalam keadaan yang berkeringat apalagi sejak sore dia memang belum mandi karena langsung mengantar Sari dan baru saja pulang dari rumahnya tentu saja badannya terasa lengket.


...****************...


Sedangkan ditempat yang berbeda, entah kenapa Lili memiliki firasat bahwa Dwi sudah mulai berubah terhadap hubungan mereka. Kalau dulu sesibuk apapun pasti Dwi menyempatkan diri untuk sekedar memberi kabar atau menanyakan kabar tapi tidak untuk sekarang.


Dan Lili seolah memiliki firasat bahwa Dwi akan mengakhiri hubungan mereka dengan banyak alasan yang harus Lili terima. Jika benar suatu saat itu terjadi maka mau tidak mau Lili harus mengikhlaskannya karena bagaimanapun jodoh ada ditangan Tuhan dan Lili tidan bisa menentang atau menolaknya.


"Apa iya aku harus lepasin kamu? Kog semakin kesini aku merasa kita uda gak saling dukung. Justru aku merasa semakin ragu sama kamu." gumam Lili sambil terus memandangi foto mereka diponselnya yang sengaja mereka ambil sebelum Dwi pergi merantau.


...****************...


Wahh uda 1400 kata gaes 😱😱😱


Gak biasanya lho aku lancar nulis kayak gini hehhe 🤭


Tetap semangat yukk 💪


Tinggalkan jejak like, komen dan hadiah 🙏

__ADS_1


__ADS_2