Mencintai Pengasuhku

Mencintai Pengasuhku
Bab 41. Pusing Kepala


__ADS_3

Kenneth mendapat kabar bahwa beberapa minggu lagi harus pergi ke luar negeri. Salah tau temannya berniat mengadakan reuni sehingga mereka yang sudah menikah pun diizinkan untuk ikut.


"Kenapa terlihat bahagia seperti itu?" tanya Rhiana.


"Kita akan pergi ke luar negeri untuk menghadiri reuni yang diselenggarakan oleh temanku. Kau mau ikut?"


Sepertinya Rhiana harus menunda untuk ikut. Albert sudah memberitahukan bahwa butiknya akan segera pindah. Nah, bertepatan dengan hari di mana Kenneth berniat mengajaknya pergi.


"Tidak bisa, Kenneth. Aku sibuk mengurus butik. Apalagi papa juga minta launching di hari yang sama. Aku juga harus menyiapkan gaun untuk mama. Kau tahu, hubungan kita akan langgeng jika mama sudah merestui. Aku takut mengecewakan mama. Kalau kau mau pergi, pergi saja sendiri," tegas Rhiana.


Mana bisa seperti itu? Rhiana dan Kenneth adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Bagaimana kata teman-teman Kenneth nanti? Kabar menikahnya Kenneth sudah sampai ke telinga mereka. Mana bisa pergi tanpa istrinya?


Kenneth melepaskan jasnya. Dia berniat pergi ke kantor, tetapi harus merayu istrinya lebih dulu.


"Please, Sayang. Ikut, ya? Aku akan mengajakmu jalan-jalan di sana."


Rhiana menggeleng. Dia mengambil jas suaminya untuk dipakaikan kembali.


"Lebih baik pergi ke kantor. Papa dan mama pasti kesal kalau kau bermalas-malasan. Ingat, apa kau tidak bercita-cita membelikan aku rumah tinggal? Sampai kapan kita hidup menumpang seperti ini?"


Rhiana ingin hidup terpisah. Dia merasa harus mandiri. Berada di lingkungan mertua rasanya tidak senyaman tinggal sendiri.


"Kita tidak akan pergi ke mana-mana. Aku anak tunggal. Mama pasti tidak mengizinkan."


"Kenneth, dengarkan aku!" pinta Rhiana.


Kenneth keluar kamar hingga Rhiana tak bisa mengejarnya lagi.


"Apa aku salah kalau ingin hidup terpisah dari keluarga? Setidaknya aku bisa melakukan apa pun yang aku mau tanpa merasa tidak nyaman," gumam Rhiana.


"Kenapa wajahmu ditekuk seperti itu?" tanya Albert saat keduanya berada di mobil menuju ke kantor.


"Rhiana ingin keluar dari mansion, Pa. Aku tidak mau."


"Apa alasannya?"


"Ingin mandiri, tidak bergantung pada keluargaku, dan dia mengharapkan aku memiliki rumah sendiri."

__ADS_1


"Hemm, tidak masalah. Papa setuju. Berapa banyak tabunganmu untuk bisa membeli rumah? Minimal apartemen. Apa kau lupa kalau istrimu sudah memiliki apartemen dan butik sendiri? Setelah dijual, uangnya pasti disimpan. Sebagian lagi akan digunakan untuk modal usaha. Wajar saja kalau dia minta tinggal sendiri."


Baru saja mengemudi beberapa meter, tiba-tiba Kenneth menepikan mobilnya. Beberapa hari terakhir ini dia sering pusing tanpa sebab. Dia juga istirahat tepat waktu.


"Kenapa, Kenneth? Apa yang kau rasakan?"


"Akhir-akhir ini kepalaku sering sakit, Pa. Padahal aku juga tidak terlalu lelah. Apa aku sakit?" Kenneth panik.


Baru saja bahagia dengan pernikahannya. Apakah harus berakhir menyedihkan?


Albert menukar posisinya. Dia yang mengemudikan mobil membawa Kenneth pergi ke rumah sakit.


"Kenapa Papa langsung membawaku ke rumah sakit?"


"Kita tidak tahu apa penyakitmu. Lebih cepat tahu akan lebih baik, bukan?"


Ucapan Albert rupanya semakin membuat Kenneth dilema. Jika dia sakit, sanggupkah menemani Rhiana hingga hari tuanya nanti? Bagaimana jika umurnya tidak bertahan lama? Istrinya akan menjadi janda lalu menikah dengan pria lain. Saat itu Kenneth sudah jauh pergi meninggalkan istri dan keluarganya.


Tidak, aku harus sembuh. Papa benar. Lebih cepat ketahuan penyakitku akan semakin baik. Papa akan memberikan pengobatan terbaik jika itu memang perlu.


"Kenapa berhenti?" tanya Albert saat tahu Kenneth berada beberapa langkah di belakangnya. Ya, Albert menoleh sejenak.


"Apa Papa yakin akan melakukan ini? Ehm, maksudku dengan memeriksakan aku. Bagaimana kalau penyakitku itu sangat ganas dan siap merenggut nyawaku."


Albert menyentil kening Kenneth. "Dasar bodoh. Sudah dibilang lebih baik mencegah daripada mengobati!"


Kenneth pun akhirnya menurut saja. Dilakukan CT scan pada kepalanya karena beberapa keluhan yang disampaikan oleh Kenneth.


Menurut dokter, hasilnya baik-baik saja. Kenneth juga tidak mengalami hal yang begitu mengerikan.


"Serius, Dok? Tapi mengapa aku sering sakit kepala? Maksudku, kadang seperti orang pusing tanpa sebab. Istirahatku juga cukup," jelas Kenneth masih tidak percaya. "Dokter mungkin bisa lakukan cek ulang. Barangkali alatnya mengalami kesalahan teknis saat aku masuk ke sana."


"Itu tidak mungkin, Tuan Kenneth. Anda memang baik-baik saja. Mungkin Anda terlalu setres. Bisa juga sedang memikirkan sesuatu yang berat. Kusarankan agar Anda berlibur atau beristirahat. Jauhkan pikiran Anda dari hal-hal yang membuat Anda semakin tertekan. Jika itu bisa mengurangi sakit kepala Anda, berarti Anda memang sedang setres."


Ada lega di benaknya, tetapi juga ganjalan kecil. Kenneth juga merasa tidak setres. Lalu, sebenarnya apa yang terjadi?


"Terima kasih, Dokter. Nanti aku akan meminta putraku untuk pergi berlibur," ucap Albert.

__ADS_1


"Iya, Tuan Albert. Untuk kesehatan, tidak ada salahnya meluangkan waktu sejenak. Jika tidak ada, mungkin bisa memanggil instruktur yoga untuk mengurangi setres dengan bermeditasi sejenak."


Albert memutuskan untuk tidak pergi ke kantor. Biarkan saja kantor diurus oleh karyawannya. Kesehatan Kenneth jauh lebih penting.


"Kita pulang lagi, Pa?"


"Ya. Papa tidak ingin membuatmu setres. Apa kau lelah dengan pekerjaan kantor?"


Sama sekali bukan itu. Kenneth selalu menjalankan pekerjaannya dengan baik. Dia juga tidak merasa setres ataupun tertekan.


"Pa, jangan katakan apa pun pada Rhiana. Kalau dia tanya, Papa cukup jawab kalau aku kurang enak badan. Itu saja. Aku malah takut Rhiana jadi memikirkan aku."


"Itu tugasmu, bukan papa. Paling papa akan diinterogasi mama. Kenapa papa tidak pergi ke kantor?"


Rupanya Stella dan Rhiana memiliki kebiasaan yang sama. Pantas saja akhir-akhir ini mereka akur dan tidak ada masalah sama sekali.


"Papa? Kenneth? Kalian pulang lagi?" tanya Stella saat tahu kedua jagoannya masuk.


"Iya, Ma. Kami memutuskan untuk berada di mansion menemani istri kami," jawab Albert untuk menyelamatkan dirinya sendiri.


"Ah, Papa romantis sekali. Sudah lama Papa tidak memanjakan mama." Stella terlihat sangat genit.


Sementara Kenneth yang berniat masuk ke kamarnya, ternyata Rhiana yang keluar lebih dulu.


"Kenneth? Kau tidak ke kantor? Kenapa? Ada masalah apa? Apa kau sakit?"


Justru Rhiana lah yang terkesan semakin cerewet kali ini. Dia tidak bisa membiarkan sesuatu terjadi pada suaminya. Beruntung Rhiana tidak tahu papa dan mamanya baru saja masuk. Kalau tahu, bisa gawat dan malu sekali.


"Aku cuma ingin istirahat, Sayang. Papa juga sedang istirahat bersama mama. Ayo, kita ke kamar!"


Rhiana melingkarkan tangannya di tangan Kenneth. Seperti anak muda yang sedang kasmaran saja.


"Kau pulang pasti ada alasannya. Jangan bohong!" Rhiana tidak mungkin salah dengan apa yang dipikirkan saat ini.


"Aku hanya pusing kepala biasa, Sayang. Daripada papa kasihan melihatku kesakitan, dia mengajakku pulang lagi kan. Siapa tahu dengan melihat istriku, aku bisa lekas sembuh."


Rhiana tersipu malu. Dia seringkali mendapat rayuan-rayuan seperti ini. Semuanya pasti berakhir di tempat yang semestinya.

__ADS_1


__ADS_2