
*Prof Kenya*
akhirnya aku sampai juga di kos-kosan ku,,,
kulihat wajahku di cermin, A-hhhh jelek banget, rambut ku kusut, dan bau badan ku ohh tidak ngak enak banget, mana bau, lengket huhu aku harus segara mandi rasanya.
setelah mandi ku rendam semua baju yang tadi ku pakai tak lupa jaket Iraz,,,
'kenapa kau tiba-tiba hadir, kenapa kau melindungi ku, kenapa kau Iraaaz...' pikirannku membayangkan hal tadi, pedih rasanya dia melihatku saat aku sedang terlihat buruk, seperti angsa buruk rupa di dongeng-dongeng iya ngak sih....?
"aarrrcchhhh Iraaazz......" berteriak sekuat tenaga mumpung di kamar mandi. Menangis sejadi jadinya malu rasanya bagaimana aku menghadapi mereka semua besok,,
ku ambil kain putih dan sajadah ku aku tunaikan sholat malam sebelum tidur, ku selipkan doa untuk ku dan dia, dan berharap pikiran dan hati ku ini lebih tenang.
keesokan harinya aku, ku ambil jaket Iraz yang semalam ku jemur.
"Alhamdulillah sudah kering" ku cium jaket itu ehh wangi, ku peluk jaket itu sebelum ku kembalikan ke yang punya.
"Kenya..." suara yang tak asing lagi di telinga ku.
"ehmmm...' aku tersenyum menyambut nya, dua sahabat kesayanganku.
"kemarin kemana aja, di telepon tau-tau dah sampai rumah aja" mulut tyas cemberut menatapku.
"Hahahaa.... iya maaf aku binggung aja kemarin, pikiranku mau cepat pulang dan mandi Tyas, badanku lengket mana bau amis..."
__ADS_1
ku rapatkan kedua tangan sambil menundukkan kepala.
"is oke yang penting Lo baik-baik aja" dia mengelus bahu ku lembut.
Di kantin kampus kami makan siang
"naik apa kemarin key..?" Vicka merangkul ku
"aku naik ojek, habis binggung kalo harus cari-carian sama kalian suasana lagi kacau banget kayak gitu" Iya aku panik kemarin, aku di taman belakang cafe, setelah Iraz meninggalkan ku, lebih tepatnya aku meninggalkan dia. karena sepertinya iraz bilang 'tunggu yah, aku segera kembali' tapi aku terlalu malu menghadapinya,
untung di disitu ada beberapa tukang ojek pangkalan, tidak berfikir panjang aku langsung menghampiri salah satu dari mereka.
"iya sorry yah, gw yang ngajak gw ngak tanggung jawab.." Vicka menggenggam tangan ku saat mengucapkan kalimat itu.
"ahh mata Lo mah sibuk sama ibal aja hahaha" Tyas menimpali.
"Hahaha..... iya iya ngak papa" tutup tangan ku ke mulut melihat pola mereka.
"oh ya ngomong-omong kak Gilang sibuk nyariin Lo key, habis dia bawa siapa tuh cewek kecil yang pingsan..."
"namanya Tari Vic," aku membenarkan
"ahh iya habis bawa tari ke ambulans, dia bolak balik keliling nyariin Lo key,," lanjut vicka
"Ehh... gitu yah"
__ADS_1
"Lo ngak ada feel apa sama kak Gilang, dia kan cover boy kampus kita key, ganteng, tinggi, sporty, tajir lagi ih tipe gw banget" Tyas mulai Ke-sambet deh berkhayal tingkat dewa.
"Iya kayaknya dia perhatian banget sama Lo key kemarin aja kalang kabut ngak ketemu lo" Vicka sambil memutar-mutar sedotannya
"Yang tajir orang tua nya yah Tyas, dan kak Gilang bukan tipe gw, kalau kalian suka deketin aja"
"Serius...." mata mereka berdua kompak berbinar.
Humf dari segi apapun kak Gilang tampan lah, baik dan ramah orangnya, tapi siapa gw tau diri lah mau di keroyok satu universitas apa. aku juga menerima beberapa pangilan telephone dan pesan what's app dari kak Gilang semalam tapi tidak ada yang ku jawab, entahlah aku tidak mau memberikan harapan pada nya dan pada diriku sendiri.
"Ehmm...ehmm.. Key"
"Ah.. iya" aku tersadar dari lamunanku
"jaket siapa itu key..?" tanya Tyas yang matanya melihat ke arah paper bag ku.
"Ooo..Ini punya teman..." aku sampai lupa harus bagaimana menjawabnya.
"Teman... setau gw teman dekat Lo cuma kita, atau ??? kita ngak kenal orangnya, atau?!" Vicka menyelidik.
"bedalah kalian itu sahabat terbaik ku" sambil ku cubit kedua pipi mereka.
"tapi kalau teman kan semua teman, mumpung di ingatkan kalian aku harus kembalikan jaket ini dulu yah, takut besok-besok lupa" aku langsung beranjak dari bangku kantin kampus menuju Fakultas Hukum dimana seharusnya dia berada.
"Kenyaaaa..... jangan ada rahasia diantara kita...." Tyas berdiri sambil berteriak ke arah ku.
__ADS_1
"Hutang cerita loh key.." Vicka menimpali
aku hanya mengedipkan satu mata ku, dan mengarahkan jempol manis kepada mereka sambil berlalu.