Memory After Memory

Memory After Memory
Tamu tak Terduga


__ADS_3

Dari kosan ku ke sini jaraknya hampir 20 menit, ini sih perumahan elit yang biasa aku lalui kalau aku berangkat bekerja part time, Pelang***ku suka delivery order ke wilayah perumahan ini. tipe bangunannya tidak ada yang sederhana, rata-rata bergaya Eropa atau minimalis super elegan. Mimpi apa aku bisa memasuki salah satu rumah yang ada di kawasan ini.


"Dah sampai key " Iraz mematikan mesin motornya.


"ehmm.. ini rumah Tante Mila?" tanyaku sambil melepas helm


"bukan, rumah papah ku" iraz sambil tersenyum menerima helm yang ku berikan padanya


"Ohhh..." Ya Tuhan bumi dan langit banget yah kita, aku jadi sedikit kecewa mendengarnya.


"Assalamualaikum..." salam ku saat memasuki halaman rumah ini, Iraz memarkirkan sepeda motornya di garasi yang tak sengaja ku lihat ada tiga mobil mewah terparkir rapi disana.


"eh den Mulya, akhirnya ada yang mau juga" ku liat laki-laki berwajah jenaka itu mencuci salah satu mobil disana.


"sialan Lo mang Iing, bukan ngak ada yang mau mang, tapi Iraz tinggi seleranya" Iraz sengaja melemparkan helmnya ke mang Iing, sambil mengendus kesal.


"Canda den, tapi yang ini mah cakep banget den, mukanya ayu gimna gitu liatnya" mang Iing yang ku dengar nama nya di panggil oleh Iraz menatapku tanpa berkedip.


"kenalin Iing neng" mang Iing mengulurkan tangannya kepadaku.


Iraz dengan cepat mengibaskan tangan mang Iing.


"ngak usah ganjen mang, inget anak di rumah" aku jadi tertawa mendengar obrolan mereka


"saya Kenya mang, susternya Qila di Rumah sakit" aku mengungkapkan kedua tangan ku


"Ayo key, ngak usah pedulikan dia" Iraz beranjak masuk ke pintu rumah yang terpahat mewah itu.


iraz langsung membawaku ke lantai atas, dan mengetuk pintu putih yang depan sana "Qila lihat nih siapa yang datang" Iraz sedikit berteriak sambil mengajak ku masuk.


"Walaikum salam Om, mana suster Kenya?" tanya qila dengan antusias.


tangan kekar Iraz menahan ku di belakang punggungnya. hehe agak ciut, tunggu ku hanya sebatas lehernya saja.


Iraz memberikan kode kepada ku untuk keluar dari persembunyian.


"Halo qila suster datang" wajahku keluar dari balik punggung Iraz dan melambaikan tangan.


"Suster Kenya, Qila kangen deh sama suster" gadis kecil itu langsung turun dari tempat tidurnya.


"sama suster juga kangen sama qila" aku berjalan menuju gadis tersebut lalu bersimpuh mengimbangi tubuh kecilnya.


dia lalu memelukku, dan dapat kurasakan dia sangat kesepian sepertinya.


"wahh.... om mau donk ikutan,,,"


iraz maju beberapa langkah dan melebarkan kedua lengan panjangnya, aku terperangah melihatnya.

__ADS_1


"om kan dah sering qila peluk" dengan senyum meledeknya, mau tak mau aku ikut tersenyum.


"mau minum apa key?"


"apa saja raz, asal ngak dingin"


"Hot coklat?" aku langsung menengok ke arahnya.


"ehmmm.... mau banget" Iraz tersenyum, senyumnya yang tidak pernah rasakan setelah 12 tahun lamanya.


"tunggu yah, aku ke bawah dulu" dia berjalan kearah pintu dan meninggalkan kami berdua


yah maksudku aku dan si kecil qila aku membantu qila mengerjakan PR nya sambil menceritakan tentang film 'Cinderlella' kemarin yang ku tonton, dia senangnya bukan main sesekali dengan asik dia bercerita tentang mama nya yang jarang bisa menemaninya, papa nya yang sibuk dan kakaknya juga tidak begitu peduli padanya, makanya dia hampir setiap weekend ke rumah om Iraz.


"suster.." qila sedikit berbisik ke telinga ku.


"Iya sayang"


"sepertinya om Iraz suka deh sama suster!" qila mengedipkan sebelah matanya.


"ahh... perasaan qila aja kali, suster sama om Iraz itu satu kampus jadi saling kenal" bohong banget aku. tapi jujur aku tidak pernah sedekat ini dengan laki-laki, karena sebelum-sebelumnya mereka yang punya hati untuk ku sedangkan aku Nol, jadi aku tidak pernah mau memberikan harapan kepada kaum Adam yang mendekatiku.


"Qila ngak bohong suster, om Iraz ngak pernah ngomongin cewek di depan qila sebelumnya. tapi waktu qila di rawat di rumah sakit dia tanya-tanya soal suster terus, apalagi...hihihiiii" dia menutup mulutnya sambil menahan tawa.


"Ihhh... apaan sih qila, bohong yahh kamu" mau bohong atau ngak! jujur hati ku saat ini berbunga-bunga mendengarnya.


"Ini coklat panas-nya" Iraz tanpa mengetuk pintu dulu tiba-tiba masuk, heran mungkin melihat tingkah kami berdua.


"kok suster aja sih om yang di buatin, qila mau juga dong om susu hangat!" qila sepertinya meledek Iraz.


"Kamu kan bisa minta buatin bi inah" sambil mengetuk kepala qila.


Iraz memberikan minuman coklat itu kepada ku, Eum rasanya enak sekali.


"Oach sakit tau om, gitu banget sama qila kalo ada suster Iya deh beda emang kalo lagi jatuh cinta"


"Uhuk... Uhuk...." tiba-tiba Iraz tersedak. aku menunduk malu, pasti wajah ku sudah memerah saat ini.


"Qila awas yah, ngak boleh nginep rumah om lagi...!" Iraz mendelik marah kearah qila.


"hihii... ampun om jangan gitu donk" qila mengungkapkan kedua tangan sambil menunduk.


"Tok...Tok... Tok... permisi den" terdengar suara dari luar kamar.


"masuk bi..." Iraz mempersilahkan wanita paruh baya itu untuk masuk


"anu itu den, ada Nyonya mau bicara katanya"

__ADS_1


"Oh, mami pulang bi? iya Iraz sebentar lagi turun"


"aku turun sebentar yah key, qila inget jangan bocor" tangan telunjuknya memperingati qila.


"beres Om..." qila mengacungkan jempol manisnya.


aku dan qila asik bercerita kembali, aku suka dengan qila dia polos, ceria dan tidak menunjukan bahwa dia anak orang kaya yg manja.


"Qila Suster turun dulu yah mau taruh gelas kotor kebawah" aku menunjukan gelas ku yang sudah kosong.


"qila juga ikut sus, mau minta bi Inah buat susu" qila mengandeng tangan ku, lalu kami berjalan beriringan.


qila berlari menghampiri bi Inah, aku hendak mengikutinya belum sampai ke ruang dapur aku tak sengaja mendengar.


"Mulya..... mami ngak mau tau, sehabis kamu lulus S1 kamu lanjut S2 ikut mama ke Prancis, kita tinggal disana" sangking kagetnya hampir saja gelas yang ku pegang terjatuh.


"mi Iraz bisa lanjutin S2 di sini mi! sekarang juga banyak Universitas bagus disini!"


"Ngak bisa mami udah daftarin kamu disana, dan Tante Erni juga sudah setuju kamu selesaikan S2 dulu, baru pernikahan kamu dan Bella akan dilangsungkan!" Ya Tuhan apa yang aku lakukan, aku harus segera pergi, tak ingin banyak mendengar sesuatu yang bukan urusan ku. aku bejalan dengan cepat ke arah dapur.


"neng... sini bibi saja" bi Inah berusaha mengambil gelas yang sedang ku beri sabun cuci"


"tidak usah bi, biar saya saja saya biasa mencuci sendiri di rumah" aku memaksakan diri untuk tersenyum, tak terasa beberapa bulir cairan bening lolos dari mataku, dada ini terasa sesak.


"BLAK...." ku dengar suara suara pintu kamar itu di banting dari luar.


dengan cepat ku hapus air mata ku.


"Mami....!" qila menghampiri wanita cantik paruh baya yang kulihat sangat modern penampilannya.


"oh ada qila yah, nginep lagi?" tanyanya pada anak itu, lalu tatapan nya mendongkrak ke arah ku.


"siapa qila?"


"suster Kenya mami, yang rawat qila di rumah sakit kemarin" Kila menjelaskan, aku hanya menunduk memberi sambil salam.


"Maaf Tante perkenalkan saya Kenya susternya qila di RS" aku tersenyum lemah, saat tangan ku tidak di gubrisnya.


"qila jangan mudah percaya yah dengan kebaikan hati orang lain, wajah lugu belum tentu tidak punya maksud apa-apa pada kita orang ada" astagfirullah kok bisa seorang ibu berbicara seperti itu dengan anak kecil.


"mami, suster qila ini baik kok pintar lagi, qila suka di rawat dengan suster qila jadi semangat buat sembuh"


qila berusaha membela ku, tapi aku mulai tidak nyaman berada disini.


"qila maaf yah sudah siang, suster harus pulang, terima kasih Bu, bi Inah atas jamuan nya hari ini, semoga ibu dan keluarga sehat selalu, saya permisi dulu" aku tidak mau berargumen dengan orang tua, aku menghargainya maka aku putuskan untuk menerima hinaan itu, aku membelai kepala qila, lalu mengambil tas ku dan pergi dari rumah mewah tersebut.


setelah sampai di depan pintu gerbang, aku menatap rumah mewah itu 'ya Alloh, apa serendah itu aku di mata Ibu mu' angan ku terlalu jauh untuk bisa lebih dekat dengan mu, jauh sekali perbedaan status kami, harus nya tidak ku buka pintu itu kembali, agar aku tidak terluka lagi.

__ADS_1


'Iraz mungkin cintaku hanya sebelah hati, tapi entah kapan itu aku harap hati ku akan melupakan mu'


__ADS_2