Memory After Memory

Memory After Memory
CURHAT DENGAN IBU


__ADS_3

Malam ini aku telah bersiap berangkat menuju stasiun, aku hanya membawa barang yang bisa ku bawa yang lain nya ku hibahkan ke rekan kosan ku.


Aku menaiki taksi online menuju stasiun, saat menunggu kereta melaju piawai ku berbunyi, satu nama yang aku lupakan akhir-akhir ini.


"Assalamualaikum Kenya... kenapa tidak mengabari ku"


"dok sat, apa kabar mu?"


"Kenapa tidak menjawab pertanyaan ku, kamu dimana aku ingin bertemu"


"Maaf dok aku sedang di jalan"


"Kamu mau kemana aku antar sekarang"


"Tidak usah dok aku bisa berangkat sendiri"


"Aku tau kamu bohong, jujurlah pada ku key, kamu pergi karena mendengar kabar itu kan"


"dok sat ayah ku sakit, aku memang harus pergi untuk menemuinya"


"Jangan ambil keputusan yang merugikan mu key, karier mu disini bagus, dan banyak orang yang sayang pada mu, semua pasti akan baik-baik saja kembalilah aku akan melindungi mu"


"Tidak dok, keluarga sangat membutuhkan ku disana"

__ADS_1


"Kamu dimana key, jika kamu masih menganggap ku sahabat tolong katakanlah"


"Maaf dok sat, aku tidak bisa mengatakannya, aku mohon biarkan aku menyelesaikan masalahku sendiri, sekali lagi tolong maafkan lah aku" aku langsung mematikan panggilan itu dan tangis ku kembali pecah. Aku menonaktifkan Hp ku, karena aku tau pasti pria itu akan terus menghubungiku, sampai aku mengatakan keberadaan ku.


Aku menatap Jendela tempat duduk ku, Pluit berbunyi bertanda kereta api akan melaju.


aku terkenang kembali awal mula aku menyukai Iraz, kenangan dengannya semasa SD, saat kuliah dan terakhir kali kami dekat. Aku teringat gaun putih dan janin yang di kandung oleh dok Bella, rasa sakit itu datang lagi. tidak masalah bagiku jika dia memilih dok Bella tapi apakah harus melakukan hubungan sejauh itu, aku akan lebih ikhlas melepasnya jika memang dia bukan jodohku, tapi sungguh di luar dugaan ku kenapa kamu tega melakukan itu Iraz, aku sangat membenci mu. Selama di perjalanan air mataku tak berhenti menetes, entah sudah berapa banyak cairan bening ini keluar, aku berjanji hari ini hari terakhir aku menangisi nya, semoga di tempat tinggal nanti ada sedikit harapan dan kebahagian untuk masa depan ku.


Pukul tiga dini hari aku telah sampai di Jogya, aku mencari makanan kisaran stasiun aku memang jarang makan seminggu ini, ibu pasti akan memarahi ku melihat tubuhku yang semakin kurus, warung makan di luar stasiun yang buka 24 jam dengan menu ayam bakar madu kesukaan ku, setelah makan aku naik becak menuju rumah ku, aku akan membersihkan diri dan menaruh barang-barang ku di rumah lalu berangkat ke rumah sakit untuk menjenguk ayah ku.


Tentu saja kepulangan ku yang mendadak membuat ayah dan ibu bertanya, aku hanya berkata aku ingin hidup di dekat mereka dan membatu ayah dan ibu mengembangkan toko, tapi aku tau ibu tidak akan mudah percaya tentang keputusan ku begitu saja.


"Ndok... boleh ibu bicara"


"iya Bu ada apa" aku sedang merapikan kamar ku saat itu


"Ibu... apa aku terlihat menyedihkan Bu" aku memeluk erat ibu ku, rasanya ini yang aku butuhkan, pelukan hangat dan kelembutannya.


"Kenapa bilang seperti itu, gadis bodoh ini, kamu wanita yang sangat cantik"


"Tapi dia tidak melihat ku seperti itu Bu, dia selalu membuat hati ku sakit, aku tidak bisa lagi berada di sekitarnya ibu, aku ingin melupakannya" wajah ku kata ibu memang tidak bisa untuk menyembunyikan sesuatu terlalu polos, aku lalu menceritakan kisah ku dengan iraz, aku bahkan tidak menangis saat bercerita justru aku sedikit tau cerita lain versi ibu ku mengenai laki-laki itu


"Ya ampun ndok ternya nak Viras toh, orang yang kamu suka selama ini, ibu kok ngak ngeh yah"

__ADS_1


"Emang Benar Bu Iraz pernah ke rumah ku dulu?"


"Iya seingat ibu saat TK dan SD viras selepas pulang sekolah nyamperin kamu untuk main dengannya, tapi saat SD kamu sudah punya teman wanita sendiri jadi ibu pikir kamu tidak punya hati untuk anak itu, kan juga masih terlalu dini usia kalian"


"Apa dia malu ke rumah ku Bu, rumah ku saat itu mungkin sebesar kamar mandi rumahnya"


"ibu rasa tidak, dia anak yang ramah sama seperti mu, viraz selalu minta ijin pada ibu jika mengajak mu main ke rumahnya, terkadang main di kali atau lapangan sepak bola, emang kapan kamu menyukainya"


"Aku juga tidak tau Bu kapan aku mulai menyukainya, ibu kan tau semua laki-laki yang mendekati ku aku tolak mentah-mentah, ternyata aku menyimpan rasa ini untuk dia"


"Kamu ngak tanya dulu sama viraz ap benar janin yang di kandung dok itu anak nya? bisa saja dia ada pekerjaan penting dan belum sempat menghubungi mu"


"Aku terlalu takut menerima kenyataan kalau kejadian itu benar Bu"


"Harusnya kamu menghubungi nya terlebih dahulu, jangan gengsi sayang toh jika di tolak kamu dan dia saja yang tau"


"Ihh tetap saja malu ibu, lagian mana ada sih wanita mulai duluan !"


"Ya sudah kalau begitu ikhlaskan semua, jangan sedih lagi yah nanti ayah mu cemas langsung menjodohkan mu dengan anak lurah di desa lagi"


"Ahh ibu aku tidak mau"


"Makanya jangan cemberut, ilang nanti cantiknya" ibu mencubit kedua pipi ku.

__ADS_1


"Ibu hanya bisa mendoakan semoga kelak anak ini bahagia, dengarlah sayang kalau dia jodohmu pasti Alloh akan dekatkan, jika tidak ibu yakin banyak pria baik di luar sana berebut untuk meminang anak ibu yang cantik ini"


aku memeluk kembali wajah tua yang masih terlihat ayu itu, dengan kelembutan dia kembali mengusap bahu ku dengan sayang.


__ADS_2