Memory After Memory

Memory After Memory
Sahabat Kecil


__ADS_3

*Prof Author*


Saat usia 6 tahun kami maksudku aku, Viras, Mutia dan Lukman bisa di bilang sahabat.


kami selalu berangkat ke sekolah bersama, pulang dari sekolah bersama dan main bersama. yang aku suka mereka tidak ada yg melihat persahabatan kami dari segi ekonomi, karena sejujurnya diantara kami berempat keadaan ekonomi keluarga ku sangat sederhana, pada saat itu rumah ku hanya sebuah kontrakan kecil, dapur dan kamar mandinya saja bergabung hihiii miris kalo di ceritain, dan tiga orang teman ku yang lain punya rumah sendiri yang terbilang cukup luas.


biasanya sehabis pulang sekolah kami singgah di pinggir kali, hanya sekedar bercerita, jajan atau nyemplung main di kali kecil itu.


dan kami suka M*ndi bersama loh saat kecil yah!


tapi ada yang spesial diantara mereka bertiga untuk ku, entahlah sejak kapan aku mulai menyukainya.


Ruang kelas 4


"Viras maju!" perintah pak Surya.


pak Surya guru matematika sekaligus wali kelas kami, dia sangat disiplin dalam mengajar, tidak ada kata terlambat, tidak mengerjakan tugas apalagi bolos sekolah, bisa gawat akibatnya.


"i-iya pak"


"Kamu tolong jawab soal matematika itu" tunjuk beliau kearah papan tulis.


85x99\=(85xn)-(85x1) berapa nilai n? baca ku dalam hati

__ADS_1


"jawabannya 100 Ppak" ku liat jawabannya agak terbata-bata.


"Kenya benar tidak jawaban Viras?"


tiba-tiba pak Surya bertanya pada ku.


"each, salah pak" suaraku men-cicit,,


"jawabannya 90 pak" aku yang sudah menghitung terlebih dahulu.


"Kenya maju" tanya pak Surya kembali.


"Iya pak" suaraku terasa berat.


"Kenya tolong nanti kamu jelaskan ke Viras jawaban yang benar" ih nih guru ngomong aja yah, siapa yg guru siapa yg murid.


"Kok saya pak" tanyaku masih binggung.


"Jawaban mu benar dan jika kamu yg jelasin pasti bisa lebih dimengerti"


"Benarkan Viras" tanya pak Surya sambil menatap anak laki-laki itu, yang seperti nya terus menunduk.


"jabatan tangan dulu lah" sambil tersenyum geli.

__ADS_1


"ahh nggak ah pak" aku gugup sekaligus maluuuuu sekali saat itu.


"Cie cie" suruh teman-teman sekelas ku


"cie Viras jadian nih" seru Mutia, ahh teman baikku sendiri padahal.


tiba-tiba tangan kami berdua di genggam oleh pak Surya, dan di satukan. ya Tuhan ini deg-degan parah banget, jantung berasa mau copot.


"apaan sih pak" ku coba menarik tangan ku tapi genggaman guruku terlalu kuat, dan ku lihat Viras jga pasrah dengan kelakuan guru kami. tapi aku terlalu malu aku coba kembali melepas tangan besar itu dan berlari ke bangku ku.


Malu banget sumpah,


Dan saat itu aku sadar kalau aku pertama kali menyukai seorang pria


dia lah Cinta pertama ku.


Tapi itu tidak berlangsung lama, karena saat kami memasuki kenaikan kelas 5 dia pindah sekolah ke suatu kota dan itu membuat ku cukup merasa kehilangannya.


Saat itu tidak seperti jaman ini yang ada alat komunikasi super canggih dan cepat. Aku hanya tau nomer telephone rumahnya dan dua tahun kemudian aku memberanikan diri untuk mencoba menghubungi nya dan seseorang disana menjawab kalau viras dan keluarganya sudah pindah ke suatu kota, aku terlambat ternyata, harus dimana lagi aku mencari jejaknya.


Dan sampai saat ini aku belum pernah mendengar kabarnya lagi, aku mencoba mencarinya di semua media sosial yang ku tahu tapi hasilnya nihil.


Terkadang aku masih berharap suatu saat aku bisa bertemu dengannya, walaupun nanti kenyataannya dia tidak ditakdirkan berjodoh dengan ku.

__ADS_1


__ADS_2