
Rhiana memutuskan kembali ke butik. Sebenarnya masih memerlukan waktu beberapa hari lagi. Hal itu yang membuat beberapa karyawannya bertanya-tanya.
"Nona kembali lebih cepat dari jadwal. Apa liburan Anda tidak menyenangkan?" tanya salah satu karyawannya.
"Huft, aku kembali lebih cepat. Aku melupakan satu pekerjaan penting," kilah Rhiana.
"Baiklah, Nona. Selamat bekerja. Kami juga akan menyiapkan segalanya dengan baik," pungkas karyawan tersebut.
Berbeda dengan kondisi Kenneth di mansion. Mamanya harus membatalkan janji dengan Serry, lalu putranya kembali. Membawa sebuah berita yang mengejutkan penuh dengan teka-teki.
"Kau berubah begitu cepat, Boy. Papa rasa ada hal yang kau rahasiakan, tetapi tidak masalah. Jadi, apa kau akan bekerja di perusahaan?" tanya Albert antusias.
Ini pertama kalinya setelah Kenneth meninggalkan mansion. Dia memiliki keinginan yang sangat menggebu.
"Tidak, Pa."
"Apa? Lalu, kau mau bekerja di mana?" tanya Stella dengan rasa terkejutnya.
Kenneth belum memikirkannya, tetapi dia sudah punya rencana. Ini tidak masuk akal, tetapi akan dilakukannya.
"Setelah kupikir-pikir, lebih baik aku bekerja di restoran atau kafe," ucapnya asal.
"Tidak. Mama tidak akan setuju," tolak Stella.
Albert adalah pengusaha terkenal, memiliki nama, dan sangat baik di mata semua orang. Apa jadinya kalau Kenneth memutuskan untuk lepas dari Albert dan memilih jalannya sendiri? Ini tidak masuk akal. Sebisa mungkin Stella harus mencegahnya.
Lain halnya dengan pemikiran Albert. Justru ini adalah waktu yang tepat untuk memberikan gemblengan keras kepada putranya.
"Itu pemikiran yang baik, Stella. Aku setuju dengan keputusan Kenneth."
Hanya Albert lah yang memahami konsep bisnis sebenarnya. Dia tidak mau kalau Kenneth menjadi bulan-bulanan orang lain karena sikapnya yang manja. Sejauh ini orang yang mampu mengendalikannya hanya Rhiana. Entah, mungkin saja dia sudah bertemu dengan wanita itu.
"Albert!" seru Stella.
"Stella!" seru Albert.
__ADS_1
"Apa kalian akan bertengkar hanya gara-gara aku?" tanya Kenneth.
Mereka terdiam. Biarkan saja kalau Kenneth memilih untuk bekerja jauh dari keluarga, tetapi dia harus bertemu dulu dengan Serry. Itu rencananya. Setidaknya akan menahan Kenneth lebih lama di mansion.
"Ok. Mama setuju, tetapi ada syarat yang harus kau lakukan!" Stella tidak mau kalah dengan suaminya.
Demi Rhiana, Kenneth akan melakukan apa pun. Kalau syarat yang diajukan mamanya begitu mudah, mengapa dia tidak mengambilnya saja? Rhiana adalah masa depannya. Kenneth tidak mau melepaskan kesempatan berharga ini.
"Baik. Asalkan Mama mengizinkan aku keluar dari mansion. Apa pun akan kulakukan," tegas Kenneth tanpa ragu sedikit pun.
Stella mengubah jadwal pertemuannya. Dia mengirimkan pesan pada Serry agar lekas bersiap. Stella akan menjemputnya bersama Kenneth.
"Oke. Hari ini kita akan menjemput Serry. Gadis cantik yang akan mama kenalkan padamu." Stella lupa pembicaraan terakhir dengan Albert.
"Aku sudah mulai bosan dengan pembicaraan ini, Stella. Lakukan saja apa yang kau inginkan! Aku akan pergi ke kantor," pamit Albert.
"Sayang, tolong mengertilah satu kali ini saja. Kumohon!" Stella menarik tangan suaminya berniat untuk meminta maaf dengan caranya.
Albert menepis tangan Stella. "Hanya satu kali ini saja. Setelah itu, lupakan tentang rencana konyolmu!"
"Demi meraih Rhiana, aku mengorbankan harga diriku sendiri. Ck, aku tidak menyangka keputusanku untuk tetap sendiri membuat mama terus saja mengumpulkan para gadis."
Sangat tidak nyaman, tetapi cukup sekali saja. Setelah malam itu, penolakannya kepada Samantha juga menjadi masalah. Sahabatnya tidak lagi mengirimkan pesan padanya.
"Sayang, lekaslah! Serry sudah menunggu kita!" teriak Stella dari luar kamar Kenneth.
Kenneth keluar dengan kaos dan celana jeans. Dia terlihat sangat tampan sekali. Dia mewarisi ketampanan Albert.
Sementara di tempat lain, Serry sangat senang. Sepertinya Stella sedang memainkan perasaannya saat ini. Pertemuan pertamanya dengan Kenneth sangat diharapkan sekali.
"Sayang, kau terlihat senang sekali," ucap Elena Gabriella, mama Serry.
"Aunty Stella mengabari akan menjemputku bersama Kenneth," balas Serry.
Elena tampak bahagia. Stella adalah wanita berkelas yang merupakan teman sosialita Elena. Kalau sampai Stella menjemput putrinya, itu artinya ada maksud yang tersembunyi. Apa lagi kalau bukan perkenalannya dengan Kenneth. Mungkin setelah ini drama perjodohan akan dibuat.
__ADS_1
"Ini kabar bagus, Sayang. Mama senang sekali."
Tentu saja Elena senang. Dia akan mendapatkan poin bertambah bila bersama dengan Stella. Dia pasti akan mengumumkan pertunangan putrinya ke seantero negeri ini.
"Doakan aku, Mama. Aku tahu tidak mudah menaklukkan hati Kenneth. Semoga saja ini akan berhasil."
Setelah Stella menghubunginya kala itu, buru-buru Serry mencari informasi mengenai Kenneth dari internet. Dulu lelaki itu memiliki bentuk badan yang kurang menarik, tetapi sekarang semuanya berbeda. Setelah kepulangannya, beberapa media sangat tertarik dengan kehidupan pribadi Kenneth.
Tidak hanya berita tentang perubahannya yang begitu besar, tetapi juga rasa penasaran publik kepada gadis beruntung yang akan mendampinginya. Namun, seperti yang dilansir dari sumber yang terpercaya, Kenneth belum memiliki pendamping.
"Pergilah, Sayang!" perintah Elena saat mendengar suara mobil memasuki halaman rumahnya.
"Mama tidak mau mengantarkan aku ke depan?"
Elena menggeleng. Bukan waktu yang tepat untuk bertemu dengan Stella. Saat Serry sudah menguasai hati putranya, maka itulah kesempatan Elena untuk tampil di muka umum.
"Katakan saja kalau mama sedang pergi," pinta Elena.
Serry tidak peduli lagi. Dia buru-buru keluar untuk menemui Stella dan putranya. Entah, hari ini Serry akan diajak pergi ke mana. Baginya Kenneth adalah yang paling penting.
"Sayang, keluarlah! Biar Serry duduk bersama mama. Kau bisa pindah ke depan," pinta Stella saat tahu seorang gadis yang ditunggu sudah muncul.
Gadis itu berjalan dengan begitu anggun dan cantik menuju ke mobil. Bertepatan dengan Kenneth membuka pintu lalu keluar. Saat itulah pandangan mata mereka beradu. Ya, Serry langsung jatuh cinta pada pesona Kenneth.
Tidak ada pembicaraan karena pintu yang seharusnya untuk Serry masih terbuka. Stella memintanya untuk lekas masuk.
"Serry, masuklah!" perintah Stella.
Serry pikir kalau Kenneth akan menutup pintunya kembali. Persis seperti para pria pada umumnya, tetapi dia salah besar. Serry harus bersabar untuk mendapatkan Kenneth seutuhnya.
"Sabar, Serry. Demi lelaki tampan ini, tidak masalah kalau aku menutup pintu sendiri," gumam Serry. Beruntung Stella fokus pada ponselnya sehingga tidak mendengarkan sama sekali.
"Jadi, mau diantarkan ke mana, Nyonya?" tanya sopir pada Stella.
"Antarkan kami ke butik. Aku ingin mampir berbelanja sebentar," jawab Stella.
__ADS_1
Serry senang bisa pergi dengan Kenneth. Ke mana pun, dia pasti akan ikut. Sayang, Kenneth tidak bisa pergi ke butik RR karena letaknya yang lumayan jauh. Namun, dibalik kegundahannya, Kenneth mendapatkan pesan dari seseorang yang amat sangat ditunggunya. Entah, ini sebuah musibah atau kebahagiaan berkumpul menjadi satu.