
Doni mulai melihat ke kanan dan ke kiri. Tampak Hani dan kasim Suncaka dengan setia mengantarkan nya menuju ke kerajaan Amenor.
Sambil melihat sistem yang ada di layar miliknya, Doni tersenyum sendiri karena harta karun miliknya sangatlah banyak.
"Aku telah membalaskan dendamku kepada Alex"
"Sekarang, saat nya aku kembali" gumam Doni sambil terus berjalan.
Tak terasa, perjalanan mereka telah sampai pada akhir. Doni disambut rakyat kerajaan Amenor dengan suka cita.
"Selamat datang pangeran Zean"
"Anda telah mengalahkan pengkhianat kerajaan" ucap salah satu pengawal setia kerajaan
Doni hanya tersenyum membalas pujian yang ditujukan kepadanya
Raja dan ratu kerajaan amenor tampaknya senang dengan kembalinya Doni ke istana.
"Putraku, kau sudah pulang?"
"Aku senang sekali"
"Sebentar lagi, kau dinobatkan menjadi Raja Kerajaan amenor" ucap ratu kerajaan
"Ya ibu, terimakasih" ucap Doni pendek.
Sesekali Doni ingin melihat kepala juru masak yang merupakan ibu kandung Amel. Doni ingin mengabarkan jika Amel telah tewas dalam pertempuran yang baru saja terjadi
"Kasim suncaka"
"Dimana ibu kandung Amel?" tanya Doni
"Oh ibu amel sekarang sedang berduka"
"Dia tak bisa ditemui pangeran" ucap kasim suncaka
"Darimana dia tahu kalau Amel telah tewas?"
"Padahal aku belum mengabarkan nya" tanya Doni penuh tanda tanya
"Aku yang mengabarkan kepadanya, Tuan muda Zean"
"Melalui jasa merpati, aku kirimkan sepucuk surat untuk ibu Amel" ucap kasim suncaka dengan menundukkan kepalanya
"Oh baiklah kalau begitu"
"Sekarang, aku ingin beristirahat dulu" ucap Doni sambil pergi menuju kamar
Hani tampak mengikuti kemana Doni pergi dan menepuk bahu Doni waktu itu juga
"Pangeran Zean"
"Aku akan ikut dengan mu" pinta Hani merengek manja
"Hani, aku telah menyedikan kamar khusus untukmu"
"Ayo aku antar" ajak Doni sambil menggandeng tangan Hani.
"Oh, ya"
"Baiklah pangeran Zean" jawab Hani pendek.
Doni segera mengantar Hani menuju ke kamar khusus untuk para selir raja.
__ADS_1
"Untuk sementara waktu, kau tidurlah di sini"
"Aku ingin menuju ke kamarku sendirian" ucap Doni
Setelah berkata demikian, Doni pergi meninggalkan Hani dan pergi menuju ke kamar pribadinya.
"Ah, akhirnya aku sampai juga di kamar ku sendiri"
"Aku telah membawa sistem kekayaan"
"Apakah aku bisa pulang ke duniaku hari ini?" gumam Doni sambil terus melihat layar sistem yang ada di kacamata ajaibnya.
"Selamat datang di sistem layar misterius"
"Misi anda telah selesai"
"Saat ini, harta karun anda senilai 1 triliun rupiah"
"Jika Anda mengakhiri permainan Klik stop di layar menu"
Suara misterius itu memberi arahan kepada Doni dan tanpa banyak kata, Doni memencet tombol Stop yang berwarna merah.
Tiba-tiba saja tubuh Doni mulai berputar-putar seperti pertama kali dirinya terjatuh dalam dunia game yang Doni mainkan.
Mata Doni terpejam dan pasrah dengan apa yang terjadi. Beberapa menit kemudian Doni berada di tempat semula.
"Hah, aku berada di tempat ini lagi"
"Baju pangeran ku kemana?"
"Aku memakai baju yang sama dengan baju ku pertama kali aku di sini" gumam Doni kebingungan
Doni pun melihat ke sekeliling
Doni langsung melihat tubuhnya yang ternyata dirinya tetap menjadi anak berusia 8 tahun.
"Aduh"
"Mengapa aku tetap berusia 8 tahun?"
"Tubuhku tetap seperti saat aku meninggalkan tempat ini"
"Hah, komputer tua ini masih disini"
"Syukurlah"
"kemana sistem nya, kok tiba-tiba hilang?" gumam Doni sambil terus mengamati komputer itu...
Tiba-tiba saja, Doni melihat ada dua koin emas seberat 1 kilogram berada dalam dua buah kotak kecil.
"Benarkah ini emas?" gumam Doni sambil mengamati koin berwarna kekuningan itu
"Baiklah, akan ku bawa ke rumah"
"Pasti kakek masih menungguku di rumah" guman Doni sambil membereskan hasil sampah yang dia pungut.
Tak lupa, Doni membawa komputer tua itu pulang ke rumahnya, karena Doni berharap bisa bermain lagi dengan komputer misterius itu walaupun saat ini komputer itu terlihat tak berfungsi lagi
Doni akhirnya pulang dengan perasaan masih diliputi rasa penasaran.
Tak terasa, Doni telah sampai ke rumahnya yang kumuh.
"Kakek, aku pulang" ucap Doni sambil meletakkan hasil Doni memulung sampah malam itu.
__ADS_1
"Oh ya cucuku, kakek sudah baikan"
"Apakah kau besok akan berangkat sekolah?" tanya kakek darma
"Enggak kakek"
"aku menemukan koin emas kek" tiba-tiba Doni berkata hal yang mengejutkan kepada kakek Darma
"Oh ya, apakah benar yang sedang kau katakan?" tanya kakek darma sedikit tak percaya
"Benar kek"
"Lihatlah" ucap Doni sambil menunjukkan dua koin emas seberat 2 kilogram itu.
Kakek darma mulai mengamati koin emas itu dan berkata kepada Doni
"Cucuku, besok kita pergi ke toko emas, dan kita tanyakan apa benar ini adalah emas" ucap kakek Darma tersenyum senang.
"Iya kek"
"Sekarang tidurlah dulu"
"Hari sudah malam"
"Besok pagi, kakek akan meminta ijin kepada guru kelasmu kalau besok kamu tidak masuk sekolah" ucap kakek Darma sambil memandang Doni dalam-dalam.
Akhirnya, Doni pergi ke kamarnya dengan penuh tanda tanya yang sangat besar
Sambil menatap langit-langit kamarnya, Doni bergumam dalam hati.
"Aku kembali ke tempat dimana aku berasal"
"Padahal, aku merasa cukup lama berada di kerajaan Amenor"
"Tapi mengapa jam dan waktu di tempat ini tak bergerak cepat?"
"Aku kembali ke tempat semula hanya berbeda 15 menit saja"
"Padahal, aku berhari-hari berada di kerajaan amenor"
"Sungguh, teka - teki ini sulit ku tebak" gumam Doni
Tak terasa, Doni mulai memejamkan matanya. Koin emas yang merupakan harta karun miliknya saat bermain di dunia game dia pegang erat-erat. Doni merasa takut jika dua koin emas itu tidak nyata karena dirinya memperolah dua koin itu hanya melalui game.
Sedangkan game yang baru saja dilewatinya tak ada dalam sistem di komputer tuanya.
Komputer tua tempat Doni bermain game tiba-tiba tak berfungsi lagi.
Doni berencana akan memperbaiki komputer itu di layanan servis komputer tua yang ada di kotanya.
"Yah, besok aku akan menjual koin ini"
"Jika memang benar-benar logam mulia, aku dan kakek ku akan menjadi kaya raya dan tidak di buly lagi oleh Alex. Gumam Doni ..
Tubuh Doni mulai lelah, dan lambat laun Doni tertidur pulas.
Tak terasa waktu semakin lama semakin berjalan dan pagi hari mulai menyingsing.
Ayam berkokok dan hal itu membuat mata Doni yang terpejam mulai terbangun
"Oh, ya.."
"Aku sudah bangun sekarang"
__ADS_1
Doni mulai melirik tangan kanan nya yang sejak tadi menggengam dua koin emas seberat 2 kilogram dan ternyata koin itu masih ada ditangannya