
Iraz menatap suasana siang di balik kaca besar ruangan kantornya dia mengingat pertemuannya bersama Kenya tadi pagi.
"Terima kasih key"
Iraz menghentikan mobilnya di tepi jalan.
"eum untuk apa?" Kenya menyengitkan kedua alisnya.
"Karena mau menunggu ku" Iraz mengeluarkan senyum terindahnya.
"Ih.... GR" jawab gadis itu, ingin berlalu.
"Tunggu, nanti ku telepon yah kalo sudah senggang" Iraz menarik tangan Kenya, dan gadis itu menjawab dengan anggukan.
Kau semakin hari makin cantik key di mataku, maaf aku baru berani memperjuangkannya sekarang, bodohnya aku yang tidak menyadari rasa itu dari dulu, aku terlalu pengecut untuk memintamu menjadi kekasih ku.
Tut..Tut...Tut...piawainya berdering.
"Assalamualikum iya mi?"
"Iraz apa yang kamu lakukan, cepat pulang mami mau bicara"
"Maksud mami apa mi, aku baru saja pulang dari Jepang mami sudah marah-marah begini"
"Sudah jangan bersandiwara yah kamu, pokoknya mami ngak terima alasan, cepat pulang kita bicarakan di rumah"
"Baik mi, aku akan segera pulang"
pangilan itu langsung ditutup oleh mami, dan Iraz yang tadi berniat menelpon Kenya harus menundanya, dia mengambil jas nya dan segera keluar dari pintu ruangannya.
"Ada apa raz, mau kemana lo nanti jam 2 kita ada meeting" Dimas mengejar iraz yang berjalan melewatinya.
"Lo handel semua yah dim, nyokap gw tiba-tiba nyuruh gw balik ada masalah sepertinya, nanti laporin ke gw hasil meeting nya"
"ohhh... okeh kabarin gw kalo ada apa-apa yah raz"
"Iya thanks yah dim"
Sudah pukul 12 siang tidak ada kabar atau pun pesan dari Iraz, Kenya hanya tersenyum di depan cermin.
"Sabar yah hati mungkin dia sedang sibuk, wajar pekerjaannya pasti menumpuk" batin Kenya menguatkan hatinya.
__ADS_1
********
"Mang ngebut dikit yah" setelah di perintah tuannya mang iing
melajukan mobilnya dengan kencang.
Tidak biasanya mamanya semarah ini bicara di telepon, ada apa sebenarnya, Iraz bertanya dalam hati.
"Assalamulaikum" Iraz membuka pintu rumah, terlihat wanita tua menghampiri nya.
"Walaikum salam den" Jawab bi Inah, sambil mengambil tas dan dari tangan Iraz.
"Mami dimana bi?" tanya Iraz sambil mengendorkan dasinya
"Di taman belakang den, anu den..." Bu Inah ingin mengatakan sesuatu, tapi Iraz memotong kalimat wanita tua itu
"Nanti saja yah bi ceritanya, biar saya bicara sama mami dulu" Iraz menolak berbicara lebih lama dengan Bu Inah, karena maminya pasti telah menunggunya.
"iya den.." bi Inah mengerti dan menuju ruang kerja Iraz.
"Ma-" belum sempat Iraz menyelesaikan kalimatnya
"Mami ngomong apa sih. jelasin dulu ke Mulya, salah Mulya dimana?"
"Jangan pura-pura yah kamu, habis manis sepah di buang"
"Udah deh mi, Mulya beneran ngak tau, tolong jelasin!!"
"Mulya, mami ngak habis pikir kenapa kamu bikin malu mami dan keluarga besar kita, kenapa kamu ngak bisa menahan diri, kalian kan sudah tunangan, kan kamu bisa langsung bilang saja sama mami dan papi untuk mempercepat pernikahan kalian, jadi hal semacam ini tidak akan terjadi"
"Duh Mulya tambah ngak ngerti deh arah pembicaraan mami, intinya aja mi"
"Intinya Bella hamil satu bulan dan anak yang di kandung Bella adalah anak kamu, keluarganya menuntut untuk kamu langsungkan pernikahan dengan nya segera"
"Mami bisa tenang ngak"
"Gimana mami mau tenang, setelah kamu menghamilinya, kamu malah memutuskan hubungan kalian secara sepihak, kok kamu sekejam itu, mami malu mulya"
"Mi, mami kenal Mulya kan, Mulya ngak mungkin ngelakuin hal yang buat keluarga Mulya malu mi, Mulya memutuskan hubungan sama Bella karena memang Mulya ternyata tidak benar-benar menyukainya mi, dan mengenai Bella hamil apa benar ada buktinya, kalaupun benar, demi Alloh mi bukan Mulya yang menodai Bella, apa mami masih tidak percaya"
"Ehmmm.... boleh papa masuk"
__ADS_1
"Papi..." Mami dan Iraz menengok ke arah papi yang tiba-tiba menghampiri mereka.22
"Maaf tadi papi tidak sengaja mendengar p erdebatan kalian, papi pasti emosi dengan apa yang mami kamu ceritakan, tapi Mulya benar juga mi, apa benar Bella hamil, jika iya apa benar Mulya ayah dari janin yang di kandungnya tersebut"
"Tapi pah!" mami sonya menyela.
"Mi kita dengarkan dulu penjelasan anak kita, mami jangan terbawa emosi"
“Mulya, boleh kami mendengar penjelasan mu”
"Iya pah mi mulya mutusin hubungan dengan Bella sudah sebulan yang lalu, karena mulya merasa tidak sepenuhnya menyukai bella mi, lalu seminggu setelah kami putus mulya berangkat ke jepang dan sama sekali selama berhubungan dengan bella mulya tidak pernah melakukan hubungan lebih jauh dari itu mi, mulya berduaan saja di ruangan tertutup dengan bella tidak pernah pa, tolong percayalah”. Iraz menggenggam tangan mami nya seraya memohon.
“Dengarkan mi penjelasan dari mulya, jadi sekarang papi minta tolong kamu selesaikan masalah ini, selagi papi dan mami mengulur waktu pernikahan kalian”
“Tapi pi, mami harus bicara apa dengan tante erni”
“Mami cukup ikuti saja maunya, sambil menunggu mulya mencari tau kebenaranya, ingat mulya papi hanya kasih kamu waktu tiga hari untuk mencari tau kebenarannya, karena keluarga setyo pasti tidak akan tinggal diam”.
“Baik pi, mulya akan segera cari tau kebenarannya, terima kasih pi”. Iraz berlalu dan pergi meninggalkan mereka yang masih tampak bediskusi.
Saat akan berjalan keluar, Iraz melihat bi Inah yang sedang berjalan mondar-mandir di ruang tamu, Iraz lalu menghampirinya mengingat wanita tua itu tadi sepertinya ingin mengatakan sesuatu padanya.
"Bi Inah tadi mau bicara apa Bi?"
"Anu den, tadi Tante Erni ke sini sama nona Bella bibi dengar sepertinya mereka ada niat ngak baik ke keluarga ini den" bi Inah berkata terbata-bata.
"bibi dengar ngak Tante Erni tadi bilang apa?"
"Itu den, dia bilang sama nona Bella tenang saja den Iraz pasti akan tanggung jawab, non Bella tadi juga muntah-muntah di toilet tamu den, mukanya pucat banget, kayak orang lagi hamil muda den"
"Iya bi, Bella sedang hamil bi, tapi bi bukan saya yang menghamili Bella!"
"Iya den, maksud bibi gitu, Aden jangan langsung percaya den selidiki dulu"
"Tenang aja bi Inah, Iraz akan cari tau semuanya... bibi percaya kan"
"I-iya den"
"Makasih yah bi, Iraz pergi dulu, assalamulaikum"
bi Inah memang dekat dengan iraz, dari balita bi Inah sudah bekerja di rumah ini dan mengurus semua keperluan Iraz, jadi dia pasti tau kebiasaan tuannya itu, dan siapa wanita yang tuan nya suka, dan dia percaya tuan nya tidak akan mungkin melakukan hal yang tidak senonoh kepada teman wanitanya.
__ADS_1