
Kenneth tersenyum sambil menikmati sandwich buatan istrinya. Walaupun di meja banyak makanan lain yang disuguhkan para maid, perhatiannya tidak akan pernah lepas dari sandwich istimewa.
Stella melihat tingkah aneh Kenneth. Sesekali memejamkan mata seolah makanan itu memang sangat enak tiada bandingannya.
"Kenneth, kau kenapa?" Rasa penasaran Stella yang cukup tinggi membuatnya tidak bisa menahan untuk tidak berbicara.
"Sandwich buatan istriku sangat nikmat dan enak sekali, Mam. Mama mau coba?"
Kenneth menyodorkan sandwich itu seolah menawarkan pada mamanya. Albert sendiri tersenyum melihat perkembangan pernikahan putranya. Walaupun sebenarnya Stella tidak suka dengan Rhiana, tetapi menantunya itu cukup piawai untuk mengurus rumah tangganya.
"Rhiana, bagaimana butikmu? Apa tidak sebaiknya dipindahkan ke sini saja?" tanya Albert.
Tidak mungkin memindahkan barang sebanyak itu. Terlebih gedungnya juga sudah milik pribadi. Jadi, sayang kalau harus keluar uang untuk memindahkannya. Lebih baik dia mencari orang kepercayaan yang bisa mengurusnya saat Rhiana tidak di sana.
"Tidak bisa, Pa. Nanti Rhiana cari orang saja untuk mengurusnya. Sementara aku akan datang ke sana seminggu sekali atau dua minggu tergantung keputusan Kenneth," jelas Rhiana.
Stella masih tidak suka. Padahal Rhiana adalah tipikal wanita mandiri. Jadi, tanpa menggantungkan uang dari putranya pun Rhiana masih bisa menjalani kehidupannya.
"Kenapa kau tidak kembali ke sana saja?" tanya Stella dengan nada datarnya.
"Mama, Kenneth sudah menjadi suaminya. Mana mungkin mereka akan tinggal terpisah? Kalau Mama tidak suka keberadaan Rhiana di sini, papa akan membelikan apartemen untuk mereka. Apa Mama mau berpisah lagi dengan Kenneth?" ancam Albert.
Kenneth dan Rhiana berpandangan. Albert terlihat jelas begitu menyayangi menantunya saat ini. Dia memang papa yang terbaik yang sudah dimiliki Kenneth.
"Papa benar, tetapi Kenneth hanya ingin hadiah honeymoon untuk kami," ucap Kenneth sehingga membuat Rhiana tersedak.
__ADS_1
"Kenneth! Kau mengejutkan Rhiana. Ambilkan minuman, Ma!" perintah Albert.
Stella mengambil segelas air minum yang tidak jauh dari tempatnya kemudian memberikannya pada Kenneth. Jelas saja Rhiana tersedak. Kalaupun honeymoon sekarang, apa yang akan mereka lakukan di sana? Sekadar jalan-jalan atau melakukan aktivitas ranjang yang sama sekali tidak bisa mereka lakukan?
Setelah meminum air putih dan merasa lega, Rhiana akhirnya menolak ajakan Kenneth untuk pergi berbulan madu.
"Maaf, Kenneth. Aku tidak bisa pergi ke mana pun selama sebulan ini. Banyak proyek gaun pengantin yang harus aku urus."
Stella pun senang saat putranya mendapatkan penolakan seperti itu. Itu artinya Rhiana enggan untuk disentuh suaminya. Baguslah, jadi Stella tidak perlu susah-susah mencari cara untuk memisahkan mereka.
Padahal Kenneth tahu kalau Rhiana seminggu ini tidak bisa diajak bermain-main di atas ranjang. Setelah tamu bulanan itu berakhir, Kenneth sudah berjanji pada dirinya untuk secepatnya memberikan kesempatan kepada Rhiana untuk memproduksi bayi bersama-sama.
Hari ini, setelah Kenneth dan Albert berangkat ke kantor, Rhiana membereskan meja makan seorang diri. Seperti disengaja oleh Stella untuk tidak memerintahkan maid membereskannya.
Beberapa makanan sisa dimasukkan ke dalam lemari pendingin. Setelah itu, dia mulai membereskan piring-piring kotor yang diletakkan di kitchen sink.
Rhiana diam. Dia masih melanjutkan pekerjaannya untuk menyelesaikan piring-piring kotor itu lalu diletakkan di raknya dengan rapi. Setelah selesai, dia mencuci tangan hingga mengelapnya sampai bersih.
Tatapan Stella terlihat sinis saat pandangannya beradu dengan Rhiana. Menantunya itu tidak banyak bicara hingga Stella mengeluarkan kata-kata yang membuat Rhiana meradang.
"Kalau kau menikah dengan putraku cuma butuh ketenaran, aku bisa melakukannya untukmu. Tapi, ingat! Jangan sampai kau hamil dengannya! Lebih baik kau pasang alat kontrasepsi karena aku tidak suka memiliki cucu darimu. Dan, jangan lupa bahwa dulunya kau hanya seorang pengasuh. Tidak lebih dari sekadar pelayan mansion juga, kan?"
Stella berani merendahkan Rhiana secara langsung saat Albert maupun Kenneth tidak berada di mansion. Ini memang kesempatan langka dan harus menunggu waktu yang tepat. Kalau kedua orang itu tahu, mereka pasti akan membela Rhiana.
Semula Rhiana ragu untuk melakukan malam pertama dengan Kenneth setelah masa menstruasinya berakhir. Namun, hinaan yang dilontarkan mama mertuanya membuat Rhiana berubah haluan.
__ADS_1
"Terima kasih, Ma. Aku tidak butuh ketenaran. Aku sudah memiliki ketenaran sebelum masuk ke mansion ini. Aku juga tidak akan melakukan apa pun yang Mama minta. Karena aku dan Kenneth sudah siap melakukan program kehamilan. Kami akan memiliki anak yang banyak sehingga Mama akan semakin pusing. Sementara Papa Albert akan mendukung putra semata wayangnya untuk melahirkan penerus dari keluarga Nathanael."
Satu paragraf cukup untuk membungkam mulut Stella. Wanita itu semakin geram melihat Rhiana berlalu tanpa memandangnya. Keberaniannya patut diruntuhkan. Stella harus mencari cara untuk membuat menantunya kalah lalu menyerah. Kemudian perlahan Rhiana akan meninggalkan Kenneth begitu saja.
Rhiana yang sudah berada di kamar Kenneth langsung menuju ke kamar mandi. Dia tidak menyiapkan air di dalam bathtub-nya, tetapi menghidupkan shower lalu mengguyur tubuhnya yang masih menggunakan baju. Dia berteriak sekencang mungkin hingga tidak ada orang yang mampu mendengarnya.
"Aku salah apa? Mengapa kau seperti itu padaku?"
Air mata Rhiana luruh begitu saja. Selama ini dia sudah hidup sebatang kara. Tidak ada orang tua apalagi sanak keluarga. Andaikan orang tuanya ada atau kerabatnya saja, pasti ada yang membelanya. Kalau sudah seperti ini, dia benar-benar sendirian. Namun, Kenneth dan Albert lah yang senantiasa menjadi pelindungnya.
Sementara di kantor, Kenneth tidak bisa berhenti memikirkan istrinya. Walaupun meeting sudah usai dan berjalan dengan lancar, tetapi dia masih saja belum beranjak dari tempat duduknya.
"Apa yang kau pikirkan, Kenneth?" tanya Albert memecah keheningan. Dia mencari putranya ke sana kemari, ternyata masih ada di ruangan meeting.
"Rhiana dan mama, Pa. Aku heran, kenapa mama sama sekali tidak pernah suka padanya?"
Albert menepuk pundak putranya. Dia kemudian duduk tepat di samping Kenneth.
"Mamamu hanya cemburu, Kenneth. Rhiana sudah lama menggantikan tugasnya sebagai seorang wanita yang mengasuhmu dengan sangat baik. Kedekatanmu dengan mama memang tidak sedekat kau dengan Rhiana. Papa yakin, perlahan mamamu pasti akan menyadari kekeliruannya."
Keyakinan Albert berbanding terbalik dengan Kenneth. Justru lelaki itu malah berpikiran bahwa mamanya akan terus berusaha menjauhkan Rhiana darinya.
"Aku takut mama berbuat nekat, Pa. Apalagi kebenciannya itu semakin hari semakin bertambah. Dia juga melarang Kenneth untuk tidak memiliki anak dari Rhiana. Ini kan aneh? Tujuanku menikah juga untuk menghasilkan keturunan."
Albert paham. "Biar papa yang akan bicara dengan mama. Kalau kau sudah tidak ada kesibukan, pergilah berbulan madu! Bawa kabar baik saat kau kembali. Kau mau pergi ke mana?"
__ADS_1
Kenneth sama sekali belum tahu harus ke mana. Namun, tempat favorit Rhiana adalah villa atau hotel yang membuatnya merasa nyaman dan bisa berenang di sana. Itu sudah lebih dari cukup untuk ukuran wanita seperti Rhiana.