
Rhiana sudah masuk ruang rawat. Setelah Samuel membawanya ke sana, pihak rumah sakit langsung menanganinya. Tidak lama, Rhiana sudah sadar sehingga dia pun dipindahkan ke ruang rawat.
Samuel dan salah satu maid masih berada di depan bangsal rawat Rhiana. Tidak lama, Kenneth pun datang dengan salah satu maid. Kenneth langsung ke bangsal yang dituju setelah mendapat informasi dari Samuel.
"Sam, bagaimana kondisi istriku?" Kepanikan masih terlihat jelas di wajahnya.
"Nyonya sudah siuman. Kalau Anda ingin melihatnya, silakan saja. Ada di dalam," ujar Samuel.
Kenneth lekas membuka pintu dan tatapan keduanya beradu. Rhiana tersenyum membuat Kenneth semakin kesal.
"Sayang, kau kenapa? Aku sangat cemas sekali. Bagaimana kondisimu? Bagaimana bayi kita?"
"Aku baik-baik saja, Kenneth. Bayi kita juga kuat. Mungkin aku hanya kelelahan saja. Masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Mungkin hanya itu. Dokter memintaku untuk bedrest. Jadi, aku harus benar-benar menurut apa katanya."
"Pasti karena mama, kan? Lebih baik lepaskan saja pekerjaanmu untuk menjadi desainer mama itu. Kau sedang hamil. Harusnya Mama tahu diri akan hal itu. Kalau terjadi apa-apa dengan calon cucunya, nanti dia mengomel."
"Tapi, Kenneth–"
"Jangan membantah! Kau harus istirahat dulu. Biar mama akan kuurus. Percayalah. Dia tidak akan marah dengan keputusanku."
Stella melihat banyak panggilan masuk ke ponselnya. Saat ini dia berada di ruangan khusus pemilik butik, siapa lagi kalau bukan Rhiana? Ruangan itu sengaja dibuat luas agar Rhiana nyaman bekerja.
Stella menelepon kembali. Dia tahu kalau itu nomor panggilan dari mansion, tetapi mengapa sebanyak itu? Apa sebenarnya yang terjadi?
"Halo, Nyonya. Akhirnya Anda menghubungi kembali," ucap maid.
"Ada apa? Aku sibuk mengurus persiapan butik yang akan segera launching."
"Nyonya Rhiana dilarikan ke rumah sakit. Dia pingsan di kamarnya."
"Apa? Rhiana pingsan?"
"Ya, Nyonya. Samuel dan beberapa maid sudah membawanya ke rumah sakit. Sejak tadi kami kesulitan sekali menghubungi tuan Kenneth maupun tuan Albert."
"Baiklah. Aku matikan dulu teleponnya. Aku langsung pergi ke rumah sakit."
Rupanya Stella juga sangat khawatir. Tentu saja. Ada aset yang harus dijaga, yaitu cucunya.
Cuma butuh waktu beberapa menit saja. Kini Stella sudah berada di ruang rawat Rhiana karena dia langsung menerobos masuk.
"Mama?" ujar Kenneth terkejut.
"Maafkan mama, Sayang. Urusan butik rupanya tidak semudah yang mama bayangkan. Bagaimana kondisimu, Rhiana?"
__ADS_1
"Sudah mendingan, Ma. Aku hanya kelelahan saja."
"Ma, lebih baik Mama cari desainer lain saja. Kasihan Rhiana. Dia kelelahan untuk mengurus launching dan beberapa desain untuk Mama. Biarkan Rhiana cuti mengurus Mama selama hamil. Dokter memintanya untuk bedrest. Jadi, urusan butik biar Mama yang pegang," jelas Kenneth.
"What? Mama pegang butik? Mama tidak punya banyak pengalaman, Sayang. Biar papa atau kamu saja yang urus."
"Sayang, jangan paksa Mama. Mengurus butik memang tidak segampang itu. Kamu saja yang urus butik sementara aku bedrest. Kita bisa kerjasama, Sayang."
"Nah, Rhiana benar. Oh ya, bagaimana kabar cucu mama? Baik-baik saja, kan?"
Stella beralih ke samping brankar pasien. Di sana, dia duduk sambil mengamati wajah menantunya yang masih terlihat pucat.
"Kau yakin baik-baik saja, Sayang?" tanya Stella lagi.
"Iya, Ma. Aku hanya lelah saja. Aku minta maaf, Ma. Beberapa desain gaun Mama belum selesai."
"Sayang, jangan pikirkan itu. Kita kan sudah sepakat," tegur Kenneth.
"Iya, tidak apa-apa, Sayang. Fokuslah pada kehamilanmu. Mama minta maaf sudah membuatmu menjadi seperti ini. Mama janji akan lebih perhatian lagi padamu." Stella menggenggam erat tangan menantunya. Dia teringat kebaikan mama mertuanya saat mengandung Kenneth. Sangat baik sekali, bahkan Stella tidak diizinkan untuk mengerjakan pekerjaan rumah.
"Mama nggak salah, kok. Cuma mungkin efek kelelahan saja."
Sejak Rhiana sakit, Stella harus mengalah. Dia bekerja mengurus butik sampai pembukaan butik itu diadakan. Rhiana hanya beberapa hari berada di rumah sakit, tetapi dia masih sanggup menyelesaikan satu gaun rancangannya. Walaupun Kenneth sudah melarang.
"Aku heran padamu, Sayang. Mengapa kau sangat keras kepala sekali," ungkap Kenneth.
"Karena aku mencintai kalian. Mama, papa, kau, dan bayi kita. Mama sudah bekerja dengan baik mengurus butik. Sebagai apresiasinya, aku harus menyerahkan gaun ini pada mama."
Walaupun Rhiana yang mendesain, tentunya akan ada karyawannya yang mengerjakan gaun itu hingga selesai. Nah, sebelum pembukaan butik diadakan, siang ini Rhiana menunggu kurir yang mengantarkan gaun untuk mama mertuanya.
"Rhiana, ada paket untukmu!" teriak Stella dari luar kamar.
Stella sudah menjelma sebagai mama mertua yang baik. Bukan karena tepaksa, tetapi karena Stella sudah pernah mendapatkan kebaikan mama mertuanya.
Rhiana keluar. Dia masih belum bersiap karena acara akan dilangsungkan sore menjelang malam.
"Ma, itu bukan buat Rhiana. Untuk Mama," ujarnya sebelum Stella pergi.
"Untuk mama? Memangnya apa itu?"
"Ayo, kita lihat sama-sama, Ma," ajak Rhiana yang diikuti Kenneth di belakangnya.
Satu box premium, berwarna hitam, berpita emas, dan terdapat logo butik milik Rhiana. Ya, sejak menikah dengan Kenneth, Rhiana mengganti nama butiknya menjadi butik RK. Butik milik Rhiana dan Kenneth.
__ADS_1
"Jadi, ini gaun untuk mama?" tanya Stella.
"Tentu. Sesuai request Mama, bukan? Mam suka?"
"Ah, ini sangat luar biasa, Sayang. Mama jadi ingin segera menggunakannya." Stella sangat bahagia hingga mencoba menempelkan gaun itu di tubuhnya.
"Mama terlihat sangat cantik," puji Kenneth.
"Mama kan memang cantik. Kau saja yang tidak pernah peduli sama kecantikan mama."
Mereka menertawakan mamanya. Ini merupakan kejadian yang langka. Seandainya Albert tahu tentang kebahagiaan Stella kali ini, pria itu akan memeluk mereka semua.
Sore hari, seperti waktu yang sudah ditentukan. Seluruh anggota keluarga sedang bersiap. Albert baru saja pulang dari kantor.
"Ada apa ini? Mama terlihat sangat bahagia sekali," ucap Albert saat baru masuk ke kamar. Melihat sang istri terus saja memandangi satu gaun yang ada di sebuah box.
"Rhiana menghadiahi mama gaun indah ini, Pa. Mama jadi tidak sabar dan ingin segera menggunakannya."
Albert tersenyum puas. Dia merentangkan tangan untuk menyambut istrinya lalu memeluk wanita itu.
"Kau bahagia, bukan? Pemikiran Kenneth bukan hanya pada rasa cintanya terhadap Rhiana, tetapi dia mampu membahagiakan seluruh anggota keluarga. Coba kalau istri Kenneth adalah gadis manja. Aku yakin kalau kau akan semakin setres."
"Terima kasih, Papa. Kau benar. Rhiana adalah menantu terbaik kita. Maaf, terkadang aku terlambat menyadari."
"Tidak apa-apa, Sayang."
Sementara Rhiana dan Kenneth saat ini berada di kamar. Rhiana menyiapkan beberapa jas yang akan digunakan untuk suaminya. Bukan untuk dikeluarkan semua, tetapi untuk memilihnya satu per satu.
"Mana jas yang cocok akan kugunakan malam ini?"
"Warna biru. Aku juga akan menggunakan gaun warna biru."
"Hemm, baguslah. Setelah ini, ada apalagi?"
"Gender reveal party. Kurasa tidak perlu mengadakan itu. Aku sangat lelah kalau sampai itu dilakukan. Mempersiapkan pembukaan butik saja aku merasa lelah."
"Kemarilah!" Kenneth lalu memeluk istrinya dengan lembut. Dia juga mengecup kening lalu beralih pada bibir sang istri. "Aku mencintaimu, Sayang. Terima kasih sudah menjadi kebahagiaan untuk seluruh anggota keluarga di mansion ini. Mama juga sangat bahagia."
"Aku juga berterima kasih padamu, Sayang. Rasanya memang lucu. Terkadang aku tidak sanggup menjalani kehidupan seorang diri. Terima kasih sudah hadir dalam kehidupanku."
Rhiana membalas kecupan suaminya hingga berakhir dengan ciuman yang semakin membara. Kini keduanya sudah mengakui perasaannya masing-masing. Rhiana pun tidak akan pernah punya niat untuk berpisah dari sang suami. Apa pun keadaannya, dia akan tetap bertahan.
__ADS_1