
Rhiana mengambil nampan di meja. Dia menyuapi Kenneth yang posisinya saat ini duduk di ranjang bersandar pada headboard.
"Kau pasti sengaja membuat semua orang panik," omel Rhiana.
Sambil mengunyah makanannya, Kenneth mengangguk. Ini jalan satu-satunya untuk membuat mamanya merestui hubungannya dengan Rhiana.
"Kau tahu, betapa khawatirnya mama dan papamu. Jangan lagi buat drama seperti itu! Seperti anak kecil saja," tegur Rhiana.
Walaupun tangannya menyuapi, tetapi mulutnya terus saja mengomel tanpa henti. Setelah suapan terakhir, Rhiana mengambil gelas lalu memberikannya kepada Kenneth. Kenneth meminumnya hingga habis kemudian mengembalikan ke tangan Rhiana.
"Terima kasih," ucap Kenneth.
"Kau sudah membaik, kan? Aku harus pulang sekarang," pamit Rhiana.
Kesempatan tidak akan datang berulang. Kenneth sudah mempunyai tenaga sekarang. Dia menarik tangan Rhiana hingga terjatuh tepat di pangkuannya. Tatapannya beradu, hening, saling mengagumi, dan tenggelam dalam perasaannya masing-masing.
Saat kesadaran Rhiana mulai kembali, dia pun mendorong mundur Kenneth hingga terbentur headboard. Kenneth memekik karena terkejut.
"Jangan coba-coba membuatku berada di posisi yang sulit, Kenneth. Aku harus menemui orang tuamu lalu mengatakan bahwa kau baik-baik saja."
Rhiana harus berjalan lebih cepat. Jika tidak, maka Kenneth akan berulah lagi. Rasanya tidak mungkin berada di mansion Nathanael dalam waktu yang cukup lama.
Hampir mencapai pintu, Kenneth memeluknya dengan paksa. Tidak sekali atau dua kali tingkah Kenneth cukup berani sehingga Rhiana membentaknya.
"Kenneth, tolong jangan kurang ajar! Jaga batasanmu!"
Anehnya, sekuat apa pun memberontak, Kenneth begitu erat memeluknya. Sayang, ucapan Rhiana bertolak belakang dengan tubuhnya yang seakan-akan menikmati kehangatan pelukan lelaki muda itu.
Sekuat tenaga Rhiana mencoba untuk mengumpulkan kekuatannya lagi. Tidak lama, dia pun bisa terlepas dari Kenneth. Kini, dia memandang lelaki itu dengan ribuan pertanyaan. Agak aneh rasanya berada di posisi seperti ini.
"Kenneth, hubungan kita sudah lama berakhir. Tolong jangan buat hidupku mengalami kesulitan! Sudah banyak waktuku yang terbuang hanya untuk meladeni tingkah konyolmu itu."
"Kalau begitu, berikan aku kesempatan kedua. Kita bisa bertunangan lalu menikah. Aku tidak mau jauh darimu. Aku takut kalau kau akan dimiliki oleh pria lain."
Susah rasanya harus berada di posisi tersulit seperti ini. Rhiana tidak menampik bahwa dia pun ingin menikah, tetapi kegagalannya di masa lalu juga membuatnya dilema.
__ADS_1
"Lupakan kesempatan atau apa pun itu. Sekarang, mari kita menghadap orang tuamu lalu aku mau pamit."
Stella dan Albert rupanya sedang berada di ruang keluarga. Mereka menunggu kabar terbaik yang akan dibawa Rhiana. Namun, saat mereka melihat kedatangan Kenneth dan Rhiana, Stella bisa tersenyum bahagia. Dia langsung memeluk putranya tanpa memedulikan jika ada Albert ataupun Rhiana.
"Sayang, jangan buat mama takut." Stella memeluknya begitu erat hingga tidak seorang pun diizinkan untuk mengambilnya.
"Cukup, Stella. Jangan buat putramu tambah tertekan seperti itu. Biarkan dia bernapas. Ayo, lepaskan!" perintah Albert.
Stella segera melepaskan pelukannya kemudian meminta Kenneth duduk. Mereka sampai lupa jika ada Rhiana di sana.
"Ehm, sebelumnya aku mau minta maaf. Kurasa Kenneth sudah baik-baik saja sekarang. Aku pamit pulang," pungkas Rhiana.
"Tolong jangan pergi sekarang. Sebelum aku selesai bicara, tetaplah di sini!" pinta Kenneth.
Rhiana mengangguk karena Albert memintanya untuk duduk. Ini memang sudah larut, makan malam pun telah berlalu, dan mereka masih berbicara tiada henti.
"Ada apa, Kenneth?" tanya Stella.
Kenneth menjelaskan niatnya untuk bertunangan dengan Rhiana lebih dulu. Setelah itu, dia akan bekerja di perusahaan. Mereka akan menikah beberapa bulan kemudian.
"Iya, pertunangan itu pasti akan terjadi. Kapan kau menginginkannya, Kenneth? Papa akan menyiapkan segalanya." Albert begitu bahagia mendengar putranya akan bertunangan.
Stella terlihat memaksakan senyuman. Rhiana pun menyadarinya. Maka dari itu, dia harus menyelamatkan dirinya sendiri.
"Maaf, Tuan Albert. Aku belum setuju dengan keputusan sepihak ini," tolak Rhiana.
Sepertinya Stella tampak senang dengan penolakan Rhiana, tetapi tiba-tiba keceriaan itu berubah menjadi mendung yang tak berkesudahan.
"Pa, aku mau pertunangan dilangsungkan besok," ucap Kenneth yakin. Ini salah satu cara untuk mengikat Rhiana agar tidak terlepas lagi.
"Apa? Jangan membuat keputusan terlalu terburu-buru, Kenneth! Kau belum cukup memahami apa itu pernikahan," jelas Rhiana dengan nada suara yang meninggi.
"Maka kita akan memahaminya bersama-sama!" balas Kenneth.
Semua orang terdiam. Stella membatin bahwa tidak seharusnya Kenneth meminta pertunangan mendadak seperti itu. Terlebih wanitanya sudah berumur dan sangat tidak pantas untuk menikah apalagi sampai bersanding dengan Kenneth.
__ADS_1
"Mama setuju kau bertunangan. Besok pun akan mama siapkan," ucap Stella yakin.
Ini yang paling mengejutkan. Stella tiba-tiba berubah begitu cepat. Mereka memandang Stella dengan penuh tanda tanya. Mungkinkah Stella mempunyai niat terselubung di dalam persetujuannya? Padahal keluarga Nathanael belum menyetujui atau menolak lamaran yang dikirim keluarga besar Samantha.
"Kenapa kalian melihatku seperti itu? Memangnya manusia tidak boleh berubah begitu cepat?" Stella melanjutkan ucapannya.
"Baiklah, Rhiana. Malam ini kau bisa bermalam di sini. Kurasa kalian sudah saling kenal. Kau tidak akan menolak putraku, kan?" tanya Albert pada Rhiana.
Rhiana terdiam. Apakah Kenneth memang lelaki yang ditakdirkan menjadi jodohnya? Lalu, mengapa harus Kenneth? Mengapa bukan pria berumur atau minimal duda cerai yang akan menikahinya? Mengapa harus Kenneth? Anak laki-laki yang pernah diasuhnya dulu. Sanggupkah Rhiana menolak permintaan Albert yang sudah bersikap baik kepadanya?
"Jangan jual mahal! Kau bisa tidak laku jika bukan putraku yang menikah denganmu," sahut Stella dengan sangat ketus.
"Mama, tolong jangan memperkeruh keadaan. Tanpa persetujuan Rhiana, pertunangan Kenneth tidak akan digelar besok," tegur Albert.
Kenneth tidak bisa kehilangan Rhiana lagi. Cepat atau lambat, pengasuhnya itu harus berada di dalam genggamannya. Biar pun Rhiana kesal karena sikapnya seperti anak kecil, tetapi ini sebagian dari usahanya. Kelak Rhiana dan orang tuanya akan mengetahui rahasia yang disimpan rapat oleh Kenneth.
"Rhiana, kumohon jangan menolaknya. Semesta memberikan kesempatan kepada kita. Tidak akan ada kesempatan kedua saat kesempatan pertama sudah kau lewatkan. Kumohon!" pinta Kenneth mengiba.
Sebenarnya Stella tidak suka kalau putranya mengemis cinta seperti itu kepada Rhiana. Masih banyak para gadis yang siap bertunangan bahkan menikah dengan Kenneth saat ini juga.
"Tuan Albert, tolong berikan aku waktu berpikir sebentar. Apa boleh?" tanya Rhiana.
Rhiana perlu memantapkan hatinya lebih dulu. Setidaknya menghirup udara segar sebentar akan membuat dia bisa berpikir secara rasional.
"Baiklah. Kami menunggu keputusanmu," jawab Albert.
Saat Rhiana keluar mansion, Kenneth mondar-mandir tanpa sebab. Bisa saja Rhiana menolak permintaannya. Kenneth tidak bisa terima itu.
"Kenneth, tenanglah! Biarkan Rhiana berpikir sejenak," ucap Albert.
Sementara Stella berharap bahwa Rhiana akan menolak putranya. Setelah itu, dia akan membuat pertunangan dadakan dengan Samantha. Tidak ada bedanya, bukan? Sama-sama menggelar pesta pertunangan, hanya calon wanitanya saja yang berbeda.
Menunggu sekitar 10 sampai 20 menit nyatanya tidak membuat Rhiana kembali dengan cepat. Mungkin banyak pertimbangan yang dipikirkannya di luaran sana. Mungkin saja rentang usia yang terlalu jauh, sikap Stella kepadanya, dan Rhiana pasti akan kesulitan beradaptasi lagi di mansion ini.
"Jadi, apa jawabanmu, Rhiana?" tanya Kenneth saat melihat wanita itu kembali.
__ADS_1