
Satu Minggu waktu yang di berikan satria untuk Kenya atas pernyataan cintanya. Hari ini satria mengajak wanita cantik itu bertemu cafe dekat rumah sakit, satria masih berharap akan ada keajaiban yang mengubah hati wanita yang dia sayangi itu.
Hubungan Kenya dan satria berjalan seperti biasa, beberapa Minggu ini satria selalu berusaha untuk memberikan perhatian lebih padanya.
Dia mendengar kabar saingannya sedang berada di luar negeri, jadi satria tidak melepaskan kesempatan ini untuk lebih dekat dengan kenya, tapi sepertinya hati Kenya telah memilih pria lain, yaitu Cinta Pertama nya.
Wanita cantik itu telah sampai lebih dulu di tempat yang di janjikan satria untuk bertemu, kebetulan hari ini Kenya dapat jatah libur.
Lima belas menit kemudian satria datang dengan sedikit berlari.
"Maaf key tadi ada pasien emergency, aku harus menolongnya" dia duduk dan berkata dengan sedikit tersengal-sengal.
"Tak apa dok aku juga baru saja datang" senyum gadis itu, dia sangat mengerti resiko pekerjaan pria di hadapannya itu, dia sengaja berbohong, padahal Kenya sudah setengah jam menunggu.
"Sudah pesan makan?" tanya satria
"Sudah, mungkin sebentar lagi datang"
"Makasih yah, aku sudah lapar berat" lima menit kemudian makanan datang, satria dan Kenya makan sambil sedikit bercerita tentang pasient emergency nya.
'Dok satria pria yang tampan, mapan, pekerjaannya juga baik, terlebih sikapnya yang ramah, pembawaan yang hangat, mudah bersosialisasi dengan orang di sekitarnya nyaman sebenarnya ada di dekatnya. Tapi entah kenapa diri ini tidak mau untuk mencoba membuka hati untuknya' batin Kenya.
Setelah selesai makan, Kenya yang lebih dulu membuka percakapan mengenai perasaannya
"dok..."
"ehmm... masih saja susah yah buat manggil nama ku dengan sebutan biasa, bukan di kantor key ayolah"
"hehee... iya dok, Satria maksudku.
aku punya janji padamu seminggu yang lalu" Kenya berkata dengan sangat hati-hati.
__ADS_1
"iya, key lalu apa jawaban mu?"
"itu sat, ehmmm... Maaf aku tidak bisa menerima hati mu, Maaf kan aku Satia" Kenya mengigit bibir ranumnya, tangannya memainkan jari-jarinya ketika sedang gugup, hal itu membuat pria di hadapannya tersenyum.
"Bukan tidak bisa key, mungkin kata itu bisa di ganti dengan belum bisa, karena itu sangat menyakitkan, Ouch..?" goda dokter tampan itu, sebelah tangannya memegang dadanya.
"Dok... masih bisa bercanda yah, aku memilah kata-kata ini semalaman tau" Kenya mengerucutkan bibirnya dan lagi-lagi membuat pria di hadapannya itu tertawa.
"Eum... aku suka ekspresi kamu kalo lagi marah itu membuat ku gemas" tanpa permisi satria mengacak-acak rambut kenya.
"Satriaaaa....!" Kenya menata rambutnya kembali.
"Beruntung sekali yah dia yang ada di hati kamu, apa aku kalah tampan dengannya?"
"Maaf satria, bukan begitu alasannya, tolong mengertilah, jadi lebih baik sekarang kita bahas yang lain aja sat"
"Okeh, tapi ingat Saat keinginan hati mu tidak sesuai dengan harapan mu, jujurlah pada ku, hati ini akan selalu disini menunggumu" Mata nya menatap kenya sendu, seolah meyakinkan gadis itu, dia lah pria yang pantas untuk nya.
"Ehmm..." aku hanya menunduk sambil mengangguk, tanpa menatap matanya.
*****
Hari ini berencana akan ke bandara untuk menjemput Mulya, mama nya berkata pria itu akan pulang hari ini tapi saat dia bangun dia merasa sangat pusing,
'ada apa dengan ku, badan ku terasa lemah dan aku sepertinya kurang sehat' lirihnya dalam hati
dan hanya permintaan maaf yang keluar dari mulut gadis cantik itu.
Setelah mandi dan berpakaian rapi, Bella melajukan mobilnya menuju bandara, tapi sebelum itu dia ingin memastikan sesuatu, mobilnya berhenti di depan apotik dan membeli sesuatu.
Gadis cantik itu masuk kembali ke dalam mobil dan mengeluarkan sebuah cairan dalam wadah pot transparan, iya sebelum nya Bella sudah menampung air seninya di sebuah pot urine sebelum berangkat, lalu di masukan sebuah alat yang dia beli di apotik tadi kedalam pot tersebut, Beberapa menit kemudian di angkatlah alat tersebut terlihat dua garis merah samar pada benda tersebut. Dia menutup mulutnya tidak percaya, apa yang harus dia lakukan sekarang apa masih bisa dia menggugurkan benih di dalam rahim nya ini.
__ADS_1
Setelah merapikan semuanya, Bella melajukan mobilnya kembali kearah rumah.
"Bella kok pulang lagi sayang?"
"Ma... Bella ngak enak badan ma, bella mau istirahat" bella segera berlari menuju kamarnya, dan saat itu dia menjatuhkan benda pipih yang di belinya di apotik.
Mama bella mengambil benda tersebut dan bertapa terkejutnya dia, "Test pack, Garis dua, apa artinya ini? dasar anak bodoh, dia harus menjelaskan semuanya" dengan menahan amarah mama Bella berjalan menuju kamar Bella.
"Bella,,,,! Apa ini?? tolong jelaskan ke mama sekarang" mama bela langsung masuk dan menunjukan benda yang di pegang nya.
"Mama... dari mana mama mendapatkan itu" Bella langsung merogoh saku celananya dan benar miliknya tidak ada.
'Duh kenapa harus jatuh di depan mama sih' batin nya
"Bella hamil mah, Bella binggung harus bagaimana menjelaskannya" Bella memejamkan mata sesaat dan menceritakan semuanya, air matanya semakin deras saat dia mengatakan bahwa Mulya memutuskan hubungan mereka.
"Bella minta maaf mah, tolong bantu Bella, bela takut" bela menunduk dan memeluk perut mamanya.
"Dasar anak bodoh....!!! kenapa bisa kamu lakukan itu disaat seperti ini, harusnya dari awal kamu jujur pada mama" mama memukul pundak Bella dengan kasar.
"Aduh mah sakit, maaf ma, maaf!!"
"Enak sekali kamu minta maaf, apa Ray tau mengenai hal ini?"
"Belum mah"
"Bagaimana pun caranya, jangan sampai dia mendengar kabar kehamilan mu, pokoknya mama ngak mau menantu lain selain Mulya, hanya dia yang pantas untuk menjadi suami kamu" mama menatapku tajam.
"Hari ini mama akan ke rumah Tante Erni, jelasin kalau janin yang ada di rahim kamu adalah anak Mulya, jadi kamu tenang saja dah ikuti apa kata mama mengerti"
Bella hanya mengangguk dan mengelap kasar air matanya.
__ADS_1
"Ya sudah kamu istirahat dulu, mama akan pikirkan bagaimana cara meyakinkan Tante Erni agar pernikahan kalian di percepat"
"Iya mah, makasih yah..."