
"Kenapa???? Wanita gila seperti kamu bisa takut dengan kobaran api?? Dengar Kimmy kita lebih baik mati berdua disini. Kita sudah banyak membuat orang-orang menderita," kata Dokter Alex yang mulutnya sudah mulai mengeluarkan darah segar.
"Tidak!!!! Aku tidak mau mati. Mereka semua yang harus mati!" teriak Kimmy yang sudah berusaha mengangkat tubuh Dokter Alex namun tidak bisa dirinya masih tertindih Dokter Alex.
Sementara itu Alexa dengan gemetarnya membuka ikatan tali di kedua tangan Abian, Alice, Meira dan Melodi.
Saat ini asap sudah memenuhi seluruh ruangan gedung tua ini hingga membuat sesak ketika bernafas.
Akibat menghirup asap terlalu banyak Meira dan Melodi pingsan asap sudah menutupi seluruh gedung ini begitu juga Alice yang tidak kuat dengan asap yang semakin membuat pernapasan sulit bernafas. Akhirnya Abian dan Alexa harus menggotong satu persatu Meira, Melodi lalu Alice.
Setelah selesai mengevakuasi Alice, Meira dan Melodi. Api sudah menutup pintu masuk ke dalam gedung dan saat Alexa hendak menolong Dokter Alex yang masih berada didalam, ledakan terjadi hingga membuat Alexa hampir tersambar api besar.
"Bagaimana ini?" Alexa begitu panik dan semakin gemetaran mengingat nasib Dokter Alex masih di dalam demi menahan Kimmy.
"Alexa kita tidak bisa masuk ke dalam gedung sudah terbakar habis," kata Abian dengan nafas tergopoh-gopoh karena sesaknya asap dari kobaran api yang begitu besar itu.
"Engga,,, aku akan masuk dan menolong Dokter Alex. Dia Papah ku," Isak tangis Alexa membuat Alice, Melodi dan Meira tersadar dari pingsannya.
"Alexa, dimana Papah?" tanya Alice.
Alexa mantap untuk menerobos kobaran api yang saat ini sudah benar-benar melahap habis gedung tua ini namun ditahan oleh Abian dan benar saja ledakan kedua terdengar sangat besar hingga membuat kebakaran semakin berkobar-kobar gedung itu sudah tidak terlihat yang ada hanya kobaran api saja.
"Engga! Papah!" teriak Alexa yang merasa menyesal tidak bisa menyelamatkan ayah kandungnya itu. Bahkan belum sempat memanggilnya dengan sebutan Papah.
Melodi, Alice dan Meira ikut menangis mengingat Dokter Alex berusaha menyelamatkan mereka meskipun dia sudah buta dan tertusuk pisau besar.
Tak lama polisi datang lalu menelpon pemadam kebakaran untuk segera memadamkan api. Sesal penuh makna disaat-saat terakhirnya Dokter Alex bisa menyelamatkan nyawa lima orang sekaligus meskipun dirinya harus berkorban dan ikut terpanggang bersama wanita gila yang hingga akhir hayatnya tak pernah bertaubat itu.
__ADS_1
Tangis Alexa pecah dengan menahan perutnya yang berdarah akibat sayatan pisau yang dilakukan Kimmy, Alexa menolak untuk dilakukan pengobatan dan dibawa ke rumah sakit dia lebih memilih menyaksikan evakuasi terhadap Dokter Alex di dalam gedung.
"Alexa, kamu terluka kita harus segera ke rumah sakit, nak!" kata Sam.
Namun Alexa menolak dan hanya menangis saja.
Setelah menunggu beberapa saat pemadam kebakaran tiba dan langsung menyemprotkan air untuk memadamkan api yang sudah melahap gedung tua hingga menjadi abu.
"Mah kenapa seperti ini?" tangis Alice pecah dipelukan Melodi.
Begitu juga Alexa yang kini menjadi yatim piatu karena kedua orangtuanya terpanggang hidup-hidup didalam, Meira segera menghampiri dan memeluk Alexa yang saat ini sangat rapuh.
"Tante, Papah ku masih bisa selamat, kan?" tanya Alexa dengan lirih.
Meira dan Abian tak lagi bisa berkata-kata, Dokter Gewa bersama Abian dan petugas medis berusaha menjauhkan Alexa, Alice dan Melodi dari gedung agar proses evakuasi bisa berjalan cepat.
Setelah bisa ditenangkan mereka sepakat untuk dibawa ke rumah sakit untuk diperiksa secara menyeluruh dan menunggu kabar evakuasi dari rumah sakit.
Hampir lima jam namun api baru bisa dipadamkan dan jenazah Dokter Alex dan Kimmy berhasil dievakuasi keduanya sudah tidak bisa dikenali lagi karena jenazah keduanya hangus terpanggang.
Mendapatkan kabar bahwa Dokter Alex tidak bisa diselamatkan membuat hati Melodi, Alice, dan Alexa sangat terpukul. Meski semasa hidup Dokter Alex selalu membuat masalah dan sakit hati orang lain namun diakhir hayatnya Dokter Alex menyelamatkan banyak nyawa orang-orang yang tidak bersalah.
"Alice, aku yakin Papah kamu meninggal dalam keadaan sudah baik. Kamu harus kuat!" kata Abian berusaha menenangkan Alice yang masih melamun dengan tatapan kosong.
Keesokan harinya jenazah Dokter Alex dikebumikan di pemakaman dekat dengan kediaman Melodi, sedangkan jenazah Kimmy dikuburkan di halaman rumah sakit karena baik Alexa ataupun Sam tak ada yang mau mengurusnya.
Alexa masih merasa bersalah atas kepergian Dokter Alex, karena dirinya yang meminta Dokter Alex membantu untuk menyelamatkan Alice dan Melodi.
__ADS_1
"Lexa, kamu sejak kemarin belum makan," kata Melodi.
"Maaf," kata Alexa.
"Alexa kamu tidak perlu meminta maaf. Justru Tante, Alice dan Tante Meira yang harusnya berterimakasih sama kamu dan Papah Alex karena sudah menyelamatkan kami. Kamu bayangkan jika semenit saja kamu telat datang," kata Melodi yang mencoba menenangkan Alexa.
Alice masuk ke kamar Alexa dan memeluk Alexa.
"Sekarang kita sudah tidak memiliki Papah lagi Lexa. Kita harus lebih kuat lagi dan harus saling melindungi, Papah pasti bahagia di surga sana untuk kita," kata Alice.
Sementara itu tamu dan warga masih beramai-ramai mendatangi kediaman Melodi. Meira dan Dokter Gewa senantiasa menemani Melodi di rumahnya bersama Neneng, Adeline, dan Susan.
"Teh Neneng, kalau begitu Dokter Alex meninggal dalam keadaan sudah tobat kan ya?" tanya Susan.
"Nya lah kamu bayangkan saja San, disaat sudah buta teh ya Dokter Alex masih bisa menyelamatkan nyawa lima orang padahal teh kata Mba Mel itu pisau benar-benar sudah menancap sampe jero pisan dalem pisan kitu. Ngilu ngebayangin nya juga," kata Neneng.
"Sekarang kita sudah bisa hidup tenteram karena si wanita gila itu udah ga bakalan ada lagi dikota yang indah ini," kata Adeline.
"Tapi teh ya eta hebat pisan si Alexa kalau kata Mba Mel. Si Alexa teh maju ngelawan si Kimmy tanpa rasa takut sama sekali sampe kena sayatan pisau eta si Alexa masih kuat buat nyelamatin semuanya," kata Neneng.
"Iya ya itu anak emang kaya yang cuek, galak gitu tapi dia berani banget," kata Adeline.
"Tapi wajahnya benar-benar mirip kaya si Kimmy bagian mata sama hidungnya apalagi," kata Susan.
"Kasian dia teh pasti sedih pisan Ayah sama ibu kandungnya teh meninggal dalam keadaan seperti itu," kata Neneng.
"Ngomong-ngomong ini si Gio engga dateng nih? ada yang meninggal juga," kata Adeline.
__ADS_1
"Sibuk kali Del kan tahun ajaran baru bentar lagi dimulai," ujar Susan.
"Nya ih meni sombong pisan makin kesini teh si Gio," kata Neneng.