Mencari Selingkuhan Suamiku

Mencari Selingkuhan Suamiku
First Kiss


__ADS_3

Abian pun berusaha keras menyembunyikan kebahagiaannya dan menahan senyumnya agar terlihat biasa saja.


Akhirnya hari pertunangan sudah ditentukan begitu juga dengan hari pernikahan yang akan dilaksanakan satu bulan dari hari pertunangan digelar.


Malam ini keluarga Melodi dan Meira serta teman-teman dekat Meira dan Melodi ikut berkumpul dan makan malam bersama, menikmati cemilan-cemilan Alexa pun sudah bisa tersenyum kepada orang-orang sudah tidak kaku lagi.


Abian yang melihat Alice sedang duduk diteras depan rumahnya karena sedih memikirkan nasib Dokter Alex. Alice lebih memilih menyendiri dan menjauh dari kerumunan.


"Kenapa disini?" tanya Abian.


"Aku hanya ingin suasana sepi saat ini," kata Alice.


"Ikutlah, kalau kamu bosan dengan keramaian disini!" ajak Abian.


Alice pun ikut bersama Abian menaiki mobil miliknya Abian mengajak Alice ke suatu tempat menjauh dari keramaian.


Didekat perkebunan lobak ada tempat untuk bermain anak-anak terdapat ayunan dan beberapa mainan lainnya, Abian pun mengajak Alice turun dari mobil dan masuk ke tempat bermain anak-anak itu.


"Disini kalau pagi ramai anak-anak kecil, tapi kalau malam ya sepi begini. Lihat dari sini kamu bisa melihat perkebunan lobak itu!" tunjuk Abian.


"Iya," kata Alice.


"Kamu mau menaiki ayunan?" tanya Abian.


"Iya aku suka duduk di ayunan, tapi kenapa kamu baik sama aku? Biasanya kan kamu jutek?" tanya Alice.


Abian hanya menggelengkan kepalanya karena Alice masih saja tidak mengerti dengan semua sikapnya. Mereka pun duduk di ayunan.


"Apa kamu ingin Om Alex untuk dibebaskan?" tanya Abian.


"Iya. Tentu saja, Papah memiliki penyakit Diabetes sejak dulu. Dan aku tidak bisa bayangkan kalau Papah harus tidur dan makan di penjara bisa-bisa gula darahnya naik dan penyakit Papah menjadi lebih parah. Tapi Mamah sama sekali tidak peduli itu," ungkap Alice yang kembali menangis bila mengingat Dokter Alex saat ini mendekam di penjara.


"Aku akan membujuk Tante Melodi, mudah-mudahan dia mau membebaskan Papah kamu," kata Abian.


"Oh ya? Apa kamu peduli sama aku? Kamu sudah mencintai aku sekarang Bian?" tanya Alice.


"Kamu engga usha geer. Aku hanya tidak tega dengan Om Alex," sinis Abian.


"Hmm sudah kuduga kamu memang tidak pernah mencintai aku. Ayo kita pulang saja!" lirih Alice yang segera berdiri dari ayunan.

__ADS_1


"Eh tunggu!" kata Abian.


"Apa lagi?" tanya Alice.


"Kenapa kita pulang sekarang?" tanya Abian.


"Bersama kamu hanya membuat pikiranku semakin stres saja," kata Alice.


"Apa? Aku bikin kamu tambah stres?" tanya Abian.


"Iya kamu selalu bersikap sinis padaku, sejak kecil hanya aku saja yang menyukai kamu. Kamu selalu bersikap dingin dan kaku. Kamu pikir aku tidak stres," ungkap Alice yang langsung berlalu meninggalkan Abian.


Tak lama Abian memegangi tangan Alice dan berdiri dihadapan Alice, menatap dengan tatapan penuh makna.


"Tetaplah disini sebentar saja," kata Abian


"Tapi..," belum selesai Alice bicara.


Abian menarik tangan Alice hingga tubuh Alice berada di dekapannya saat ini tak lama Abian memegangi pipi Alice dan satu tangannya memegangi pinggang Alice semakin mendekat dan bibir Abian akhirnya menyentuh bibir Alice dengan halus dan lembut Abian menci* um bibir ranum Alice.


Keduanya menutup mata menikmati ciu* man pertama mereka. Kedua tangan Alice kini memegangi dada kekar Abian dan bibir Abian masih betah memagut bibir Alice yang lembut itu.


Semakin lama semakin Abian lancar melakukan ciu* man pertamanya itu perlahan namun pasti Abian semakin mendekap tubuh Alice dan juga ciu*man mereka semakin memanas. Abian mulai berani menggigit tipis bibir Alice membuat Alice meremas pakaian Abian.


"Am,,,,, itu tadi aku tak sengaja," kata Abian.


"Aku juga," jawab Alice yang tersenyum malu.


"Kalau begitu apa kamu mau pulang sekarang?" tanya Abian.


"Emm iya bisa bahaya kalau aku tetap disini bersama kamu," ledek Alice.


Abian pun tersenyum pada Alice seolah malu tapi mau. Saat Abian dan Alice hendak menuju ke mobil seseorang terlihat mengawasi mereka dari kejauhan. Langkah kaki Abian pun terhenti.


"Bian, ada apa?" tanya Alice.


"Seperti ada yang sedang mengawasi kita," kata Abian yang berusaha mencari orang itu.


"Apa jangan-jangan yang meneror kamu dan Tante Meira?" tanya Alice.

__ADS_1


Abian melihat sosok memakai masker dan topi hitam berlari dari balik pohon. Dengan sigap Abian menarik tangan Alice untuk mengejar orang itu Alice dan Abian berlarian demi mengejar orang yang sudah membuntuti mereka.


Hampir dapat Abian berhasil menarik baju orang itu, dan menendang orang itu hingga dia menghentikan pelariannya. Abian menyuruh Alice menjauh dan perkelahian itu pun tidak terhindarkan lagi.


Alice sangat ketakutan melihat Abian berkelahi melawan penguntit itu namun Abian sepertinya mampu menguasai perkelahian itu dengan terus menendang dan menghajar bagian wajah orang itu hingga membuat topinya terjatuh.


Sosok laki-laki yang Abian sendiri tak mengenalinya karena dia pun memakai masker, orang itu langsung pergi berlari karena tak yakin bisa mengalahkan Abian.


Melihat Alice sangat kecapean karena berlari membuat Abian akhirnya tak melanjutkan mengejar orang itu.


"Alice kamu engga apa-apa kan?" tanya Abian.


"Engga Bi. Apa orang itu yang mencoba mencelakai Tante Meira?" tanya Alice.


"Iya pasti orang itu. Aku sempat melihat dari sebrang jalan ketika Mama hendak ditabrak. Ciri fisiknya sama persis, besok aku akan memberikan kesaksian lagi pada polisi. Kita pulang ya!" kata Abian yang segera membawa Alice kembali' ke mobil dan mengajaknya pulang kerumah.


Sesampainya di rumah Melodi rumah sudah mulai sepi.


"Bian tadi kami mencari kalian, kok wajah kamu memar?" tanya Melodi.


Meira dan Dokter Gewa segera mendekati Abian.


"Iya, kamu kenapa ini nak?" tanya Meira.


"Ma, sepertinya besok Bian akan ke kantor polisi tadi orang yang berusaha menabrak Mama datang lagi dan menguntit Bian dan Alice. Orang itu sempat berkelahi dengan Bian," kata Abian.


"Gimana ciri-cirinya? Apa dia seorang laki-laki?" tanya Meira.


"Iya Ma, dia laki-laki dan sepertinya bukan anak muda seperti Bian, polisi harus bergerak cepat Ma takutnya nanti justru membuat kita celaka," kata Abian.


Meira sejenak berpikir siapa orang yang membencinya selain Kimmy?


"Mei, kamu kenapa?" tanya Melodi.


"Kamu sadar engga si kita itu cuma punya masalah dengan Kimmy selama ini, lalu kenapa ada laki-laki yang berusaha mencelakai aku dan keluarga aku? Aku pikiri itu Kimmy tapi ternyata dia seorang laki-laki," kata Meira.


"Tapi kan Kimmy di rumah sakit jiwa Mei," kata Melodi.


"Nah itu dia, ga mungkin juga ini ulah si Kimmy," kata Meira.

__ADS_1


"Atau begini saja, besok aku akan minta Sam untuk menelpon ke rumah sakit jiwa. Ya kita tetep harus periksa aja kemungkinan terkecilnya," kata Melodi.


"Iya ya sudah sebaiknya memang begitu. Karena aku yakin aku tidak punya musuh atau masalah dengan orang lain," kata Meira.


__ADS_2