
Beberapa hari kemudian, Rhiana merasa ada yang hilang dari hidupnya. Terasa lucu memang, tetapi kenyataannya demikian. Rhiana lebih banyak melamun di ruang kerjanya. Beberapa hari yang lalu, ada lelaki yang menjadikannya seorang kekasih. Berulang kali menolak, tetapi lelaki itu dengan gigihnya meyakinkan Rhiana.
Sekarang, setelah semuanya jelas, Kenneth menghilang tanpa pesan. Seharusnya Rhiana tidak menerimanya ketika harus dipatahkan seperti ini. Lalu, tidak ada lagi kiriman makanan ke butiknya setelah penolakannya kala itu.
"Ada apa denganku? Apa aku sudah terbiasa dengan kehadirannya? Oh, Rhiana. Jangan lakukan ini, kumohon!" gumam Rhiana.
Mendekati waktu makan siang, Rhiana pamit pada karyawan kepercayaannya. Dia ingin pergi lebih lama dari biasanya. Tujuannya pergi ke restoran lalu berbincang sebentar dengan Kenneth.
"Baik, Nona. Kalau ada sesuatu yang penting, aku akan mengabari Anda."
"Terima kasih," ucap Rhiana.
Irama jantungnya bergetar hebat saat memasuki area parkir restoran. Terkadang menjadi wanita yang memiliki sisi galak juga sangat penting, tetapi saat ditinggalkan seperti ini terasa aneh. Rhiana seperti gadis muda yang mencari keberadaan kekasihnya.
Alih-alih memesan makanan, justru dia memindai ke seluruh ruangan. Duduknya tidak tenang ketika berada di dalam. Ini bukan Rhiana yang tegas, tetapi seperti Rhiana yang sedang kerasukan jiwa gadis muda.
"Maaf, Nyonya. Apa sudah bisa langsung pesan?" tanya pelayan.
"Ehm, sebelum pesan boleh aku bertanya?" Rhiana ingin memastikan bahwa Kenneth masih bekerja di sini.
"Silakan, Nyonya. Semoga aku bisa menjawabnya."
"Oh ya, beberapa hari yang lalu ada karyawan baru, laki-laki. Nah, di mana sekarang? Aku sama sekali tidak melihatnya." Rhiana kemudian menoleh ke sana kemari untuk mendapatkan keberadaan Kenneth.
"Oh, lelaki yang tampan itu, ya?"
Rhiana mengangguk saja. Dia tidak tahu ada berapa banyak wajah tampan di restoran ini.
"Oh, dia sudah resign beberapa hari yang lalu."
__ADS_1
Rhiana terkejut. "Ke-kenapa resign?"
"Katanya orang tuanya sakit. Dia tidak bisa berada di sini terlalu lama. Hanya itu, Nyonya. Jadi, apakah Anda bisa pesan sekarang? Maaf, restoran sedang ramai," ucap pelayan merasa bersalah. Dia takut kalau tidak bisa memberikan pelayanan kepada yang lainnya.
Segera setelah pemesanan makanan itu usai, pelayan meninggalkan Rhiana sendiri. Rhiana tidak seharusnya merasa kehilangan seperti ini. Justru harus bersyukur karena Rhiana tidak akan merasa terganggu lagi.
Duduk termenung sambil menunggu makanan datang, Rhiana mengingat sesuatu. Setelah sekian lama tidak mengingatnya sama sekali, tetapi setelah Kenneth bertemu lalu menghilang, Rhiana pun mengingatnya kembali.
"Ah, aku lupa. Besok adalah ulang tahun anak nakal itu. Pantas saja dia kembali. Aku yakin, dia tidak mau melewatkan acara pentingnya," lirih Rhiana.
Jika Kenneth memandangi wajah Rhiana saat ini, lelaki itu pasti akan tersenyum kegirangan. Setelah lama dilupakan, kini diingat kembali. Ah, begitu rumit permainan takdirnya.
Kenneth yang saat ini berada di mansion, dia sedang bersiap. Sebenarnya rencana untuk menjemput Rhiana itu tidak masuk ke dalam list ulang tahunnya esok hari. Namun, papanya yang meminta Kenneth untuk menjemput siapa pun gadis yang sudah membuat Kenneth berubah sejauh ini.
"Aku tidak tahu sebenarnya siapa gadis itu, tetapi aku merasa kalau Rhiana memiliki duplikat. Ehm, maksudku seolah Rhiana hadir kembali di dalam keluargaku, tetapi tidak mungkin dirinya. Kurasa Rhiana sudah memiliki keluarga, jadi aku semakin penasaran dengan gadis ini," lirih Albert di ruang kerjanya.
Albert mengira ada orang lain selain Rhiana. Kenneth tidak akan mungkin jatuh cinta pada wanita beda usia. Itu sudah cukup menjadi keyakinan Albert. Terlebih Rhiana mungkin sudah menikah dan memiliki anak. Jadi, Albert meminta Kenneth untuk pergi dengan alasan rasa penasarannya yang begitu tinggi. Selain itu, Stella pasti akan berteriak histeris karena kalah dari Albert.
"Ouh, aku sudah gila! Harusnya aku tidak menganggap serius ucapan Kenneth. Lagi pula, aku bukan siapa-siapa baginya. Mengapa aku harus bersedih? Oh ayolah, Rhiana! Jangan bersedih. Masih banyak pekerjaan yang harus kau selesaikan." Rhiana menyemangati diri sendiri.
Saat Rhiana sedang berperang dengan perasaannya, di luar ruangan sedang terjadi keributan. Ya, Kenneth datang lalu ingin bertemu dengan Rhiana. Namun, karyawannya sama sekali tidak mengizinkan. Hal itu dikarenakan Rhiana ingin menyendiri. Mereka takut jika Rhiana akan marah.
"Lebih baik Anda tidak masuk. Nona ingin sendirian. Kalau Anda memaksa masuk, dia pasti akan marah besar kepada kami." Karyawan itu memohon dengan wajah yang terlihat sedih dan takut tentunya.
"Kumohon izinkan aku. Ada hal penting yang ingin kusampaikan padanya. Ini tentang masa lalu Nona Anda," ucap Kenneth beralasan.
Tidak mungkin Kenneth akan mengatakan bahwa akulah kekasihnya. Bisa-bisa para karyawan itu langsung jatuh pingsan karena tidak percaya. Mana mungkin anak kemarin sore memiliki kekasih seperti Rhiana yang notabene sudah sukses seperti sekarang ini. Pasti mereka akan memandang rendah Kenneth dengan alasan mencari uang dari wanita-wanita berumur yang sukses.
"Ba-baiklah, Tuan. Kami hanya minta tolong, jangan sampai Nona marah kepada kami," pesan karyawan itu sebelum Kenneth masuk.
__ADS_1
"Kalian jangan khawatir. Biar aku yang berbicara padanya. Aku yang memaksa kalian untuk membiarkan masuk ke sana. Tenang saja," ucap Kenneth yakin.
Kenneth mengetuk pintu. Rhiana mengira jika itu karyawannya yang ingin menghadap karena ada sesuatu yang penting. Bergegas Rhiana menuju ke pintu lalu membuka pintunya. Dia sengaja menguncinya dari dalam agar privasinya terjaga.
"Kenneth?" ucap Rhiana saat melihat kekasihnya berdiri tepat di hadapannya.
"Boleh aku masuk?"
"Tentu. Silakan!"
Kenneth merasa sedang terjadi sesuatu pada Rhiana. Rhiana sama sekali tidak marah, memaki, atau apa pun itu. Rhiana juga mempersilakan Kenneth untuk duduk di depan mejanya.
"Kau baik-baik saja, Sayang?" tanya Kenneth tanpa basa-basi.
"Lupakan panggilan konyolmu itu! Kenapa kembali lagi?" Rhiana seperti sedang kesal padanya.
"Aku berhenti bekerja dari—"
"Dasar bodoh! Kenapa tidak mengabari aku?" Rhiana memotong ucapan Kenneth.
Kenneth tersenyum. Harusnya dia memberikan cermin kepada Rhiana. Dia terlihat sangat marah, kesal, dan mungkin cemburu.
"Kupikir aku tidak perlu mengabari dirimu. Kau pasti akan marah-marah tidak jelas kepadaku. Ayolah, Sayang! Aku bukan Kenneth yang nakal. Aku laki-laki dewasa yang akan memberikan seluruh kebahagiaan untukmu." Kenneth merayu Rhiana.
"Bodoh! Kau sudah pengangguran sekarang. Mana bisa membahagiakan aku? Yang ada, aku yang malah menafkahimu," cibir Rhiana.
Tunggu! Apa katanya? Menafkahi? Rasanya Kenneth harus pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan kondisi telinganya yang sedang tidak baik-baik saja.
Ups, Rhiana menutup mulutnya sendiri. Dia merasa kehilangan kendali saat bersama Kenneth. Entahlah, ini semacam naluri seorang wanita atau bagaimana? Rhiana pun bingung sendiri.
__ADS_1
"Tidak, bukan begitu maksudku, Rhiana. Aku datang ke sini untuk menjemputmu. Kita akan pergi ke mansion untuk merayakan pesta ulang tahunku. Lalu, aku akan memperkenalkanmu pada orang tuaku."
Seketika Rhiana tidak mampu berkata-kata. Inilah yang akan menjadi akhir dari hubungan mereka. Stella tidak akan setuju dengan keputusan Kenneth, tetapi Rhiana bingung harus mencari alasan apa untuk menolaknya? Atau, lebih baik dia pergi dan mendapatkan kekecewaan untuk yang kesekian kalinya. Walaupun Rhiana juga sudah tahu hasil akhirnya akan seperti apa.