
Hidup Kenneth terasa begitu rumit. Baru menjalani kehidupan mandiri selama beberapa hari, papanya menelepon. Dia meminta Kenneth untuk pulang. Mamanya sedang dirawat di rumah sakit.
Mendapatkan pekerjaan menjadi pelayan restoran tidaklah mudah. Dia harus bersaing dengan beberapa orang, tetapi saat ini Kenneth berada di persimpangan. Bertahan untuk Rhiana, atau kembali ke mansion menemui mamanya.
Saat dilema sedang menghantui, Kenneth berniat mengambil pakaiannya dari loker. Dia sempat bertemu dengan rekan kerjanya.
"Kau kenapa tidak langsung masuk? Bukankah sekarang sudah waktunya shift-mu?"
"Aku dilema. Orang tuaku sedang sakit, sementara aku di sini sedang memperjuangkan pekerjaan dan cintaku," jelas Kenneth.
Rekan kerjanya tersenyum. "Aku pernah berada di posisi sepertimu. Pekerjakan dan kekasih bisa dicari, tetapi bertemu dengan orang tua, tidak akan ada kesempatan lagi jika tidak kau segerakan. Percayalah, semua akan berjalan lancar jika kau lebih memilih orang tuamu."
Itu terdengar seperti sebuah nasihat dan hukuman. Rasanya sangat sesak sekali. Dia tidak bisa menunggu lama untuk berpamitan pada Rhiana. Ucapan rekannya benar. Stella merupakan bagian terpenting dari hidupnya. Sementara Rhiana, urusan itu akan dilanjutkan setelah mamanya sembuh.
Kenneth menepuk pundak kawannya. "Terima kasih. Kau memberikan aku pencerahan."
Kenneth menghadap ke manager restoran. Dia pamit untuk tidak melanjutkan pekerjaan ini. Sebenarnya manager masih sangat berharap Kenneth membatalkan keputusannya, tetapi saat alasannya adalah orang tua, manager tidak bisa menahannya terlalu lama.
"Pergilah! Jaga dirimu baik-baik. Mengenai gajimu beberapa hari, langsung akan diberikan hari ini juga. Aku akan menghubungi bagian keuangan untuk membayarkan gajinya padamu."
"Baik, Tuan. Terima kasih."
Tidak perlu menunggu lama, bagian keuangan memberikan satu buah amplop berisi uang. Walaupun baru beberapa hari, Kenneth merasa bangga mendapatkan gaji pertamanya. Uang itu tidak akan diberikan kepada orang tuanya, tetapi akan disimpan sebagai pembuktian kepada Rhiana bahwa dia bisa dan mampu bekerja dengan usahanya sendiri.
Menjelang siang hari, Albert merasa cemas. Dia takut kalau Kenneth akan mengabaikan Stella. Walaupun kondisi Stella sudah lebih baik, tetapi istrinya itu tetap akan menunggu kedatangan Kenneth. Dia baru mau pulang dari rumah sakit saat Kenneth sudah berada di hadapannya.
Ini bukan hanya sekadar rencana. Stella sakit di saat yang tepat. Dia memang sangat memikirkan taruhan yang dilakukan bersama Albert. Stella tidak boleh kalah darinya.
"Sayang, dokter mengatakan kalau kau sudah baik-baik saja. Kita bisa pulang sekarang," ajak Albert.
"Tidak. Aku hanya akan pulang saat Kenneth menjemputku. Kalau dia tidak datang, aku akan tetap tinggal di sini."
Stella sangat keras kepala. Albert tidak bisa membujuknya selain harus mendatangkan Kenneth. Dia mengambil ponsel berniat untuk menghubungi Kenneth kembali. Setidaknya Albert mendapatkan kepastian bahwa putranya itu akan datang.
Albert kesal. Panggilannya sama sekali tidak diangkat. Tiba-tiba pintu diketuk oleh seseorang. Ini bukan waktunya dokter untuk visit pasien, bukan juga suster mengantarkan makan siang. Ternyata Kenneth datang.
__ADS_1
"Hei, Boy. Akhirnya kau datang juga," ucap Albert semringah.
"Aku takut kalau Papa akan kalah dengan Miss World yang satu ini," canda Kenneth.
Stella manyun. Dia seperti berperang melawan dua pria yang visi dan misinya bertolak belakang. Namun, dia tidak bisa menyerah begitu saja. Kenneth harus dalam genggamannya demi memenangkan pertaruhan yang sudah disepakati bersama Albert.
"Aku tidak mau pulang jika kau tidak datang," ucap Stella penuh dengan keyakinan.
"Hemm, kurasa aku tahu kenapa Miss World ini tidak mau pulang." Kenneth mendekati brankar mamanya.
"Apa?" tanya Albert.
"Pasti dokternya di sini lebih tampan dari Papa. Iya, kan?"
Kenneth menggoda mamanya. Sebenarnya dia sudah tahu dari dokter yang merawat Stella jika hari ini dia sudah boleh pulang, tetapi tidak mau dengan alasan menunggu putranya. Makanya Kenneth tidak terlalu khawatir.
"Eh, mana bisa begitu? Itu tidak benar! Mama dari dulu sampai sekarang selalu love Papa," jawab Stella.
Kenneth memberikan kode pada papanya untuk memanyunkan bibirnya.
"Albert, jangan keterlaluan!" cibir Stella.
Setelah melalui diskusi panjang lebar, Stella pun mau pulang. Namun, dia memiliki syarat agar Kenneth menggelar ulang tahunnya yang hanya tinggal beberapa hari. Syarat lainnya, yaitu Stella akan mengundang Serry dan Samantha.
"Terserah Mama," ucap Kenneth akhirnya.
Kenneth harus bisa menghadirkan Rhiana di hari spesialnya itu. Agar Stella tidak lagi memaksanya untuk menyetujui perjodohan konyol dengan salah gadis pilihan mamanya.
Mobil Albert dibawa sopir, sedangkan Stella dan Albert menaiki mobil putranya menuju ke mansion. Sepanjang perjalanan, Stella tidak bisa diam. Dia ingin tahu ke mana Kenneth pergi selama ini.
"Sebenarnya kau pergi ke mana? Mama kesal saat Jane marah-marah di mansion," ucap Stella.
"Aku pergi untuk bekerja—"
"Apa? Kau bekerja?" Stella memotong ucapan Kenneth.
__ADS_1
"Ma, dengarkan Kenneth dulu!" tegur Albert.
"Hemm, baiklah. Jadi, kau bekerja di mana?" tanya Stella akhirnya.
Kenneth menceritakan kisahnya saat menjadi pelayan restoran, bukan hubungannya dengan Rhiana. Bisa-bisa Stella syok mendadak.
Stella mendengar dengan seksama. Dia tidak menyangka kalau Kenneth mau melakukan hal yang sangat biasa itu. Sebenarnya masih ada yang mengganjal di benak Stella, tetapi dia tidak mau mengutarakannya.
"Papa mau bawa Mama ke kamarnya, atau aku saja?" tanya Kenneth.
"Biar Papa saja. Kau pergilah ke kamarmu!" perintah Stella.
Stella hanya ingin berbicara empat mata dengan Albert. Rasa penasaran yang begitu tinggi kepada putranya dan kekhawatiran akan gadis yang tidak sesuai dengan kriterianya. Itu harus dibicarakan dengan Albert.
"Kenapa kau menolak Kenneth?" tanya Albert setelah membaringkan tubuh istrinya ke ranjang.
"Aku ingin bicara denganmu, Albert. Aku masih tidak percaya kalau Kenneth berubah secepat itu. Pasti ada pemicunya. Tidak bisakah kau selidiki Kenneth?"
Albert tersenyum. Stella sangat keterlaluan. Dia harus menaruh curiga kepada putranya sendiri. Albert menepuk pundak istrinya.
"Aku tidak bisa. Biarkan dia seperti itu! Kalaupun dia sudah memiliki gadis untuk diperkenalkan kepada kita, maka mintalah padanya. Namun, aku tidak akan mau menaruh curiga kepada putraku sendiri," tegas Albert.
"Oke, aku menyerah. Panggilkan dia! Aku mau bicara padanya." Stella merasa lelah berdebat tanpa henti dengan Albert.
Kenneth sedikit curiga saat papanya memanggil. Pembicaraan ini pasti tidak akan jauh-jauh dari para gadis itu. Kenneth harus menyiapkan jawaban yang tepat untuk menolaknya.
"Oke, mama tidak akan basa-basi lagi. Jadi, kapan kau akan memperkenalkan mama dengan gadis itu?" tanya Stella.
Stella kali ini harus mendengarkan Albert. Perubahan sikap Kenneth selama ini pasti ada sebabnya. Tidak mungkin berubah begitu saja.
"Kapan Mama menginginkannya?" Inilah yang harus dilakukan Kenneth. Kepastian dari mamanya.
"Pesta ulang tahunmu. Hadirkan di sana!" jawab Stella.
Kenneth menarik napas panjang kemudian menghembuskannya. Dia tidak bisa berjanji apa pun, tetapi akan mengusahakannya.
__ADS_1