
Jika biasanya lamaran ditujukan untuk para gadis, ini sangatlah berbeda. Orang tua Samantha mendadak mengirimkan lamaran untuk Kenneth. Pihak keluarga Samantha menginginkan pertunangan antara Kenneth dan Samantha segera dilangsungkan.
Saat Kenneth memutuskan bekerja di perusahaan papanya, tamparan keras datang dari Stella, mamanya. Bukannya memberikan semangat, Stella terus saja mematahkan niat baiknya.
"Untuk apa bekerja membantu Papa di perusahaan. Itu tidak akan mengubah sikap manjamu selama ini. Lebih baik terima tawaran orang tua Samantha untuk menikah dengan putrinya. Kau bisa menjadi bagian dari keluarganya. Bisa mendirikan restoran sendiri tanpa bergantung pada bisnis Papa," jelas Stella saat berada di meja makan.
Albert meletakkan alat makannya. Dia melihat wajah Stella secara intens. Bukannya mendukung putra tunggalnya, Stella malah menjatuhkan harga dirinya begitu saja.
"Kenneth tidak akan menikah sebelum dia berhasil!" tegas Albert. Ini salah satu cara menghalangi pernikahan yang sama sekali tidak diinginkan oleh Albert.
"Albert, apa kau masih mendukung hubungan Kenneth dengan wanita itu?" tanya Stella dengan suara yang tidak mengenakkan.
"Dia punya nama, Mam. Namanya Rhiana. Kenapa Mama sangat benci sekali kepadanya? Apa salahnya pada Mama?" tanya Kenneth.
Albert tidak tahu jika diam-diam Stella sudah membenci Rhiana sejak dulu. Kenneth jadi lebih dekat dengan Rhiana ketimbang dirinya. Lalu, beberapa kali Albert memuji keberhasilannya membuat Kenneth menjadi anak yang baik dan penurut. Jika Rhiana kembali ke mansion ini sebagai menantunya, maka semua perhatian Kenneth dan Albert akan tertuju kepadanya. Stella akan dicap sebagai mama yang sama sekali tidak bisa menghandle pekerjaan rumah tangga ataupun merawat putranya.
"Ma, tolong pikirkan lagi keputusanmu! Menerima Samantha sama saja merusak kebahagiaan putramu," jelas Albert.
"Dan kau akan membunuhku secara perlahan ketika wanita itu masuk ke dalam kehidupan kita!" balas Stella tidak kalah sengitnya.
Sementara Rhiana berada di butik. Beberapa waktu lalu dia sempat mengirimkan pesan pada Albert untuk memberitahukan bahwa dia sudah sampai dan selamat di tujuan. Albert pun membalas pesannya dengan mengucapkan terima kasih lalu meminta Rhiana sedikit bersabar.
"Seperti sebuah mimpi," gumam Rhiana.
Sedari tadi dia hanya mencoret-coret kertas gambarnya tanpa tahu apa yang sedang dipikirkan. Hanya bayangan Kenneth yang terus menari indah di pelupuk matanya.
__ADS_1
"Apa kabar lelaki nakal itu? Pasti sekarang sedang membuat ulah," ucap Rhiana dengan pelan.
Rhiana mengambil foto di mejanya kemudian memandang lekat ke wajah kecil Kenneth. Dia tidak bisa membayangkan, bagaimana jadinya jika Kenneth berjodoh dengannya? Pasti suasana apartemen seperti kapal pecah. Satunya tipe rajin bersih-bersih, sedangkan satunya lagi bandel sebagai tukang rusuh. Pasti sangat menjengkelkan.
Rhiana tersenyum saat membayangkan hal yang sama sekali tidak akan terjadi di dalam hidupnya. Namun, tiba-tiba sebuah pesan masuk dari nomor yang dikenalnya, yaitu Tuan Albert.
"Tolong datanglah ke tempatku. Kenneth dipaksa menerima lamaran gadis lain." Bunyi pesan yang dikirimkan Albert padanya.
Rhiana tersenyum kecut. Mungkin merasa cemburu atau ada hal lain yang sedang dipikirkan. Responnya sangat kacau.
"Harusnya aku tidak masuk ke dalam kehidupan mereka lagi, tetapi Kenneth terpaksa menyeretku ke sana. Aku harus apa sekarang? Datang ke sana lalu memohon untuk tidak memaksa Kenneth menikah karena aku—" Rhiana menggantung ucapannya. Apakah dia sudah mulai tertarik padanya? Atau, hanya merasa kasihan dengan bersimpati lalu menolongnya dari paksaan mamanya?
Sejujurnya semenjak Kenneth hadir di dalam kehidupannya, Rhiana semakin kacau. Pekerjaannya pun sering ditinggalkan. Beberapa kali karyawan mendapatkan komplain karena Rhiana belum menyelesaikan desainnya.
"Aku bingung. Papa Kenneth mengirim pesan padaku meminta agar aku datang ke sana karena sesuatu hal," jelas Rhiana. Dia tidak mungkin mengatakan bahwa Kenneth akan dipaksa bertunangan lalu Rhiana datang sebagai super hero. Terdengar lucu dan sangat menggelitik.
"Beberapa desain belum selesai, Nona. Ini seperti bukan Anda. Maaf, jika aku harus mengatakan seperti ini," ungkap karyawannya.
Karyawannya benar. Rhiana sampai tidak mampu mengenali dirinya sendiri. Sangat sulit rupanya. Namun, dia juga bingung apakah memiliki perasaan cinta kepada Kenneth atau hanya kepedulian semata.
"Begini saja. Aku memiliki solusinya. Aku akan pergi ke tempat Kenneth dengan menggunakan sopir. Tolong carikan aku sopir. Sementara dalam perjalanan, aku akan menyelesaikan semua desain yang belum selesai. Lalu, aku akan mengirimkannya padamu agar segera diproses. Setelah aku kembali, maka aku akan mengecek lagi hasil akhirnya. Bagaimana?"
Sebenarnya tidak ada alasan karyawan itu menahan kepergian Rhiana. Lagi pula dia yang memiliki butik ini. Jadi, seharusnya terserah Rhiana, kan?
"Baik, Nona. Aku akan mencarikan sopir dulu untuk Anda. Sementara Anda silakan bersiap dulu."
__ADS_1
Tidak ada pilihan lain. Pesan Albert merupakan perintah baginya. Terlebih Albert sudah berjasa besar di dalam kehidupannya di masa lalu.
Sementara di mansion, Kenneth mengunci diri di dalam kamarnya. Dia gagal pergi ke kantor dan tidak juga mau datang menemui keluarga Samantha. Kelakuannya persis seperti anak kecil yang sedang mogok melakukan apa pun.
Berulang kali Stella meminta maid untuk menggedor pintu kamar putranya, tetapi tidak satu pun yang mampu membawa Kenneth keluar. Stella mencoba meminta bantuan Albert yang saat ini sedang rapat. Pria itu tidak mungkin meninggalkan rapatnya begitu saja.
"Bagaimana? Apa Kenneth mau keluar?" tanya Stella pada para maid.
"Tidak mau, Nyonya. Katanya dia tidak mau menikah dengan Nona Samantha. Dia hanya mau Nona Rhiana ada di sini lalu tinggal bersamanya."
Ini ide gila. Sejak kapan Kenneth berubah sikap seperti anak kecil yang menyebalkan seperti ini? Apa karena masa lalunya terlalu dekat dengan Rhiana? Atau, mungkin karena tekanan yang ditunjukkan Stella kepadanya? Selain itu, semua usaha Kenneth seperti tidak dihargai di mata Stella.
Stella sekali lagi mau mencoba meyakinkan Kenneth. Dia menghubungi ponsel anak tunggalnya, tetapi panggilan itu terus ditolak.
"Kenneth, tolong mengertilah mama!" teriak Stella dari luar kamar putranya. "Mama mau kau menikah dengan Samantha. Dia gadis yang baik dan sepadan dengan kita, Sayang. Tolong jangan buat mama cemas!"
"Aku tidak mau, Ma. Aku hanya mau Rhiana!" teriak Kenneth dari dalam kamarnya.
Stella semakin pusing. Bagaimana dia bisa menolak lamaran keluarga Samantha? Dia juga tidak bisa menerima Rhiana. Sementara putranya terus memohon agar hubungannya dengan Rhiana direstui.
Saat suasana sedang tidak kondusif, Samantha pun datang. Dia ingin tahu apa jawaban dari Kenneth. Namun, saat tahu lelaki itu mengunci diri di dalam kamar membuat Samantha merasa kasihan.
"Aunty, apa ini karena lamaran yang disampaikan keluargaku?" tanya Samantha.
"Iya, Sayang. Maafkan aunty belum bisa membuat Kenneth berpaling padamu. Entah, sihir apa yang dilakukan wanita itu kepada putraku? Ah, bukan hanya putraku, tetapi suamiku," jelas Rhiana dengan perasaan yang berkecamuk di dadanya.
__ADS_1