
"Akhirnya ku menemukan mu"
iraz batin ku kembali memanggil namanya, mata kami bertemu, semua kenangan tentangnya kembali mengisi ingatan ku. Aku tidak tau bagaimana cara otak ku bekerja, padahal sudah susah payah dua tahun ini aku berusaha melupakannya.
"Iraz breng*** pesona mu tidak pernah bisa hilang dari ingatan ku"
aku menggerutu sambil mendudukkan pan*** ku di salah satu bangku kayu di cafe ini. Aku menelpon nomer perusahaan yang mengajak ku bertemu malam ini, tapi sepertinya pangilan ku tidak di jawab. setelah 10 menit berlalu Aku mulai gelisah, aku malu jika harus berada di tempat ini tanpa seseorang. Apa aku balik saja ke kamar ku, sebelum Iraz menyadari keberadaan ku.
Ku langkahkan kaki ku, baru beberapa langkah tangan besar dan hangat itu menahan laju langkahku.
"Mau kemana kita belum bicara"
"Maaf aku kesini bukan untuk bertemu dengan mu" aku menarik keras tangan ku
"Maaf, tadi aku tidak mengangkat telephone mu karena tidak mendengarnya" telpon kapan aku menelponnya
"Aku Founder PT. Angkasa Pratama yang tadi kau telpon" Aku alisku menyatu merasa tidak percaya. Iraz menarik ku untuk duduk di kursi yang tadi aku tempati.
"Jadi Nona Kenya berapa pcs batik yang bisa kau buat dalam waktu satu Minggu" aku menarik nafas, fokus ini bukan tentang ku tapi kemajuan toko ku.
"Sesuai kesepakatan kita di pesan kemarin, kami sanggup memenuhi pesanan mu sebanyak 1000 pcs dalam waktu satu Minggu"
"Baiklah untuk samplenya apa kau bawa"
"Iya, aku membawa tiga pcs sample yang berbeda, semua ini di buat dengan desain terbaru, model fashionable cocok untuk pakaian kerja, bahan dan warna yang di pilih pun kami pilih yang terbaik, tapi kami kembalikan lagi pilihan ke pada anda tuan" aku membuka satu persatu sample batik yang ku bawa
"Baiklah coba aku lihat" dia menggeser bangkunya mendekati ku, udara di sekitar ku seperti menghilang, aku mengalihkan pandangan ku dari matanya.
"Ini bagus, sebentar aku foto dulu, aku akan mengirimkannya ke Rena sekertaris ku"
"Eemm...ehmm bisa minta tolong kamu pegang batiknya" ngeselin kan tinggal di jembreng di meja aja bisa kan, lagi pula aku sudah mengirim vidio dan fotonya secara real tadi.
"Sudah belum" aku sama sekali tidak melihat ke arahnya.
__ADS_1
"Okeh tinggal menunggu balasan dari Rena, makan aku akan membayar DP nya" dia menawarkan ku makan tapi aku menolaknya, aku hanya memesan hot coklat seperti biasa.
"Kebiasaan mu masih sama?" aku tidak menjawabnya, aku sibuk menyeruput coklat panas ku, sambil mendengarkan alunan live musik di cafe ini.
"Apa kamu sudah punya kekasih key" dengan cepat aku mengangguk
"Ohh begitu yah, apa hubungan kalian serius?"
"Kenapa bertanya apa penting bagimu!" aku lihat iraz menggaruk kepalanya, sepertinya dia salah tingkah
"Tidak juga, aku cukup senang mendengarnya, kalau begitu aku tunggu undangannya ya"
kenapa dia senang sekali, bicara apa aku, pacar saja belum punya.
"Bagaimana kabar Bella dan Naya?"
"kau tau dia, dia sangat lucu dan cantik persis seperti ibunya" kata-kata yang seharusnya tidak ku dengar.
"Bella ada urusan jadi harus mereka pulang ke Jakarta kemarin malam"
Sudah hampir setengah jam kami berbincang belum juga ada kabar dari sekretarisnya.
"Apa sekertaris tuan sudah membalas pesannya"
"Kenapa kau ada janji?"
"Tidak, aku sedikit lelah ingin segera beristirahat" Iraz membuka kembali ponselnya.
"Iya, Rena sudah membalas dia menyetujui model yang ini, jadi berapa DP yang kau minta"
"30 % dari total harga pembelian, sisanya di bayarkan setelah barang telah siap di distribusikan"
"Oke deal, jangan lupa nomer rekening mu" aku mengetik no. rek bank milik toko kami.
__ADS_1
"Sudah aku transfer yah"
"ehmm.. terima kasih, boleh aku permisi"
"Iya.." baru aku bangun dari tempat duduk ku, satu tangannya menghadang langkahku
"Key apa kau mencintainya?"
"Maksudmu tunangan ku" Iraz hanya mengangguk tanpa melihat kearah ku
"Cinta bisa tumbuh dengan berjalannya waktu, begitu sebaliknya waktu dapat membuat cinta memudar dan hilang tuan" dengan langkah cepat aku meninggalkan pria itu yang masih duduk di bangku nya.
sampai di kamar hotel aku menelpon ibu dan mengatakan proyek pembuatan batik kita lanjut dan aku besok akan segera belanja bahan dan kebutuhan lain yang akan di gunakan untuk pembuatan batik tersebut, ibu sudah mendapatkan tambahan tenaga penjahit paruh waktu sebanyak 10 orang, tenaga potong bahan 5 orang dan pengemasan 5 orang, semoga semua berjalan lancar, tanpa hambatan dan tepat waktu.
Bel kamar ku berbunyi, waktu sudah menunjukan pukul 11 malam, siapa yang ke mari malam-malam begini, mungkin petugas hotel pikirku.
"Permisi nona, Pria ini terlihat tidak sadarkan diri di cafe tower 21, sebelum dia pingsan kami sempat menanyakan nomor kamarnya dan dia bilang antar saya ke kamar 256, apa anda mengenalnya nona?"
"Iraz, kamu kenapa?" aku mulai cemas, tadi terakhir kali aku meninggalkannya dia masih dalam keadaan baik-baik saja.
"Seperti nya anda mengenalnya nona, boleh bantu kami mengangkatnya" Aku segera membantu pelayan tersebut merebahkan Iraz di kasur ku, satu menit kemudian mereka pamit dan menyerahkan ponsel Iraz kepada ku.
Aku segera mengendorkan ikat pinggang, membuka jas, sepatu dan kaos kakinya, lalu mengambil air hangat di dispenser dan menggunakan sapu tangan ku untuk mengompres nya, aku juga memijat telapak tangan dengan minyak kayu putih.
"Iraz kenapa kamu begini, kamu tidak pernah mabuk setau ku, apa kau sedang ada masalah, aku tidak suka melihat mu seperti ini bangunlah Iraz, aku mohon" Air mata ku kembali menetes, padahal aku sudah berjanji tidak akan menangis untuknya lagi. Tapi melihat Iraz seperti ini hati ku pun ikut merasakan sakit, aku pikir dia bahagia dengan kehidupannya sekarang.
Kamar hotel ku tidak terlalu luas, aku memang menyewa standar room, hanya ada fasilitas kasur UK. standar, TV, dispenser, AC tidak ada sofa bed, hanya satu kursi kayu dan meja nakas untuk menaruh makanan. Aku memakai kursi itu untuk duduk di sebelah kasur dimana Iraz sedang tertidur, nadi dan nafas nya teratur jadi aku bisa lebih tenang jika terlelap sebentar, aku mengantuk sekali.
Pagi hati sinar matahari menyilaukan mataku, aku sepertinya sedang bermimpi semalam aku bersama dengan iraz berada di suatu tempat, tidak ada jarak antara kami lalu ku sentuh bibir ini, aku merasa kami berciuman semalam.
"Iraz!!" Aku tersadar Iraz berada di kamar ku karena tidak sadarkan diri semalam, dan ku lihat posisiku saat ini sedang terbaring di tempat tidur, lalu dimana iraz.
Aku melihat sekelilingku tapi tak ku dapati sosok nya, lalu aku bangun dan membuka pintu kamar mandi ternyata tidak ada orang di dalamnya, dia sudah pergi ternyata. Kenapa tidak membangunkan ku dulu atau minimal mengucapkan terima kasih karena telah menjaganya semalam. Aku benci pada diriku sendiri, aku harap kelak tidak bertemu lagi dengannya, sungguh sangat menyakitkan jika mencintai seseorang secara sepihak.
__ADS_1