Masa Putih Biruku

Masa Putih Biruku
Bab 44


__ADS_3

Sesampainya dirumah, Lili segera membersihkan diri setelah itu dia segera makan dan minum minuman hangat agar tidak masuk angin. Karena memang air hujan itu sangat sensitif, kita pikir kita kuat menahan air hujan tapi lama-kelamaan memang akan membuat tubuh kita menjadi lemah.


Begitu selesai dengan semua aktifitasnya, Lili segera berpamitan kepada orang tuanya untuk segera beristirahat. Kemudian Lili masuk ke dalam kamar dan mengeluarkan isi dalam tas nya yang sudah dia amankan sebelumnya.


Dia mengambil undangan yang sudah tertulis nama-nama teman sewaktu SMP nya dulu. Dan Lili mengambil satu yang tertulis namanya. Lili mengamati foto kedua calon pengantin yang terpampang nyata didepan sampul. Sungguh terlihat sangat bahagia dari senyuman foto keduanya. Sampai Lili pun ikut tersenyum, merasa bahagia karena Dwi pun sudah bahagia meski dengan yang lain.


Kemudian Lili membuka dalamnya, yang menjelaskan bahwa kedua mempelai mengundang pada waktu dan tempat yang sudah ditentukan yaitu di kediaman Dwi.


Lili pun menutup undangan tersebut kemudian menghela nafas panjang sambil menutup mata. Sudah cukup dia merasa tersiksa sendirian. Lili harus benar-benar menutup cerita cinta bersama Dwi yang memang sudah tidak bisa dilanjutkan lagi.


Lili pun menaruh undangan yang untuk teman-temannya diatas nakas, rencananya besok dia akan mulai mengirimkannya kepada mereka semua, karena bertepatan besok adalah weekend dan Lili libur bekerja.


Lili pun naik ke atas ranjang dan bersiap akan tidur, sebelum dia benar-benar memejamkan mata tiba-tiba saja ponselnya berdering menandakan bahwa ada panggilan masuk.


"Siapa malam-malam gini telepon ya?" gumam Lili sambil melirik jam dinding di dinding yang menunjukkan pukul 9 malam.


Lili mengambil ponselnya yang dia taruh diatas nakas. Sebelum menggeser ke tombol hijau, Lili mengerutkan keningnya karena merasa asing dengan nomor yang memghubunginya.


"Nomor siapa ini? Kog malam-malam telepon? Penting mungkin ya." gumam Lili.


Karena merasa takut jika nanti telepon penting akhirnya Lili pun menggeser tombol hijau.


"Halo." ucap Lili.


"Halo Lili, uda tidur ya? Sorry ya malam-malam ganggu." jawab seseorang yang ada diseberang.


Lili semakin mengerutkan keningnya, karena merasa semakin heran. Dia tidak tahu siapa yang menghubungi dan ternyata yang menghubunginya tahu nama Lili. Dari pada semakin penasaran Lili pun bertanya.


"Maaf, dengan siapa ya? Kog tahu nomor ku?" tanya Lili.


"Lah, kamu lupa sama aku? Ya ampun sombong banget masa gak ingat sama suaraku?" tanya orang itu.


Lili pun mulai berpikir, karena memang dia tidak tahu siapa yang menghubunginya.

__ADS_1


"Iya beneran aku gak tahu." jawab Lili akhirnya, karena memang dia tidak tahu dan tidak ingat suara milik siapa.


"Aku Jerry, uda ingat?" tanya Jerry.


Ya, seseorang itu adalah Jerry, sahabat Dwi yang sama-sama bekerja di Jakarta. Tentu saja Jerry tahu tentang Lili karena ketika Dwi masih berpacaran dengan Lili dan mereka sering video call, Jerry sering ikut mengobrol apalagi Dwi selalu curhat kepada Jerry. Dan pernikahan Dwi dengan Sari ini pun Jerry juga mengetahui bahkan Jerry merasa kasihan kepada Lili. Padahal Jerry dan Lili belum pernah bertemu sama sekali.


"Jerry temannya Dwi?" tanya Lili. Akhirnya Lili pun ingat bahwa itu adalah suara milik Jerry.


"Iya siapa lagi, emang ada Jerry yang lain!" kesal Jerry, karena bisa-bisanya Lili tidak mengenali suaranya.


"Ya maaf, kan aku kira siapa gitu." jawab Lili dengan terkekeh.


"Eh Kog kamu tahu nomor ku?" tanya Lili lagi.


"Dari siapa lagi emangnya, ya dari Dwi lah." jawab Jerry.


"Iya juga sih. Trus ngapain malam-malam gini telepon? Emang gak kerja?" tanya Lili.


"Wah asyik donk kerja terus cari cuan yang banyak." goda Lili.


"Percuma banyak cuan kalau gak ada yang mau." jawab Jerry sendu.


"Ya makanya cari, kalau gak cari mana tahu ada yang mau apa gak." ucap Lili.


"Sama kamu aja ya, mau?" tanya Jerry serius. Tetapi tidak untuk Lili, Lili menganggap bahwa Jerry hanya bercanda.


"Uda deh gak usah mulai. Bahas yang lain aja bisa gak?" tanya Lili.


"Iya deh iya, maaf."


"Ow ya Dwi pulang kampung kan ya? Uda denger tentang dia belum?" tanya Jerry.


"Iya uda tahu, malah dia minta tolong ke aku buat kasih undangan ke teman-teman sekolah dulu. Ini tadi aku barusan dari rumahnya ambil undangannya, mana hujan deres makanya mau langsung tidur ee kamu malah telepon." jawab Lili panjang lebar.

__ADS_1


Jujur saja mendengar penjelasan Lili tersebut membuat Jerry sakit hati sendiri. Bisa-bisanya Dwi meminta Lili yang mantan kekasihnya mengantar undangan pernikahannya. Tetapi dari ucapan Lili barusan Lili tidak merasa keberatan sama sekali bahkan dengan sukarela Lili mau membantunya.


"Trus beneran kamu mau bantu dia buat kirim undangannya?" tanya Jerry.


"Iya donk, selama aku bisa bantu kenapa gak? Lagian besok aku libur kog jadi mumpung ada waktu." jawab Lili.


Sekali lagi Jerry merasa Dwi sudah membuang berlian orang sebaik Lili dan mendapatkan pengganti yang memang Jerry belum tahu bagaimana orangnya.


"Ya uda kalau memang kamu ikhlas. Semoga kamu baik-baik aja." ucap Jerry menguatkan.


"Ihh apaan sih! Ya jelas aku baik-baik aja lah. Kalau gak baik uda dirumah sakit." jawab Lili dengan terkekeh.


"Uda ahh aku mau tidur dulu ya, beneran capek ini tadi habis kehujanan soalnya agak gak enak badan." lanjut Lili.


"Ya uda selamat beristirahat ya. Kapan-kapan kalau aku telepon lagi gak apa-apa kan?" tanya Jerry.


"Ya gak apa-apa donk. Kalau aku gak repot pasti aku angkat kog." jawab Lili.


"Makasih ya, di simpan nomor ku kalau aku telepon biar kamu tahu." ucap Jerry.


"Iya beres." jawab Lili.


"Ya uda bye."


"Bye."


Akhirnya panggilan pun berakhir dan Lili kembali membaringkan tubuhnya untuk beristirahat.


...****************...


Tetap semangat yok 💪


Tinggalkan jejak like, komen dan hadiah jangan lupa 🙏

__ADS_1


__ADS_2