Mencintai Pengasuhku

Mencintai Pengasuhku
Bab 11. Tidak Tahan


__ADS_3

Sikap Rhiana kepada Kenneth kapan hari terasa keterlaluan sekali. Itulah sebabnya dia mencoba meminta maaf padanya. Rhiana membuka laci yang berisi nomor ponsel lelaki menyebalkan itu. Mengetik nomornya kemudian menyimpannya.


"Apa aku harus meminta maaf padanya? Ah, tidak! Nanti dia bisa besar kepala," lirih Rhiana di sela kesibukannya.


Kenneth yang hari ini baru bekerja merasa kesulitan sekali. Beberapa kali dia dimarahi karena tidak sesuai dengan standar operasional restoran. Namun, dia tidak mau menyerah.


Beberapa kali jatuh, dia harus bangun kembali. Sampai akhirnya mendekati waktu makan siang. Kenneth ingat pada Rhiana. Mungkin jarak restoran dengan butik tidak terlalu jauh. Sehingga dia memutuskan untuk mengirimkan makan siang setiap hari.


Rhiana yang berniat keluar, harus menghentikan rencananya. Seorang pelayan mengantarkan paper bag berisi makan siang untuknya.


"Dari siapa?" tanya Rhiana.


"Katanya dari restoran ini, Nona. Dia memberikan voucher makan gratis selama satu bulan. Setiap harinya kurir akan mengantarkan makanan dengan menu yang berbeda," ungkap pelayan tersebut.


Rhiana terkejut. Agak aneh sebenarnya, tetapi daripada makanannya terbuang percuma, dia menerimanya.


"Terima kasih. Besok aku coba konfirmasi ke sana. Apakah ini benar atau keisengan orang?"


Rhiana memiliki sikap tidak bisa percaya kepada orang lain. Luka hatinya di masa lalu membuatnya berhati-hati berhubungan dengan orang lain.


Saat membuka makanan itu, aromanya terasa harum sekali. Tanpa menunggu lama, Rhiana langsung menghabiskan makanan itu.


Tiga hari kemudian, Rhiana menyadari semua menu makanan yang dikirimkan setiap hari kepadanya selalu menjadi menu makanan favoritnya. Entah, seperti sebuah kebetulan atau apa? Sepertinya ini bukan hal biasa. Hanya beberapa orang yang tahu tentang dirinya.


Sebelum paper bag itu datang untuk keempat kalinya, Rhiana pergi dulu ke restoran sebelum makan siang tiba.


"Nona mau ke mana?" tanya karyawannya.


"Aku harus pergi ke restoran," pamit Rhiana.


Biasanya makanan itu akan datang setengah jam sebelum makan siang tiba. Kali ini dia datang lebih awal agar mereka tidak mengirimkan makanannya lebih dulu.


Rhiana langsung menuju ke resepsionis. Dia menanyakan perihal voucher makan gratis yang diberikan kepada pemilik butik RR. Sepertinya resepsionis itu sama sekali tidak tahu apa pun.

__ADS_1


"Maaf, voucher makan yang bagaimana?" tanya resepsionis.


"Restoran ini memberikan makan gratis selama sebulan. Setiap siang, karyawanku menerimanya kemudian memberikannya padaku. Apa ini benar program baru dari restoran ini?" selidik Rhiana.


Bersamaan itu muncul Kenneth degan penampilan pelayan restoran. Saat berniat mengambil troli yang berisi makanan, tatapannya beradu dengan Rhiana. Ini namanya kesialan.


"Kenneth?" Rhiana langsung tahu jawabannya. "Tolong hentikan pengiriman makanan ke butik RR!"


Rhiana langsung keluar begitu saja. Kenneth berada dalam dilema. Dia harus mengejar Rhiana, tetapi pekerjaannya jauh lebih penting. Kalau sampai dia ceroboh lagi, maka Kenneth akan selesai hari ini. Itu artinya mimpi untuk mendapatkan Rhiana sudah hilang.


"Ah, sial! Kenapa dia begitu cerdas," lirih Kenneth sambil mendorong troli menuju ke meja sesuai pesanan yang terlampir.


Rhiana sampai di butik dengan perasaan kesal. Kenneth tega membohonginya melalui orang lain. Itu sangat membuat Rhiana malu dan kesal.


"Stop penerimaan makanan atau apa pun dari orang yang tidak kita kenal! Oh ya, sebentar lagi kau harus pulang. Kalau ada siapa pun yang ingin bertemu denganku, katakan kalau aku pergi bertemu klien."


Rhiana tahu kalau Kenneth tidak akan menyerah. Laki-laki bodoh itu mau saja mengikuti permainannya. Sebenarnya niat Rhiana bukan seperti itu, melainkan untuk menolak Kenneth agar tidak mendekatinya.


Sore hari sepulang kerja, Kenneth mengejar Rhiana ke butik. Dia tahu kalau Rhiana masih berada di sana, tetapi dugaannya salah.


"Apa kau yakin kalau bosmu akan bertemu dengan klien? Ehm, maksudku apa ini biasa terjadi?" tanya Kenneth.


Tidak pernah. Rhiana hanya akan bertemu klien di ruang kerjanya. Dia menghindari pertemuan di luar, kecuali pada saat makan siang. Itu waktu yang paling senggang dan nyaman untuk Rhiana.


Karyawan itu menggeleng.


"Nah, kalau begitu katakan di mana dia tinggal? Aku takut terjadi sesuatu padanya."


Pegawainya mulai berpikir. Tidak biasanya Rhiana terlihat begitu kesal. Sangat aneh memang. Tidak biasanya pulang lebih awal seperti ini. Akhir-akhir ini sikapnya banyak berubah.


Akhirnya karyawan itu memberikan alamat apartemen Rhiana. Kenneth rasanya bahagia sekali. Sebentar lagi akan bertemu dengan pujaan hatinya. Ah, sejak kapan kata-kata itu muncul di benaknya?


Kenneth bergegas menuju ke mobilnya. Dia memang belum mendapatkan apartemen, tetapi dengan berkunjung ke tempat Rhiana, dia akan menyewa apartemen di sana.

__ADS_1


Hatinya merasakan ketegangan yang luar biasa saat sampai di depan unit apartemen Rhiana. Ini merupakan kawasan apartemen mewah. Tidak heran jika Rhiana bisa memiliki unit di sini.


Kenneth bergegas menekan bel. Rhiana baru saja terbangun dari tidurnya saat bel unitnya berbunyi. Biasanya dia tidak menerima tamu, kecuali ada hal yang begitu penting. Dia lebih banyak menghindar, tetapi urusan pekerjaan tidak bisa ditolak.


Saat melihat dari lubang pintu, Rhiana melihat Kenneth berdiri di sana. Lelaki itu sama sekali tidak pernah menyerah. Sementara Rhiana, percuma saja dia lari darinya. Dia akan terus mengejarnya sampai ke lubang semut juga.


Oke, tidak masalah kalau Rhiana mengalah kali ini. Dia harus bisa membuat Kenneth menjauh sejauh mungkin.


"Ada apa?" tanya Rhiana ketus setelah pintu dibuka.


"Apa boleh aku masuk?"


Tidak mungkin Kenneth mengatakan kegelisahannya di luar. Selain itu, dia juga akan mencari unit untuk disewanya. Dia bisa bertanya kepada Rhiana.


"Hemm, masuklah!"


Ini pertama kalinya Rhiana menerima tamu laki-laki. Sebelumnya hanya beberapa orang yang datang hanya untuk melakukan perawatan pada unitnya.


Kenneth duduk di kursi sebelum Rhiana mempersilakan. Itu pun menjadi masalah bagi wanita 35 tahun itu.


"Apa begitu caramu bertamu di tempat orang?" cibir Rhiana.


Kenneth meminta maaf. Dia sangat lelah sekali sehingga harus duduk lebih dulu. Rhiana masih memiliki rasa kasihan sehingga dia masuk ke dapur untuk mengambil air minum. Dia meletakkan satu gelas air putih di meja.


"Aku benar-benar minta maaf, Rhiana. Aku lelah hari ini. Lalu, untuk minumannya, terima kasih," jelas Kenneth setelah meneguk airnya hingga habis.


"Kenapa lagi kau ke sini? Bukankah seharusnya kau membantu papamu di perusahaan? Jangan tinggalkan pria paruh baya itu sendirian," pesan Rhiana.


"Aku tidak akan berhenti sampai kau mengatakan iya, Rhiana."


Rhiana tersenyum. "Iya untuk apa, Kenneth? Aku tidak merasa kalau kau meminta sesuatu dariku atau apa pun itu."


"Rhiana, jadilah kekasihku! Aku tidak bisa menunggu terlalu lama karena aku takut orang lain akan mendahuluiku." Kenneth tidak tahan lagi untuk menggenggam erat jemari pengasuhnya itu.

__ADS_1


Keberaniannya patut dihargai. Entah, sebentar lagi akan mendapatkan penolakan atau penerimaan bersyarat.


__ADS_2