Mencintai Pengasuhku

Mencintai Pengasuhku
Bab 33. Membuat Rencana


__ADS_3

Sebagai suami idaman, Kenneth menunjukkan kesungguhannya. Menunda kepergian Rhiana ke butik selama seminggu tentunya membuat Rhiana kesal. Pekerjaannya terbengkalai dan beberapa klien sudah mengomel padanya.


"Kenneth, kau menikahi aku bukan untuk memenjarakanku seperti ini! Berapa banyak kerugian yang kudapat saat klien marah-marah? Harusnya aku pergi ke sana dan tidak mendengarkan ucapanmu!" sesal Rhiana.


Saat ini mereka sedang perjalanan menuju ke butik. Tidak hanya itu, Kenneth sudah merencanakan bulan madu di resort yang tidak jauh dari apartemen dan butik istrinya.


"Jangan marah-marah, Sayang. Kita akan berada di sana selama seminggu. Apa kau senang sekarang?"


"Sama sekali tidak! Batalkan rencanamu untuk pergi ke resort. Kita akan tidur di apartemen. Sedangkan aku, selama seminggu akan bekerja menyelesaikan beberapa desain gaun yang tertunda," jelas Rhiana tanpa mau dibantah lagi.


Kali ini Kenneth harus mengalah. Mengenai rencana bulan madunya bisa ditunda saat istrinya mulai kondusif dari kemarahannya. Kenneth tidak bisa menyalahkan sang istri, tetapi dirinya sendiri.


Saat memasuki butik, pandangan mata semua karyawan tertuju pada suami bosnya yang sangat tampan, fresh, dan menarik. Ini adalah keberuntungan yang luar biasa bagi Rhiana. Jika dia bukan siapa-siapa, pasti pria itu tidak mau.


"Pulanglah ke apartemen, Kenneth! Aku harus bekerja dulu."


Rhiana mengusir Kenneth agar tidak mengganggu pekerjaannya. Beberapa desain harus selesai hari ini juga. Kalau ada suaminya, bukannya bekerja, Rhiana pasti kesal sendiri.


"Hemm, baiklah. Mana kuncinya?"


Rhiana memberikan satu kartu akses masuknya. "Password-nya tanggal lahirku."


Kenneth tidak mungkin bisa lupa. Definisi mencintai yang sebenarnya adalah saat dia tahu segalanya tentang Rhiana. Itulah sebabnya saat istrinya menyebutkan tanggal lahir, Kenneth tidak perlu pusing lagi karena dia tahu.


"Baiklah. Aku pergi dulu, Sayang. Jaga dirimu baik-baik. Ingat, jangan sampai lelah! Pekerjaanmu tidak hanya di butik, tetapi di apartemen malam ini," ucap Kenneth tanpa ragu.


Kenneth tahu kalau tamu bulanan Rhiana pasti sudah berakhir. Itulah sebabnya dia meminta apa yang seharusnya menjadi miliknya.


Kenneth keluar ruangan istrinya dengan perasaan bahagia. Apalagi saat mendapatkan kesempatan untuk membuat kejutan di apartemen. Sebelum sampai di sana, dia mampir dulu untuk membeli beberapa bunga.

__ADS_1


Sementara di mansion, Albert sedang sakit. Dia tidak bisa pergi ke kantor. Sedangkan Kenneth tidak ada di mansion. Hal itu membuat Stella geram.


"Pa, kenapa kau membiarkan Kenneth pergi? Bukankah seharusnya dia mengurus perusahaan daripada mengurus istrinya?"


Kondisi sakit pun Albert masih diajak berdebat. Bukannya menanggapi dengan emosional, Albert malah bercanda.


"Dia juga sedang memperjuangkan aset masa depan keluarga kita, Ma. Daripada perusahaan dan harta benda lainnya, cucu jauh lebih berharga dari itu semua. Kita bisa kehilangan harta benda, tetapi garis keturunan yang hilang akan memutus sejarah kehidupan kita."


Bijak sekaligus menyebalkan. Suami dan putranya benar-benar kompak mempertahankan Rhiana. Stella sangat kesal sehingga membiarkan Albert makan sendiri dari piring makannya.


"Hemm, suami sakit bukannya dimanja, malah disiksa seperti ini. Kalau Rhiana tahu, apa kau tidak malu?" cibir Albert sekaligus menggoda istrinya.


"Hemm, Rhiana, Rhiana, Rhiana terus! Apa istimewanya wanita itu? Bukankah dia sudah tua dan tidak menikah sebelum bertemu putra kita?"


Wajah Stella terlihat murung, bibirnya manyun, dan dia kesal terus-menerus. Kedua pria istimewa di dalam hidupnya malah bersikap seperti itu. Menyebalkan sekali, bukan?


Ah, ini sama sekali tidak menyenangkan. Bukannya menunjukkan kekurangan dan kelebihan Rhiana, suaminya malah memuji keberuntungan putra dan pasangannya.


"Mengenai kelebihan Rhiana, wanita itu cukup mandiri untuk mengurus kehidupannya. Apalagi mengurus suaminya. Jangan terus-terusan kau tekan. Kasihan dia," lanjut Albert.


Stella menutup kedua telinganya sehingga Albert tertawa terbahak-bahak. Rasa sakitnya kalah dengan tingkah istrinya sehingga Albert segera meletakkan nampan makannya. Dia merasa jauh lebih enakan dari sebelumnya.


"Kau tahu, Sayang? Itulah keistimewaanmu. Kau mampu menyembuhkan rasa sakitku hanya karena wajah cemberutmu dan menyebalkan itu. Bagaimana kalau kita berlibur? Sudah lama kita tidak menikmati kebersamaan ini."


"Albert!" kesal Stella karena cibiran yang keterlaluan.


"Sayang, jangan begitu. Ini serius."


Stella kemudian memikirkan sesuatu. Tidak ada salahnya untuk menyerah atas apa yang sudah terjadi. Mungkin dengan ini hubungannya dengan Albert dan Kenneth akan kembali seperti semula.

__ADS_1


"Baiklah, aku merestui hubungan Kenneth dan Rhiana. Tapi, tolong jangan jauhkan aku dengan Kenneth!"


Wanita begitu rumit. Jika tidak diam tanpa kata, bisa-bisa setuju dengan sebuah persyaratan, dan yang paling menyebalkan adalah tidak dari keduanya. Apalagi para pria malas sekali menyusun puzzle teka-teki yang tidak jelas itu. Pada akhirnya pertengkaran akan terjadi tanpa tahu penyebabnya.


"Jangan sampai aku menyebutmu wanita tua labil, Stella! Rumah tangga putra kita bukan sekadar mainan yang bisa kau bongkar pasang sesuka hatimu. Intinya, tanyakan pada hati nuranimu sendiri. Jika kau berada pada posisi Rhiana, apa yang akan kau lakukan? Melepaskan Kenneth hanya untuk mamanya yang tidak tahu di untung? Atau, bertahan dengan berbagai kesakitan yang diberikan mertuanya?"


Lagi-lagi Albert membuat Stella diam tanpa bisa membalasnya lagi. Namun, sifat licik Stella muncul hingga dia mengatakan sesuatu yang membuat Albert tetap memenangkan perdebatan.


"Kalau pada akhirnya Kenneth memilih wanita yang tidak baik, seperti wanita ******. Apa kau mau menerimanya?"


Albert menutup matanya sejenak. Lalu, dia membuka matanya kemudian menarik tangan istrinya dan menggenggamnya begitu kuat.


"Aku yakin kalau Kenneth pria yang baik, mengerti pada keluarga, dan tidak akan berbuat sesuatu yang memalukan. Apalagi memilih wanita seperti itu! Kenneth memilih Rhiana itu sudah benar. Dia baik dan terpelajar, bahkan dia sudah bisa memahami putramu dengan baik."


Stella tetap tidak bisa menang melawan Albert. Bibirnya tetap mengerucut tanpa mau memberikan serangan apa pun lagi.


Sementara di apartemen Rhiana, Kenneth berhasil masuk ke sana dengan mudah. Berbekal kartu akses pemberian sang istri, kini dia berada di kamar yang beberapa waktu lalu sempat diidamkannya.


"Sayang, ini sangat luar biasa. Memang lebih baik tidak pergi ke resort ketimbang mendapatkan penolakan lagi."


Kenneth memejamkan matanya sejenak. Dia menghirup aroma kamar yang ditinggalkan istrinya selama seminggu ini. Aromanya masih sama. Parfum floral yang selalu membuat Kenneth tidak bisa jauh dan kecantikan yang sangat awet di usianya saat ini.


Daripada terus berbaring, Kenneth beranjak untuk menyulap kamarnya menjadi kamar bulan madu yang luar biasa. Malam ini akan ada dinner romantis dan pemanasan untuk melakukan kegiatan inti.


Rhiana yang saat ini berada di butik semakin harap-harap cemas. Sudah pasti Kenneth akan menyusun rencana untuk menumbangkannya malam ini. Sebelum itu terjadi, Rhiana juga harus membuat rencana agar Kenneth menyerah.


"Apa aku harus berpura-pura sakit, ya? Sebenarnya aku ingin, tetapi malu berhadapan dengan suamiku yang masih sangat muda." Rhiana menutup wajahnya dengan kedua tangan seolah sedang malu dilihat orang lain.


__ADS_1


__ADS_2