
Sudah tiga hari ini Iraz tidak menghubungiku, setelah pertemuan kita terakhir aku pikir kami akan semakin dekat tapi kenyataannya tidak, rasanya perih melihat layar handphone ku tidak ada panggilan masuk darinya atau sekedar pesan kabar darinya padahal jarak diantara kita hanya beberapa kilometer saja.
Saat dia berada di Jepang dia selalu menghubungi ku, sesibuk apapun dia akan mengirim kabar walaupun tengah malam hanya mengirim pesan.
Jika boleh meminta aku ingin dia jauh disana saja, sakit rasanya seperti orang yang di beri harapan lalu dihempaskan kembali.
Pikiran ku mulai membayangkan yang tidak-tidak tentangnya,
aku tidak tau apakah ini salah atau tidak, apa boleh aku mencoba berharap raz, aku sungguh takut untuk belajar melupakan mu kembali, tolong hubungi aku raz jika kamu tidak menyukai ku, aku pasti akan pergi.
Hari ini aku dapat shif siang, saat operan dinas perawat shif pagi mengatakan ada tiga pasien masuk ruang rawat hari ini dan salah satunya adalah dr. Bella mereka mengatakan bahwa kondisinya sedang tidak baik, dok Bella sedikit terganggu psikisnya karena hampir kehilangan janinnya, aku sedikit syok mendengar kabar itu. Setelah operan dinas selesai aku membuka keterangan resume medis semua pasient ku tak kecuali dr. Bella disitu tertulis jelas dia sedang hamil 8 Minggu, ada beberapa terapi obat yang di berikan oleh dokter untuk mempertahan kan janin nya.
Setelah operan selesai aku turun ke lobi bawah untuk mengambil obat pasient, saat berada di sekitar rumah sakit semua bagian rumah sakit bertanya-tanya mengenai kondisi dr. bella kapan dia menikah, brapa usia kandungannya, kenapa merahasiakan kehamilannya dan ada yang berfikir negatif tentangnya, Aku binggung harus bicara apa, karena aku sendiri baru mengetahuinya, tapi ini sedikit menggangu ku apa karena kejadian ini, Iraz beberapa hari ini tidak menghubungi ku, aku tidak mau berfikir lebih buruk lagi aku harus fokus bekerja.
"Key..key..." suster Ida memanggil ku saat aku masuk nurse room, aku hari ini dinas dengan nya.
"Iya Mbak Ida ada apa?"
"ust .... tadi aku ke ruangan dok Bella, tau ngak apa yang aku lihat"
aku segera menggeleng
"Calon dok bella, Ganteng banget sumpah mana perhatian banget lagi key, makan aja di siapin dok bella"
"Hihihi.... Iri yah mbak"
"Tapi katanya mereka belum menikah key, ih kok bisa yah hamil duluan"
"ehmmm.... ghibah aja mbak, kita doakan saja semoga cepat sehat yah dok Bella"
__ADS_1
"Tapi muka calon nya dingin banget bel, kayak tertekan gitu hehehe"
"Masa gitu"
"Ehh pintunya kebuka tuh. kayaknya pangeran mau lewat" aku menengok ke arah pandang mbak Ida, iya benar pintu kamar pasien VIP terbuka dan aku sekilas melihat sosok yang sangat aku rindukan deg deg deg ada apa dengan jantung ini kenapa tiba-tiba berdetak lebih kencang, aku berbalik bersembunyi di antara lemari ruang kerja kami.
"Terima kasih sus, ini ada sedikit kue untuk cemilan" wanita cantik itu yang sudah 4 tahun lalu ku lihat, masih terlihat sama begitu cantik dan elegan, di belakangnya ada tiga orang laki-laki, dua diantaranya seumuran sangat gagah walaupun usianya tidak muda lagi, dan satu orang pria muda, tampan, dan yang sangat aku nantikan kabarnya beberapa hari ini.
'Iraz aku tidak salah melihat kan, dari bayangan mu pun aku tau itu kau, kenapa kamu di sini apa hanya sekedar menjenguknya atau..'
"ohh iya Bu terimakasih" jawab suster ida dengan tersenyum.
"Keyy... sini kok malah di pojokan gitu"
"ehh, ini sedang cari lembar diagnosa pasien"
"ihhh liat ngak tadi cowok ganteng yang jalan paling belakang"
"Itu Suaminya, eh calonnya eh tau deh pokoknya itu yang tadi nyuapin dok Bella, so sweet kan"
Aku menjatuhkan map yang ada di tangan ku
"Key kok malah bengong itu, map diagnosa jatuh"
"Ahh iya, sorry" aku berjongkok mengambil map tersebut, tapi mata ku ini kenapa mulai terasa panas.
'Kring kringgg....'
"Key dari kamar dr. Bella tuh kesana dulu dih, aku lagi nanggung nih oplos obat"
__ADS_1
"Ehh i-iya mbak aku segera kesana"
Sampai menuju di depan pintu kamar VIP itu aku menarik nafas dalam, aku kuat apapun yang terjadi nanti aku tidak akan menangis.
"Tok-tok" aku mengetuk pintu sebelum masuk
"Permisi dok ada yang bisa aku bantu"
"ehh... suster Kenya kena shif siang yah hari ini?"
"Iya dok" aku msh berusaha untuk tersenyum disana aku lihat ibu dari dok Bella, aku berfikir seperti itu karena wajah mereka hampir serupa.
"Ini sus tolong bantu anak ku memakai baju ini, aku kesulitan untuk membantunya" aku melihat gaun putih dengan ukuran Payet yang indah dan kotak coklat berada diatas tempat tidur.
"I-iya baik bu" aku mendekati dok Bella dan mulai membantunya memakaikan gaun itu, karena tangan dok bella masih di infus jadi memang harus ada satu orang untuk membantunya menggantikan baju.
"Bagaimana mah, aku cantik tidak Mulya akan terkesan kan melihat penampilan ku nanti, perut ku tidak terlihat buncit kan mah" tangan ku tiba-tiba kaku saat menaikan retleting pada punggung belakang dok Bella.
"Pasti sayang anak mama pasti terlihat anggun dan mempesona, Mulya pasti sangat beruntung memiliki wanita sepertimu" jawab mama dok bella
"Su-sudah selesai dok, apa adalagi yang bisa saya bantu?" rasanya aku ingin segera pergi, aku takut mengetahui lebih banyak lagi hal yang aku tak ingin ketahui.
"Tidak ada sus, terima kasih"
"Oh ya key, bagaimana menurut mu apa Mulya akan terkejut melihat ku"
Aku sudah berjalan ke arah pintun dan dok Bella tiba-tiba bertanya padaku.
"Tentu saja dok, Mulya pasti akan terkesima dengan penampilan dokter"
__ADS_1
"Bella aku sangat mencintainya, aku rasa dia juga sangat mencintaiku dan janin yang aku kandung ini, aku harap kami akan bahagia"
"Eehmmm... iya dok, saya permisi dulu" cepat keluar aku ingin cepat pergi dari kamar ini tapi langkah kaki ku begitu berat, sebelum aku menuju ke nurse room aku melangkahkan kaki ku ke salah satu kamar VIP pasien yang kosong, di sana aku menangis aku keluarkan sesak yang ada di dadaku. Kenapa aku terlalu bodoh untuk percaya pada nya, apa tujuannya sampai harus dia mencoba dekat dengan ku. Selalu sakit pada akhirnya yang kurasa. Iraz mencintai mu sangatlah berat, sakit rasanya jika hanya mencintai dari satu pihak saja, tak ada kelebihan yang bisa membuat hati mu untuk bisa berpaling pada ku. Aku rasa aku tidak bisa berada di dekat kalian, aku putuskan aku menyerah mungkin takdir tidak akan pernah mengijinkan kita untuk bersatu.