Mencintai Pengasuhku

Mencintai Pengasuhku
Bab 43. Melindungi Miliknya


__ADS_3

Elena Gabriella sedang membeli makanan bersama putrinya, Serry Qianzy. Elena tahu kalau putrinya sempat mau dijodohkan dengan Kenneth, putra dari Albert dan Stella. Namun, saat tahu Kenneth menikah dengan wanita lain, Elena merasa seperti dipermainkan.


"Serry, mama ada keperluan sebentar. Serry bisa beli makanan dulu," ujar Elena.


"Mam, aku tidak mau sendiri. Mama mau ke mana? Serry ikut."


"Tidak, Serry. Mama ada keperluan sebentar. Serry tidak boleh ikut. Tolong dengarkan mama!" Kali ini Elena tidak mau membuat putrinya malu. Biar saja dia yang akan menghampiri Kenneth lalu mendamprat laki-laki itu.


"Baiklah. Serry tidak tahu apa yang akan Mama lakukan. Serry tunggu di tempat parkir setelah membeli makanan."


Tidak lama memang makanan yang mereka bungkus siap. Serry meninggalkan toko roti tanpa curiga.


Elena dengan langkah pasti menghampiri Kenneth. Kebetulan laki-laki itu sedang duduk sendirian karena istrinya sedang memesan makanan.


"Halo, Kenneth," sapa Elena.


"Ya?" Kenneth mendongak. "Maaf, Anda siapa?"


"Mamanya Serry. Kau pasti lupa, kan? Oh tidak masalah. Ehm, boleh aku duduk di sini sebentar?"


Kenneth sebenarnya tidak ingin merasa terganggu. Indra penciumannya sangat tajam. Apalagi pada aroma parfum yang melekat di tubuh mamanya Serry.


"Maaf, Aunty. Bukannya aku tidak mau Anda duduk di sini, tetapi kepalaku pusing saat menghirup aroma parfum Anda. Aku minta maaf dan tolong menyingkirlah!" Kenneth tidak peduli lagi dikira jahat, kejam, atau apa pun itu. Ini demi perutnya yang sudah membaik.


"Kau mengusirku? Padahal aku ingin bicara baik-baik padamu."


"Bukan begitu. Indra penciumanku sedang bermasalah. Mungkin lain kali kita bisa bicarakan ini." Sungguh Kenneth tidak mampu lagi menahan diri untuk tidak muntah.


Akhirnya Kenneth memuntahkan isi perutnya tepat di hadapan Elena. Wanita itu langsung menutup hidungnya.


"Ih, menjijikkan." Elena seketika meninggalkan Kenneth.


Rhiana yang melihat suaminya muntah langsung meminta maaf pada pemilik kafe lalu memintanya untuk segera dibersihkan.


"Maaf, suamiku sedang ada masalah dengan Indra penciumannya. Jadi, tolong hitung saja ganti ruginya. Aku tahu ini akan membuat Kafe Anda sedikit ada masalah," jelas Rhiana.


"Oh, tidak masalah, Nyonya. Bukankah itu Tuan Kenneth? Putra dari Tuan Albert."

__ADS_1


"Anda mengenalnya?" Rhiana terkejut.


"Tentu, Nyonya. Tuan Albert sering mampir ke tempat kami. Tidak masalah Anda tidak perlu mengganti rugi. Kami akan menutup Kafe khusus untuk Anda dan suami."


"Oh, tidak perlu, Tuan. Sebaiknya Anda tetap buka. Aku cuma minta tolong agar bekas muntah suamiku segera dibersihkan."


Rhiana berlari mendekati Kenneth untuk mengambil tisu lalu membersihkan sisa muntahan yang masih menempel di bibirnya.


"Sayang, kau terlihat senang sekali saat aku muntah seperti ini."


"Kenneth, jangan bercanda. Ini bukan waktu yang tepat. Lebih baik aku bersihkan dulu bibirmu. Setelah kita membeli makanan, kita bisa segera pulang," ujar Rhiana sambil memandangi wajah suaminya penuh iba.


Bagaimana kalau Rhiana hamil lalu mengalami mual dan muntah seperti itu? Apakah Kenneth juga akan membantunya seperti Rhiana saat ini?


"Aku ambil makanannya dulu."


Rhiana kembali untuk membayar makanan sekaligus mengambilnya. Tidak hanya itu, dia pun meminta maaf kepada pemilik Kafe.


"Tuan, aku minta maaf atas nama suamiku. Lain kali kami tidak akan membuat karyawan Anda kerepotan."


"Tidak masalah, Nyonya. Oh ya, ini ada titipan untuk Tuan Albert. Dia pasti akan menyukainya."


Rhiana menggandeng tangan Kenneth untuk sampai ke depan mal. Mereka harus mencari taksi terlebih dahulu. Namun, di depan bukannya mendapat taksi, mereka malah bertemu dengan Serry.


"Kenneth? Kaukah itu?" tanya Serry. Dia tidak percaya dipertemukan dengan lelaki yang amat sangat dicintainya.


"Serry? Tolong menjauhlah!" Lagi-lagi Kenneth tidak kuat aroma parfum gadis itu.


"Serry, tolong menjauhlah! Suamiku tidak tahan dengan aroma tubuhmu!" Rhiana harus melindungi suaminya agar tidak muntah lagi.


"Kau menghinaku?" Serry marah.


"Bukan begitu. Aku minta maaf. Aku takut kalau suamiku akan muntah lagi. Jadi, tolong menyingkirlah!" Rhiana sudah memintanya secara baik-baik. Namun, Serry malah terus maju dan mendekat.


Benar saja, Kenneth tidak bisa menahan diri lalu memuntahkan tepat di baju yang Serry kenakan.


"Kenneth! Ini menjijikkan sekali!"

__ADS_1


Buru-buru Rhiana menghentikan taksi untuk mengamankan Kenneth dari amukan Serry. Kalau tidak segera dilakukan, semuanya akan berbuntut panjang.


"Ayo, Kenneth!" Kenneth ditarik masuk oleh Rhiana.


Berada di dalam taksi, Kenneth rasanya lemas sekali. Dia tidak menyangka akan muntah sebanyak dua kali hanya dengan menghirup aroma parfum yang berbeda.


"Aku lelah, Sayang. Sungguh, ini menyiksa sekali." Kenneth menyandarkan tubuhnya pada jok penumpang.


"Sabar. Sebentar lagi kita akan sampai di mansion."


"Kau tidak mengutukku, kan? Mengapa kau yang hamil, tetapi aku yang tersiksa," rintih Kenneth.


Rhiana diam sampai taksi yang membawanya tiba di mansion. Bergegas Rhiana membayar ongkos taksi lalu mengeluarkan beberapa kantong belanjaan. Baru memapah Kenneth untuk masuk.


"Loh, ada apa ini?" tanya Stella.


"Kenneth muntah lagi, Ma. Lebih baik Rhiana bawa dia ke kamar dulu. Oh ya, Ma, di depan ada dua kantong belanjaan. Yang satu milik papa titipan dari pemilik Kafe X. Katanya itu makanan kesukaan papa," jelas Rhiana kemudian membawa suami ke kamar.


Kenneth berbaring di ranjang. Sebenarnya dia merasa nyaman saat berada di sisi Rhiana. Dia bahkan bisa menahan muntah selama itu.


"Kenneth, kenapa kau muntah di kafe? Untung pemiliknya masih teman papa. Jika tidak, aku tidak tahu lagi harus meminta maaf dengan cara apa." Rhiana kesal. Apalagi dia sedang hamil. Bukannya memprioritaskan diri sendiri, Kenneth malah membuatnya repot.


"Aroma parfum mamanya Serry sangat menggangguku. Tadi dia datang berniat untuk berbicara denganku. Sudah kukatakan untuk mundur, tetapi dia ngotot. Sama seperti anaknya, bukan?"


Rhiana malah menertawakan suaminya. Sungguh ini penyerangan yang sangat langka dan tiba-tiba. Serry dan mamanya pasti ingin membahas hubungan Kenneth dengan putrinya. Walaupun Kenneth sudah menikah, masih banyak wanita lain yang menginginkan dirinya.


"Rhiana, mengapa kau tertawa? Suka melihat suami tersiksa?"


"Tidak, bukan begitu. Aku malah merasa kalau mereka akan semakin kesal dengan kejadian hari ini, Sayang. Sungguh kalau hamil menyenangkan seperti ini, aku mau hamil lagi nanti," ungkap Rhiana bahagia.


Kenneth tersenyum. "Kau yakin dengan ucapanmu? Bahkan kita baru memulainya, Sayang."


"Yakin, tetapi dengan syarat hanya kau yang tersiksa. Aku tidak mau mengalami mual, muntah, dan apalah itu."


"Eh, mengapa demikian?"


"Agar para pria itu tidak kurang ajar. Apalagi mempermainkan hati para wanita. Justru kutukan itu akan membuatmu tetap mencintaiku, bukan? Walaupun di luaran sana banyak godaan menghadang," jelas Rhiana tanpa ragu.

__ADS_1


Rhiana sebenarnya cemburu. Apalagi Samantha dan Serry masih terus mengejarnya walaupun sudah menjadi suami wanita lain. Jelas dari segi usia dan daya tarik, kedua gadis itu lebih menonjol ketimbang Rhiana. Rhiana hanyalah wanita yang sedang melindungi apa yang menjadi miliknya saat ini.


__ADS_2