
Abian dan Alice berhenti di sebuah minimarket dekat alun-alun taman kota dan membeli ice cream serta beberapa makanan ringan untuk teman mengobrol di taman.
"Bian aku tidak pernah bermimpi akan hidup sebagai anak broken home aku tidak bisa membayangkan kalau Mamah dan Papah ku pisah" Alice menangis karena hatinya memang sangat lemah dan cengeng.
Abian hanya menatap wajah Alice tanpa bisa memberikan komentar apapun atas permasalahan yang Alice hadapi.
"Dulu teman yang mengalami broken home bilang kalau rumahnya seperti di neraka ketika orang tuanya saling bertemu mereka akan bertengkar hebat bahkan teman aku sampai bingung akan tinggal dengan Ibunya atau dengan Ayahnya, kelak aku pun akan merasakan itu semua harus memilih akan tinggal dengan siapa?" Alice terlihat sangat tertekan.
"Kenapa kamu bingung? kamu akan tinggal bersama ku" jawab Abian dengan singkat namun penuh makna membuat Alice sedikit tercengang dengan perkataan Abian.
Sementara itu Melodi masih berada di rumah Meira untuk menenangkan diri dan menghindari Dokter Alex tak lama Dokter Gewa pulang ke rumah dan melihat Melodi menangis.
"Mah, aku pulang" Dokter Gewa masuk ke dalam rumah.
"Iya Pah, sini tasnya!" Meira menghampiri Dokter Gewa dan membawakan tasnya.
"Ada Mamahnya Alice di sini, ada apa ini Mel?" tanya Dokter Gewa.
"Udah sana kamu mandi dulu, Melodi biar tenang dulu nanti aku jelasin" ucap Meira yang langsung menyuruh suaminya tak ikut campur.
Tak lama Meira mendapat pesan masuk dari Abian yang kini tengah menenangkan Alice di taman alun-alun kota.
"Mel nih Bian udah ngabarin dia lagi sama Alice katanya di alun-alun, udah kamu jangan khawatir lagi ya Mel" ucap Meira sambil menunjukkan isi pesan dari anaknya itu.
"Syukurlah Mei aku lega sekarang kalau Alice sudah bersama dengan Abian" ucap Melodi yang sedikit lebih lega sekarang.
Tiba-tiba Dokter Alex datang ke rumah Meira dan mengetuk pintu rumah Meira.
Tokkk....tokk...tokkk.
Mendengar ada yang mengetuk pintu rumahnya Meira pun membuka pintunya.
"Loh Alex" Meira sedikit kaget.
"Apa dia ada di dalam?" Dokter Alex menanyakan Melodi.
Melodi yang mendengar suara Dokter Alex dari depan rumah Meira segera menemuinya.
__ADS_1
"Mau apa kamu kesini? apa belum cukup kamu mengacaukan semuanya?" tanya Melodi sambil gemetar menahan amarahnya.
"Sudahlah tidak usah lebay begitu kalau memang kamu ingin kita pisah oke aku terima, aku juga akan segera mengemasi semua barang-barang aku dan pergi ke rumah ku yang lain tapi ingat Alice akan aku bawa tinggal bersama ku" ucap Dokter Alex.
"Kamu sinting atau gimana si? sampai mati pun aku tidak akan pernah mengizinkan anak aku tinggal bersama orang be* jad seperti kamu" Melodi sudah kesal bukan kepalang.
"Alice anakku juga dan dia adalah penerus aku, aku bisa pisah dari kamu tapi aku tidak akan bisa berpisah dengan anakku satu-satunya" tegas Dokter Alex.
"Engga aku ga akan pernah membiarkan itu terjadi, kamu gila" Melodi membentak Dokter Alex.
"Kamu jangan lupa Alice akan segera menikah dan dia butuh wali nikah karena dia anakku dan akan aku bawa tinggal bersamaku, siapa suruh kamu menggugat cerai aku kalau saja kamu tidak mencari tau selingkuhan aku ini semua tidak perlu terjadi " ucap Dokter Alex.
"Cukup!!!! Alex pergi dari rumah aku sekarang juga!" Meira mengusir Dokter Alex.
"Dengar aku tidak akan membiarkan kamu menemui Alice lagi, ingat itu!" ucap Melodi.
"Ayo ikut bersama aku kita bicarakan ini di rumah jangan di sini" Dokter Alex menarik tangan Melodi namun Melodi menolak.
"Ayo ikut" Dokter Alex mencengkram tangan Melodi.
"Tidak !! sudah tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi" Melodi menolak dan berusaha melepaskan cengkraman tangan Dokter Alex.
Karena tarik-menarik itu Melodi pun terjatuh ke tanah dan meringis kesakitan saat itu Alice dan Abian sampai di depan rumah Meira dan melihat Mamahnya terjatuh gara-gara tarik-menarik dengan Papahnya sendiri.
"Mamah" Alice segera berlari menghampiri Melodi.
"Alice ikut Papah pulang ya nak kita bicara baik-baik di rumah sama Mamah" ucap Dokter Alex.
"Engga!! Papah jahat pergi Alice engga mau lihat Papah lagi Alice benci Papah" Alice menangis dan membangunkan Melodi.
"Alice kamu salah paham nak Papah sangat menyayangi kamu dan Mamah" ucap Dokter Alex.
"Cukup Pah udah cukup semua penderitaan yang Mamah alami sendirian demi untuk melindungi perasaan Alice kali ini Alice yang akan melindungi Mamah dari Papah" Alice membawa Melodi masuk ke dalam rumah Meira.
"Sudahlah Lex besok lagi kamu bicarakan semua ini biarkan Alice dan Melodi tenang dulu di rumah ku" ucap Dokter Gewa.
"Ge tapi aku perlu bicara dengan Alice, anakku tidak boleh membenci aku seperti ini" jawab Dokter Alex.
__ADS_1
"Iya aku paham tapi kamu lihat tadi Alice menangis seperti apa, nanti saja kamu bicara lagi dengan Alice biarkan dia istirahat dulu lebih baik kamu pulang sekarang Lex" Dokter Gewa menyarankan untuk mengakhiri perdebatan ini.
Dokter Alex akhirnya menyerah dan meninggalkan rumah Meira.
Di dalam rumah Meira, Dokter Gewa, Abian dan Alice berkumpul di ruang tamu.
"Mel kamu engga apa-apa kan?" Meira sedikit khawatir.
"Engga apa-apa Mei aku baik-baik aja kok, Alice kita pulang ke rumah sekarang ya ga enak udah malem Om Gewa sama Tante Meira pasti butuh istirahat" ajak Melodi.
"Jangan pulang dulu Mel aku yakin Alex masih berada di rumah kalian nanti kalian bertengkar lagi, menginap lah disini kamar kosong juga ada banyak" ucap Dokter Gewa.
"Iya Mel kasian tuh Alice dia juga sepertinya sudah lelah" ujar Meira.
Melodi dan Alice akhirnya memutuskan untuk menginap di rumah Meira malam ini, sudah larut malam Meira, Dokter Gewa, dan Melodi sudah tertidur lelap sementara Alice tidak bisa sama sekali memejamkan matanya. Alice pun kehausan dan hendak mengambil minum di dapur.
Ketika tengah menuangkan air di tiba-tiba Abian muncul entah kenapa Abian juga belum tidur malam-malam begini.
"Mau apa?" tanya Alice.
"Minum" singkatnya.
"Oh begitu aku kira kamu khawatir dengan ku" seru Alice.
"Untuk apa aku khawatir toh kamu ada di rumah ku" jawab Abian.
"Benar juga, apa kamu tidak bisa menghibur ku sekali saja aku tidak bisa tidur gara-gara memikirkan maslaah ini" ucap Alice yang bersandar pada meja kitchen set sembari menghela nafas panjangnya.
"Menghibur seperti apa?" tanya Abian yang berdiri didepan Alice.
"Tadi seperti saat kamu menyuruhku memeluk kamu dimotor, kesedihan aku mendadak hilang" jawab Alice.
Abian pun menaruh gelas minumnya dan selangkah lebih maju kedekat Alice mata keduanya saling bertatapan karena gerogi Alice hendak pergi dari hadapan Abian tapi Abian semakin mendekati wajah Alice membuat Alice menelan salivanya.
Kedua tangan Abian masuk menyelusup ke sela-sela tangan Alice yang sedang bersandar pada meja kitchen set bibir Abian nyaris menyentuh bibir Alice tak lama.
"Tidur, sudah malam aku ngantuk" ucap Abian yang langsung menarik kedua tangannya kembali dan berjalan meninggalkan Alice yang masih keringat dingin akibat gerogi.
__ADS_1
Abian😍