
"Aku mau minta tolong, bagikan undangan ke teman-teman SMP kita dulu yang rumahnya gak jauh dari kamu." ucap Dwi yang membuat Lili kembali fokus kepada Dwi dan memasukkan kembali ponselnya kedalam tas.
"Emang itu undangan apa?" tanya Lili.
"Ini..undangan..hmm..." jawab Dwi ragu-ragu.
"Undangan apa?" tanya Lili sambil mengambil satu undangan dari tangan Dwi dan membacanya.
Tanpa dibaca namanya pun sudah terlihat jelas foto kedua calon mempelai disana. Dan sudah sangat jelas itu adalah foto Dwi dan entah siapa Lili tidak mengenalnya.
Ya, itu adalah undangan pernikahan Dwi dengan Sari yang akan dilaksanakan minggu depan. Dan begitu teganya Dwi meminta Lili membantunya untuk membagikan undangan untuk teman-temannya yang lain.
Dwi hanya bisa diam seribu bahasa. Mau menjelaskan pun dia bingung akan memulai menjelaskan dari mana. Akhirnya Dwi hanya bisa diam saja sambil menunggu reaksi apa yang akan diberikan Lili ketika melihat undangan tersebut.
"Ow undangan nikah." ucap Lili sambil tersenyum, setelah dia terdiam cukup lama karena mencoba meredamkan hatinya terlebih dahulu yang tiba-tiba saja merasa begitu sesak.
__ADS_1
"Oke nanti aku bagikan ke teman-teman. Ada yang lain lagi?" tanya Lili sambil meminta semua undangan ditangan Dwi dan memasukkannya ke dalam tas nya.
"Hmm.. Li..." ucap Dwi.
"Ya?" tanya Lili.
"Maaf..." jawab Dwi lirih dan melihat mata Lili.
Tapi Lili tidak mau menatapnya sama sekali, dia mengalihkan pandangan untuk melihat ke arah yang lain. Karena Lili tidak mau jika mereka melakukan kontak mata maka Lili akan menangis saat itu juga.
"Iya makasih banyak ya." jawab Dwi tanpa bisa mencegahnya sama sekali.
Akhirnya Lili benar-benar pergi dan Dwi hanya bisa melihat kepergian Lili hingga menghilang dari pandangan matanya.
Ditengah perjalanan, Lili melajukan motornya dengan pelan. Dia berkali-kali menghela nafas panjang untuk mengeluarkan sesak didalam dadanya. Tetapi karena memang cuaca yang mendung gelap sejak pulang kerja tadi, akhirnya hujan pun turun dengan tiba-tiba dan begitu derasnya. Membuat Lili akhirnya berteduh terlebih dahulu.
__ADS_1
Ditempatnya berteduh, Lili mengamankan ponsel, undangan pernikahan Dwi dan barang berharga lainnya agar tidak terkena air hujan. Karena kebetulan saat itu Lili tidak membawa jas hujan. Dan jika menunggu hujan reda akan sangat lama. Akhirnya Lili pun nekat menerobos hujan untuk cepat sampai dirumah setelah mengamankan barang-barang berharganya didalam tas.
Ditengah derasnya air hujan tiba-tiba saja air mata Lili mengalir. Dan tanpa ada yang tahu bahwa dia menangis, karena air matanya sudah menyatu dengan air hujan.
Sedangkan dilain pihak, Dwi kembali keluar teras rumahnya. Dia melihat ke langit hujan yang turun begitu derasnya tanpa diminta.
"Lili kehujanan donk. Maaf banget ya Lili, aku memang laki-laki pengecut." gumam Dwi sambil pandangannya menerawang jauh ke langit dan tanpa sengaja air matanya pun menetes.
Dwi dan Lili pun menangis bersama tetapi ditempat yang berbeda. Dan langit yang mendatangkan hujan seakan tahu kesedihan yang mereka rasakan dan langit pun ikut menangis karenanya.
...****************...
Jadi ikut sedih π₯Ίπ
Tetap semangat yok πͺ
__ADS_1
Tinggalkan jejak dengan cara like, komen dan hadiahnya jangan lupa π