
Braakkk.....!!!!"
Bella membanting pintu apartemen nya, dia tidak habis pikir kedua orang yang di cintai nya mencintai orang lain, orang yang sama dan bukan dia. Apa kelebihan wanita itu di mata mereka, apakah wanita itu memakai penarik atau pelet sehingga semua lelaki merasa tertarik dengannya.
"Arch..... dasar brengsek, aku lebih dari segalanya di banding dia kenapa harus dia yang mereka pilih" Bella berteriak di depan cermin, dia menatap pantulan yang ada di dirinya yang memang jauh di pandang menarik dari pada wanita bernama Kenya itu.
Bella merasa tidak terima dengan pengakuan Mulya semalam, setelah mereka makan malam bersama Iraz mengatakan tidak bisa lagi melanjutkan hubungannya dengan bella, padahal dia yang selama ini ada untuk Mulya di saat-saat terpuruknya, Bella tidak bisa terima begitu saja dengan apa yang sudah dia korbankan selama ini.
Awalnya Bella memang tidak ada rasa dengan Mulya, dia hanya mengikuti kemauan maminya yang menjodohkannya dengan pria itu, padahal hatinya sudah dia labuhkan kepada satria teman saat kuliah dan sekaligus kekasihnya. Tapi sayang kedua orang tuanya tidak merestui hubungan mereka terutama mama nya karena satria hanya dari keluarga orang biasa. Bella menyerah meyakinkan mama nya jika satria akan jadi pria yang baik untuk masa depannya kelak, tapi materi lebih dari pada segalanya di mata mama nya, dan akhirnya dia berusaha untuk membuka hatinya pada mulya, tentu saja pesona Mulya dan juga pekerjaannya sebagai CEO semakin lama semakin membuat jantung bela berdetak, tapi dia pikir Mulya punya perasaan yang sama dengannya, ternya semalam Mulya menjelaskan semua.
Kalau saja saingannya adalah wanita yang lebih dari Bella mungkin saja dia akan mengalah. tapi tidak dengan kenyataannya wanita itu Kenya seorang gadis biasa, Bella rasa dirinya tidak sepadan dengan gadis tersebut.
"Kenapa harus dia Mulya" Bella menggenggam tangan Mulya seolah meminta penjelasan.
"Bukan kenapa harus dia bel, aku dan Kenya sudah dari kecil kenal dan memang dia yang membuat hati ku berbeda aku-" Mulya melepaskan genggaman bela.
"Kenapa dulu kamu, bersikap baik padaku jika di hati mu hanya ada dia" bela menyela dan meminta penjelasan
"Maaf.. maaf bel, Iya dulu aku memang mencoba membuka hati pada mu, tapi saat aku bertemu dengannya rasa itu masih ada bel, dan semakin berkembang, aku tidak bisa membohongi diri ku sendiri bel, jadi please aku minta kita akhiri hubungan kita ini, kita masih bisa menjadi sahabat dan aku siap jika kamu membutuhkan bantuan" Mulya mengusap kasar mukanya, dia tak tega mengatakan ini semua tapi sebelum semua terlambat pikirnya.
"itu tidak menyelesaikan masalah Mulya, jadi jika saat itu jika kamu tidak bertemu dengan nya mungkin hubungan kita masih baik-baik saja bukan!" bela menatap tajam Mulya.
__ADS_1
"Bel, jangan mengambil kesimpulan sendiri sampai kapan pun hati ku akan selalu untuk nya, walaupun saat itu aku tidak bertemu dengannya, aku akan tetap mencarinya"
"Cih... cinta macam apa itu, kau mempertahankan nya padahal dia sudah menjadi milik orang" bela tersenyum sinis lalu membuang muka.
"Maafkan aku bel, tapi aku rasa aku masih punya sedikit harapan selama belum ada ikatan resmi diantara mereka"
"Aku tidak terima mulya, aku tidak mau berpisah dengan mu, kita lihat saja nanti" bela menaiki mobilnya, dan membanting pintu dengan keras.
"Bel jangan nekat kamu-" Mulya berteriak tapi percuma, mobil yang di Kendarai bela telah melaju kencang.
Semalam bela tidak langsung pulang entah kenapa dia memasuki Klub malam, padahal sebelum ini dia tidak pernah ke sini seorang diri, pikirannya kacau dulu dia melepaskan satria tidak benar-benar memperjuangkan cintanya sekarang dia menyesal karena satria sudah tidak menyukainya lagi, dan sekarang pria yang sangat dia cintai meninggalkan nya dan lebih memilih wanita lain, wanita yang sama yg di pilih dengan mantan kekasihnya dulu.
"Hei kamu bela kan, dokter bela yang terkenal cantik itu kini sendirian disini" seorang pria tampan mendatangi bela
"Kau yakin tidak ingin aku temani?"
Bella bangun dari duduknya, masih dalam ke adaan mabuk dia berjalan menuju pintu keluar club'.
"Bella kau sedang mabuk, sebaiknya aku akan mengantar mu pulang, berikan kunci mobil mu" Bella memberikan kunci pada Ray, lalu Ray jalan mendahului Bella membukakan pintu mobil untuknya.
Bella mulai berbicara melantur di dalam mobil.
__ADS_1
"Andai dia perhatian seperti mu ray, andai dia mau berusaha mencintai ku, aku akan memberikan seluruh hidupku padanya"
"Tenang lah bela, walaupun aku tidak mengerti maksudmu, tapi kau tau perasaan ku padamu sampai saat ini tidak pernah berubah" Ray menggenggam tangan Bella dan menciumnya, bela tidak melepaskan tangan itu dia merasa membutuhkannya saat ini.
"Ray aku tidak mau pulang, bawa aku ketempat yang nyaman, aku ingin tidur"
"Baiklah bel"
"Masuklah apartemen ku tidak terlalu besar tapi kurasa nyaman untuk tempat istirahat mu malam ini" tanpa saru bela masuk, dan merebahkan diri ke sofa terdekat.
"Aku akan membuatkan mu, teh hangat agar pusing mu segera hilang" belum juga Ray menuju dapur bela memanggil namanya.
"Ray jangan tinggalkan aku, aku mohon semua yang ku cintai meninggalkan ku hari ini, aku berharap semua hanya mimpi"
"Aku disini bela, dan akan selalu bersama mu" Ray duduk di samping sofa, lalu mengecup kening bela.
"Ray..... aku-" bela menangkup wajah Ray dan mencium bibir hangat tersebut, Ray kaget mendapatkan ciuman tiba-tiba dari bela tapi dia tidak bisa menolaknya, cinta yang dulu pernah di tolak oleh bela belum sepenuhnya hilang, dulu bela lebih memilih dengan satria dari pada dirinya, dan itu sangat menyakitkan. Bela merasa nyaman ada pria yang sangat menginginkannya.
"Bella sadarlah, aku tidak mau kau menyesal nanti" namun Bella yang di kuasai gairah tidak mendengar apa yang dikatakan ray.
beberapa menit kemudian, bella bangkit dari posisi tidurnya dan memeluk tubuh Ray yang saat ini duduk di samping nya.
__ADS_1
"Bel sebaiknya kau tidur, aku akan membawamu ke kamar" Ray menggendong tubuh bela ke kamarnya. Saat Ray ingin beranjak meninggalkan bela, wanita itu menarik Ray hingga pria tampan itu berada di tubuhnya.
"Bela aku tidak dapat terus menahannya bel, tolong jangan buat aku seperti ini" Ray dengan kasar mencium bibir bella dan di balas oleh lawan nya, ciuman itu semakin dalam hingga keduanya terhanyut pada gairah masing-masing.