
Satu bulan waktu yang sudah diputuskan Albert untuk menggelar pernikahan. Stella tidak setuju karena itu waktu yang cukup pendek di mana mereka harus menyiapkan segalanya.
"Kenapa Mama yang pusing? Serahkan saja pada wedding organizer. Semuanya pasti beres. Tinggal Kenneth dan Rhiana saja yang menentukan konsepnya," ucap Albert di meja makan.
Semalam Albert sudah berbincang dengan Stella ketika berada di dalam kamar. Stella maunya pernikahan dilangsungkan tiga bulan lagi. Menurut Albert, itu terlalu lama. Apalagi sosok Kenneth dan Rhiana sangat bertolak belakang. Semakin lama ditunda, Albert takut kalau salah satunya memilih untuk menggagalkan rencana pernikahannya.
"Tapi, Pa, wedding organizer itu juga butuh kita, kan? Kalau dibiarkan begitu saja, bagaimana mungkin semuanya akan berjalan sesuai rencana?"
Stella terhimpit. Dia sama sekali tidak bisa menggagalkan rencana suaminya. Rasanya menyebalkan sekali.
Kenneth sudah terlihat rapi. Pagi ini dia akan bekerja di perusahaan papanya. Sementara Rhiana akan kembali ke butik. Rencana pernikahan akan digelar di mansion karena Kenneth tidak ingin tinggal di hotel. Selain melelahkan, Kenneth berencana menjadikan kamarnya sebagai tempat pertama untuk ditinggali bersama sang istri nantinya.
Padahal Rhiana sudah sering berada di kamar itu sedari dulu. Menemani Kenneth bermain, belajar, dan menidurkan anak kecil itu dengan beberapa bacaan dongeng. Kenneth tidak akan bisa tidur jika dibacakan 1 dongeng saja. Minimal 2 dongeng hingga dia benar-benar terlelap.
"Rhiana, semua urusan pernikahan sudah dihandle oleh istriku. Jadi, kalau kau merasa kurang cocok atau mungkin ada masukan, beritahukan kepada Kenneth."
Albert menatap Kenneth bergantian ke arah Stella lalu kembali pada Rhiana. Rhiana hanya tersenyum menanggapi ucapan calon papa mertuanya. Tinggal sebulan lagi kehidupannya akan merasa jungkir balik lagi tidak menentu.
"Mari kita lanjut sarapannya. Maid akan membantu Rhiana membawa kopernya," pesan Albert lagi.
Kenneth tidak mampu berbicara apa-apa. Semalam, dia merasa mencurangi Rhiana karena mendapatkan ciuman mendadak dari Samantha. Tidak mungkin calon istrinya tidak melihat. Hanya saja Rhiana sama sekali tidak mengatakan apa pun.
Berada di halaman, memasukkan koper calon istrinya, lalu berbicara sebentar rasanya Kenneth sudah seperti seorang suami. Dia bangga pada pencapaiannya.
"Jaga diri baik-baik, Rhi. Nanti kalau aku libur dari rutinitas kantor, aku akan datang ke sana," ucap Kenneth setelah kedua orang tuanya membiarkan berdua saja dengan Rhiana.
__ADS_1
"Hemm, kau juga bekerja yang serius. Jangan buat Tuan Albert kesal dengan tingkah konyolmu itu!" Bukannya bersikap romantis, Rhiana terus saja mengomel sepanjang waktu.
"Apakah kau akan terus mengomel seperti ini nantinya? Jika iya, tolong dikurangi. Karena aku ingin calon istriku bisa mengimbangi gaya romantisku," puji Kenneth pada dirinya sendiri.
Mendebat Kenneth akan membuat Samuel kelamaan menunggu. Hingga Rhiana memutuskan untuk langsung pulang, tetapi Kenneth masih menahannya. Rupanya dia hanya memberikan kecupan manis di kening Rhiana sebelum mereka berpisah untuk sementara waktu.
"Jadi, ada yang kau sembunyikan dari papa selama ini?" tanya Albert pada putranya.
Setelah Rhiana pergi dengan sopirnya, keduanya berangkat ke kantor. Saat ini, di sinilah Kenneth berada. Di ruang kerja papanya yang berukuran lumayan besar untuk ukuran ruang CEO.
Selama ini Albert selaku founder, owner, dan CEO Nathanael group sebentar lagi akan menyerahkan tonggak kepemimpinan kepada putranya.
"Tidak ada. Kurasa Papa kali ini jauh lebih pintar daripada Rhiana," jawab Kenneth asal.
"Dasar anak nakal! Kalau Rhiana tahu, bagaimana? Dia pasti bisa mengomelimu sepanjang hari."
"Aku senang dia mengomel padaku, Pa. Tapi, jangan sampai mama tahu rahasia kita. Bisa-bisa aku gagal menikah dengan Rhiana."
Albert tertawa. "Dasar bodoh! Harusnya Rhiana mendengar ini."
Kalau Rhiana tahu rencana Stella untuk menggagalkan pernikahan, dia pasti sukarela untuk melepaskan Kenneth saat ini juga. Padahal bukan itu rencana Kenneth. Sebenarnya dia bukan seperti anak kemarin sore yang manja dan sebagainya. Hanya untuk menjerat Rhiana lah cara ini digunakan.
Kalau ditanya sejak kapan Kenneth menyukai Rhiana? Jawabannya adalah setelah lelaki itu meninggalkan Rhiana. Awalnya menganggap perasaannya itu semacam kekaguman pada pengasuhnya. Lambat laun saat berada di dunia perkuliahan, Kenneth merasa semua yang diinginkan untuk ukuran wanita ada dalam diri Rhiana.
Hari-hari Kenneth diliputi kebahagiaan. Pasalnya, hampir setiap jam, dia mengirimkan pesan kepada Rhiana kemudian selalu dibalas olehnya.
__ADS_1
Sementara gosip tentang Rhiana yang sebentar lagi akan menikah beredar luas di butik. Beberapa turut bahagia akhirnya owner butik itu telah menemukan pasangan hidupnya. Beberapa lagi ada yang sedih karena Rhiana kemungkinan besar akan ikut suaminya.
"Nona, aku turut bahagia atas kabar yang Anda bawa. Pasti cincin itu yang diberikan olehnya? Aku jadi penasaran, setampan apa pria itu hingga bosku langsung setuju begitu saja?" tanya satu karyawannya.
Sangat tampan, bahkan saat para gadis lewat seakan mencibir Rhiana. Bukannya memuji ketampanan Kenneth, tetapi mencoba mengolok-olok bahwa Rhiana sama sekali tidak pantas untuk Kenneth. Untuk ukuran Rhiana, pantasnya menjadi ibu sambung untuk Kenneth. Sayang, Albert, papa Kenneth bukan seorang duda. Sementara takdir berkata bahwa Rhiana harus bertunangan dengan putranya, Kenneth.
"Kalian sudah pernah bertemu dengannya," jawab Rhiana.
Ya, sore ini sebelum pulang, beberapa karyawan dan Rhiana sedang bercengkrama di ruang kerja bosnya. Awalnya hanya membahas tentang pekerjaan. Namun, saat mereka menyadari ada yang berbeda dari Rhiana, mereka pun antusias mendapati kabar bahagia itu.
Sebenarnya Rhiana malah berencana untuk memberikan undangan pernikahan langsung. Mereka pasti akan semakin terkejut.
Beberapa karyawan saling berbisik. Mereka mencurigai lelaki muda yang pernah datang kemari. Setelah itu, dia menghilang tanpa pesan.
"Apakah lelaki tampan itu, Nona?" tanya salah satu karyawannya.
"Ah, iya. Aku baru ingat. Lelaki tempo hari itu, kah? Wah, kalau itu memang sangat tampan sekali."
Mereka semua memuji ketampanan Kenneth. Ah, bukan itu saja. Mereka pun setuju jika Rhiana sangat beruntung mendapatkannya.
"Kurasa memang dia tidak beruntung mendapatkan aku," ucap Rhiana dengan wajah lesu.
"Ah, tidak, Nona! Anda adalah pelengkap baginya. Sama seperti dia untuk Anda. Tanpa dia, mana mungkin cincin pertunangan melingkar di jari manis Anda."
Sontak semua memuji kecerdasan salah satu karyawan Rhiana. Memang benar, Rhiana tanpa Kenneth bukan apa-apa. Lelaki itu pasti besar kepala sekarang.
__ADS_1
Saat Rhiana sedang asyik mengobrol, tiba-tiba ponselnya berdering. Panggilan dari nomor yang tidak dikenal. Dia ragu untuk mengangkatnya, tetapi panggilan itu berdering sebanyak dua kali. Dia pun akhirnya menggeser tombol hijau untuk berbicara dengan orang di seberang sana.
"Halo," sapa Rhiana.