Memory After Memory

Memory After Memory
Luka Batin


__ADS_3

Aku sengaja untuk pergi kuliah pagi-pagi sekali hari ini, untuk mengindari Iraz yang beberapa hari ini menunggu ku didepan gerbang kampus, setelah kejadian itu dia bilang dia kecewa karena aku pulang tanpa ijin nya, dia juga minta maaf atas perlakuan ibu nya pada ku. Tapi aku tidak pernah membalas pesan nya dan mengangkat telephone nya, kayak anak kecil banget yah aku menghindari masalah seperti ini, tapi kalau tidak di paksakan aku akan terus berada dalam lingkaran itu. Terserah apa yang ada di pikiran Iraz, aku kekanak-kanakan, aku bodoh, egois aku sudah tak peduli. aku hanya ingin hidup normal lagi, menghapus jejaknya yang sedikit banyak telah menorehkan luka di hati ku.


"Key lusa kita wisuda, kok Lo kayaknya ngak semangat gitu" tanya Vicka pada ku.


"Eum" aku berusaha fokus pada ucapan mereka.


"Yehhh... ditanya malah ngelamun, ngak usah bohong yah, dah belakangan ini Lo ngak jadi diri Lo sendiri, Lo kenapa sih?" Tyas mengguncangkan tangannya ke bahu ku.


"aku ngak papa, aku cuma lagi male--" yah ucapan ku terhenti saat kulihat sosok yang tak ingin ku temui beberapa hari ini.


Vicka mengikuti arah pandangan ku "Lo kenal dia key, kok muka Lo jadi pucat ngeliat dia"


"kita ke perpustakaan aja yah" aku merapikan beberapa buku dan barang-barang ku untuk di masukan ke dalam tas ku, entah kenapa setiap kali melihat nya hati ku jadi sakit sekarang.


"key, ada apa sih kok buru-buru!" tanya Tyas sambil mendelik kebingungan


"Please, aku ---" 'Bruuuukkkk'


saat berdiri tiba-tiba penglihatan ku kabur dan aku terjatuh.


"Kenya ....." msh bisa ku dengar suara Vicka teriak memanggil ku.


dada ku terasa sesak, detik kemudian aku merasakan ada sepasang tangan besar memapahku berlari entah membawa ku kemana.


Kepala ku terasa berat, pusing, ketika ku tersadar mata ku menyipit melihat sekelilingku yang berwarna putih.


"Key...bangun key..." Vicka sepertinya menangis cukup lama suaranya terdengar sesenggukan.


"ini aku bangun vic, aku ngak papa" aku mencoba meraih tangan nya.


"jangan pingsan kayak tadi lagi key, Lo bikin kita cemas, Lo kenapa makin hari makin kurus, dokter bilang asam lambung Lo kumat, tensi Lo juga rendah banget"


aku tau sahabatku ini jika khawatir bisa memarahiku seperti ibu ku sendiri.


"iya... aku minta maaf.." suaraku terdengar cukup pelan


"tuh liat Vicka belum bisa berhenti nangis sampai Lo di nyatakan baik-baik saja sama dokter" Tyas ikut memelototi ku seperti aku adalah tersangka, aku menengok ke arah Vicka lagi.


"iya maaf sudah buat kalian cemas"

__ADS_1


lalu kami bertiga saling berpelukan


"Kenya sudah siuman Vic,,?" terdengar suara bas dari balik tirai


"sudah kak, Kaka mau masuk?" aku melihat Tyas membuka tirai putih itu, dan benar dugaan ku kak Gilang yang datang


"Haiii key... sudah lebih baik sekarang?" tanya nya sambil mengelus rambutku, aku cukup kaget dengan perlakuannya.


"ahh.... I-ya kak aku sudah lebih baik" jawab ku canggung


"ini dimakan yah buburnya, selagi hangat Jagan banyak pikiran nanti pulang aku antar"


"terima kasih kak, tapi masalah pulang aku bi--" aku belum selesai bicara langsung di potong.


"ngak ada penolakan, aku nunggu kamu di bawah kalau butuh apa-apa panggil aku yah" kak Gilang berlalu dan dia sepertinya memberikan pesan kepada Tyas dan vicka.


"dimakan key" Vicka menunjuk bubur ayam pemberian kak Gilang.


"Eemm..." aku membuka bubur ayam asap panas mengebul, ku tiup pelan-pelan dan mulai memakannya. jujur aku ngak niat untuk makan, selera makan hilang sejak seminggu yang lalu. perkataan mami nya Iraz masih terngiang di telinga ku, aku kecewa bukan karena Iraz tidak memilihku tapi aku sudah kalah star, karena Iraz ternyata sudah di jodohkan dengan seseorang wanita. Hanya Alloh tempat ku bercerita, aku hanya bisa pendam cerita ini sendiri, sampai dada ku sesak sekali saat aku melihatnya. seketika air mata ku menetes kembali.


"Key sini gw suapi" Vicka mengambil mangkok bubur dari tangan ku


"gw tau Lo ada masalah, kita dah hampir 7 thn temenan, dari SMA kita bareng dan Lo ngak pernah kayak begini, Lo tuh dah pintar plus cantik lagi! gw kadang iri sama kecantikan Lo, banyak cowok yang naksir sama lo dari SMA"


"kenapa Lo ngak buka diri buat orang lain, Lo bisa dapetin cowok apa aja yang Lo mau kalo Lo sadar. Apa gara-gara cinta pertama Lo yang entah berantah keberadaannya itu?"


"Dia a-da dia Nyata Vi-c, itu kenapa hati gw sakit" tangisanku tidak bisa terbendung.


"gw ngak bisa dapetin hati dia, bukan karena penolakan tapi status kita berbeda, gw mundur di start" aku menjerit sekencang-kencangnya, biar lega beban yang ku pendam sendiri.


"Kenya..." Vicka berhenti bertanya dan hanya memelukku,


sampai tangis ku berhenti, aku baru meneruskan cerita ku dari awal kami berjumpa dan kejadian seminggu yang lalu yang menorehkan luka.


"Jadi... laki-laki yang tadi gotong Lo itu Vi-raz Cinta pertama Lo waktu SD?" Vicka mengenyam tanganku meminta jawaban.


"ehmm... aku samar melihatnya Vic, kepala ku pusing sekali tadi, aku pikir tadi kak Gilang yang membawa ku ke sini!" aku memijit-mijit kepala ku, entahlah rasanya kembali pusing.


"bukan kak Gilang, klo Iraz yang Lo maksud vokalis band STAR LIGHT yah cocok berarti cowok tadi itu, Ganteng sih ganteng, gw sampai mupeng liat Lo di gotong dia tadi, gw pikir cuma niat nolong aja. Breng*** tuh orang, bikin temen gw luka batin" ucapnya dengan nada sedikit naik.

__ADS_1


"Vicka, bukan salah dia kalau dia ngak suka sama aku, dari awal aku nya aja yang terlalu berharap bahwa dia adalah jodohku" aku menggenggam tangan vicka, untuk menenangkannya.


"sekarang Lo lupain dia oke, cowok yang ngantri mau sama Lo, lebih ganteng, lebih tajir, lebih keren, lebih pintar pokoknya lebih-lebih lah masih banyak!!!" nah gini nih kelakuan temen aku yang satu ini, kalo dah ngasih semangat dia deh jagonya.


"Ehmm salah satunya kak Gilang, dia khawatir banget pas tau Lo disini dia kayaknya dah lama suka sama Lo deh key" vicka menganggukkan dagunya terlalu bersemangat, aku malah jengah dengarnya, emang sih kak Gilang tampan, populer dan supel banget orangnya, tapi aku masih belum bisa membuka hati untuk orang lain, ??


"ah...Biarin aja Vic, gw mau nenangin diri dulu ngak mau terikat dengan yang namanya suatu hubungan lebih serius, biar waktu nanti yang sembuhkan luka batin gw"


Vicka menghembuskan nafas panjang, sepertinya dia lega mendengar keputusan ku.


"ehm... ada rahasia di balik rahasia nih, jangan-jangan Lo suka yah sama kak Gilang" ku menoleh pangkal hidung vicka, dan benar wajahnya langsung memerah.


"Dah jujur aja.... "


"Ust .... nanti kedengaran, orang nya ada di luar"


"Hahaha...... habis Lo kalo Tyas sampai tau nanti, hahaaa..." aku tak bisa lagi menahan tawa ku.


"kenapa sekarang gw yang jadi terdakwa yah key, awas tuh ember bocor.... hahahaha"


senangnya akhirnya aku, maksudku kami bisa tertawa bersama, dan seketika mood ku kembali lagi.


"ihhh happy ngak ngajak-ngajak ngomongin apa sih kalian" Tyas langsung datang dari balik tirai putih itu.


"ah.... itu ?" aku menggoda vicka, dia malu dan langsung menutup mulutku. aku berusaha melepaskan tangan vicka dari mulutku.


"Vicka mati tuh anak orang, hayoo ada apa nih" Tyas tampak makin curiga. Vicka yang malu akhirnya beranjak keluar.


"Gw kebawah duluan ah,,, " aku ikut tersenyum melihat mereka berdua.


"Dih gitu aja marah..." Tyas membantuku turun dari tempat tidur.


"Udah biarin dia, nanti gw yang cerita" aku berbisik di telinga Tyas.


"eum...."


"oh ya ini obat dari dokter, tadi dia pesan, jangan telat makan"


Tyas menjelaskan padaku

__ADS_1


"iya... makasih yah Tyas"


__ADS_2