
Drama baru dimulai. Saat Stella dan Serry sedang memilih beberapa gaun, tiba-tiba Kenneth datang bersama Jane. Stella merasa tidak nyaman dengan keberadaan gadis yang sama sekali belum dikenalnya.
"Hai, Mam. Perkenalkan ini Jane. Gadis yang sudah kuceritakan pada Mama. Mungkin Mama lupa," ucap Kenneth tanpa basa-basi.
Stella sangat kesal saat putranya membawa gadis lain. Rasanya ingin memarahinya sekarang. Namun, di hadapan Serry dan Jane, Stella tidak mungkin melakukannya.
"Jane, Aunty." Jane mengulurkan tangannya berniat untuk menyalami Stella.
"Stella."
Kali ini Serry merasa tidak nyaman dengan kehadiran Jane. Dia juga tidak berniat memperkenalkan diri pada gadis itu. Pemikirannya cuma satu, yaitu Jane adalah rivalnya.
"Mam, Jane ini adalah gadisku. Apa Mama lupa?" Sekali lagi Kenneth mengingatkan posisi Jane saat ini.
Stella hanya tersenyum saja. Biarkan putranya memainkan drama, setelah ini dia akan menjewer telinganya saat sampai di mansion.
"Baiklah, Jane. Ini Serry, anak teman mamaku. Serry, ini Jane, gadisku," jelas Kenneth pada kedua gadis muda itu.
Jane dan Serry sudah memasang wajah yang tidak nyaman sekali. Bisa dibilang keduanya siap bertarung untuk mendapatkan Kenneth. Hanya Stella yang mampu menyadarinya. Walaupun sebenarnya Kenneth sudah tahu maksud dan tujuannya, yaitu membuat Jane dan Serry sama-sama tidak nyaman berada di posisi ini.
"Baiklah para wanita. Karena kalian sudah berkumpul, maka silakan belanja. Mamaku yang akan membayarnya," jelas Kenneth.
"Kenneth!" seru Stella tidak senang dengan tindakan putranya.
Mau bagaimana lagi. Kenneth harus melakukan ini. Setelah puas mengerjai mamanya, dia kembali ke mansion tanpa pamit. Malas sekali berurusan dengan para wanita yang tidak jelas itu. Lebih baik dia menyiapkan surat lamaran pekerjaan untuk esok hari.
Sementara Stella benar-benar dibuat kesal saat tahu jika sopir mengatakan bahwa Tuan Kenneth sudah kembali. Sopir terpaksa harus mengantarkan Jane ke hotel, Serry kembali ke rumahnya, dan yang paling akhir mengantarkan Stella pulang ke mansion.
__ADS_1
"Kenneth!" teriak Stella saat sampai di ruang tamu mansion.
Para maid yang kebetulan lewat mengatakan jika Kenneth berada di dalam kamarnya. Lelaki itu terlihat sedang sibuk karena salah satu maid diminta untuk mengirimkan makanan dan minuman ke kamarnya.
"Tuan ada di kamarnya, Nyonya."
Stella tidak sabar. Setelah menitipkan beberapa paper bag, dia menuju ke kamar putranya. Kali ini Stella menyalahi aturan, yaitu dia langsung masuk tanpa mengetuk pintu sehingga mengejutkan putranya.
"Mama? Lain kali ketuk pintu dulu!" kesal Kenneth.
"Harusnya mama yang kesal, Ken. Kau sengaja menjebak mama dengan para gadis itu, kan? Kau tahu apa yang terjadi? Jane dan Serry membuat mama pusing."
Setelah Kenneth pergi, Jane mengatakan jika dirinya adalah salah satu gadis yang sangat dicintai Kenneth. Sementara Serry mengatakan kebohongan bahwa dirinya lah yang akan dijodohkan dengan Kenneth. Pertengkaran itu membuat Stella malu kemudian meminta mereka untuk mengakhiri sesi belanja kali ini.
"Itu bagus, Mama. Bukankah Mama ingin mengerjai aku agar dekat dengan Serry? Jangan susah-susah, Ma. Kenneth punya calon istri sendiri. Nanti Mama akan tahu dan berterima kasih kepadaku. Setidaknya pilihanku tidak childish seperti mereka!"
Stella geram dan juga kesal, tetapi dia tidak bisa memojokkan Kenneth begitu saja. Dulu, Rhiana pernah mengatakan padanya bahwa Kenneth hanya bisa didekati dengan dua cara. Pertama, jika dia membangkang, maka gunakan cara yang lembut. Kedua, saat dirinya semakin membangkang, maka gunakan jalur kekerasan. Maksud Rhiana kekerasan di sini adalah sebuah tantangan agar Kenneth mampu berpikir secara logis bahwa apa yang dilakukannya adalah salah.
"Kenapa kau muram seperti itu, Sayang?" tanya Albert.
Setelah sarapan pagi, Stella belum beranjak dari tempatnya. Malah Kenneth sudah pergi lebih dulu tanpa pamit padanya.
"Kemarin Kenneth membuatku kesal, Albert. Kau tahu kan niatku untuk mendekatkan Serry. Ternyata dia membawa Jane. Gadis itu katanya teman dekat Kenneth saat kuliah dulu. Lalu, keduanya bertengkar di dalam butik. Bagaimana aku tidak kesal. Niatku baik, tetapi Kenneth membuatku dalam kesulitan," sesal Stella.
"Sudah ribuan kali aku katakan. Jangan libatkan para gadis itu dengan Kenneth. Biarkan dia berjalan dengan apa yang diinginkan saat ini. Mungkin sebuah pekerjaan akan membuatnya berubah lebih bertanggung jawab lagi," jelas Albert yang sudah tahu bahwa putranya akan melamar pekerjaan.
Ingatan Stella kembali pada seorang gadis yang masih dirahasiakan namanya. Dia sangat penasaran sekali karena Kenneth masih merahasiakannya. Siapa sebenarnya gadis itu? Apalagi Kenneth mencoba hidup mandiri hanya dengan kata-katanya. Tidak mungkin gadis manja seperti Jane ataupun Serry. Apalagi Samantha yang sudah ditolak oleh Kenneth.
__ADS_1
"Albert, apa kau tidak ingin menyelidiki siapa gadis itu? Maksudku gadis yang sudah membuat Kenneth menjadi aneh seperti ini."
Albert terdiam. Sama sekali bukan keinginannya untuk membuat Kenneth semakin jauh darinya. Siapa pun gadis itu, Albert harus berterima kasih padanya. Terlebih membuat Kenneth menjadi pekerja keras adalah hal yang sangat sulit. Dulu, jika bukan karena Rhiana, Albert akan patah semangat untuk melepaskan Kenneth ke luar negeri.
Kenneth hanya akan mempermalukannya di hadapan semua orang. Apalagi Stella sangat memanjakannya. Tidak salah kalau saat ini Kenneth menjadi lelaki yang menyebalkan dan selalu membuat orang lain pusing. Cuma satu yang bisa mengendalikan Kenneth, yaitu Rhiana.
"Tidak perlu! Kita lihat saja nanti. Dia pasti datang dengan Kenneth. Kau percaya pada putramu, kan?"
Stella mengangguk.
"Kalau begitu, jangan campuri kehidupannya. Kau hanya perlu melihat perubahannya saja. Jika itu sampai kau lakukan kembali, perlahan Kenneth akan menjauh darimu."
Albert sebagai seorang pria bisa sesabar itu menghadapi tingkah konyol putranya. Sementara Stella, naluri keibuannya ingin sekali seperti para wanita pada umumnya, yaitu mendekatkan putranya pada gadis yang tepat kemudian menikahkannya.
Kenneth sendiri sedang berjuang. Setelah melewati perjalanan panjang untuk sampai ke restoran, kemudian menyerahkan berkas lamaran kerja, dan melakukan interview. Semua sudah dilakukan dengan baik. Pada akhirnya dia pun diterima sebagai pelayan di restoran tersebut. Besok pagi baru mulai bekerja.
"Akhirnya semesta memberikan jalan kepadaku. Setidaknya aku tidak akan jauh-jauh dari Rhiana. Kalau aku rindu, tinggal datang ke butik lalu melihatnya dari jauh. Untuk saat ini, cara itu lebih dari cukup," lirih Kenneth saat memasuki kembali mobilnya.
Kenneth melajukan mobilnya menuju ke butik RR. Dia akan melihat sejenak suasana butik itu lalu pergi. Sialnya, saat melihat Rhiana keluar dari butik, Jane meneleponnya. Dia buru-buru harus mengangkat panggilan itu.
"Halo, Jane. Ada apa?" sapa Kenneth.
"Ken, kau di mana? Katamu mau mengajakku jalan-jalan?" Jane bukan gadis yang mau dibohongi begitu saja.
"Maaf, Jane. Aku tidak bisa." Kenneth langsung menutup panggilan itu.
Jane kesal. Kenneth sudah mempermainkan perasaan dan juga dirinya. Sementara Kenneth sendiri begitu tenang karena salah satu keinginannya sudah tercapai.
__ADS_1
"Sebentar lagi kau akan menjadi milikku, Rhiana."