Mencintai Pengasuhku

Mencintai Pengasuhku
Bab 22. Penyakit Cinta


__ADS_3

Rhiana dibuat sibuk dengan tingkah Kenneth. Harusnya dia tidak kembali ke kehidupan Rhiana lalu mengacaukan semuanya. Setelah dari butik dengan membawa sopir, Rhiana harus ke mansionnya lebih dulu. Beruntung karyawannya mendapatkan sopir yang baik dan tidak kurang ajar.


"Nona siapkan kopernya saja. Nanti kalau sudah selesai bisa memanggilku," ucap sopir bernama Samuel.


Pria berusia sekitar 45 tahun itu terlihat baik dan sangat peduli dengan bos barunya. Walaupun hanya sementara, Samuel agaknya merasa bisa berinteraksi dengan baik.


"Baik. Tolong tunggu sebentar, ya?"


Samuel mengangguk mengerti.


Hanya butuh beberapa menit sampai Rhiana kembali. Harusnya memanggil Samuel, tetapi Rhiana merasa tidak memerlukan bantuan.


Samuel buru-buru menghampiri Rhiana untuk mengambil kopernya. Dia kemudian memasukkan ke dalam bagasi lalu mengecek kondisi mobilnya. Semuanya beres dan tidak ada masalah.


"Barang-barang Nona semuanya sudah? Ehm, maksudku apakah tidak ada yang ketinggalan?" tanya Samuel.


Semua baju sudah masuk ke dalam koper. Lalu, laptop dan perlengkapan lainnya sudah dibawanya. Diletakkan di kursi dekat tempat duduknya.


"Tidak ada. Semuanya sudah kumasukkan. Terima kasih sudah mengingatkan, Sam."


"Sama-sama, Nona. Langsung berangkat sekarang?"


"Ya. Lekaslah! Alamatnya kau sudah tahu, kan?"


Ya, Samuel sudah tahu alamat yang dituju. Tidak sulit baginya karena Samuel memang sopir yang sudah sering ke luar kota mengantarkan beberapa bos yang menggunakan tenaganya.


Kembali lagi ke mansion Nathanael. Albert baru saja sampai di mansion lalu menuju ke kamar putranya. Di sana ada Samantha dan Stella yang sedang menunggu Kenneth membuka pintu.


"Bagaimana Kenneth, Ma?" tanya Albert.


"Dia tidak mau keluar sampai wanita itu yang memintanya keluar," keluh Stella.

__ADS_1


Stella masih saja malas menyebut nama Rhiana. Albert mencoba tetap tenang. Dia sudah mengirimkan pesan kepada Rhiana. Berharap sekali kedatangannya lalu meminta Kenneth keluar.


Seharian berada di dalam kamar, Kenneth tidak mau makan ataupun minum. Ini merupakan wujud protesnya kepada Stella. Albert sangat mengkhawatirkan putranya.


"Apakah dia sudah makan? Sudah minum?" tanya Albert.


Stella menangis. Seharian ini Kenneth sama sekali tidak mau keluar kamarnya. Bahkan hanya untuk menyentuh makanan di sudut piring sama sekali tidak dilakukan. Lelakinya bertahan di kamar hanya untuk mengejar apa yang ingin didapatkan olehnya.


"Samantha, lebih baik kau pulang sekarang. Kenneth sedang tidak baik-baik saja. Semoga kau bisa memahami situasinya. Mengenai lamaran yang diajukan keluargamu untuk Kenneth, aku tidak bisa menjanjikan apa pun. Kau tahu kan bagaimana hubungan tanpa cinta bisa berjalan? Ibarat mobil tanpa bahan bakar. Begitulah aku mendefinisikannya," ucap Albert.


Samantha kadang lelah berada di posisinya. Sejak mengungkapkan perasaannya kepada Kenneth lalu ditolak, seakan tidak ada lagi gairah untuk hidup. Namun, melihat Kenneth seperti ini, apa dia masih mau memaksakan kehendaknya?


"Baik, Uncle. Kalau ada apa-apa, tolong segera kabari aku!" pinta Samantha.


Menjadi bayangan di dalam hidup Kenneth membuat Samantha semakin terluka. Dia hanya bisa menjangkau Kenneth dengan dalih sebagai sahabat. Selebihnya Kenneth akan sulit sekali dijangkau. Terlebih kesalahan Samantha sangat fatal sekali di mata Kenneth.


Stella hampir menyerah saat Albert memapahnya menuju ke kamar. Dia meminta istrinya untuk beristirahat di sana sambil menunggu bantuan datang.


"Dia bukan pembangkang, Stella. Dia hanya ingin dimengerti dengan semua keputusannya. Lalu, mengapa kau selalu membuatnya kesal? Kenneth bisa membantuku di kantor. Dia harus menjadi lelaki mandiri. Kalau kau sama sekali tidak mendukungnya, lalu siapa lagi?"


Stella selalu disalahkan. Dia bahkan tidak diberi kesempatan untuk menentukan kehidupan Kenneth.


Kenneth yang saat ini berada di kamar terlihat sangat lemas. Dia tidak hanya mogok mengunci pintu kamarnya, tetapi juga mogok makan. Biar dikata caranya ini sangat kekanak-kanakan, tetapi harapannya cuma satu, yaitu berhasil mendapatkan persetujuan mamanya.


Di luar kamarnya sudah tidak lagi terdengar suara mama, papa, atau siapa pun di sana. Mungkin mereka semua kesal lalu meninggalkan Kenneth sendirian. Kalau sudah putus asa seperti ini, dia ingin mengakhiri hidupnya bersama dengan Rhiana. Dia tidak mau mati sendiri.


Saat rasa putus asanya sejalan dengan keinginan terbodoh sepanjang hidupnya, sayup-sayup Kenneth mendengar suara Rhiana memanggil namanya.


"Kenneth, Kenneth, Kenneth! Buka pintunya!" Suara teriakan itu sangat menggangu sekali.


Kenneth memejamkan matanya. Dia sudah tidak tahan lagi dengan kondisinya saat ini. Dia akhirnya pingsan di kamarnya sendiri. Tidak ada asupan makanan dan minuman yang masuk ke tubuhnya sejak semalam.

__ADS_1


Albert dan Rhiana saat ini berada di luar kamar. Segera setelah Rhiana sampai di mansion, Albert bergegas mengantarkannya ke kamar putranya. Teriakan pertama Rhiana berharap didengar oleh Kenneth lalu lelaki itu membuka pintunya.


"Kenneth sama sekali tidak meresponku, Tuan," ucap Rhiana.


Albert panik. Harusnya Kenneth lekas merespon saat tahu kalau suara Rhiana di luar kamarnya. Albert semakin panik sehingga memanggil seseorang untuk membuka paksa pintu kamar itu. Ya, tentunya dengan merusak kunci beserta handel pintunya.


Memerlukan waktu yang cukup lama sampai pintu itu benar-benar terbuka. Setelah dibuka paksa, barulah Rhiana memasuki kamar tersebut. Kenneth berada di ranjangnya hanya menggunakan celana panjang saja tanpa menggunakan kaos atau kemeja. AC-nya juga cukup dingin untuk ukuran Rhiana yang sedang menggunakan pakaian rangkap dua.


"Tuan Albert, tolong panggilkan dokter! Kurasa dia pingsan." Rhiana mengusap kedua tangan Kenneth secara bergantian. Dia berharap sentuhan kulitnya mampu membuat Kenneth lekas terbangun.


Rhiana segera memeriksa napas dan denyut nadinya. Sementara Albert sedang menelepon dokter supaya datang ke mansionnya. Sedangkan Stella tetap berada di dalam kamarnya karena tidak mau melihat Rhiana berada di sana.


Saat dokter belum sampai, tiba-tiba Kenneth mulai membuka matanya. Orang pertama yang dilihatnya adalah Rhiana. Masih seperti berada di alam mimpi sehingga Kenneth mencoba bangun lalu memeluknya.


"Syukurlah akhirnya kau sadar juga, Kenneth," ucap Albert. Dia segera turun ke dapur meminta maid untuk menyiapkan makanan dan minuman.


Rhiana sama sekali tidak menolak pelukan lelaki itu. Sentuhan kulit Rhiana mampu membangkitkan semangat Kenneth kembali.


"Akhirnya kau datang juga, Rhiana," ucap Kenneth pelan.


Bersamaan dengan kedatangan dokter, maid juga masuk membawa satu nampan berisi makanan dan minuman.


"Kau kenapa, Kenneth?" tanya dokter saat melihat Kenneth sedang memeluk seorang wanita.


Dokter Mark Ibram adalah teman dekat Albert. Saat tahu jika Kenneth pingsan, Mark segera datang ke sini.


Kenneth melepaskan pelukannya beralih menatap wajah dokter Mark yang penuh dengan senyuman. Dokter segera memeriksa kondisi Kenneth. Dia sebenarnya baik-baik saja. Hanya tidak ada asupan makanan yang masuk ke tubuhnya.


"Kau jangan khawatir, Albert. Penyakit cinta akan sembuh dengan sendirinya. Jadi, aku tidak perlu meresepkan obat apa pun. Makan yang cukup dengan ditemani pujaan hati, perlahan semuanya akan pulih," jelas dokter Mark.


Jika saat ini kondisi Kenneth sedang tidak baik-baik saja, Rhiana berniat mencubitnya karena kesal dengan tingkahnya. Dia sudah membuat semua orang panik dan kacau.

__ADS_1


__ADS_2