Mencintai Pengasuhku

Mencintai Pengasuhku
Bab 35. Seminggu Lagi


__ADS_3

Setelah semalam menghabiskan malam yang begitu bergelora, keduanya masih bermalas-malasan. Walaupun Rhiana masih merasakan sakit dan lelah akibat pergumulan panas semalam, dia belum beranjak dari ranjang. Pagi ini dia ingin memuaskan memandangi wajah tampan suaminya.


"Pagi, Sayang!" sapa Kenneth beberapa detik setelah membuka mata. "Memandangku dengan tatapan seperti itu menandakan istriku menginginkan sesuatu yang lebih hot dari semalam, kan?"


"Ish, dasar mesum! Aku sangat lelah, Kenneth."


Rhiana mau malu, tetapi bagaimana lagi. Semua sudah terjadi. Tubuh kekar suaminya menandakan betapa pertumbuhan anak laki-laki yang diasuhnya dulu bertumbuh dengan sangat cepat dan sempurna.


"Mesum sama istri sendiri tidak akan jadi masalah, Sayang. Tumben kau tidak galak seperti biasanya? Semalam, kau terlihat sangat pasrah dan menyerah begitu saja. Apa itu caramu agar aku terus yang bekerja keras?" cibir Kenneth.


"Kenneth! Turun dari ranjangku!" Rhiana semakin kesal kalau terus-terusan di ejek seperti itu.


"Ini ranjang kita, Sayang."


Daripada ribut di pagi hari, Kenneth langsung memberikan kecupan mesra di kening istrinya.


"Jangan marah-marah. Nanti bibit berkelas milikku akan kalah dengan omelanmu. Katanya mau punya bayi. Jadi, harus sabar dan tahan-tahan emosi. Suamimu bukan anak kecil lagi. Jangan khawatir!" lanjut Kenneth kemudian turun dari ranjang menuju ke kamar mandi. Dia pun sengaja tidak menggunakan apa pun sehingga membuat Rhiana berteriak lagi.


"Kenneth! Jangan kurang ajar!"


Kebayang bagaimana malunya Rhiana yang harus memandangi tubuh polos suaminya. Dulu, Rhiana yang menjadi pengasuh sekaligus orang yang selalu memandikan Kenneth hingga anak itu berani mandi sendiri. Rhiana sudah tidak mau memandikan Kenneth saat anak itu berusia 7 tahun.


Kenneth tidak peduli. Dia terus masuk ke kamar mandi. Sementara Rhiana, dia malah senyum-senyum sendiri seperti orang yang sedang kerasukan. Ya, semalam bukannya kerasukan, tetapi kemasukan benda asing yang membuat Rhiana rela begadang demi menuruti semua keinginan suaminya.


Bukan hanya begadang, tetapi juga suara-suara erotis pembangkit gairah saling bersahutan. Rhiana yang baru pertama kali merasakan betapa bahagianya mendapatkan serangan yang bertubi-tubi hingga tubuhnya lelah tak berdaya.


"Ck, dasar anak nakal! Sudah menikah pun terkadang masih seperti anak kecil," gumam Rhiana.


Kenneth keluar dari kamar mandi menggunakan bathrobe milik Rhiana. Bukannya memakai seperti pada umumnya, tetapi dia hanya melilitkan bathrobe itu dari pinggang hingga menutupi bagian intimnya.


"Sayang, kau tidak menyediakan bathrobe untukku?" tanya Kenneth seraya menunjukkan bathrobe milik istrinya.


"Tidak ada, Kenneth."

__ADS_1


"Hemm, baiklah. Tidak masalah kan kalau aku menggunakan barang-barang milikmu? Lagi pula kita juga sudah sama-sama tahu. Kalaupun kau mau melarang, aku sudah tidak peduli lagi."


Harusnya yang marah, cuek, dan sama sekali tidak peduli itu Rhiana. Mengapa Kenneth malah bersikap lebih dari itu?


"Hemm, terserah. Aku mau ke kamar mandi lalu pergi ke butik. Ada satu sketsa yang harus aku selesaikan pagi ini."


"Hemm, kenapa tidak di apartemen saja? Kerjakan dari sini. Kalau kau sibuk terus, kapan kita berbulan madunya?"


Kadang ucapan Kenneth juga benar. Selama 35 tahun ini, Rhiana sama sekali tidak bisa menikmati hidup. Dia terus gila kerja karena kehidupannya yang sebatang kara. Namun, keberuntungan membawanya hingga sukses seperti sekarang ini. Lalu, saat sudah mendapatkan pendamping seperti Kenneth, mau yang bagaimana lagi?


"Hemm, baiklah. Aku akan meminta salah satu karyawan untuk mengirimkan sketsa yang baru kubuat setengahnya."


"Hemm, wanita cerdas!"


Kenneth mengambil baju kemudian masuk lagi ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya. Setelah itu, dia membiarkan Rhiana menyelesaikan tugasnya sebagai seorang istri. Kenneth menunggunya dengan menyiapkan dua cangkir kopi yang akan dinikmati bersama-sama.


Rhiana mengirimkan pesan pada karyawannya. Saat nanti tiba di kantor, secepatnya minta satu orang untuk mengantarkan sketsa itu ke apartemen lalu Rhiana akan mengerjakannya. Selagi klien akan datang ke butik, Rhiana bisa ke sana sejenak bersama dengan suaminya.


"Sayang, aku buat kopi untukmu."


"Hemm, aku buatkan sarapan dulu. Jangan minum kopi sebelum makan. Tidak bagus untukmu."


Papanya benar. Rhiana sangat perhatian sekali. Tidak menyesal kalau pada akhirnya perhatian itu muncul setelah beberapa kali istrinya sangat emosional.


Kenneth duduk santai di meja makan sambil sesekali memandangi istrinya yang sedang berkutat di dapur. Tidak hanya itu, Kenneth pun mendeskripsikan kegiatan istrinya secara sempurna.


Wanita cantik dan dewasa. Dia dengan cekatan menyiapkan sarapan pagi walaupun menurut Kenneth itu mudah sekali dilakukan untuk ukuran seorang pria yang terbiasa tinggal di kostan. Kali ini Rhiana hanya menyiapkan spaghetti dengan saus yang dibuat dengan resepnya sendiri.


"Kenapa memandangku seperti itu?"


"Tidak ada. Aku hanya mau memberikan apresiasi untuk istriku. Ternyata istriku sangat cekatan," puji Kenneth.


"Hemm."

__ADS_1


Kenneth masih belum beralih menatap istrinya. Ada satu pertanyaan yang ingin disampaikan, tetapi Kenneth harus menunggu waktu yang tepat.


"Jangan terus memandangku seperti itu! Nanti kau bisa kerasukan," cibir Rhiana.


"Sayang, boleh tanya satu hal?"


Sebenarnya Rhiana agak malas berurusan dengan semua pertanyaan Kenneth. Akhirnya pasti akan menjebak. Kalau tidak, pasti akan sangat menjengkelkan.


"Hemm."


"Kenapa kau mau menikah denganku?"


Sontak Rhiana menghentikan semua pekerjaannya. Ini masih pagi dan Kenneth mencoba memberikan pertanyaan yang sebenarnya sudah jelas apa jawabannya.


"Aku ingin menikah denganmu karena kaya, anak tunggal, pasti warisanmu banyak!"


Bukannya malah kesal, justru Kenneth tertawa terbahak-bahak. Jelas saja semua itu adalah kebohongan yang diciptakan oleh Rhiana.


"Bohong! Karena kau mencintaiku, kan?"


Cinta? Rhiana sama sekali tidak merasakan. Namun, sejak Stella meremehkan dirinya seakan Kenneth menjadi sebuah tantangan tersendiri. Semalam pun Rhiana hanya merasakan seperti menjalankan kewajibannya saja sebagai seorang istri. Entah, rasa itu sudah hilang sejak beberapa kali para pria mencoba menipunya. Sejak saat itu, kepercayaan Rhiana hilang di telan bumi.


"Pagi ini aku tidak mau berdebat. Anggap saja seperti itu. Aku juga sudah meminta karyawanku untuk datang ke apartemen. Jadi, nikmati sarapan pagimu tanpa berkomentar atau bertanya apa pun!"


"Siap, Bos!"


Bersamaan dengan niat Kenneth menikmati sarapan pagi, ponselnya berdering. Ada telepon dari mamanya. Niatnya malas mengangkat, tetapi Rhiana seperti memberikan kode supaya tidak mengabaikan telepon dari mertuanya yang sadis itu.


"Ya, Mam? Ada apa?" tanya Kenneth setelah menggeser tombol hijau.


"Kapan kau pulang? Mama mau mengadakan dinner dengan beberapa teman mama. Rencananya untuk memperkenalkan kalian."


Kenneth melihat istrinya sebentar lalu dia memutuskan untuk pulang seminggu lagi. Setidaknya selama di sini hubungan Kenneth dan Rhiana baik-baik saja tanpa gangguan mamanya.

__ADS_1


__ADS_2