Masuk ke Dunia Game (menjadi pangeran di kerajaan amenor)

Masuk ke Dunia Game (menjadi pangeran di kerajaan amenor)
bab 11 (Pertemuan menegangkan)


__ADS_3

Amel dan kasim Suncaka berjalan menyusuri arah menuju istana kerajaan amenor untuk menemui pangeran Zean dan tak lama kemudian, sampailah Amel dan kasim Suncaka di tempat kediaman pangeran Zean.


Mata pangeran Zean terlihat merah tanda kemarahan yang tak terbendung.


"Hei, apakah kau putri dari juru masak Lin lin yang bernama Amel?" tanya Doni dengan tatapan tajam.


"iya benar pangeran"


"Ada apa kau memanggil ku?" tanya amel dengan nada ketakutan.


Selama dirinya menjadi teman pangeran Zean, tak pernah Amel melihat amarah Zean seperti itu.


"Au, wajahnya sungguh menakutkan sekali" gumam amel dalam hati nya.


" Amel, mengapa kau datang ke tempat Alex?" tanya Doni mengintrogasi amel.


"Em, maksud tuan muda apa?"


"iya, benar"


"Aku berkunjung ke tempat Alex karena ingin menjenguk nya" ucap Amel sambil menunjukkan wajah yang ketakutan.


Tampak raut wajah tegang ada pada diri Amel.


"Mengapa kau datang menemuinya?" teriak doni sambil memukulkan tangan nya ke meja.


gerakan dan kemarahan Doni refleks terjadi dan Doni pun juga tak menyadari mengapa dirinya semarah itu. Padahal dia tak mengenal Amel sebelumnya.


Tak terasa, tangan Doni terlihat memerah dan terluka, darah mengucur deras dan mengotori mejanya


"Oh, tuan terluka" ucap Amel sambil melihat ke arah telapak tangan Doni.


Doni pun melihat tangannya yang terluka, merasa terkejut. Seketika, Doni pun pingsan tak tahu sebab nya.


Tubuh Doni seakan melemah karena dirinya seperti sedang kerasukan sosok arwah pangeran Zean yang sebenarnya.


Kasim suncaka dan seluruh penghuni istana panik melihat hal yang terjadi.


Dengan cepat, kasim suncaka membopong tubuh Doni menju kamar nya. Sementara itu, tabib kepercayaan istana dipanggil untuk melihat kondisi Doni yang tiba-tiba saja pingsan tanpa sebab


Doni sepertinya tertidur cukup lama, saat dirinya sadar, Doni berada dalam kamar nya yang empuk dan dirinya melihat semua pelayan berada di samping nya dan tak terkecuali Amel ada tepat disampingnya.


Wajah kebencian Doni mulai terlihat takkala melihat Amel.


"heh, mengapa kau masih ada di sini?" tanya Doni sambil menatap geram wajah Amel.


"Tuan muda Zean, bukankah kau yang memanggil ku kemari?" tanya Amel sambil memandang ke arah Doni.


Doni mulai mengingat apa yang terjadi pada dirinya tadi malam.


"Hem, rupanya aku baru saja marah"


"Aku pingsan dan tak bisa mengontrol tubuh ini"


"Dasar sial" gumam Doni dalam hati


Melihat sikap Doni yang aneh, Amel memberanikan diri untuk bertanya kepada Doni

__ADS_1


"Tuan muda Zean, kau tidak apa-apa?" tanya amel sambil memegang lengan Doni


"Au, lepaskan aku" pekik Doni karena Doni mulai merasakan sakit akibat tangannya yang terluka.


"Kenapa dengan tangan ku ini?"


"Kenapa terasa sakit?" tanya Doni sambil melihat telapak tangannya yang dibungkus perban.


"Hah, apakah aku terluka?" tanya Doni sambil melihat ke sekeliling.


"Iya, tuan ku pangeran Zean"


"Saat tuan muda memanggil nona Amel ke sini, tuan muda sangat marah dan memukul kan tangan tuan muda ke meja hingga terluka seperti ini" ucap kasim suncaka memberi penjelasan.


"Ah, tak mungkin aku terluka"


"Aku sudah mengatur sistem agar aku tak sampai terluka" teriak Alex sambil menunjukkan wajah yang cemberut.


"Apa tuan?"


"Sistem apa?" tanya Amel penasaran


"oh, hampir saja ketahuan"


"Doni, kenapa mulut mu lebar sekali" gumam Doni sambil berusaha mencari cara agar suasana menjadi teralihkan.


"Oh, tidak Amel"


"Aku hanya merasa marah saja dan mengatakan hal yang ngelantur"


"Kau tak perlu bertanya lagi"


"Jika kau mendekati dia, aku akan menghukum mu" ucap Doni dengan nada marah.


"Kenapa tuan muda?"


"Tuan muda tidak ingat jika Alex adalah teman kita masa kecil?" ucap Amel berusaha membuat ingatan pangeran Zean pulih kembali.


Amel tak tahu jika sikap nya itu percuma saja bagi Doni karena saat ini, jiwa yang ada dalam tubuh pangeran Zean bukan lah jiwa pangeran Zean yang asli melainkan jiwa doni, bocah ingusan berusia 8 tahun.


"Sudahlah, kau jangan banyak protes"


"Aku meminta kau untuk tidak berhubungan dengan Alex lagi"


"Sekarang, kau harus melayani aku, sampai lukaku sembuh" ucap Doni sambil memandang ke arah Amel.


"Pangeran Zean, ada tabib yang akan merawat mu"


"Tugas ku memasak makanan untuk mu"


"Jika aku menjagamu siang dan malam, lalu siapa yang akan memasak makanan untuk mu?"


"Bukankah kau suka dengan makanan yang aku sajikan?" ucap Amel panjang lebar.


Mendengar ucapan Amel, Doni berusaha berpikir dan dirinya tak kehilangan akal juga.


"Amel, kau tak perlu banyak alasan"

__ADS_1


"Aku bisa memanggil juru masak lain selain kamu"


"Ada ibumu yang akan memasak untuk ku"


"Dia pasti setuju atas perintah ku ini"


"Kasim suncaka, tolong panggil juru masak lin lin kemari, aku ingin bicara" ucap Doni secara tiba-tiba


"Baiklah tuan muda" jawab kasim suncaka tanpa bertanya lagi


Tak lama kemudian kasim suncaka membawa juru masak lin lin menuju ke hadapan doni.


"juru masak lin lin, mulai hari ini, yang memasak untuk ku hanya kamu saja"


"amel akan menemaniku di sini sampai luka ku pulih" ucap Doni kepada lin lin.


"Baik tuan muda" jawab juru masak lin lin dan hal itu membuat amel geram.


"Aduh, aku harus melayani tuan muda yang galak ini?"


"Iya kalau dulu, pangeran Zean tak segalak ini"


"Tapi sekarang?"


"Dia berubah galak?"


"Apakah aku sanggup?" gumam amel dalam hati


"Amel, lihatlah"


"Ibumu sudah setuju dengan perintah yang kuberikan"


"Sekarang, kau tetap di sini saja"


"Kalian semua pergilah dari sini, kecuali amel" ucap doni sambil melirik ke arah amel.


Semua pelayan yang ada ditempat itu langsung pergi meninggalkan Amel dan doni sendirian di kamar.


Doni melirik ke arah amel yang terlibat kebingungan dengan apa yang telah terjadi.


"Amel, rawatlah luka ku sekarang" panggil Doni kepada Amel.


Amel tampak nya tak bisa menolak perintah Doni


Dirinya langsung membuka perban yang ada di tangan Doni dan doni seperti mengaduh kesakitan


"Auww, pelan - pelan"


"Mengapa kau sangat kasar sekali" ucap Doni sambil melirik ke arah amel.


Doni ingin melihat respon amel yang tiba-tiba saja mau melaksanakan tugas yang diberikan olehnya


Amel pelan-pelan merawat luka yang diderita Doni. Keringat keluar dari dahi doni karena menahan sakit akibat luka yang dialaminya.


"Mengapa aku merasakan kesakitan di dunia fantasi ini?"


"Apakah ini memang dunia nyata?"

__ADS_1


"Bukan dunia game lagi?" gumam Doni sambil terus melihat tangannya yang terluka


Sementara itu, Amel dengan telaten merawat luka Doni yang mulai memerah.


__ADS_2