
Sam segera berlari mengejar Alexa yang tidak bisa menerima kenyataan bahwa Ibunya adalah seorang ODGJ Alexa menangis dan bersandar ketembok kedua tangan kecilnya menutupi wajahnya yang menangis Sam segera menghampiri Alexa.
"Lexa maafkan Papa" hanya kata maaf yang Sam bisa ucapkan saat ini.
Alexa pun mulai menyeka air matanya dan bangkit dan tak menangis lagi.
"Ayo kita pulang Pa aku engga mau ada disini" ajak Alexa.
"Tapi apa kamu tidak ingin menyapa Mama mu nak?" tanya Sam.
"Buatku Mama udah mati sampai kapanpun aku tidak akan pernah mau mempunyai Ibu gila seperti dia" teriak Alexa yang langsung menarik-narik tangan Sam meminta untuk pergi dari sini.
"Lexa itu Mama mu tolong jangan bicara seperti itu!" bentak Sam.
"Lalu Alexa harus apa Pah apa Papa mau Alexa semakin menjadi bahan ejekan untuk teman-teman Alexa disekolah Lexa tidak punya Mama aja mereka mengejek Lexa apalagi kalau mereka tau Lexa punya Mama yang gila seperti itu, Lexa benci orang gila itu Pa Lexa engga mau kesini lagi" teriak Alexa.
Sam pun menurut karena dia tau sifat keras Alexa yang tidak mau dibantah.
SEBELAS TAHUN KEMUDIAN!!!!
Abian, Alexa dan Alice sudah tumbuh dewasa dan lulus dari Sekolah Menengah Atas.
Visual Abian
Visual Alexa
Visual Alice
__ADS_1
Abian lulus dari Sekolah Menengah Atas dengan nilai tertinggi disekolah dan dia mendapatkan beasiswa disalah satu Universitas ternama dikota besar semua berkat prestasi cemerlangnya.
Tapi itu berarti Meira dan Dokter Gewa harus sudah siap melepas anak semata wayangnya untuk tinggal jauh dari mereka demi masa depan yang baik untuk puteranya Meira dan Dokter Gewa terlihat sangat berat melepas puteranya untuk menuntut ilmu dikota besar.
"Ma kamu jangan menangis terus dong nanti Bian denger dia jadi makin berat untuk berangkat kekota" Dokter Gewa berusaha menenangkan Meira yang terus menangis didalam kamarnya.
Hikzzzz.....hikzzzzzzz.
"Pa tidak bisakah Bian menolak beasiswa itu dan kuliah dikampus kota ini saja Mama ga bisa jauh dari Bian Pa" ucap Meira sambil bersandar dibahu Dokter Gewa.
"Papa mengerti Ma Bian juga kan anak Papa mau bagaimana pun Papa akan tetap mendukung anak kita untuk mendapatkan pendidikan yang terbaik dan Universitas dikota besar adalah jalan yang terbaik untuk Bian" Dokter Gewa berusaha menjelaskan pada Meira.
"Iya Pa Mama akan coba untuk ikhlas, lalu bagaimana dengan perjodohan Bian dengan Alice sekarang waktu yang tepat untuk bicara sama Bian Pa" ucap Meira yang sudah berhenti menangis.
"Iya lagi pula masih beberapa bulan lagi kan penerimaan mahasiswa baru jadi kita punya banyak waktu yasudah besok kita adakan pertemuan aja di resort dengan Melodi dan Alex" jawab Dokter Gewa.
Keesokan harinya Meira meminta Abian tampil rapi dan sopan tapi Meira tidak menjelaskan untuk Abian harus ikut bersama orangtuanya itu ke resort begitu juga dengan Alice yang diminta berdandan sangat cantik oleh Melodi dan Dokter Alex namun tidak dijelaskan kenapa Alice harus berdandan dan memakai gaun yang sangat mahal dan bagus.
Meira, Dokter Gewa dan Abian tiba di resort disusul dengan Melodi, Dokter Alex, dan Alice mereka duduk bersama didalam satu ruangan ada beberapa pelayan yang menghidangkan beberapa cemilan dan minuman diatas meja maklum Meira dan Melodi adalah salah satu pemegang saham di resort ini jadi mereka bisa menggunakan fasilitas resort ketika memang mereka membutuhkannya.
"Nah udah lama juga ya kita semua tidak kumpul bersama satu meja begini" ucap Dokter Alex.
"Iya anak-anak semakin dewasa semakin sibuk ternyata" ujar Dokter Gewa.
"Ya kita sebagai orang tua sangat beruntung masih diberikan umur panjang untuk membesarkan mereka sampai dengan sekarang" jawab Melodi.
"Sudah-sudah sebaiknya kita mulai saja kepokok pembicaraan kita sepertinya sejak tadi Alice dan Abian sudah kebingungan" Meira mengusulkan.
"Baiklah anak-anak karena kita semua sudah berkumpul bersama sekarang Papa selaku orang tua kamu Bian ingin menyampaikan bahwa sejak dulu Papa dan Mama Mei ingin sekali menjodohkan kamu dengan Alice agar kalian kelak bisa mengelola resort ini bersama-sama dan kita menjadi keluarga sungguhan" Dokter Gewa menjelaskan.
Mendengar apa yang diucapkan Dokter Gewa membuat Abian sangat syok berat karena tidak pernah terpikirkan oleh Abian kalau dirinya harus menikah atas dasar perjodohan lagipula Abian berpikir umurnya baru delapan belas tahun umur yang terbilang sangat muda dan bahkan banyak cita-cita yang ingin diwujudkan oleh Abian terlebih dahulu dibandingkan harus menikah terburu-buru.
"Nah iya betul Papa juga berharap Alice tidak menolak dengan perjodohan ini karena sejak dulu Tante Meira dan Om Gewa sudah seperti keluarga bagi kita jadi tidak ada salahnya kan kalian untuk menikah?" Dokter Alex menambahkan.
__ADS_1
"Gimana Bian? Alice?" tanya Meira dengan penuh harap.
"Alice setuju Tante" jawab Alice dengan semangatnya karena dirinya memang sejak kecil menaruh hati pada Abian.
"Syukurlah nak kamu memang anak Mama yang paling baik" ucap Melodi sambil mengelus-elus kepala anaknya itu.
"Bian kamu juga setuju kan?" Meira berusaha menanyakan lagi pada Abian.
"Tu,,,, tunggu tapi ini benar-benar terlalu cepat Bian bingung harus jawab apa Bian permisi dulu" Abian terlihat sangat tidak menyetujui perjodohannya dan segera meninggalkan meja dengan gugup.
"Loh Bian mau kemana kamu?" teriak Meira.
Perginya Abian membuat sedikit gundah gulana dihati Meira dan Dokter Gewa tak lama Alice izin untuk menyusul Abian dan menanyakan perihal sikapnya itu.
Abian berada ditepian pantai dan memandangi ombak Alice pun menghampiri Abian.
"Apa kamu segitunya tidak menyukai aku Bian?" Alice terlihat sangat bersedih.
Abian hanya terdiam entah apa yang ada dipikiran laki-laki pendiam ini.
"Jawab Bian sejak dulu kamu selalu cuek dan bersikap dingin terhadap ku, apa kamu sebegitu tidak menyukai aku sampai- sampai kamu meninggalkan orang tua kita dan menolak perjodohan ini?" Alice meneteskan air matanya.
"Aku memang selalu bersikap seperti ini bukan hanya dengan kamu" sinis Abian.
Yang langsung pergi meninggalkan Alice namun Alice menghalangi Abian untuk pergi.
"Bian tunggu!" Alice memegangi tangan Abian.
Abian melirik kearah tangannya yang dipegangi Alice dengan gugup Alice melepaskan tangan Abian.
"Maaf Bian aku tidak sengaja memegangi tangan kamu" Alice menundukkan wajahnya.
"Aku ingin pulang kerumah jadi jangan ikuti aku!" sinis Abian.
__ADS_1
Mendengar Abian berkata demikian Alice pun tak berani lagi menghalangi langkah kakinya, Abian pergi meninggalkan Alice dan melirik sedikit kearah Alice dilihatnya wajah Alice yang terlihat sangat sedih.
Pertemuan itu pun diakhiri karena sikap Abian dan ditunda untuk keputusan kedepannya akan seperti apa, Meira dan Dokter Gewa cukup kecewa dengan sikap anaknya itu.