
Malam harinya usai acara pernikahan, Alice tinggal di rumah Meira dan Dokter Gewa bersama Abian untuk sementara waktu.
Dengan malu-malu Abian membawa Alice menuju kamarnya.
"Ini kamar kita," singkat Abian.
"Oh, iya emm aku mau ganti baju dulu," kata Alice.
"Iya yasudah," kata Abian.
"Yasudah apa? Kamu tidak keluar dari kamar ini Bian?" tanya Alice.
"Memangnya aku harus keluar kamar ku sendiri?" tanya Abian.
"Dasar mesum!" celetuk Alice.
"Apa? Mesum? Kamu pikir aku akan mengintip kamu?" tanya Abian.
"Lantas kenapa kamu tidak mau keluar dari kamar?" tanya Alice.
"A-aku hanya akan menutup mata ku," kata Abian.
"Menutup mata?" heran Alice..
"Baiklah, baiklah aku akan keluar sekarang," kata Abian yang langsung keluar dari kamar.
"Aneh sekali aku pikir ketika sudah menikah dia tidak akan keberatan jika aku melihatnya berganti pakaian," kata Abian bicara dengan dirinya sendiri.
Alice pun selesai mengganti bajunya lalu keluar kamar mencari Abian. Rupanya Meira, Dokter Gewa dan Abian sudah berkumpul dimeja makan menunggu Alice untuk makan malam bersama.
"Wah Ma, makan malamnya sebanyak ini?" tanya Alice.
"Iya dong, pokoknya sebelum besok kalian memilih rumah dan kalian pindah rumah dari sini Mama akan memasak masakan yang enak-enak dan banyak untuk kamu dan juga Abian," kata Meira.
"Bian kamu persilahkan Alice duduk dong, masa isterinya engga disambut dimeja makan," kata Dokter Gewa.
Abian pun mendorong kursi untuk Alice ke belakang dengan kakinya agar Alice bisa leluasa untuk duduk.
__ADS_1
"Abian please dong masa pakai kaki, diangkat dulu kursinya biar Alice duduk baru kamu majukan kedepan lagi," kata Meira.
"Tidak usah Ma, Pa Alice langsung duduk aja," kata Alice.
Abian pun langsung bangkit dan membantu Alice untuk duduk dikursinya.
"Alice nanti setelah makan kamu lihat-lihat saja di sosial media Cluster yang besok kita akan datangi, pilih yang mana Alice suka," kata Meira.
"Iya Ma, nanti malam Alice pasti lihat-lihat," kata Alice.
"Eh tunggu! Jangan deh nanti malam kamu engga usah lihat-lihat rumah dulu nanti suami kamu dianggurin dong," ledek Meira.
Uhukkkkk,,, uhukkkkk Abian batuk.
Selesai menyantap makan malam bersama Alice dan Abian memasuki kamar mereka. Begitu juga dengan Meira dan Dokter Gewa yang sudah sangat lelah hingga sore hari resepsi pernikahan Alice dan Abian baru selesai digelar.
Alice langsung tidur diranjang sedangkan Abian masih betah berdiam diri so sibuk membaca buku dimeja belajarnya, padahal jelas sekali Abian gerogi setengah mati untuk tidur bersama Alice pertama kalinya.
Abian menunggu Alice tertidur duluan setelah yakin Alice sudah memejamkan matanya Abian pun naik keranjang tidur disebelah Alice. Abian yang sudah merasa lumayan ngantuk langsung memejamkan matanya, tak disangka Alice rupanya hanya pura-pura tertidur agar Abian segera naik keranjang. Melihat Abian sudah terpejam Alice pun merasa kesal.
"Ini orang ga normal apa ya? Masa ada cewek secantik aku sesexy aku dia malah tidur si? Apa dia ga punya nafsu? Atau jangan-jangan Abian impo*.... ihhh masa iya si?" kata Alice berbicara gelisah sendiri.
"Siapa yang kamu maksud impo*ten?" tanya Abian.
"Em itu aku hanya, menebak saja," kata Alice.
"Sebenarnya aku sudah sangat susah payah menahannya dan tidak ingin terlalu terburu-buru melakukannya tapi mendengar ucapan kamu tadi. Membuat aku tidak akan menahannya lagi," kata Abian.
"Maksud kamu?" tanya Alice dengan gugupnya.
Abian langsung memagut bibir ranum Alice dengan lembut sembari terus memegangi kedua tangan Alice, Abian bermain dengan bibir Alice yang lembut seperti kapas dan manis seperti gulali lalu berhenti sejenak.
"Abian,," lirih Alice.
"Tolak aku! Maka aku akan berhenti sampai disini," kata Abian.
Namun Alice hanya menatap diam dan tak mau menolak Abian.
__ADS_1
"Baiklah, setelah ini aku tidak akan pernah bisa berhenti," kata Abian.
Abian kembali memagut bibir ranum Alice seraya tangan Abian mulai tak memegangi kedua tangan Alice lagi saat ini, Abian memilih untuk membuka kancing satu persatu baju piyama yang dikenakan Alice hingga kedua gunung kembar kini terpampang nyata didepan Abian.
Abian menelan salivanya menyaksikan betapa indahnya gundukan itu meski sempat ragu karena takut Alice akan marah namun hasrat Abian yang sudah menggebu-gebu membuatnya tidak bisa berhenti.
Abian membenamkan wajahnya dikedua gundukan itu berusaha selembut mungkin memainkannya agar tak menyakiti Alice, setiap yang dilakukan Abian pada gundukannya Alice berusaha menahan desahnya dengan menggigit bibir bawahnya.
Ssstttt emm,
"Jangan ditahan sayang! Aku ingin mendengarnya" lirih Abian.
Alice pun mengangguk dan mulai berani untuk tidak menahan suara lenguhan-lenguhannya.
Abian langsung melucuti pakaiannya sendiri membuat Alice saat ini bisa menikmati pemandangan dada bidang Abian yang begitu mempesona, Abian yang sudah dipenuhi gairah membaranya langsung melucuti seluruh pakaian yang dikenakan oleh Alice hingga semuanya terlihat jelas saat ini.
Dengan perlahan dan penuh kehati-hatian Abian mengarahkan senjatanya agar tepat sasaran meski sangat gugup namun Abian tetap berusaha selembut mungkin melakukannya pada Alice, secara perlahan dan semakin terbenam membuat Alice merintih kesakitan.
"Emm,,, Bian ini sakit sekali," lirihnya.
Abian sempat tidak tega dan ingin mengakhirinya.
"Tapi aku menyukai mu Bian, aku bisa menahannya," kata Alice.
Mendapat lampu hijau dari Alice membuat Abian akhirnya melanjutkannya dengan sangat pelan dan hati-hati.
Alice sangat nyaman dengan perlakuan lembut Abian, gerakan yang lambat hingga membuat Alice akhirnya sudah mulai terbiasa dan tidak merasakan sakit seperti diawal tadi.
"Ahhh,,,,," lenguhan Alice.
Semakin membuat Abian lebih berani lagi memainkan lebih cepat membuat Alice mencengkram kuat tangan Abian. Kini Abian sudah mulai lihai dan semakin kencang menaikan temponya sehingga dia pun mencapai puncaknya.
Malam ini Alice tertidur dalam pelukan Abian, begitu juga Abian yang kelelahannya double selain karena resepsi pernikahan juga karena langsung berolahraga malam dengan Alice.
Sementara itu dikediaman Melodi kini memang terasa sepi karena Alice tidak tinggal lagu bersamanya namun Melodi merasa beruntung ditemani oleh Alexa saat ini, hingga dirinya tidak terlalu kesepian dihari tuanya dan dirinya sudah pensiun bekerja ada Alexa yang merawatnya meski sikap Alexa keras namun hatinya memang sangat baik.
Sam pun sudah memutuskan untuk tinggal dan menetap di kota kecil ini sesuai dengan permintaan Alexa. Alexa berusaha akan membagi waktunya untuk kuliah dan bekerja paruh waktu di resort agar bisa menghidupi Sam agar masa tua Sam bisa terjamin.
__ADS_1
Temen-temen readers jangan lupa ya nanti untuk mampir ke novel terbaru aku hari Senin mungkin sudah aku up, terimakasih 🙏